Ruth Fielding at the War Front; or, The Hunt for the Lost Soldier
Chapter 1
Salinan versi final di Wikisource Bahasa Indonesia in diselesaikan pertama kali pada tanggal 12 September 2020 pukul 19.38 WIB.
Ditulis oleh Anta Samsara . Berkas PDF dari buku ini dapat diunduh di sini.
Naskah di bawah ini adalah berdasarkan edisi yang diterbitkan oleh Jagat Jiwa tahun 2018. Karena proses penyuntingan dan proofreading pada masing-masing publikasi, maka terdapat beberapa perbedaan kecil dalam hal redaksionalnya, meskipun tidak ada yang substansial, dengan yang diterbitkan oleh Jejak Kata Kita (2010) dan Elex Media (2013).
Sinopsis
Apa yang akan Anda lakukan jika suara-suara orang di sekitar Anda berubah menjadi suara-suara yang meneror Anda dengan kata-katanya yang merendahkan diri Anda setiap waktu? Ke mana Anda akan pergi di dunia yang penuh manusia ini jika satu-satunya yang ingin Anda hindari dan Anda harapkan pertolongannya adalah manusia itu sendiri?
Bagi Anta Samsara, sang penulis buku ini, yang bisa dia lakukan hanyalah menyepi dengan mereka yang senasib di rumah sakit jiwa. Institusi yang merupakan bagian dari sistem yang membuatnya tak mudah untuk lepas dari hilir-mudik antara rumah dengan rumah sakit jiwa. Tapi sebagai manusia ia punya kekuatan yang tak dapat ditaklukkan oleh derita jiwa dan stigma, kekuatan dalam batinnya yang membuatnya bangkit dan membuatnya meraih suatu psikologi positif dalam kehidupan. Derita tak selalu berujung pada sengsara, tapi bisa mengarah pada kemenangan jiwa.
Halaman kutipan
Manusia tidak akan binasa oleh penderitaan. Namun ia dibinasakan oleh penderitaan yang tanpa makna. (Viktor Emil Frankl, pendiri Logoterapi)
Tanggapan atas Gelombang lautan jiwa
Membaca memoar Anta Samsara membuat saya sangat terharu. Karena apa yang saya saksikan pada anak saya sudah terwakili pada kisah yang dibuat olehnya. Gaya bahasa dan rasa penasaran yang sangat tinggi untuk mempelajari lebih detail tentang skizofrenia menjadi benang merah yang dapat saya ambil sebagai pembelajaran untuk lebih memahami anak saya.
Yadi Suparyadi, orangtua dari orang dengan skizofrenia.
Memoar yang menyentuh karena lahir dari kedalaman jiwa yang tak mudah dipahami oleh kebanyakan orang yang tak pernah merasakannya.... Butuh keberanian, kejujuran dan ketekunan yang luar biasa untuk menuliskan psikomemoar seperti ini. Dan Anta Samsara sudah melakukannya dengan sangat baik. Anta Samsara telah berhasil melewati gelombang dahsyat lautan jiwa dan telah menjadikannya pribadi yang tangguh dan kreatif. Buku ini akan sangat bermanfaat terutama bagi para penderita skizofrenia, keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Tarjum, penulis psikomemoar bipolar Mengubah Mimpi Buruk menjadi Mimpi Indah.
Anta Samsara mencapai tahap demi tahap pengenalan terhadap diri sendiri serta [mengajak] pembaca untuk mengenali dunia psikotik dengan empatik dan bijak .... melalui buku ini, pembaca akan mencapai pemahaman tentang salah satu ungkapan filosofis, “Seseorang yang mengenal orang lain adalah individu yang bijak, sedangkan seseorang yang mengenal dirinya sendiri adalah individu yang tercerahkan.”
Bahril Hidayat, penulis trilogi psikomemoar Aku Sadar Aku Gila.
Secara umum, potensi gangguan kejiwaan dari ringan hingga berat, dapat terjadi pada diri setiap manusia. Penanganan psikiatrik dan psikologik untuk siapa saja pasti dapat membantu. Namun yang paling penting adalah bagaimana kita yang kebetulan berusaha terus menerus, mau membuka hati dan terbuka terhadap bantuan dan bekerja sama dengan para profesional untuk mendapatkan makna positif dari setiap pengalaman ‘bencana’ kehidupan seperti yang dialami sendiri oleh Anta Samsara dan banyak lagi orang yang juga merasakannya. Selamat atas terbitnya psikomemoar ini, semoga menggugah Anta-Anta yang lain untuk terus bergerak maju ke arah dan makna yang lebih baik.
Marga M. Maramis, psikiater di Surabaya.
Halaman persembahan
Untuk orang dengan skizofrenia di seluruh dunia yang tak pernah berhenti berjuang melawan semua keadaan sulit yang dialaminya.
Sekuntum kata dari penulis - Melukiskan dua dunia
Bagi saya, menuliskan memoar tentang gangguan kejiwaan adalah laksana melukiskan dua dunia kepada para pembaca. Yang pertama adalah dunia di dalam diri, yang sifatnya sangat subyektif, misalnya pengalaman merasakan waham dan halusinasi. Sedangkan dunia yang kedua adalah dunia relasinya dengan lingkungan di luar dirinya, yaitu bagaimana ia menjalin dan menempatkan diri di antara orang-orang di sekitarnya. Karena seringkali kedua dunia itu saling bertautan, maka ini meniscayakan saya untuk menuturkan apa yang saya alami dalam memoar ini sebagai suatu kesatuan yang sukar untuk dipisahkan, suatu yang saling berkelindan dengan ketat.
Apa yang saya tulis di dalam buku ini adalah potret dari kehidupan kejiwaan saya dan keluarga saya dalam beberapa masa dalam kehidupan kami. Beberapa di antaranya terasa sangat asing bagi saya saat ini, seolah-olah itu bukan bagian dari hidup saya lagi. Karena sekarang saya sudah merasa jauh lebih baik daripada dulu. Namun hampir seluruh gambaran yang diperikan dalam buku ini tidaklah dibuat dengan bias masa kini.
Perjalanan kehidupan saya yang ada dalam buku ini ditulis berdasarkan Dinten , buku harian saya. Sehingga apa yang terjadi pada suatu masa dituliskan berdasarkan pada apa yang ada dalam relung hati dan lubuk jiwa saya yang sedalam-dalamnya pada masa itu, termasuk dalam hal konflik intra-psikis, kekacauan dan kegalauan yang saya alami. Jika ada pemikiran yang menyela suatu narasi yang jelas-jelas merupakan sudut pandang pada waktu jauh setelahnya, maka akan dibubuhkan keterangan waktu agar hal itu tidak membingungkan pembaca.
Satu hal yang bergerak maju-mundur dalam psikomemoar saya adalah waktu saat suatu narasi dituturkan. Hendaknya waktu yang diterakan sebagai sub-judul sebuah bab (atau yang diimbuhkan sebagai pembuka paragraf pertama) dilihat sebagai acuan agar tidak salah paham. Karena hidup saya berkaitan dengan orang lain, maka terkadang ketika membicarakan orang tersebut, tanda waktu yang diberikan kadang-kadang ditarik jauh sebelum saya dilahirkan.
Semula, setelah kontrak dengan Penerbit Jejak Kata Kita (sebuah penerbit indie di Yogyakarta) berakhir pada penghujung tahun 2011 setelah selama setahun diterbitkan, saya ingin merevisi cara bertutur saya yang banyak menggunakan metode bertutur orang pertama dan mengubahnya menjadi berbentuk dialog, namun setelah saya pikir baik-baik itu sama artinya dengan mengubah keakuratan potret kejadian yang ada dalam buku ini.
Karena, seperti juga yang telah disinggung di atas, salah satu permasalahan yang ada ketika membuat psikomemoar adalah kita tak hanya melukiskan kejadian fisik yang kita alami, tapi juga bagaimana kondisi kejiwaan yang kita rasakan pada saat itu. Dan saya menemukan gaya dan keleluasaan dalam hal tersebut dengan menggunakan metode orang pertama. Alasan lainnya, karena apa yang saya buat di sini berdasarkan Dinten yang sebagian besar adalah narasi tuturan orang pertama, yang sangat jarang menuliskan dialog. Juga, saya tak dapat mengingat lagi secara detail dialog yang terjadi di masa silam hidup saya, berhubung demikian panjangnya waktu yang dicakup oleh psikomemoar ini, dan saya ada perasaan enggan untuk menganggitnya, dengan alasan yang tetap saya pertahankan, yaitu mempertahankan “potret” kenyataan yang setepat mungkin. Sehingga mempertahankan format buku ini seperti sebelumnya, berarti mempertahankan keakuratan “sosok jiwa” dari kejadian-kejadian di masa silam dalam hidup saya.
Bagaimanapun saya melakukan perubahan yang berarti bila dibandingkan dengan edisi perdana pada bab “Aku dan Jayabaya” yang berkaitan dengan waham saya dan banyak perubahan redaksional pada bab “Kisah tentang Jiwa Sehat” yang merupakan salah satu kisah titik balik yang kasat mata dalam hidup saya. (Sementara titik balik yang bersifat filosofis akan Anda temukan dalam bab lain.)
Perubahan lainnya telah dilakukan untuk memperbaiki ketepatan kosakata yang terserak di dalam buku ini. Misalnya saja, karena halusinasi saya hampir selalu berkaitan dengan organ pendengaran, maka pada tempat-tempat tertentu dalam buku ini, saya membedakan antara “bunyi” yang sepadan dengan sound dalam Bahasa Inggris untuk menggambarkan bunyi yang bukan wicara (seperti bunyi pukulan di dinding) dan “suara” yang sepadan dengan voice untuk menggambarkan suara-suara dalam halusinasi yang berbentuk wicara manusia. Walaupun itu tak selalu dengan teguh dipertahankan jika memang narasi tidak membingungkan untuk membedakan keduanya.
Dalam buku ini saya masih tetap mempertahankan nama-nama yang disamarkan seperti pada edisi perdana, karena saya takut hal itu berimbas ke dalam masalah hukum. Saya terlanjur menggunakan nama “Anta Samsara” ketika menulis dan sedang daring (online), sehingga nama itu juga tetap saya pertahankan. Dua kejadian buruk yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri, yang menimpa kawan-kawan satu bangsal ketika saya dirawat di dua institusi yang berbeda, masih saya sembunyikan dan tidak saya tampilkan di sini. Karena saya menghargai hubungan baik antara kedua institusi itu dengan Perhimpunan Jiwa Sehat, tempat saya bekerja sekarang.
Draft awal buku ini lahir pada tahun 2008, dan saya mengucapkan selaksa terima kasih kepada yang telah membaca draft awal tersebut dan memberikan tanggapannya demi perbaikan pada naskahnya: Rana Sampurna (waktu itu mahasiswa FKUI, Jakarta), Siti Sarah (waktu itu mahasiswa magister psikologi Unpad, Bandung), Tantri Widyarti Utami (Dosen di Akper Marzoeki Mahdi, Bogor), dan Yeni Rosa Damayanti ketua umum Perhimpunan Jiwa Sehat, Jakarta).
Ketika draft finalnya tertuntaskan pada tahun 2010, sesaat sebelum terbit, dr. Eka Viora, SpKJ memberikan tanggapannya yang positif pula, sekaligus memberikan tulisan berupa artikel tentang skizofrenia yang kemudian menjadi semacam pascawacana pada edisi perdana buku ini. Ia yang pada waktu itu menjabat sebagai direktur medik RSJ Soeharto Heerdjan memberikan dukungannya yang lain terhadap buku saya dengan menyelenggarakan peluncuran psikomemoar ini di Auditorium rumah sakit itu pada perayaan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada bulan Oktober 2010.
Pada edisi kedua buku ini, dr. Suryo Dharmono, SpKJ(K), yang merupakan psikiater senior dari Departemen Psikiatri FKUI-RSCM telah menuliskan Pengantarnya untuk memoar ini, sebagai ganti dari pascawacana dr. Eka Viora. Pada suatu kesempatan bedah buku ini di departemennya di FKUI, ia memberikan kajian yang menarik tentang buku saya, dan saya tak dapat menahankan tawaran saya kepadanya untuk menuliskan “sesuatu” bagi buku edisi kedua ini, setelah melihat dr. Eka Viora, pada masa-masa penyuntingan edisi kedua buku ini telah menempati pos jabatannya yang baru di luar kesehatan jiwa sebagai kepala pusat intelegensia Kementerian Kesehatan RI (Walaupun kami senantiasa berharap ia kembali ke ranah jiwa yang dicintainya itu); dan dengan demikian – dengan tidak mengurangi penghargaan terhadapnya – saya harus mencari seseorang yang lain. Dan saya pada waktu itu langsung tahu jawabannya, yaitu, tentu saja, dr. Suryo Dharmono dari FKUI. Atas kesediaan dan jasa mereka berdua, saya mengucapkan terima kasih saya yang tanpa batas.
Saya juga menghaturkan berlimpah terima kasih kepada mereka yang telah memberikan resensi, baik secara lisan maupun tertulis (di bedah buku, email, blog, dan SMS) terhadap buku ini ketika diterbitkan pertama kali oleh Jejak Kata Kita, Yogyakarta. Ucapan terima kasih yang luas dan tak bertepi saya sampaikan kepada Bagus Utomo, ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia, dan Tarjum Sahmad, blogger terkemuka dan penulis psikomemoar bipolar Mengubah Mimpi Buruk menjadi Mimpi Indah, yang telah tanpa pamrih senantiasa mempromosikan buku saya di mana pun mereka berada.
Juga kepada kawan-kawan sesama aktivis kesehatan jiwa dalam lingkung institusi apapun, terutama Perhimpunan Jiwa Sehat (yang anggotanya terlampau banyak untuk disebutkan di sini), terutama Ibu Sri Mulyati dan Tifa Putri; serta sang konsumen kesehatan jiwa dari Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia, yang pemikirannya gilang-cemerlang dan seringkali lebih pandai daripada psikiater, Suhari Bunadi -- dengan sama sekali tidak bermaksud mengabaikan yang lain -- yang semuanya senantiasa mendorong dan mengatakan tiada yang tak mungkin bagi orang yang mengalami masalah kejiwaan untuk mencapai apa pun, termasuk meraih mimpinya untuk menerbitkan buku dan melihat karyanya dibaca banyak orang. Ternyata berbeda raga tidak berarti berbeda asa!
Saya takkan pernah tahu bagaimana mengucapkan rasa terima kasih saya kepada dua dokter saya, dr. Fadhlina (Puskesmas Tebet) dan dr. Hervita Diatri, SpKJ(K) (Departemen Psikiatri FKUI-RSCM) yang senantiasa menyulut ulang bara berkarya dalam hidup ketika saya merasa “terhambat” dan tak tahu harus bercerita kepada siapa. Mungkin Anda telah terbiasa untuk menolong orang, tapi saya merasa luar biasa telah ditolong oleh Anda berdua!
Akhirnya, saya harus bersyukur kepada Tuhan, karena gerak tangan-Nya telah membuat kita semua bersua dan saling menjalin kebersamaan yang karib. Sehingga perjalanan hidup saya menemukan salah satu pengalaman puncaknya dengan menghidangkan buku ini kepada Anda semua.
Semoga buku ini dapat membukakan mata Anda, bahwa kami bukanlah makhluk dengan aib dan stigma karena skizofrenia, tapi adalah manusia yang utuh, yang juga harus dihargai dengan harkat dan martabat yang setara dengan manusia lain dalam kehidupan di muka bumi ini.
Semoga khazanah pengalaman saya dapat menyumbang sekelumit titik cerah pada perbendaharaan Anda tentang skizofrenia.
Selamat membaca!
Jakarta, akhir Maret 2012
(Anta Samsara)
Pengantar - Gelombang lautan jiwa: Upaya pencarian jati diri seorang dengan skizofrenia
oleh dr. Suryo Dharmono, SpKJ(K) “Aku terus kehilangan hal yang bermakna: hidupku, jiwaku, harapanku. Aku tak sanggup lagi menahan derita. Hidup ini terlampau berat untuk dilanjutkan. Dunia dan aku adalah dua kenyataan yang tak pernah saling memahami. Maka aku pun memutuskan untuk bunuh diri: aku menelan 27 butir Clozapine 25 miligram; dan juga semua diazepam 2 miligram yang aku punya, mungkin 60 butir, termasuk beberapa butir Risperidone yang masih tersisa. Namun aku sungguh kecewa, karena aku tak mati.” Anta Samsara mengawali memoarnya dengan sepotong kisah tentang keputusasaan dan kehilangan makna hidup. Selanjutnya setapak demi setapak kita diajak olehnya untuk memasuki perjalanan hidupnya. Mulai dari dunia masa kanak kanak dan remaja yang berkembang seperti anak lain seusianya dengan sedikit catatan tentang kesukaannya terhadap teman imajinasi.
Memasuki akhir masa remaja dunia kehidupan Anta Samsara mulai berubah, dunia yang olehnya disebut sebagai kenyataan yang sulit dipahami. Kehidupan yang dikenalnya pelan-pelan mulai berganti wujud menjadi dunia yang asing. Orang-orang yang dikenalnya secara dekat mulai bersikap ganjil, menghina dan memusuhinya.
Anta hidup dalam ketakutan, menghindari situasi sosial, bersembunyi di dangau, berkelana mencari hunian yang aman, berpindah-pindah dari satu mesjid ke lain mesjid. Dalam ketakutan Anta merasa sendirian karena kenyataan yang dialaminya tidak dimengerti oleh orang lain, ibunya yang paling dekat dengannya pun tidak mampu memahami penderitaannya. Sampai suatu waktu Anta dibawa berobat ke Rumah Sakit Jiwa, dan mendapat “label” sebagai pasien gangguan jiwa, berpindah-pindah dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya, berkenalan dengan sekian banyak dokter, mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang berbeda-beda. Berkenalan dengan banyak pasien gangguan jiwa lain, mengamati dan mempelajari pengalaman hidup mereka, membandingkan dengan pengalaman hidupnya. Anta mencoba mencerna penjelasan dokter tentang berbagai fenomena hidup yang dialaminya. "Beberapa dokter berbicara mengenai halusinasi. Apakah semua kejadian yang kualami adalah halusinasi? Aku berkata dalam diriku: Tidak! Semuanya tampak begitu nyata! Tidak mungkin itu semua hanya halusinasi! Aku menampik segalanya.
Akan tetapi aku kembali ke rumah dengan keragu-raguan. Mana yang benar: pendapatku atau pendapat dokter? Apakah pengalaman hidup seseorang dapat dinilai secara ilmiah?” Label gangguan jiwa juga membuat Anta kehilangan sebagian hak untuk memutuskan dan memilih cara hidup yang dia ingini. Atas kehendak orang tua dan saudara saudaranya Anta terpaksa menjalani berbagai upaya penyembuhan mistik, dukun, kyai, dan menjalani perawatan di pondok-pondok petirahan. Anta melihat dan mengalami pengobatan yang tidak wajar dan seringkali merupakan hal yang menyakitkan menyaksikan perlakuan atas diri orang orang dengan gangguan jiwa yang dirawat di petirahan. Anta berusaha untuk menemani, memberikan perhatian dan kasih sayang pada sesama pasien gangguan jiwa yang dirawat di petirahan: “...saya memberinya selimut dan bantal agar ia bisa tidur lebih nyaman. Saya memberinya losion anti nyamuk .... Saya juga memberinya roti berisi meises dan kue rasa strawberry. Namun apa mau dikata, saat saya tidur, Pak J mengambil paksa selimut dan bantalnya. Esok harinya Pak J menanyakan apakah saya memberikan selimut dan bantal kepadanya. Saya mengiyakan. Ia mengatakan agar jangan memberikannya selimut dan bantal lagi. Ia berujar, “Semalam juga saya siram, biar basah” ....”. Anta tidak mampu memahami sikap dan perilaku mereka yang mengaku para penyembuh gangguan jiwa. Tidak bisa mengerti mengapa orang yang sudah menderita masih perlu mendapat siksaan, dan mengapa dia dilarang memberikan bantuan. Anta juga tidak paham ketika di petirahan Pak Kyai tidak memberikan penjelasan apapun tentang kondisi sakitnya dan berapa lama dia harus menjalani pengobatan. Dia tidak boleh meminum obat dari psikiater, yang selama ini membantunya mengatasi halusinasi dan gangguan tidurnya. Setiap hari disuruhnya meminum air kelapa. Tidak ada pengobatan lain selain minum air kelapa dan ia harus mengikuti.
Banyak yang ia tidak pahami tentang tata cara orang memberikan pertolongan terhadap orang orang yang menderita gangguan jiwa. Bagaimana mungkin para “penolong” itu menetapkan tindakan pertolongannya tanpa mendialogkan pada mereka yang akan “ditolongnya”. Para dokter menetapkan diagnosis dan memberikan pengobatan, para dukun dan Kyai mengenali roh-roh jahat dan mengusirnya, semuanya dilakukan dengan sangat sedikit melibatkan orang orang yang “ditolongnya”.
Gelombang Lautan Jiwa, ditulis oleh Anta Samsara berdasarkan pada buku hariannya, sesungguhnya lebih terlihat sebagai kisah pencarian jati diri dari seorang yang hidup dengan skizofrenia. Sebuah perenungan yang jeli tentang perjalanan hidup yang nyaris tidak masuk akal. Kenyataan hidup yang tiba tiba berubah menjadi asing dan menakutkan, dan dia harus menghadapi sendirian, karena tidak ada seorangpun yang mau memahami “dunia ganjilnya”.
Anta Samsara mengajak kita untuk menemani dirinya menjalani lakon hidupnya, memahami dunia skizofrenia yang asing, sepi dan menakutkan. Secara bertahap sejalan dengan penerimaan Anta terhadap kenyataan hidupnya, kita pun diajak untuk memahami dunia skizofrenia yang digelutinya.
Dalam banyak kesempatan Anta memperlihatkan perlawanan dan gugatan terhadap perlakuan yang tidak adil, stigma, diskriminasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap orang dengan skizofrenia. Semuanya disampaikan dengan ungkapan yang santun, jernih, tanpa mengandung dendam ataupun kemarahan.
Sungguh, Gelombang Lautan Jiwa, adalah sebuah buku yang sangat layak menjadi bahan refleksi bagi kita semua untuk semakin jernih memahami kehidupan orang-orang dengan skizofrenia.
Psikomemoar Gelombang Lautan Jiwa
Maut gagal menjemputku - 4 Agustus 2007
Aku bangun dari maut dalam ruangan yang bersekat. Kakakku memandang kepadaku. Ternyata semua yang ada di dunia masih ada. Ini rumah sakit umum dan aku kecewa, karena aku tak mati.
Pikiranku sebelum aku di sini sangatlah tertekan; merasa tak punya masa depan. Skizofreniaku tak kunjung sembuh. Kakak pertamaku, yang sedang memandangku, sebelumnya memarahiku, karena ia-lah yang selalu menanggung biaya pengobatan penyakitku.
Aku terus kehilangan hal yang bermakna: hidupku, jiwaku, harapanku. Aku tak sanggup lagi menahan derita. Hidup ini terlampau berat untuk dilanjutkan.
Dunia dan aku adalah dua kenyataan yang tak pernah saling memahami. Maka aku pun memutuskan untuk bunuh diri: aku menelan 27 butir Clozapine 25 miligram; dan juga semua diazepam 2 miligram yang aku punya, mungkin 60 butir, termasuk beberapa butir Risperidone yang masih tersisa. Namun aku sungguh kecewa, karena aku tak mati.
Di sampingku berbaring seorang penderita diabetes akut. Kakinya kudung sebelah. Dan betapa mengerikan kakinya yang sebelah lagi, karena berlubang besar di bagian bawah telapak kakinya. Seorang lelaki muda, mungkin anaknya, setia menungguinya.
Namun apakah saudaraku akan tetap setia seperti itu setelah aku mencoba bunuh diri? Aku tak yakin lagi. Ia jengkel melihatku sebelum ini. Dan mungkin di hari setelah aku keluar dari rumah sakit umum ini, aku akan dicampakkan di jalanan. Sama halnya seperti yang pernah kulihat di kampungku. Mereka dibiarkan ditertawakan. Dikejar-kejar dan dicela. Mungkin tanpa keluarga aku akan seperti itu. Aku akan kembali menjadi gelandangan psikotik, yang berkelana dari satu mesjid ke mesjid yang lain. Seperti dulu.
Di rumah sakit ini, yang kelak kuketahui sebagai Bangsal Teratai RSUD Bekasi, aku terus-menerus tak sadarkan diri. Aku hanya sedikit tahu tentang dokter dan penjengukku. Bahkan aku tak tahu kapan aku pulang. Tahu-tahu sudah di rumah.
Kakak ketigaku, yang rumahnya menjadi tempat aku pulang, kelak banyak bercerita. Bahwa pada malam hari pada tanggal 4 Agustus 2007 ia melihat mulutku berbusa. Ia curiga bahwa aku kebanyakan minum obat. Ia mencoba memanggil mantri tempat biasa aku berobat. Namun ia tak ada karena sedang bertugas di rumah sakitnya. Ia segera menelepon kakakku yang di Tangerang (yang juga perempuan) dan memutuskan bahwa pada pagi harinya kami harus berangkat ke rumah sakit umum, untuk merawatku.
Di RSUD Bekasi aku dirawat selama empat hari. Yang paling terpatri dalam ingatanku adalah suntikan-suntikan dan bubur yang pahit rasanya. Sekat-sekat dan suara orang-orang yang berbicara. Rumah sakit yang sibuk. Rumah sakit yang tetap mengurungku dalam derita kehidupan dunia.
Aku letih sekali, aku ingin istirahat di pangkuan Tuhan. Namun Tuhan begitu keji karena tak mengizinkanku....
Dalam lindap kandungan - 1978-1979
Ayahku hanyalah seorang guru, dan di tahun 1970-an gajinya tak seberapa. Ibuku tidak menginginkan kelahiran anaknya yang ke-5, karena hal itu akan semakin memperberat beban keluarga. Oleh karena itu, ketika ia tahu bahwa ia hamil anaknya yang ke-5, segera ia bertanya kepada tetangga:“Apakah yang harus saya lakukan untuk menggugurkan kandungan saya?” Dan seorang tetangga menyarankan agar ibuku meminum anggur botolan.
Ibuku menurutinya, ia membeli satu botol anggur, sedikit demi sedikit ia meminumnya. Akhirnya ia menghabiskan satu botol. Ia merasa lega, usia kandungannya yang masih satu bulan akan segera keluar fetusnya. Ia menanti dan menanti. Namun alangkah kagetnya ia, karena kandungannya terus tumbuh! Dalam kehamilannya ia merasa begitu tersiksa. Ia enggan makan dan hanya mau minum. Seringkali ia betah tidak makan selama satu atau dua hari. Suatu keadaan yang kelak digambarkannya kelak sebagai tapa (Sunda: bertapa).
Ayahku selalu membujuknya untuk makan sebagaimana mestinya dan mencoba menawarkan makanan enak di warung makan terdekat yang harganya dapat ia jangkau. Namun ibuku tak berselera. Ia tetap saja jarang makan, hingga usia kandungannya sembilan bulan: saat kelahiran anaknya.
Malam itu Ibu Seh bermimpi. Ia hendak mengambil air di sumur, lalu ia menurunkan ember timbaan. Setelah ember timbaan tercelup ke air, ia mengeretnya agar naik. Namun ember itu tersangkut, dan tak dapat lepas. Ia mengakalinya dengan berbagai cara, namun hal itu tak dapat juga dapat membebaskannya. Ia berusaha semakin keras, namun hal itu juga tak berhasil. Ember itu tetap tersangkut.