Gelombang Lautan Jiwa: Sebuah Psikomemoar

Part 9

Chapter 93,390 wordsPublic domain (Wikisource)

Dokter yang kini menanganiku adalah dr. Ayesha Devina (Vivie) yang cantik dan berjilbab. Ia menanyaiku dengan teliti terutama tentang obat-obatan yang pernah kuminum. Ia kemudian menyuruhku beristirahat, dan ia mewawancarai keluargaku, sebuah metode standar untuk mengecek kebenaran pernyataan si pasien.

Selain Risperidone, aku diberi tambahan Diazepam untuk mengatasi insomniaku. Namun pada malam harinya aku hanya tidur setengah malam. Aku terbangun pada jam yang tak kuketahui (di ruang rawat tak ada jam). Aku mendengar kumandang takbir dari mesjid terdekat, namun kemudian berhenti. Aku tidak tahu esok perayaan apa; ataukah aku hanya berhalusinasi?

Aku tak tidur lagi hingga pagi datang. * *

Tanggal 3 Juni pagi hari aku mendengar suara-suara perempuan yang meledekku, datangnya dari ruang perawat. Aku penasaran, ingin tahu siapa yang meledekku. Aku pun masuk ke ruang perawat, ternyata di sana ada tiga psikiater, mereka memperkenalkan diri: dr. dr. Vita (yang di kemudian hari kukenal nama lengkapnya sebagai dr. Hervita Diatri), dr. Meta dan dr. Rena. Mereka memang senang berbincang-bincang dengan pasien, seperti hari ini.

Mereka menanyakan namaku, kujawab, “Anta Samsara.”

“Kenapa kamu bisa masuk ke sini?”, tanya dr. Vita.

Aku pun menceritakan diriku dengan ringkas dan mereka mengangguk-ngangguk, dan bertanya dengan lebih mendalam lagi. Kami terlampau asyik berbicara sehingga tahu-tahu waktu berlalu begitu saja. Mereka nampak penasaran sekali. Aku tak menyadari bahwa hari itu adalah hari Sabtu, seharusnya yang ada hanya dokter jaga. Aku tak tahu apakah mereka sedemikian penasarannya dengan pasien sehingga mereka rela masuk di waktu libur. Mungkin juga waktu itu mereka sedang meneliti. Tapi aku tak tahu mereka sedang meneliti apa.

Mereka bertanya tentang stigma. Aku mengatakan jangan bertanya tentang stigma kepadaku, aku tak bisa membedakannya dengan halusinasiku. Aku mengatakan mungkin juga aku menderita sosiofobia selain skizofrenia. Itulah hasil analisa dari suratku yang dimuat di Kompas pada tahun 2002 atau 2003 dan dibahas oleh Ibu Leila Ch Budiman. Dr. Vita tak percaya mengenai hal itu. Seseorang yang berani menemui orang untuk membuktikan halusinasinya tidaklah menderita sosiofobia. Aku mempertahankan pendapatku, karena memang aku merasa demikian; aku seringkali takut pada para persekutor (penyiksa).

Dr. Meta masih mewawancaraiku beberapa hari selanjutnya. Ia bilang daya pikirku bagus, sayangnya aku seringkali punya prasangka buruk terhadap orang lain. “Daya pikirmu harus dimanfaatkan untuk melawan penyakitmu,“ begitu katanya. Pada saat perawatan itu aku juga sering mengobrol dengan dr. Hani. Aku tak tahu ada apa dengan dr. Vivie, nampaknya ia terlalu sibuk dan kurang lama jika mewawancaraiku.

Salah satu pembicaraan dengan dr. Hani yang menarik terjadi pada tanggal 9 Juni 2006:

[Pukul 16.40] Tadi siang saya berbincang sejenak dengan dr. Hani. Ia menjelaskan tentang perbedaan Gangguan Kepribadian (GK) Paranoid dengan Skizofrenia Paranoid. Ia mengatakan bahwa GK paranoid mestilah berusia 18 tahun atau lebih. Sementara Skizofrenia Paranoid dapat berusia kurang dari itu (misalnya 15 tahun). Ia juga mengatakan bahwa GK Paranoid tak berwaham, berilusi atau berhalusinasi. Sementara Skizofrenia Paranoid sebaliknya. Di luar dugaan saya, ternyata Skizofrenia Simpleks juga berwaham, berhalusinasi atau berilusi. Ia juga menjelaskan tentang Skizofrenia Hebefrenik, namun saya lupa.

Saya menceritakan tentang kepribadian di masa kecil saya dan ia mengatakan bahwa itu ciri kepribadian Skizoid (dengan ciri antara lain penyendiri) dan bukan autis karena autisme biasanya bercirikan tidak adanya kontak mata dengan lawan bicara.

Aku memang menggunakan sebaik-baiknya proses perawatanku. Kumanfaatkan untuk menggali ilmu lebih dalam dari para dokter yang ada di sini. Aku memuaskan rasa haus dan penasaranku akan ilmu tentang penyakitku; dan aku cukup lega karena para dokter itu selalu memberikan penjelasan yang rasional. Tak ada lagi jin atau ilmu klenik, semuanya ilmiah. Menurutku, inilah Islam yang sejati, Islam yang berorientasi pada akal dan bukan berkonsentrasi mengurusi makhluk gaib.

Kadang-kadang aku merasa bahwa pasien lain lebih beruntung. Tulisanku membuktikan hal itu:

Senin, 5 Juni 2006. Tengah malam.

Galih (atau Dimas) punya saudara yang banyak, baik-baik dan kooperatif. Saya merasa iri terhadapnya. Saudara-saudara saya pandangannya buruk dan sulit untuk diajak bekerjasama. Galih bahkan dijenguk oleh tetangga-tetangganya; satu hal yang musykil terjadi pada diri saya. Saya ingat saya dahulu pernah berdoa pada Tuhan agar Ia menjadikan orang-orang menyayangi saya. Tapi sampai hari ini Tuhan belum juga memperkenankan doa saya.

Ayahnya menemani Galih setiap waktu. Maksudku, ia ikut menginap di Bangsal Psikiatri karena terlampau khawatir untuk melepas Galih sendirian di sebuah perawatan jiwa. Ia tidur seranjang dengan Galih.

Ibunya, yang penyayang dan suka memberikan makanan kepada pasien-pasien lain, mengunjunginya setiap hari. Ia memandang anaknya itu dengan penuh cahaya kasih, terpancar rasa sayang yang tiada terkira terhadapnya. Ia sangat mencintai anak bungsunya itu.

Bibinya juga membesuk setiap hari. Datang pagi-pagi sekali dan baru pulang menjelang sore, seakan-akan ia tak punya pekerjaan lain di rumah. Saudara-saudara Galih datang ke bangsal itu lalu pulang dengan menciumi pipinya, seolah-olah Galih adalah bayi yang masih mungil dan lucu. Padahal Galih telah berusia 20 tahun saat itu.

Ayahnya bercerita kepadaku bagaimana gejala awal dari penyakit anaknya itu. Galih tidak bisa membedakan mana kejadian yang benar-benar nyata dan mana yang tidak. Ia menyangka seorang ulama telah datang dan mengobrol dengannya, padahal itu sama sekali tidak terjadi. Galih kelihatan seperti orang yang bingung walaupun sebenarnya ia adalah seorang yang cerdas. Ia adalah mahasiswa di Universitas Padjadjaran, Bandung. Ia seperti tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.

Ayahnya membisiki aku agar jangan berkata terlalu jujur tentang diriku di masa lalu. Ia melarangku bercerita soal percobaan bunuh diri yang pernah kulakukan. “Jangan bercerita kalau kamu pernah putus asa.” Karena Galih masih lemah, ia takut Galih meniru perbuatanku yang dulu.

Walaupun Galih hanya empat hari di dalam perawatan bangsal, namun tak pelak lagi, ia menimbulkan rasa cemburuku akan kasih sayang orang-orang di sekelilingku. Seandainya ibuku masih hidup; atau ayahku seorang yang lebih peduli terhadap penyakitku; atau tetangga-tetanggaku berhenti melontarkan celaannya yang menyakitkan hati dan datang berkunjung jika aku dirawat; atau jika kakak iparku berhenti bersikap menyebalkan; mungkin setidaknya aku tidak merasa dimusuhi terus-menerus, karena tahu bahwa aku disayangi oleh orang-orang di sekitarku. Kini aku hanya dapat berangan-angan, berandai-andai dalam hati dan pikiran sekiranya kondisiku seperti Galih. * *

Kadim berteriak, “Anta, mandikan aku, Anta!”

Ia berjalan merangkak dengan kedua tangan dan lututnya. Ia tak dapat berdiri karena telapak kakinya baru saja dibedah oleh Pak Suryana untuk membuang mata ikan yang dideritanya. Aku pun mengambil sabun, odol, dan sikat gigi cadanganku, lalu menyusul Kadim yang telah masuk ke kamar mandi. Aku memandikannya dengan hati-hati, karena tubuh Kadim telah lanjut; ia yang tertua di antara kami semua. Kulitnya telah mulai mengendur. Mungkin jika ia ada di RS Marzoeki Mahdi, ia akan dimasukkan ke Ruang Saraswati, ruang khusus bagi para manula.

“Kamu sudah mandi?”, tanyanya kepadaku.

“Sudah,” jawabku.

Tangannya menggapai-gapai lalu menemukan tanganku dan mendekatkan ke hidungnya. Matanya telah lamur, ia tak dapat melihat dengan jelas.

“Lalu mengapa tanganmu tak wangi?”, tanyanya heran.

“Sebab aku mandi pakai abu gosok,” kataku bercanda. Ia tertawa keras.

Setelah aku keluar dari kamar mandi, Fahmi mendekatiku, lalu berkata, “Beli rokok dong, Anta,” memohon. “Nanti kalau keluarga ane datang, ane kasih ente makanan,” katanya dengan kata ganti orang serapan dari Bahasa Arab karena memang Fahmi adalah keturunan Arab.

“Tapi aku hanya punya receh,“ jawabku berdusta karena takut uangku habis dan tak tahu kapan keluarganya dan keluargaku akan datang membesuk.

“Tidak apa-apa. Mana?”, matanya berbinar-binar.

Aku masuk ke ruanganku lalu mengambil 5 receh Rp 200,- dari tasku.

“Ini,” kuberikan kepada Fahmi.

Ia tersenyum senang, mengucapkan terima kasih, lalu pergi ke kantin yang sempit, membeli sigaret. Sesaat kemudian ia telah duduk santai di bangku dekat ruang perawat, bersama Dani, asyik menghirup dan mengepulkan asap ke langit-langit ruangan.

“Kamu beli berapa?,” tanyaku.

“Dapat tiga,” jawabnya.

“Ini, satu buatmu,” ia menyerahkan sebatang rokok kepadaku.

“Tidak usah,” kataku, karena aku tak suka merokok.

Lalu datang Wanda dengan tersenyum-senyum melihat mereka yang sedang merokok.

“Serahkan pada dia saja, “ kataku menunjuk pada Wanda.

“Baiklah. Nih!”.

Ia menyerahkan rokok itu pada Wanda. Lalu mereka pun menikmati pagi itu. Pagi sehabis sarapan.

Fahmi bercerita kepada kami semua bagaimana ia dahulu adalah seorang pedagang yang sukses. Ia menjual apa saja, asalkan itu halal. Sebagai hasilnya ia mampu membeli tiga buah sepeda motor, dan ia pun mampu membiayai kebutuhan hidupnya sendiri. Keadaan berubah semenjak ia sering dirawat di RSJ atau bangsal psikiatri yang menghabiskan banyak uang. Ia telah dirawat di beberapa rumah sakit. Semuanya atas dasar paksaan dari orang tuanya. Ia sebenarnya tidak mau dirawat, ia lebih betah di rumah. Namun kata orang tuanya emosinya terlampau tinggi, membahayakan bagi lingkungan. Ia bahkan memecahkan kaca IGD sebelum masuk ke sini, karena ia mengaku telah ditipu ayahnya.

“Bapak ane bilang cuma beli obat, tapi ternyata malah dimasukin ke sini,” begitu katanya.

Dani bercerita, seingatnya yang ia lakukan sebelum masuk ke sini adalah akan meminta maaf kepada seseorang. Namun anehnya orang itu malah melaporkannya ke orang tuanya, konon karena ia membawa-bawa obeng. Orang itu berkata bahwa ia akan ditusuk, padahal maksudnya bukan begitu.

Wanda hanya diam saja. Lalu kemudian berkata, yang ia rindukan adalah rumahnya; ia ingin pulang ke rumah, tak mau lagi tinggal di rumah sakit, apalagi sampai berulang-ulang kali dengan masa perawatan yang lama. Ia tak tahan. Tapi siapa yang sudi mendengar keluhannya, sedangkan dokter pun kali ini tak mengizinkannya pulang; orang tuanya pun menolak.

Aku tak mau bertutur soal kisah sedihku. Maka aku pun beranjak pergi dan masuk ke ruang rawat kelas 3. Aku tak mau mengingat-ingat masa kelabuku, setidaknya untuk pagi ini. Aku hanya mau bercerita di hadapan dokter atau perawatku.

Kulihat Ari sedang tidur-tiduran di ranjangnya. Ia tersenyum, lalu melambaikan tangan, memanggilku. Setelah dekat, ia berkata, “Kudengar kamu akan membuat buku, benarkah?”

“Ya, itu betul”, jawabku mengiyakan.

“Buku tentang apa?”, tanyanya lagi.

“Sebuah kamus, untuk pelajar,” jawabku lugas.

“Aku juga sedang membuat buku di rumah, buku do’a. Aku telah bekerjasama dengan seorang santri untuk membuatnya,” katanya dengan tersenyum.

Ia merencanakan buku itu adalah buku do’a terlengkap yang pernah beredar di Jakarta. Ia telah punya banyak referensi untuk membuatnya. “Aku pasti berhasil membuat buku itu jika telah keluar dari sini,” katanya antusias.

Aku mendukungnya dan rasanya senang sekali punya kawan yang bercita-cita dalam bidang yang sama: sama-sama ingin menjadi seorang penulis.

Aku menceritakan kamusku. Kamus itu adalah kamus komprehensif untuk pelajar. Bila saat ini seoarang pelajar hanya dapat menemui kamus untuk bidang pelajaran tertentu, maka kamusku tidaklah begitu. Kamusku mencakup semua bidang pelajaran, termasuk di dalamnya ekstrakurikuler yang umum, misalnya Pramuka dan PMR. Kamusku akan dilengkapi dengan etimologi, yang pertama untuk kamus pelajar di Indonesia. Kuperkirakan lemanya meliputi 10.000 entri.

“Hebat sekali, “ katanya tersenyum lagi.

Lalu kami melihat ke luar, seperti hari-hari sebelumnya kakak perempuan Didit datang, menciumi pipi Didit lalu membuka bungkusan besar yang ia bawa, yang isinya makanan untuk dibagi-bagikan. Dengan tertib, kami mengerubunginya lalu menerima jatah kami masing-masing dan memakannya dengan riang. Didit hanya tersenyum saja. Ia telah tiga kali berturut-turut di-ECT (Electro Convulsive Therapy) dan kondisinya membaik. Ia tak dapat berkata sesuatu apapun, karena penyakitnya memang begitu. Kami bubar, dan kakaknya itu duduk-duduk berdua bersama adiknya yang ia sayangi. Kakaknya bercerita, tapi lagi-lagi Didit hanya tersenyum-senyum. Tak peduli akan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu. * *

Dr. Vivie hanya mengizinkanku tinggal selama 20 hari di bangsal itu. “Pulanglah, kau tak cocok di sini.”

Namun aku menolaknya karena bagiku bangsal psikiatri lebih baik daripada rumah kakakku. Aku merasa diteror oleh tetangga dan kakak iparku di rumah. Di bangsal psikiatri, aku merasa lebih tenang karena aku merasa tak ada yang mengancam dan menyerangku.

“Dengar, bangsal psikiatri itu untuk mereka yang buruk insight-nya , bukan untuk orang semacam kamu,” jelasnya.

Tapi kubilang aku butuh rasa aman. Aku tak bisa hidup dalam kegelisahan terus-menerus. Namun dr. Vivie tetap mempertahankan pendapatnya. Aku tetap harus pulang. Aku hanya diberi waktu 3 hari. Pada tanggal 22 Juni 2006, aku pun pulang dengan dijemput oleh kakak pertamaku.

Mungkin karena sekarang obatku atipikal dan secara rutin kuminum bahkan setelah lama kembali ke rumah, aku jadi punya keberanian yang lebih untuk melawan suara orang-orang itu. Ketika mendengar suara, aku dapat membaca, bernyanyi, atau tertidur. Walaupun aku merasa diusir dari bangsal psikiatri RSCM, namun aku bersyukur kepada Tuhan, karena Sang Maha Pengasih itu telah meringankan penyakitku.

Bahkan pada bulan puasa tahun itu, aku mampu salat tarawih di mesjid yang ramai dengan orang. Bahkan pada hari Lebarannya aku keluar rumah dan bersalaman bermaaf-maafan dengan semua tetanggaku. Dalam jangka waktu kurang dari satu bulan berobat medis di psikiatri, gejalaku telah mulai sembuh. Sekali lagi, aku sangat bersyukur karenanya. Kusongsong kesembuhan yang ada di depanku.

Ayah dan hidupnya - 1933-2006

Setiap orang itu eksentrik...,” kata-kata yang diucapkan oleh dr. Ferdi Trisnomihardja pada tahun 2003 itu selalu terngiang di telingaku. “Dan kamu tak perlu khawatir sebab keeksentrikan itu masih masuk dalam batas-batas kenormalan....”

Jika aku teringat kata-kata itu aku selalu teringat pada kepribadianku dan ayahku. Aku adalah seorang pendiam dan penyendiri, sementara Ayah adalah seorang pendiam yang aktif secara sosial. Kepribadian pendiamku jelas merupakan warisan dari Ayah, karena Ibu tidak begitu, hanya saja mungkin ada penyimpangan genetika sehingga ketika berusia 20 tahun aku menderita skizofrenia, sementara Ayah tidak pernah.

Ayah lahir dari seorang Ibu yang bernama Sarkewi di Cilimus, sebuah daerah di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1933. Nenekku adalah seorang keturunan Kasunanan Cirebon yang punya hak waris atas tanah di daerah Watu Belah. Namun karena kebangsawanan itu terwariskan melalui pihak perempuan, ia jadi lemah dan tak punya hak atas tahta. Di depan nama Ayah memang terbubuh R (Raden) tanda ia adalah anggota keningratan Nusantara. Namun gelar itu hanya jadi sekadar penghias nama saja.

Nenekku, Sarkewi, kemudian menikah lagi dengan orang Tegal dan sejak saat itulah hidupnya jadi merana. Tanah warisan dari Kasunanan Cirebon habis terjual dan sejak saat itu mereka jatuh miskin. Kebangsawanan nenekku jadi bagaikan tiang kayu yang ambruk karena digerogoti rayap, tak punya harta dan kuasa.

Karena tak pernah berhenti dari kemelaratan, maka nenekku bercerai lagi dan mengumpulkan uang yang tersisa untuk kemudian sebagai janda berdagang perhiasan emas dari kota ke kota. Maka di sinilah kepribadian ayahku mulai terbentuk: ia harus selalu tinggal di rumah bersama adik lain bapak yang juga tak banyak omong. Hati mereka sepi dan kosong saat ditinggal nenek dan itu bisa terjadi selama berminggu-minggu. Kadangkala mereka kekurangan makanan dan uang dan menutupinya dengan menjual kelapa yang jatuh dari pohon-pohonnya ke warung-warung terdekat. Kadang-kadang mereka didera ketakutan karena kentongan desa berbunyi cepat dan nyaring dan suara tembakan sahut-menyahut tanda kontak senjata antara pihak penjajah dan pribumi sedang berlangsung.

Dalam ceritanya, Ayah pernah berkata bahwa ia merasa diabaikan nenek. Ia menginginkan kasih sayang dan rasa aman, namun itu hanya didapatnya sesekali, yaitu saat nenek pulang berdagang. Lalu karena berhasil meraih telinga dengan tangan yang memintas bagian atas kepala, maka ayah diterima di SR (Sekolah Rakyat). Ayah termasuk murid yang terpandai, para pejabat pribumi menyukainya. Setelah lulus SR ia kemudian melanjutkan ke SMP di kota tanpa harus membayar sepeser pun, karena Pak Camatlah yang menanggung semua biayanya (dari kampungnya hanya ada dua yang masuk SMP, ia dan anak Pak Camat itu).

Ayah adalah anak cerdas yang pernah tidak naik kelas. Karena keadaan keamanan yang gawat, agresi Belanda, Ayah, nenek, dan adiknya terpaksa mengungsi. Mereka baru kembali saat ujian tiba. Ayah tak lulus ujian karena ia sama sekali tak tahu apa yang dimaksudkan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam ujian itu. Ia terpaksa mengulang setahun, dan karena kali berikutnya keadaan keamanan cukup kondusif, maka Ayah dapat belajar dengan tenang. Ayah kemudian naik kelas ke kelas 3 dan pada tahun berikutnya ia lulus dengan nilai memuaskan.

Ketika lulus SMP sebenarnya Ayah ditawari jabatan kopral di TNI. Namun Ayah menolaknya dengan alasan bahwa ia dapat melakukan banyak hal dengan bersekolah lagi. Ia ingin menjadi guru, maka ia pun masuk SGA (Sekolah Guru Atas) yang pada waktu itu dapat ditempuh dengan cuma-cuma oleh para lulusan. Walaupun Ayah ada kesulitan dengan mata pelajaran Bahasa Inggris yang belum menjadi trend di Indonesia pada masa itu, Ayah lulus juga dan mendapatkan surat penempatan ikatan dinas di Solok, Sumatera Barat.

Adalah pecahnya pemberontakan PRRI yang terjadi beberapa tahun setelah ia mengajar di sana yang membuatnya kembali ke Pulau Jawa. Di daerah kelahirannya, Cilimus, Kuningan, Ayah menikahi seorang gadis yang kemudian memberinya seorang anak laki-laki, kakak lain ibuku yang bernama Idi. Dengan gaji yang cuma cukup untuk seminggu, yang membuat ekonomi rumah tangga morat-marit, Ayah terpaksa menanggung kepedihan hati yang bukan main. Ia ditinggalkan istrinya karena selingkuh dengan lelaki lain. Profesi lelaki lain itu, hanyalah seorang supir, namun pendapatannya lebih tinggi ketimbang Ayah. Pada usia menjelang 30, sama seperti usiaku saat menuliskan kalimat-kalimat ini, ia harus kehilangan dua hal yang berarti dalam kehidupannya: istri dan anak satu-satunya.

Ayahku depresi. Karena pada saat itu tak ada psikiater dan antidepresan, maka ayahku menjalani ritual pemulihan dengan cara yang diketemukannya sendiri, yaitu dengan mandi di sungai pada tengah malam. Suara anaknya yang memanggil-manggil dalam batinnya lebih mengganggu ketentraman jiwanya daripada ancaman pelor para kaum pemberontak yang banyak mengganggu keamanan desa-desa pada waktu itu.

Dalam kegelisahannya, Ayah kemudian menikahi ibuku. Ibu sama sekali tak mengenal Ayah, bahkan baru pada hari pernikahan ia melihat wajahnya. Ibu mau menikah dengan Ayah karena dipaksa oleh kedua orang tuanya.

Depresi Ayah kiranya berlarut-larut, ia sering menumpahkan kekesalan atas kegagalan pernikahan pertamanya dengan membentak-bentak dan memukuli Ibu. Ibu, yang sepanjang masa kecilnya mengalami penyiksaan oleh nenek tiriku, seperti dikeluarkan dari satu neraka untuk dimasukkan ke neraka yang lain. Ia tak habis pikir kenapa penderitaan selalu dekat-dekat dengannya.

Ayah jadi penderita sindrom patriarki. Apapun hal yang tak disetujuinya yang dilakukan Ibu dilampiaskannya dengan marah-marah dan memukul. Ibu jadi bulan-bulanan kesengsaraan. Gaji Ayah masih kecil dan Ibu harus menutupi kekurangannya dengan berdagang kue. Ayah yang butuh subsidi silang atas kehampaan jiwanya, mengundang kawan-kawannya untuk dijamu dengan kopi dan kudapan. Ia bersenang-senang dengan uang hasil dagang Ibu. Dan Ibu hanya bisa duduk menyudut ruang, terpekur dengan air mata tergenang karena tak tahan menahankan kegetiran hidup. Ia hampir-hampir putus asa. Ia berdoa memohon kepada Tuhan agar Ia menurunkan pertolongan-Nya untuk membantunya keluar dari lingkaran penderitaan.

Dan Tuhan pun menjawab dengan siksaan Ayah yang tak kunjung berhenti. * *

Jakarta, 1965, adalah tempat dan tahun yang panas bergolak. Ayah yang aktif di Partai Nasional Indonesia ikut menolak tuntutan mahasiswa untuk mengadili Sukarno. Ayahku dituding komunis. Dinding-dinding sekolah tempat Ayah mengajar dipenuhi dengan tulisan-tulisan dengan tanda seru untuk menggantung ayahku.

Ayah berusia 32 tahun kala itu, telah menempuh berbagai kesulitan hidup yang membentuknya untuk bermental baja. Ayah tak takut sedikit pun ketika diancam massa. Ia kemudian diseret ke barak militer untuk diinterogasi selama berjam-jam. Ayah bersikukuh bahwa ia tak bersalah. “Aku Sukarnois dan bukan komunis,” demikian tegas ayahku mantap tanpa rasa gentar sedikit pun. Militer tak percaya. Maka interogasi pun dilanjutkan selama beberapa jam lagi.

Ibuku di rumah kontrakannya menangis pilu sambil memeluk erat kakak pertamaku yang waktu itu masih kecil. Tak ada tetangga yang berani mendekat karena mereka takut dituding komunis. Untunglah ada seorang tentara yang mendekati Ibu dan mengatakan bahwa ia akan mengusahakan pembebasan Ayah karena ia telah kenal baik dengan Ayah dan tahu bahwa ia bukan seorang komunis.

Menjelang sore, Ayah pulang dengan diantar oleh tentara tadi. Ia mewanti-wanti agar tak mengucapkan sesuatu yang menentang keadaan sebab kondisi keamanan negara sedang genting. Ayah kini hanya dapat duduk merunduk dan diam, langit telah runtuh dan ia tak dapat menahan dengan telunjuknya.

Karena stigma dituding PKI, hidup Ayah dan Ibu menjadi tidak tentram. Hati Ibu selalu diliputi kekhawatiran akan keselamatan diri mereka. Maka Ayah pun memutuskan untuk pindah ke daerah perkampungan, di Desa Bojong, Ciamis. Di sana Ayah dapat hidup dengan tenang tanpa merasa terancam.

Pekarangannya lebih luas sehingga mereka dapat beternak ayam, yang telur-telurnya diambil untuk dijual ke pasar. Dalam tahun-tahun itu, anggota keluarga bertambah; kakak kedua hingga kakak keempatku lahir di sana. Buyut kami juga ikut menumpang, melewatkan malam-malam yang larut dengan membuat kue kamir, untuk didagangkan pada keesokan harinya. Tak ada lagi yang menuding kami komunis, karena kami memang bukan komunis.

Ayah memutuskan kembali ke Jakarta saat kakak-kakakku mulai beranjak dewasa dan membutuhkan fasilitas pendidikan di kota besar yang lebih memadai. Keluarga kami tinggal di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Aku lahir di sana. Lalu saat aku berusia 4 tahun kami pindah ke Sunter, Jakarta Utara, tempat yang telah kuceritakan pada bagian awal buku ini.

Ayah telah belajar bahwa hidup ini perih. Ia kini bekerja pagi-sore untuk membiayai anak-anaknya. Pagi, ia mengepalai sebuah institusi pendidikan swasta, dan pada sore harinya ia mengajar Geografi di sebuah SMP negeri. Ayah bekerja dengan sangat baik, sehingga pemerintah memberinya penghargaan sebagai guru teladan tingkat nasional yang piagamnya diberikan oleh Presiden Suharto pada tahun yang aku sudah lupa. * *

Sifat keras Ayah tak jua lekang oleh zaman. Ia tak membiarkan seorang penentang pun untuk tinggal seruangan dengannya. Murid-murid yang melanggar disiplin seringkali ia tampar. Semuanya tak ada yang berani melawan. Kecuali satu, murid dalam kehidupannya, itulah Yayan, kakak keempatku, sang penentang abadi dirinya.