Gelombang Lautan Jiwa: Sebuah Psikomemoar

Part 7

Chapter 73,479 wordsPublic domain (Wikisource)

Pasien-pasien yang lainnya datang dan pergi ke mesjid itu dan aku tak dapat mengingatnya satu persatu. Di luar mesjid, ada pula pasien-pasien yang lain. Salah seorang di antaranya adalah Budi, yang tinggal di bangunan di belakang rumah Pak Kyai. Yang lainnya adalah Ipin, yang tinggal di garasi tempat mobil Pak Kyai diparkirkan. Mereka tidak tinggal di mesjid karena terlampau parah. Aku terkejut ketika diberitahu oleh Bu Kyai Bahwa salah seorang dari mereka berumah di komplek pemerintahan yang sama dengan kakakku di Tangerang. Ternyata, di tempat yang jauh, kami saling bersinggungan dalam permasalahan yang sama. Padahal ketika di rumah, kami tak saling tahu masalah masing-masing. * *

Pak Kyai menyuruhku untuk sering-sering meminum air kelapa muda karena air itu akan membersihkan darahku dari obat yang telah lama kuminum. Dalam hati aku bertanya: Mengapa setiap pengobatan Islam itu anti terhadap ilmu kedokteran dan bahkan terhadap obatnya? Padahal jika keduanya digabungkan aku yakin akan menghasilkan efek yang menurutku sangat positif. Iman dan pengetahuan yang rasional seharusnya selaras dan bukannya saling punggung-memunggungi. Iman akan mengobati keyakinan sang penderita, sementara obat akan memulihkan otak yang merupakan pusat pikiran dan emosi. Aku berharap di masa yang akan datang akan ada orang yang sanggup menggabungkan keduanya dan memasyarakatkan konsepnya itu.

Makasin (Anto Muchsin) -- yang merupakan pembantu Pak Kyai -- diperintahkan olehnya untuk mengambil sebutir kelapa muda setiap harinya agar airnya dapat kuminum. Namun kadang-kadang ia lupa sehingga tidak mengambilkanku kelapa muda. Akibatnya ada beberapa hari aku tidak meminum air kelapa muda itu.

Menurutku pembersihan darahku itu berjalan terlampau lambat. Aku tidak sabar. Sudah selama satu minggu lebih Pak Kyai tidak mengambil tindakan apapun terhadapku. Sementara orang lain dipijat, aku tidak. Pak Kyai beralasan menunggu darahku bersih. Aku tetap saja tak dapat memrotes sikapnya itu. Dalam sebuah pesantren, ketentuan seorang kyai adalah ketetapan yang mutlak, tidak dapat diganggu gugat. Aku hanya bisa diam menghadapi keputusannya itu.

Tetapi, tunggu dulu, ada sesuatu yang terjadi dalam diriku. Entah karena apa, beberapa hari setelah itu halusinasiku menghilang. Aku tak lagi mendengar orang yang mengejekku. Tidak ada lagi yang mengataiku bahwa aku tidak waras. Dalam hati aku bersorak. Aku tak lagi punya halusinasi. Aku juga tak lagi curiga kepada orang lain. Kiranya Tuhan menyembuhkanku. Aku gembira. Aku bahagia. Aku telah terbebas dari penyakitku.

Di kantin, aku mengungkapkan luapan kegembiraanku kepada Bu Kyai yang mudah ditemui di sana. Aku berkata bahwa aku akan segera pulang dalam beberapa hari ini, karena gejala yang menggangguku telah tiada.

Namun ia menegahku. Katanya, “Kamu belum stabil. Tunggulah sampai stabil dulu. Janganlah minum obat lagi. Minumlah air kelapa muda yang diambilkan Makasin untukmu.“

Perkataan itu tak mengecewakanku. Aku menikmati alam perasaan dan pikiranku yang tiba-tiba jadi ceria. Kini aku tersenyum dan bahkan tertawa. Tak ada lagi depresi dalam diriku. Aku bersemangat untuk berbicara dengan semua orang yang kukenal. Termasuk dengan kakakknya Jabbar, yang santri itu, yang putih, cantik dan baik hati. Namanya Nurhidayah.

Nurhidayah baru beberapa bulan nyantri di pondok pesantren ini. Menurut perbincangan kami pada suatu malam, yang juga disaksikan oleh Andi, ia mengaku bukanlah murid yang cerdas. Ia mengeluh, “Saya nggak bisa Bahasa Arab”. Ia menanyakan beberapa soal mengenai diriku: Mengapa aku bisa berada di sana, siapa yang mengantarku waktu itu, dan apakah aku sudah punya pasangan. Soal mengapa aku bisa berada di sana dan siapa yang mengantarku, aku ceritakan apa adanya. Namun aku berdusta soal pasangan.

Aku bercerita bahwa dahulu aku pernah berpacaran, padahal tidak pernah sama sekali. Aku juga berkata bahwa aku telah putus dengan pacarku itu. Sayang sekali, obrolan kami dipotong oleh tindakan Makasin yang melarang secara halus kami bertiga berbincang-bincang di malam yang sepi saat semua orang lain sudah tidur. Seandainya kami dibiarkan berbincang lebih lama tentunya kami akan lebih saling mengenal satu sama lain secara lebih jauh. Tapi sejak saat itu, kami menjadi lebih akrab. Aku terpesona oleh wajahnya, yang cantik, kulitnya yang putih, dan tutur katanya yang lembut. Tak dapat kupungkiri, aku jatuh hati padanya.

Dalam Dinten, aku menuliskan surat cintaku. Aku takut pada santri-santri lain jika mengetahui apa yang kutuliskan. Maka sejak saat itu, isi Dinten kuubah bahasanya menjadi Bahasa Inggris, agar tak ada orang lain, kecuali Andi, yang mengerti isi buku itu. Alhasil, karena ditulis dalam bahasa asing, maka surat cintaku itu tak pernah disampaikan kepada orang yang kusayangi. Namun dari sikap dan gerak lakunya di hadapanku, nampaknya kami telah saling mengerti, kami saling menyukai.

Sejak obrolan malam itu, kami masih beberapa kali bertemu, walaupun tidak pernah mengobrol sedekat malam yang telah lalu itu. Ia menunjukkan sikapnya bahwa ia ingin aku dekati. Meskipun demikian, aku menghormati aturan di pesantren itu. Kami tak pernah berdekatan lagi. Kami hanya saling tegur sapa saat kami berjumpa, entah karena kebetulan, entah karena disengaja. Termasuk saat-saat kami bertemu di pinggir sungai, saat kami berdiri berjauhan, dan tahu, bahwa isi hati kami juga mengalir, seperti sungai itu.

Karena kedekatan dengan kakaknya, maka Jabbar pun mulai dekat denganku juga. Kini, ia-lah yang memetikkan buah kelapa jika Makasin lupa. Ia juga yang membelahnya dan menyerahkan kepadaku. Walaupun ia mengharapkan imbalan berupa uang, bagiku itu tak apa. Jika aku menyayangi kakaknya, maka aku pun harus menyayangi adiknya juga.

Jabbar sering bertanya kepadaku, “Kapan kakakmu akan ke mari lagi?”. Aku menjawab sekenanya, karena ia bertanya dalam Bahasa Jawa. Setelah ia terjemahkan, barulah aku dapat menjawab dengan tepat. Aku bilang aku tak tahu kapan kakakku akan ke mari lagi.

“Kakakku sibuk bekerja,” kataku.

“Di mana?,”tanyanya lagi.

“Di SMP, mengajar, “ jawabku, ringkas dan tandas.

Lalu ia meminta aku menuliskan surat untuk ibunya. Isinya berupa sesal atas perbuatannya yang telah lalu. Ia ingin aku menuliskan bahwa ia takkan mengamuk lagi. Dan memohon agar segera dijemput pulang. Ia sudah sembuh dan takkan mengulangi perbuatannya itu. Surat itu hanyalah curahan hati belaka karena tak pernah dikirimkan.

Beberapa hari kemudian kebetulan ibu dan saudaranya yang lain datang untuk menjenguknya. Namun tidak untuk menjemput pulang, tapi untuk memperpanjang jangka perawatannya di pesantren itu. Jabbar memelas. Aku pun ikut merasa sedih. Kami kini dapat saling merasakan perasaan satu sama lain. Kini kami dapat saling berempati.

Tiga minggu berlalu, Pak Kyai tak juga mengambil tindakan sesuatu apapun terhadapku. Aku merasa diabaikan, tak diindahkan. Tiadanya kegiatan yang berarti membuatku jenuh. Walupun dilarang ke luar komplek pesantren, dengan alasan untuk menghilangkan kejenuhan, maka aku pun berjalan-jalan hingga ke daerah Slarang. Aku juga menyambangi daerah persawahan yang luas terhampar yang letaknya tak begitu jauh dari pesantren itu. Di sana aku dapat memandangi daerah pegunungan yang membiru di kejauhan. Pemandangan yang demikian indah dapat menghilangkan kebosananku. Namun jika aku kembali ke komplek pesantren lagi, aku diserang rasa jemu kembali.

Aku mencoba mengisi waktu luangku dengan menulisi Dinten. Tapi tampaknya hal itu tak dapat juga mengusir perasaan itu. Aku ingin berbincang dengan banyak orang yang enak diajak bicara, misalnya Nurhidayah. Namun aturan jualah yang membuatku tak dapat melakukannya. Rasa suntukku mulai menguasai diriku. Aku tak tahan lagi. Akhirnya aku menelepon ke rumah kakak pertamaku di Tangerang bahwa aku ingin pulang. Namun beberapa hari kemudian, ketika aku meneleponnya kembali, ia mengatakan bahwa menurut Pak Kyai yang ia hubungi lewat telepon, aku belum diizinkan pulang. Aku belum sembuh. Darahku belum bersih dari obat. Aku terhenyak. Aku meminta kakakku untuk datang, dan ia berjanji akan segera meminjam uang ke koperasi di sekolahnya agar ia atau kakak ketigaku dapat menjengukku.

Pada suatu malam, aku terbangun tiba-tiba dari tidurku. Ada yang menertawakan dan mengejek diriku. Dengan perasaan siaga aku mondar-mandir di komplek pesantren itu. Ke mesjid - ke asrama. Ke mesjid lagi dan ke asrama lagi; begitu seterusnya. Namun sumber suaranya tak dapat kutemukan. Aku diserang rasa cemas, jangan-jangan halusinasiku kumat lagi. Aku gelisah lagi.

Hingga pagi, siang, sore dan malam kembali pikiranku tak dapat tenang juga. Aku mulai salat tasbih pada malam hari keesokan harinya. Aku memohon kepada Allah agar jika aku berdosa, dosaku diampuni. Aku berdoa dalam khalwatku agar Ia jangan mengembalikan penyakitku seperti semula. Aku ingin bebas selama-lamanya dari penyakitku dan janganlah membuatku dikuasai oleh halusinasi lagi. Aku berdoa dengan sangat khusyuk hingga air mataku menggenang.

Kurapikan sarungku malam itu lalu mencoba tidur kembali. Namun aku tak dapat. Bahkan pada siang di keesokan harinya aku mendengar banyak santri mengejek diriku. Kiranya Tuhan tak mengabulkan doaku. Malam harinya aku salat tasbih kembali dengan sama khusyuknya. Tapi di manakah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu? Ia tak memakbulkan apa yang kupinta. Halusinasiku bertambah parah dari hari ke hari.

“Aku sudah tak tahan,” kataku kepada kakak ketigaku yang datang bersama anak bungsunya, Iqbal, yang masih kecil, pada suatu hari di bulan Maret 2006.

“Marilah kita izin pulang kepada Pak Kyai,“ tambahku.

Kakakku berpikir beberapa saat, lalu ia berkata, “Baiklah, marilah kita izin.”

Pada senja hari itu kami duduk menghadap Pak Kyai, berkata dan menjelaskan dengan sehalus mungkin tentang kondisi kejiwaanku. Namun Pak Kyai tak setuju dengan rencana kepulangan kami. Ia mengatakan ia tak mau kami menyebarkan berita buruk mengenai kegagalan pesantren yang dipimpinnya dalam hal mengobatiku.

“Itu akan merugikan saya,” begitu katanya.

Ia menceritakan tentang sejumlah kesuksesannya dalam mengobati orang dengan gangguan jiwa. Ia bercerita dengan panjang lebar, dan kami hanya mendengarkan saja tanpa membantah. Ia menutupnya dengan himbauan agar aku bersabar di tempat itu, hingga aku sembuh. Dan kami tak melawan apa yang dikatakannya, kami menurut. Karena melawan adalah tabu.

Halusinasi semakin melumpuhkanku. Aku tak mau makan dengan memakai sendok. Dan kularang kakakku untuk melakukannya juga. Kakakku nampaknya tak merasakan apa-apa. Ia tak merasa ada yang mengganggunya. Karena ia menghargaiku, maka ia makan dengan menjauh dariku.

Kakak ketigaku tidak dapat lama di tempat ini, anaknya harus sekolah. Ia kemudian ke Ciamis dan dari Ciamis ia kemudian pulang ke Bekasi. Ia memberiku uang Rp 50.000,- untuk jajan di kantin. Uang makan sudah dibayar untuk dua minggu ke depan.

“Kamu tak perlu berhutang,” begitu katanya.

Santri-santri semakin sering meledekku. Mereka mencemoohku dengan kata-kata yang menyakitkan seperti ‘gila’ dan ‘anjing’. Akhirnya pada suatu waktu, Nurhidayah mengikutinya juga. Ia telah kena pengaruh santri-santri lain. Mereka memang tidak meledekku dari jarak dekat, akan tetapi tetap saja hal itu menyakitkan. Masalahnya bukan jaraknya akan tetapi muatan emosional yang ada dalam kata-kata itu. Cemooh mereka terjadi siang dan malam dan itu sungguh membuatku tambah sulit tidur.

Aku mengeluarkan dan memanfaatkan Walkman yang kebetulan kubawa. Aku menyetelnya keras-keras untuk menghambat suara-suara yang menggangguku. Seperti biasanya hal itu berhasil. Biarpun demikian, aku kesulitan untuk mempertahankan bahwa benda itu adalah milikku sepenuhnya. Pasien-pasien berebut ingin menyetelnya. Aku tak kuasa melarang. Walkman itu hanya kukuasai pada tengah malam, saat orang-oarang di mesjid sudah jatuh tertidur. Pada siang hari aku tak dapat menyebut Walkman itu milikku, sebab berbagai orang menginginkannya.

Tambah lagi pada suatu hari aku tak dapat menemukan Walkman-ku itu. Aku terkejut, ketika Andi menemukannya di tempat sampah. Sudah hancur berkeping-keping. Kami tak pernah tahu siapa yang menghancurkannya. Mungkin Khamid. Hanya dia yang sering menghancurkan barang-barang. Ia pasien yang paling parah dan pasti ia melakukannya di luar kesadaran. Aku tak boleh marah. Sekalipun demikian, aku merasa sangat tersiksa menjalani malam tanpa Walkman itu. Halusinasi menyerangku semakin gencar. Aku tak tahan lagi. Aku akhirnya memutuskan untuk kabur.

Aku pergi pada dini hari yang sepi. Uang ada di tanganku, ongkos bukanlah masalah. Pada pagi hari aku naik bus dan turun di sebuah persimpangan jalan di kota Cilacap yang ditunjukkan oleh kondektur sebagai perhentian bus menuju Ciamis. Aku memang akan ke sana, menuju rumah bibiku. Karena bila aku ke rumah kakakku di Tangerang atau Bekasi ongkosnya tidak mencukupi. Dari Ciamis aku akan mencoba menghubungi kakakku agar dijemput pulang.

Aku tiba di terminal Ciamis pada pukul 09.30 pagi. Aku sarapan lalu berdiam di mesjid, beristirahat. Sialnya penjaga mesjid itu berulang kali mengejekku. Walaupun kuperhatikan bibirnya tak bergerak. Ia lalu sibuk mempersiapkan perlengkapan salat Jumat. Aku pun lalu Jumatan di sana.

Selesai salat Jumat aku pun beranjak ke rumah bibiku. Aku berjalan kaki karena jaraknya memang tidak terlampau jauh. Tiba di sana bibiku tak ada. Yang ada hanya sepupuku, Mimi, dan suaminya, Bagas. Mimi tersenyum saja menyambut kedatanganku. Ia dengan ramah mengatakan bahwa ibunya (bibiku) berangkat bersama kakak ketigaku ke Bekasi untuk menengok anak lelakinya (saudara lelaki Mimi) yang tinggal di sana. Lalu ia mungkin ke Bogor, ke tempat anak lelakinya yang lain. Ia tidak mengetahui kapan ibunya akan pulang kembali.

Aku sebal sekali pada Bagas. Sikapnya ramah di depan mukaku tapi menghina di belakangku. Kiranya ia sama sekali tak ikut merasakan penderitaanku. Beban batinku sudah berat dan aku tak sanggup lagi untuk memikulnya. Karena itulah aku kabur dari Pesantren R. Tapi ia malah menambah beban itu. Ia tak suka padaku dan aku juga benci padanya. Kami bermusuhan secara diam-diam.

Esoknya aku menelepon kakak ketigaku. Aku tak berani menelepon kakak pertamaku karena orangnya memang pemarah. Rupa-rupanya kakak ketigaku itu langsung menelepon kakak pertamaku, karena sehari kemudian kakakku yang satu itu kemudian datang dengan bus malam. Ia datang dengan seribu amarah. Ia mendampratku.

“Kiranya kamu adalah anak yang susah diatur! Apakah kamu tak dapat merasakan susahnya mencari uang untuk membiayai pengobatan di Cilacap! Sudah, besok kamu kembali ke Cilacap!”

Sore itu aku dibelikan Walkman baru. Aku tak gembira. Itu tak menyelesaikan masalah. Kini problema baru menghadang, aku harus kembali ke sarang pengejek.

Apakah aku bisa tahan kali ini? * *

Tiba-tiba pesantren itu berubah menjadi neraka ketika kami kembali. Aku jadi melihat hal buruk yang sebelumnya tak kuperhatikan. Kami melihat bagaimana pasien-pasien yang tak mau mandi ditendangi atau diajak berkelahi oleh pembantu Pak Kyai. Ia melihat betapa orang yang telah bertahun-tahun di sini pun tetap tidak tersembuhkan. Kakakku mengatakan menyesal telah memarahiku. Ia menyadari kesalahannya, akhirnya ia pun memaklumi keadaan diriku. Akhirnya setelah seminggu berlalu, kami minta izin pulang lagi kepada Pak Kyai. Namun Pak Kyai kembali tak mengizinkan, dan kali ini ia berkata lebih keras daripada yang sebelumnya.

Pada suatu pagi saat matahari bersinar cerah, neneknya Andi berkata kepada kakakku bahwa ia baru saja menemukan satu petirahan yang lain di desa itu. Pengakuan Pak Kyai bahwa ia adalah satu-satunya orang yang mengobati gangguan jiwa dengan cara penginapan yang Islami adalah suatu kebohongan (atau memang ia benar-benar tidak tahu ada tempat lain semacam itu?). Neneknya Andi memberikan petunjuk di mana kakakku bisa menemukan tempat itu.

Ia mengeluhkan Andi, ia ingin Andi pindah petirahan, tapi nampaknya Andi betah di pesantren itu karena ia punya banyak kawan. Andi adalah salah satu cucunya yang punya potensi besar, bahkan sebenarnya ia sudah bekerja. Ia menyayangkan penyakitnya yang sukar diobati. Menurutnya, Kyai H terlalu sering menelantarkan pasiennya sehingga cucunya itu tidak tertangani dengan baik. Sekali lagi ia mengungkapkan keinginannya agar Andi pindah petirahan. Tapi bagaimana caranya? Sedangkan Kyai H pun tak mengizinkan mereka untuk angkat kaki dari pesantren itu.

Kakakku menelusuri petunjuk yang diberikan oleh neneknya Andi. Lalu pada siang harinya ia pulang dengan muka berseri-seri, ia berhasil menemukannya. Tempatnya tidak terlalu jauh, hanya sekali naik angkot, berjalan kaki pun bisa jika mau. Hatiku senang karena sebentar lagi aku akan terbebas dari perlakuan buruk santri-santri di sini. Aku akan pindah ke petirahan yang lebih baik.

Tapi bagaimana caranya pergi dari sini? * *

Untuk kedua kalinya saya kabur dari Pesantren R. Saya sudah tidak tahan lagi dengan perilaku orang-orang di sana. Santri-santrinya tidak menghargai perbedaan, baik secara fisik maupun mental. Saya terus-terusan dicemooh. Dengan berat hati, saya terpaksa menerima resiko kehilangan banyak teman yang saya kenal di sana, padahal alamat mereka sudah saya catat....

Kali ini saya melarikan diri pada pukul tiga dini hari (sebelumnya, pada aksi melarikan diri yang pertama, saya melarikan diri pada pukul empat kurang sepuluh dini hari). Dada saya berdebar keras. Dengan segera lampu kubah mesjid saya matikan, agar aksi melarikan diri saya sukar dilihat orang walaupun mereka terbangun. Namun pada saat saya akan mengangkat tas, Mbahnya Andi membuka mata. Saya berpura-pura hanya memindahkan tas ke tempat saya tidur, lalu berpura-pura mencari sesuatu.

Setelah beberapa lama ia memejamkan mata lagi, saya mengangkat tas, menjinjingnya. Resletingnya sengaja tidak saya tutup karena khawatir suaranya akan membangunkan orang-orang. Saya menyibakkan tirai pemisah pria-wanita lalu melangak-longok untuk melihat keadaan: persekutor dan pasien ternyata tertidur semua. Saya dorong pintu samping mihrab yang selotnya telah saya buka sebelumnya. Saya melihat ke orang yang tidur di belakang mimbar, ia tidak terbangun.

Dengan selekas mungkin saya beranjak ke luar. Sendal Bata yang ada di bagian bawah tas (sewaktu akan pulang, kakak pertamaku bilang begitu, saya tidak mengeceknya) tidak sempat saya keluarkan. Saya menyeker. Saya meloncat ke permukaan tanah (yang letaknya lebih rendah). Lalu saya bersegera berjalan. Dada saya bertalu lebih keras. Saya berjalan lebih cepat. Lebih cepat lagi. Berlari. Berlari cepat. Lalu berlari lebih cepat lagi.

Nafas saya tersengal-sengal. Saya seperti akan pingsan.

Di samping Madrasah Ibtidaiyah Kalisabuk saya berhenti. Mengambil sendal dalam tas yang dibungkus keresek. Suasana gelap, saya sukar melihat. Dengan tangan yang gemetaran saya menyobek keresek, mengeluarkan sendal. Bungkusnya saya lemparkan di tepi jalan. Saya cemas keresek itu akan menjadi jejak bagi pelarian saya. Namun entah mengapa ada gerak tertahan sehingga saya tidak mengembalikan keresek itu ke tas saya.

Sendal saya pakai. Lalu saya berjalan sambil sesekali berlari jika deru nafas saya mereda. Saya tiba di pertigaan musala. Saya berjalan ke pintu musala. Menggeser batu pengganjalnya, membuka pintunya. Suaranya terlalu keras bagi dini hari yang sepi. Saya takut orang-orang yang tinggal dekat musala akan terbangun karenanya. Namun dengan diiringi perasaan cemas saya masuk juga ke dalam.

Lampu tidak saya nyalakan. Lebih aman bila gelap. Tas saya letakkan di sebelah rak Al-Quran, di dekat pintu. Mungkin karena tegang, perut saya tiba-tiba melilit. Saya masuk toilet.... Di dalam toilet saya mendengar seperti ada orang yang melangkah dari kejauhan. Jantung saya yang belum pulih benar kembali berdenyut kencang.... saya diam membisu.

Saya mendengar baik-baik. Ada bunyi motor dinyalakan. Lalu bunyi gigi berpindah. Gas dihela. Lalu motor itu bergerak menjauh. Saya lihat arloji. Pukul setengah empat kurang sepuluh....

Saya berjalan hati-hati, lalu masuk lagi ke musala lewat pintu yang tadi saya buka (musala itu sendiri punya tiga pintu, dua mengarah ke jalan, dan satu lagi di samping mihrab). Saya berdiam dalam kegelapan. Saya berpikir, hingga pukul berapa saya harus di sini? Sesaat saya memutuskan hingga pukul setengah lima. Akhirnya setelah pendapat dalam pikiran saya berbalah, saya menetapkan akan di sana hingga pukul empat seperempat.

Saya mendengar deru minibus dari kejauhan. Lalu melongok lewat jendela dan bertanya-tanya dalam hati, apakah itu supir angkot yang mengarah ke perempatan toko dekat rumah Pak J. Mungkinkah sepagi ini? Jam berapakah angkot biasanya beroperasi? Dungunya saya sebelumnya tidak bertanya kepada orang yang tahu.

Deru mobil itu semakin mendekat. Beberapa saat kemudian saya melihat sinar sorot mobil menyeruak malam, membelah gelap.

Tidak, ia tidak berasal dari jalan besar. Ia berasal dari arah MI [Madrasah Ibtidaiyah]. Kiranya itu adalah tamu Pak Kyai yang pulang. Mereka datang sesaat sebelum saya melarikan diri. Saat mereka datang saya berpikir itu bagus juga untuk mengalihkan perhatian. Sehingga Pak Kyai yang biasa bergadang tidak tahu kalau salah satu pasiennya kabur.

Arloji telah menunjukkan pukul empat seperempat. Saya beranjak mengangkat tas. Membuka pintu dengan tangan kiri, keluar, lalu menutup pintu. Namun saya tidak ingat apakah saya mengembalikan batu pengganjal pintu ke tempatnya. Suasana demikian senyap. Saya melangkah dalam gelap. Saya tidak merasa perlu untuk berlari lagi. Saya hanya berjalan cepat. Di dekat hamparan sawah kaki saya hampir terkilir karena terperosok lubang jalanan.

Saya sudah lupa pukul berapa saya tiba di SD Kalisabuk 01. Kalau tidak salah pukul empat lewat empat puluh menit. Saya duduk di atas tas dan jaket yang saya lepas di tempat yang agak terang. Radio dengan earphone saya nyalakan untuk meredakan ketegangan dan untuk membunuh waktu.

Satu-dua motor dan kelompok anak laki-laki dan kelompok anak perempuan melintas. Keluarga yang rumahnya di depan SD membuka pintu, mengeluarkan motor. Sang bapak (setidaknya begitulah saya menduganya) mengendarainya lalu beranjak akan pergi. Sang anak yang masih kecil (dari suaranya kiranya laki-laki) menangis dan ingin agar bapaknya tidak meninggalkannya. Namun akhirnya bapaknya pergi juga.

Saat setengah enam tiba, dan saya bergerak lagi. Di gerbang saya bertanya kepada perempuan muda yang sedang duduk di bangku semen sambil mengasuh anak yang berdiri berpegangan pada pintu gerbang tentang jalur angkot yang melintasi Kalisabuk. Ia menjawab bahwa angkot lewat di depan SD lalu berbelok ke kiri. Saya mengucapkan terima kasih lalu mengikuti arah yang ditunjuknya.

Tiba di perempatan berwarung saya berhenti lagi karena saya tidak yakin akan tempat berbeloknya angkot [tersebut]. Saya duduk di bangku bambu menunggu orang setempat lewat. Beberapa menit kemudian seorang ibu legam agak gemuk memakai kaus singlet melintas. Saya bertanya kepadanya dan ia menjawab bahwa jalur angkot berbelok di pertigaan itu dan melintasi jalan yang baru saja ia lewati. Ia bertanya akan ke manakah saya. Saya menjawab akan ke rumah Pak J. Lalu ia mengatakan bila akan ke rumah Pak J lebih dekat jika melalui jalan yang di samping SD. Luruslah terus ke arah sawah dan di sekitar itulah rumah Pak J.

Saya mengikuti petunjuknya. Saat saya melewati depan pintu gerbang SD, perempuan yang mengasuh anak tadi sudah tidak ada entah ke mana. Saya agak takut ia menganggap saya orang aneh atau orang sinting karena berbalik arah, tidak sesuai dengan arah yang ditunjukkannya.

Saya sampai di perempatan berwarung lagi, namun warungnya agak besar. Seorang perempuan berambut panjang dengan dua anak kecil yang berjalan kaki telah terlampau jauh untuk saya tanya. Saya tahu saya seharusnya mengejarnya. Tapi hal itu tidak saya lakukan.