Gelombang Lautan Jiwa: Sebuah Psikomemoar

Part 3

Chapter 33,495 wordsPublic domain (Wikisource)

Para tetangga pun menyambutnya dengan senang hati dan menganggapku sebagai anak yang ramah. Walaupun demikian adalah hal yang sukar untuk menghilangkan kebiasaan berkurung diri di dalam rumah dan keluar untuk bermain dengan anak tetangga. Aku sudah satu dasawarsa lebih tak melakukannya. Namun aku masih mencoba ramah dan mengobrol dengan para tetangga jika kebetulan aku lewat di depan rumah mereka dan mereka ada di luar. Aku hampir tidak pernah memasuki rumah tetangga, dan jika mengobrol, aku di luar saja.

Keadaan semakin membaik, dan aku senang karena ada kemajuan. Hal ini berlangsung hingga aku lulus SMU, hingga aku ke Jabotabek lagi, untuk mencari pekerjaan. Karena aku telah lulus ujian di STT-Telkom namun orang tuaku tak mampu untuk membiayaiku.

Bagaimanapun aku meninggalkan Sumedang dengan satu keyakinan: bahwa aku mampu mengubah kepribadianku sepenuhnya. Aku adalah manusia yang ramah secara sosial.

Gerbang gangguan jiwa - 1998-1999

Aku lulus SMU ketika berusia 19 tahun, rata- rata lebih tua satu tahun dibandingkan usia kawan-kawanku (walaupun ada juga yang sama). Hal ini terjadi karena aku masuk SD pada usia 7 tahun. Ayah yang guru dulu berkata, jika seseorang mulai masuk SD, maka ia harus siap secara mental, dan kesiapan mental sewaktu memasuki SD itu menurut Ayah dicapai pada usia 7 tahun.

Segera setelah lulus SMU aku segera ke Bekasi, ke rumah kakak ketigaku. Aku melamar pekerjaan ke sana ke mari. Aku hampir saja mendapatkan sebuah pekerjaan di pabrik. Namun aku memutuskan untuk tidak melanjutkan proses wawancara yang akan kulakukan karena kupikir bekerja di pabrik tidaklah cocok dengan diriku.

Pada suatu hari datanglah telepon dari kakak pertamaku yang mengeluh bahwa pembantunya pulang kampung dan tidak kembali lagi. Dan adalah hal yang sulit waktu itu untuk mencari pembantu baru. Anak-anaknya jadi tidak ada yang menunggui di saat ia pergi mengajar di sekolahnya. Anaknya yang terbesar—yang bernama Mia—pada waktu itu masih kelas 5 SD; dan anaknya yang kedua dan ketiga—yang masing-masing bernama Fifi dan Angga—masih kelas satu SD dan TK.

Sebagai seorang adik yang menyayangi kakaknya, aku merasa kasihan. Maka aku pun berangkat ke Tangerang untuk menjaga anak-anak kakak pertamaku itu. Aku punya pikiran, tokh di Tangerang pun aku masih bisa melamar pekerjaan, sama seperti halnya di Bekasi. Aku pun pergi dengan maksud untuk menolong.

Kakakku menyambutku dengan gembira. Ia juga berterima kasih karena aku bersedia menunggui anak-anaknya. Anak-anak kakak pertamaku itu dekat secara emosional denganku. Bahkan hampir tiap malam (kecuali malam menjelang hari libur) aku membantu menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) mereka. Mereka memujiku karena aku telah berbaik hati membantu kesulitan mereka. Dan aku tersenyum, karena aku memang membantu mereka dengan tulus ikhlas, karena saking sayangnya aku kepada mereka.

Waktu pun berlalu dan tidak ada masalah yang berarti. Namun menjelang akhir tahun 1998 kakak iparku mulai menunjukkan sikap antipatinya kepadaku. Apa sebabnya tidak pernah kuketahui. Ia mulai dengan sengaja mendahak dan meludah di hadapanku. Mula-mula aku merasa biasa saja. Namun lama-kelamaan aku mulai tersinggung. Aku tidak terima.

Aku pergi melarikan diri ke Bekasi karena tidak tahan dengan sikapnya yang kasar. Aku menumpahkan segala perasaanku kepada kakak ketigaku, dan ia menyimak dengan penuh perhatian. Ia kemudian menelepon ke Tangerang dan bercerita apa adanya.

Kira–kira seminggu setelah kejadian itu, kakak pertamaku datang ke Bekasi dan menanyakan mengapa aku sampai pergi begitu saja. Kujawab dengan jujur bahwa aku tidak tahan dengan sikap suaminya. Ia berkata bahwa suaminya itu telah menitipkan permohonan maaf dan agar aku kembali ke Tangerang untuk menanyakannya langsung. Benar saja, saat aku datang ke Tangerang, kakak iparku itu memang meminta maaf dan ia berkata bahwa ia sebenarnya tidak bermaksud apa-apa.

Minggu demi minggu berlalu tanpa terjadi apa-apa. Tapi kemudian kakak iparku mulai menunjukkan rasa tidak sukanya lagi. Ia mendahak dan meludah lagi di hadapanku. Ia dengan buruknya mengomentari diriku. Dan kali ini aku benar-benar tidak tahan. Aku pamit kepada kakakku dengan alasan sejujurnya. Aku mengatakan bahwa sebaiknya aku tinggal di Bekasi saja. Kali ini kakak pertamaku itu mengizinkan dan nampaknya ia memakluminya walaupun air matanya berlinang karena ternyata adiknya yang disayanginya tidak betah tinggal di rumahnya. Ia masih menginginkan aku ada di sana.

Ternyata tinggal di Bekasi pun aku tidak betah. Akibat trauma sosial dengan kakak iparku yang di Tangerang aku jadi menarik diri dari pergaulan sosial dengan para tetangga. Dan mereka mulai mengejekku sebagai orang yang tidak normal.

Kali ini aku menahan perasaan. Aku tidak bercerita kepada siapapun juga. Namun pada suatu hari ayah-ibuku datang secara bersamaan (Ayah biasanya hanya datang sendirian untuk mengambil pensiun di Bank Jabar Cabang Bekasi). Aku menumpahkan segala permasalahanku. Aku berkata aku ingin pulang ke Sumedang dan ingin beristirahat. Ayah-ibuku mengizinkanku. Maka aku pun pulang ke Sumedang.

Di Sumedang aku tidak dapat melupakan peristiwa di Bekasi. Perasaanku jadi amat tertekan. Aku jadi amat pendiam dan penyendiri. Bahkan aku tak mampu lagi untuk menceritakan perasaanku saat itu ketika ditanya oleh ibuku. Ibu khawatir aku sakit parah, namun ia bingung harus melakukan apa. Ia bertanya kepada saudara nenekku yang juga adalah seorang paranormal akan keadaanku. Katanya ada yang melancarkan teluh (parabun) karena tidak senang dengan kehidupan keluargaku yang tidak berkecukupan. Pengirimnya adalah tetangga di depan rumahku.

Aku masih ingin beristirahat dan menenangkan diri, namun Ayah dan Ibu memutuskan lain. Mereka menjual rumah kami yang luas dan nyaman itu. Karena mereka sudah tidak tahan dengan serangan klenik yang dilancarkan oleh orang lain (ini yang kedua kali, yang pertama pada saat aku sakit). Terlebih pada waktu itu Yayan berniat ingin bekerja dan di Jabotabek ia ingin tinggal di rumah sendiri dan bukan menyewa atau menumpang. Maka keputusan Ayah dan Ibu sudah bulat: kami harus pindah rumah.

Kami menjual rumah yang di Sumedang dan membeli sebuah rumah yang lebih kecil yang berlokasi di daerah Tambun, Bekasi tidak jauh dari rumah kakak ketigaku (walaupun rumah kakakku itu termasuk ke dalam wilayah Cibitung). Sayang sekali rumahnya tusuk sate. Namun karena kami tidak berhasil menemukan rumah yang lebih baik, maka kami pun cukup ikhlas untuk menempati rumah baru kami itu.

Penarikan diriku dari pergaulan sosial masih berlangsung. Dan para tetangga mulai mendahak, meludah dan bahkan memukul tembok untuk melampiaskan perasaan tidak sukanya kepadaku. Aku amat tersinggung dan jelas tidak terima. Aku membalas menendang tembok agar mereka tahu bahwa akupun dapat melawan.

Hari demi hari orang yang mendahak, meludah dan memukul tembok semakin banyak saja. Bahkan sembarang orang yang lewat pun mulai melakukannya. Mereka semua benci kepadaku. Dan aku benar-benar tidak terima, aku mulai meneriaki mereka. Namun bukannya mereda, mereka malah semakin meningkatkan intensitas perbuatan mereka. Aku terpojok. Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Pada suatu siang, aku mendengar tetanggaku yang sedang berkerumun mengataiku. Aku terkejut betapa kasarnya kata-katanya.

“Gila kamu!”

“Sinting!”

“Manusia tolol!”

Aku tak mengerti mengapa mereka demikian kasar. Aku terpaku di tempat dudukku. Tak bergerak. Setiap aku menggeser dudukku mereka semakin keras berkata. Tepatlah kiranya perkiraanku, mereka telah bulat-bulat membenciku. Benci karena aku telah menarik diri secara sosial.

Malamnya aku tak bisa memejamkan mata. Aku terus-menerus memikirkan peristiwa itu. Mungkin ini memang kesalahanku. Mungkin kepribadianku memang buruk. Ayah-ibuku tak pernah mempermasalahkan kepribadianku. Tapi ternyata itu menjadi masalah besar bagi orang selain mereka.

Paginya kudengar mereka mengataiku lagi. Kali ini aku hanya diam di kamar. Suara mereka jelas sekali terdengar di telinga. Aku tak mungkin salah. Ayah semakin sibuk bermain kartu dan yang khawatir kepada diriku hanyalah Ibu, yang memang selalu menyayangiku dalam kondisi apapun juga. Yayan pada waktu itu telah bekerja sebagai Kamra (Keamanan Rakyat) , ia hanya memperhatikanku sekali-sekali.

Namun aku tak dapat menahan kejengkelanku kepada para tetangga yang kian hari kian kurang ajar. Aku pun mulai marah-marah. Aku menuding para tetanggaku telah bersekongkol untuk bersama-sama membenciku. Aku meluapkannya kepada Ibu yang memang selalu di rumah. Ketegangan di rumah kami meningkat. Yayan tidak suka dengan sikapku.

Ibu menjadi diam dan bingung menanggapiku karena menurutnya tidaklah begitu. Ia menasehatiku baik-baik bahwa sebenarnya tidak ada yang bermaksud buruk kepadaku. Namun aku tak percaya. Aku tetap yakin tetangga sekitar rumahku tidak menginginkanku ada di rumah kediaman kami. Aku berulangkali meninju pintu dan dinding sebagai balasan pelampiasan kekesalan kepada mereka. Sementara Ayah hanya menanggapi sesekali sambil asyik menghisap rokoknya.

Pada suatu hari aku berpikir keras akan apa yang harus kulakukan. Dan pada sore harinya aku menyimpulkan bahwa aku depresi karena sikap tetangga dan harus berobat ke psikiater di RSCM. Namun Yayan menghalangi dengan alasan bahwa psikiater itu mahal dan tindakanku hanyalah mengahambur-hamburkan uang. Emosiku tak dapat kubendung lagi. Aku memandang Yayan sebagai penghalang. Dan aku pun meninju mukanya keras-keras dengan tangan kananku. Setelah kejadian itu Yayan mengizinkan niatku.

Di Poli Psikiatri RSCM aku diwawancarai oleh seorang yang kemudian kukenal sebagai dokter muda Haznim. Aku mengungkapkan seluruh riwayat hidupku termasuk usaha bunuh diri ketika masih di SMU. Ia datang ke rumahku dan mewawancaraiku serta keluargaku. Beberapa hari kemudian aku disuruh datang lagi. Dan ternyata dokter muda Haznim tengah menempuh ujian psikiatri. Aku tidak pernah tahu apakah ia lulus dalam ujian itu atau tidak. Namun sang penguji mewawancaraiku. Aku bercerita semuanya namun hanya mengenai kepribadianku. Aku tidak menceritakan mengenai ketidaksukaan para tetangga kepadaku karena itu adalah masalah sosial dan bukan masalah kejiwaan. Penguji itu berkesimpulan bahwa aku menderita gangguan kepribadian. Tanpa menyebutkan gangguan kepribadian apa.

Aku diantar kembali ke Poli Psikiatri oleh dokter muda Haznim. Di sana, seorang dokter yang bernama Titis, memberiku resep. Kalau tidak salah resepnya adalah Iterax dan Artare.

Aku kembali dengan sedikit rasa lega di hati.

== Hantaman jiwa yang menghebat - 1999-2002 == Dapatlah kukatakan bahwa sejak kunjunganku ke RSCM itu aku sadar bahwa aku menderita gangguan kejiwaan. Maka sejak saat itu aku sesekali berobat di RSCM dan pernah sekali mencoba berobat di RSJ Grogol (sekarang RS Soeharto Heerdjan). Namun tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa aku harus minum obat secara teratur dan kontrol secara rutin. Juga tidak ada yang mengatakan secara jelas apa penyakitku.

Beberapa dokter berbicara mengenai halusinasi. Apakah semua kejadian yang kualami adalah halusinasi? Aku berkata dalam diriku: Tidak! Semuanya tampak begitu nyata! Tidak mungkin itu semua hanya halusinasi! Aku menampik segalanya. Akan tetapi aku kembali ke rumah dengan keragu-raguan: Mana yang benar: pendapatku atau pendapat dokter? Apakah pengalaman hidup seseorang dapat dinilai secara ilmiah?

Sementara itu traumaku lama-kelamaan menjelma menjadi ketakutan terhadap manusia. Aku jarang keluar rumah bukan lagi karena ingin berkurung diri tapi karena aku takut bertemu dengan orang lain. Bahkan jika aku naik bus aku harus duduk di pinggir jendela hanya untuk menghindari tatapan mata orang yang duduk di sebelahku. Aku masih saja marah-marah kepada Ibu; dan Yayan selalu tak setuju. Ia sering memarahiku, bahkan memukulku. Sementara Ayah hanya memperhatikan sesekali.

Siang menjadi saat neraka bagiku. Aku terkurung dalam gelombang suara tetangga. Mereka mendahak, meludah, mengejek, dan menertawakanku. Aku terpaku menatap langit-langit kamarku. Tak ada yang bisa kulakukan. Kini aku berobat ke dokter jiwa, dan itu menjadi alasan bagi mereka untuk lebih keras mengataiku ‘gila’.

Aku takut untuk mengerjakan segala hal. Segala rutinitas seperti makan dan mandi menjadi terabaikan. Aku takut makan karena jika sendoknya berdenting dengan piring akan menyadarkan tetangga untuk berkata lebih keras. Demikian juga dengan mandi, bunyi siraman airnya membuat mereka lebih aktif dalam meluapkan rasa benci mereka.

Aku mulai jarang makan dan mandi. Aku hanya makan sekali sehari, pada saat magrib berlalu. (Sungguh, hal itu telah membuatku cukup untuk menderita penyakit tukak lambung). Aku pun hanya mandi dua hari sekali, saat badanku telah gatal-gatal.

Aku mulai betah bergadang semalam suntuk, karena pada saat malam para tetangga tidur semua dan mereka tidak punya kesempatan untuk mengejekku. Aku membaca buku-buku yang aku punya untuk melewatkan waktu pada saat bergadang itu.

Jika fajar mulai datang aku pun mulai gelisah. Karena tetangga kan kembali bangun dari tidurnya dan mulai meluapkan rasa bencinya. Aku mulai bingung dan mencari cara agar aku tak terlalu memperhatikan mereka. Lalu aku meminta Yayan untuk membelikanku radio dengan earphone-nya, agar suara tetangga tertutupi oleh suara radio itu.

Tapi hal itu kadang-kadang tak berhasil. Radio kecil terlalu minim suaranya untuk dapat menutupi suara tetangga. Sehingga suara dahak, ejekan, dan tertawaan mereka mengalahkan suara yang muncul dari earphone-ku.

Aku mulai tambah gelisah. Dan tetangga semakin keras mengejek. Seperti Iblis-iblis yang meluapkan dendamnya kepada manusia....

Ibu, jiwaku... - 2002

Ibuku mulai khawatir karena tingkah anehku tak jua hilang. Akhirnya atas saran seorang bibi di Ciamis aku berobat ke seorang paranormal di Purbalingga. Dan menurut analisa paranormal itu, ada makhluk halus yang menunggui rumah kami. Karena itu ia akan mengunjungi rumah kami untuk mengusir mahluk halus itu dan memasang pagar gaib agar makhluk halus itu tidak bisa masuk lagi ke dalam rumah, Ia membawaku ke Poli Jiwa RSUD Banyumas.

Ia menyarankan agar aku meneruskan pengobatanku di Poli Psikiatri atau di Rumah Sakit Jiwa. Ia mengirim muridnya (yaitu sepupuku sendiri, anak dari bibiku di Ciamis itu) untuk melakukan ritual berupa zikir dan pengurutan di bagian kepala terhadap diriku.

Setelah itu Ibu mengajakku berobat ke dua paranormal lain yang masih berdomisili di wilayah Tambun, dan mereka berkesimpulan sama: bahwa rumahku ditunggui mahluk halus. Merupakan hal yang tidak mungkin untuk mengusirnya sebab ia diberi makan oleh pemiliknya agar tetap berada di situ. Ayah dan Ibu kembali menarik napas dalam-dalam, karena mereka kini harus berpikir untuk pindah rumah lagi.

Aku sendiri semula tidak setuju untuk pindah rumah lagi karena aku yakin masalahnya bukan terletak pada bagaimana rumahnya akan tetapi masalahnya terletak pada bagaimana kepribadianku. Namun selama berbulan-bulan Ayah, Ibu dan Yayan mendesak agar aku menyetujui pendapat mereka. Karena aku berpikir mungkin di lingkungan yang baru aku dapat memulai segala sesuatunya dari awal, maka aku pun akhirnya menyetujui pendapat mereka.

Aku tak mau kembali ke Sumedang karena aku malu kepada kawan-kawan SMU-ku. Aku tidak mau mereka tahu kalau aku memiliki gangguan kejiwaan. Namun kami telah mencari rumah di berbagai kabupaten di Jawa Barat, tapi tak berhasil menemukan rumah yang cocok, baik letaknya maupun harganya. Ibu dan Yayan mulai mempertimbangkan Sumedang dengan alasan saudara-saudara kami banyak yang tinggal di sana. Selain itu kami pun akan dapat turut merawat makam nenek kami yang meninggal karena pembengkakan jantung pada tahun 1999. Semula aku menolak. Namun karena dibujuk terus-menerus akhirnya aku pun setuju.

Kami tidak membeli rumah di sana akan tetapi membangunnya dengan biaya hasil penjualan rumah yang di Tambun, Bekasi. Yayan menjadi pengatur keuangan pembangunan rumah itu setelah Kamra dibubarkan dan ia kini tak bekerja lagi. Pembangunan rumah kami dimulai pada akhir tahun 2001 dan selesai pada awal tahun 2002, walaupun rumah kami tak berkaca karena kami kehabisan uang untuk memasangnya (sebagai gantinya kami menggunakan plastik). Semua lantai kamar tidur rumah kami juga tak berpelur. Semuanya hanya tanah yang ditutupi dengan tikar. Walaupun begitu kami tetap gembira sebab harapan yang baru telah berdiri. * *

Tetangga dekat kami seorang pelukis dan ia serta istrinya ramah sekali. Semua anaknya telah bekerja. Hanya satu yang masih sekolah, yang paling kecil, masih di SMP. Aku sangat senang punya tetangga dekat yang seramah itu. Aku jadi teringat masa kecilku yang punya bakat melukis dan sering ikut perlombaan. Mungkinkah bakat itu dapat dibangkitkan kembali? Mungkin aku bisa menjadi pelukis profesional nantinya. Aku dapat belajar ke tetangga dekatku itu. Ia bilang aku dapat kursus tanpa dipungut bayaran. Aku senang sekali ada yang menawari begitu.

Pada suatu hari anaknya yang nomor dua datang dari Jakarta. Aku belum banyak mengenalnya. Namun dari perbincangan tetangga nampaknya ia adalah anak yang kurang baik akhlaknya. Ia sering mencuri hanya agar dapat bermabuk-mabukan. Konon dari Jakarta ia ke Bandung, dan di sana ia tetangkap basah sedang mabuk berat, maka ia pun digelandang ke kantor polisi setempat. Dari kabar yang kudengar, ia telah keluar dari pekerjaannya di sebuah pabrik di Jakarta. Ia adalah anak yang buruk kelakuannya. Konon sebelumnya ia tidak lulus STM. Dari para tetangga aku tahu namanya, yaitu Ajat.

Namun aku tetap ingin berkenalan baik dengannya. Menurut pendapatku waktu itu, manusia buruk kelakuannya bukan karena sifat dasarnya sudah begitu. Namun terkadang karena pengaruh buruk lingkungan. Kakak keempatku, Yayan, juga mantan seorang pemabuk dan penyalah-guna obat terlarang. Namun bukan karena ia punya kepribadian yang buruk, akan tetapi ia terlampau banyak menuruti lingkungan.

Aku menyambangi teras rumahnya untuk berkenalan. Namun ia malah menghindar dan masuk ke dalam rumah. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Namun dari beberapa kali pertemuan sekilas mata dapat kulihat ia punya banyak tato di sekujur tubuhnya (Yayan juga punya tapi hanya satu). Ia hanya mau menerima Yayan dan anak tetangga lainnya sebagai temannya dan tidak mau bergaul denganku.

Karena aku dikecewakan sekali lagi, perasaan tertekan di dalam diriku kembali bangkit bagaikan makhluk mengerikan yang bangun dari tidurnya dan menguasai aku. Aku kembali berkurung diri di dalam rumah. Untuk mengisi waktu, aku mendengarkan radio dan membaca ulang buku-buku yang aku punya. Waktu terasa lama sekali. Hari-hari terasa amat membosankan.

Beberapa minggu berlalu dan kali ini Ajat mulai berani untuk menghinaku dengan kata-katanya yang kasar. Ia mengataiku ‘gila’. Ini terjadi berulang-ulang dan setiap hari. Nampaknya di manapun aku berada, Ajat selalu mengikutiku untuk mengataiku. Aku jadi merasa diteror terus-menerus. Aku takut sekaligus gelisah. Mungkin ia bersikap demikian karena aku jarang keluar rumah dan selalu membaca buku. Apakah itu sebuah kesalahan besar sehingga ia menghukumku sedemikian rupa?

Ia mulai mencontohkan kepada para tetangga bagaimana seharusnya memperlakukanku. Ia mencontohkan bahwa karena tingkah lakuku, aku layak dijuluki ‘gila’. Ia terus-menerus mengataiku dan para tetangga mengikuti begitu saja. Kian hari kian banyak yang mengataiku. Ke manapun aku pergi selalu ada yang mengataiku. Dan hal itu sungguh membuatku sakit hati. Kenapa mereka tega melakukannya?

Ketakutanku terhadap orang kumat lagi. Dan kali ini lebih parah. Aku tak kuat tinggal di rumah. Kebetulan di Sumedang banyak sekali daerah persawahan dan mungkin aku bisa menenangkan diri di sana. Aku pun berangkat pagi-pagi sekali. Menyusuri hamparan persawahan yang luas. Sumedang adalah daerah yang dingin, di dangau (saung) di tengah sawah dapat kurasakan angin yang mengigilkan badan. Untunglah aku memakai jaket. Di hadapanku dua buah kincir angin bambu menemaniku hingga senja hari.

Aku tidak pulang malam itu. Aku mencari dangau yang berdinding penuh dan menginap di dalamnya. Ketakutanku terhadap orang telah mengalahkan ketakutanku terhadap hantu di tengah sawah. Aku berbaring karena pada hari itu aku lelah sekali. Namun karena ketegangan dalam diriku aku tak mampu untuk terlelap bahkan untuk sekejap jua. Malam itu gelap sekali. Aku tak berani menyalakan senter walaupun aku membawanya di dalam tasku. Aku takut ketahuan orang lain kalau aku ada di sana. Dalam jarak yang jauh tak ada cahaya sama sekali. Hanya ada obrolan para peronda di perkampungan yang terdekat yang membicarakanku. Aku jadi tidak tenang perasaan.

Aku tak dapat jatuh tertidur pada malam itu. Apa yang terjadi dalam diriku sungguh membuatku kepayahan. Membuatku lunglai karena menguras tenaga batiniah yang aku punya dalam diriku. Aku berbaring dan merenung di sepanjang malam itu. Pelarian dari manusia di negeri yang banyak manusia adalah tindakan yang benar-benar melelahkan. Aku tiba pada saat bahwa aku butuh berdoa kepada Tuhan. Namun, kali ini aku tak mampu menyusun kata-kata permohonan kepada Tuhan, walaupun ingin.

Pikiranku kacau sekali, dan aku masih terguncang dengan apa yang aku alami. Di kejauhan, kedengarannya para peronda tahu bahwa aku ada di sana. Mereka berniat mendatangi aku untuk menanyai, tapi kawannya mencegah, karena aku sama sekali bukan perampok.

Bagaimanapun waktu tak dapat dicegah. Fajar akhirnya datang jua. Aku harus pulang sebelum suara azan berkumandang, agar aku dapat pulang ke rumah sebelum para tetangga bangun dari tidur malamnya. Perutku pun sangat lapar. Aku pun membenahi tempat itu agar tidak pernah ketahuan kalau aku pernah di sana. Aku beranjak pulang ke rumah.

Aku melangkah dengan hati-hati sekali karena takut membangunkan para tetangga. Aku tak mau mereka mengataiku lagi. Kuketuk pintu dengan perlahan. Dan pintu pun segera dibuka. Ibu berdiri di depan pintu. Ia menangis. Aku menghambur ke dalam.

Ibuku sesegukan sambil bertanya ada apa sebenarnya. Aku tak bisa segera menjawab. Aku terdiam seribu bahasa. Dan ketika tangis Ibu mulai mengeras, barulah kuceritakan segalanya dengan suara yang dipelankan agar tidak kedengaran para tetangga. Ibuku menangis lirih, “Ya Allah, kenapa kau tak sembuh juga...” Dan aku menanggapinya dengan diam menatap lantai.

Pagi merayap datang. Namun matahari tersaput awan kelabu waktu itu. * *

Akhirnya pada malam yang lain, malam saat aku tidak pulang, kusadari bahwa mesjid ternyata lebih nyaman untuk dijadikan tempat menginap pada malam hari, karena lebih hangat. Di mesjid, aku pun mampu salat dan berdoa pada malam-malam itu; memohon agar Allah menganugerahkan kasih sayang di antara hati kami sebagai tetangga. “Jangan jadikan kebencian meliputi hati kami,” begitu doaku pada malam-malam yang sepi itu. Di dalam mesjid, aku lebih mendapatkan ketenangan batiniah karena aku dapat berlindung kepada Allah dari keburukan makhluknya.

Begitulah, maka selama berbulan-bulan aku menggelandang dari satu mesjid ke mesjid yang lain, untuk menghindari ejekan para tetangga yang tak juga mereda. Aku hanya pulang untuk mandi dan meminta uang untuk makan; atau aku membekal nasi jika Ibu kebetulan sedang tidak memiliki uang. Yayan dan Ayah pun mulai merasa cemas. Namun mereka tak berbuat sesuatu yang berarti. Tampaknya tidak ada yang tahu bagaimana caranya untuk menolongku.

Kekhawatiran Ibu semakin besar tiap harinya. Matanya mulai rabun karena rasa cemas yang begitu dalam. Badannya semakin lemah. Hingga pada suatu hari tibalah waktu saat kedua kakinya tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Ia mulai berjalan terseok-seok dan sering terjatuh. Ia seringkali harus dipapah untuk pergi ke mana-mana. Kondisiku saat itu sedang parah-parahnya. Dan aku hanya bisa miris melihat kondisi Ibu yang seperti itu. Aku berusaha untuk berdoa setiap hari, akan tetapi situasi semakin bertambah parah. Apakah aku seorang pendosa sehingga doaku tidak didengar?