Gelombang Lautan Jiwa: Sebuah Psikomemoar

Part 11

Chapter 113,343 wordsPublic domain (Wikisource)

Dua kejadian itu tidak membuatku marah. Aku justru merasa kasihan kepada mereka. Mengapakah seseorang bisa menjadi gelandangan psikotik? Apakah karena keluarga yang tak lagi peduli kepada mereka? Atau apakah memang mereka tak punya lagi keluarga? Aku teringat pada pengalamanku menggelandang dari mesjid ke mesjid. Ternyata aku pernah serupa seperti mereka. Hanya saja bedanya aku masih punya keluarga, terutama Ibu pada waktu itu. Aku merasa dizalimi oleh para tetangga dan itu sungguh membuatku jadi sakit hati. Tak ada jalan keluar waktu itu, selain berlari dan berlari menjauh dari orang-orang yang keji itu. Kadang keadaan itu masih kukenangkan sebagai laracerita dalam hidupku. Aku ingin menumpahkan segalanya kepada seseorang. Namun aku tak lagi punya seseorang yang dapat kuajak bicara dari hati ke hati. Kini hanya ada kakakku yang hanya peduli jika aku sedang “parah”.

Aku tak dapat melampiaskan semua isi hatiku. Mungkin para gelandangan psikotik itu punya kesamaan denganku, hanya saja hingga saat ini aku tetap punya keluarga yang mau menolongku di saat-saat sulit. Pikiranku yang muncul kemudian menakutkanku: mungkin pada suatu hari mereka tak sudi lagi untuk peduli. Aku akan menjadi gelandangan psikotik seperti mereka. Hidup dengan memungut sembarang makanan di jalanan .... * *

Obat oralku di sini adalah Abilify (Aripiprazole) yang berhasil menghilangkan halusinasi dan memperkuat daya pikir tanpa menimbulkan rasa kantuk.

Rabu, 14 Februari 2007. Selagi azan asar.

Dr. Lina telah memberikan saya nasehat yang sangat berharga. Ia mengatakan agar saya jangan lagi memikirkan sesuatu yang sudah berlalu (tidak ada) yaitu waham dan halusinasi yang sekarang menghilang karena pengaruh obat dan suasana perawatan. Bagaikan seorang yang telah putus dengan pacar, ia kini punya banyak pilihan wanita-wanita yang lain. Kini, saya punya kesempatan hidup yang lebih luas.

Dr. Lina juga menyatakan bahwa saya punya fobia sosial. Ia menyarankan agar saya membayangkan suasana sosial yang tidak mengenakan. Dan memang dr. Lina telah meminta keluarga agar membantu saya untuk “keluar” rumah. Saya menceritakan bahwa dahulu dr. Baringin [psikiaterku di Bekasi] dan Leila Ch. Budiman (dalam kolom psikologi di Kompas) [mendiagnosa] bahwa saya memang menderita sosiofobia....

Di rumah sakit itu aku berbincang-bincang dengan perawat yang bernama Pak Aris. Ia mengaku menuliskan laporan-laporan medis yang menyimpulkan bahwa aku takut untuk berinteraksi sosial. Ia menyimpulkan bahwa aku tetap saja takut untuk bersosialisasi walaupun aku sudah tahu apa penyakitku dan bagaimana cara menanganinya. Memang itulah kesimpulan yang tepat untuk menggambarkan kondisi penyakitku.

Pada tanggal 17 Februari aku mencatat dr. Lina mengatakan sesuatu yang belum pernah dikatakan secara tegas oleh psikiater lain:

Kemarin, dr. Lina menyatakan diagnosa baru untuk penyakit saya. Ia berkata bahwa saya menderita skizoafektif, yaitu semacam gabungan antara gangguan mood dengan skizofrenia. Hal semacam itu ditegakkan karena menilik perilaku keluarga saya yang temperamental akan tetapi kadang-kadang bersikap baik.

Dr. Lina mempersyaratkan kesahihan diagnosa skizoafektifnya jika halusinasiku tertangani dalam 2 minggu. Apabila dalam 2 minggu itu halusinasiku tidak tersembuhkan, maka diagnosanya akan dikembalikan kepada skizofrenia paranoid. Aku merasa menderita penyakit yang ganda. Semula aku hanya dinyatakan menderita skizofrenia, tapi kini aku juga dinyatakan mengalami gangguan perasaan.

Dr. Lina mengatakan bahwa keluargaku mungkin menderita gangguan afektif, hal itu ia simpulkan setelah panjang-lebar mendengar keteranganku dan merupakan hasil dari mewawancarai pihak keluarga. Ibuku adalah seorang pemurung, ayahku adalah seorang pemarah, dan Yayan adalah seorang yang berangasan, kakak pertamaku adalah orang yang kerapkali bangkit emosinya. Dr. Lina berkata bahwa aku akan memerlukan dua obat utama untuk penyakitku, yaitu antipsikotik dan antidepresan.

Mungkin penyakit kejiwaan memang telah berkembang jauh di dalam lingkungan kerabatku. Menurut cerita orang tua dan bibiku, saudara yang paling parah menderita penyakit kejiwaan adalah pamanku yang di Ciamis. Ia pernah mengalami episode psikotik selama beberapa waktu. Ia mengaku sering bertarung dengan peri penunggu situ (danau) yang bernama Nini Undu. Ia tidak pernah berobat ke dokter. Ia menjalani terapi gaib bersama seorang paranormal yang kemudian dinikahinya, dengan cara berzikir dan beribadah. Konon, ia menderita penyakit kejiwaan karena menuntut ilmu gaib yang berat-berat seperti misalnya ilmu samber nyawa.

Aku tak tahu bagaimana akan riwayat penyakit dari pihak saudara-saudara Ayah, karena Ayah tidak pernah bercerita soal itu. Mungkin sekali sebelum aku sakit, Ayah tidak pernah mengamati keadaan jiwa kerabat dari pihaknya. Dan jika ia menyadarinya kemudian, ia mungkin enggan untuk bercerita. Karena itu adalah riwayat pahit lain yang ada dalam hidup Ayah. * *

Aku disarankan untuk mengikuti CBT (Cognitive Behavioral Therapy) bersama psikolog di rumah sakit itu yang bernama Bu Ade. Kebetulan pada waktu itu ada mahasiswa Universitas Atmajaya yang bernama Dhita, yang sedang menempuh praktek di akhir kuliahnya untuk mengambil gelar psikolog. Atas izin Bu Ade ia berbincang-bincang secara panjang lebar denganku.

Ia mendengarkan ceritaku yang panjang dalam beberapa kali pertemuan sambil bertanya sesekali. Setelah mendengarkan dengan seksama akhirnya ia mendapatkan gambaran. Ia kemudian memberikan analisa:

Pada dasarnya Dhita menyarankan agar saya lebih percaya diri dalam bersosialisasi, karena sebenarnya potensi saya besar, salah satu di antaranya adalah cerdas. Ia tanya apakah saya merasa diri saya cerdas. Saya jawab tidak. Saya mengatakan bahwa saya hanya punya rasa penasaran yang tinggi, sehingga seringkali mencari hal-hal yang tidak saya tahu. Lama-kelamaan pengetahuan saya bertambah banyak.

Salah satu nasehat berharga dari Dhita adalah jadilah diri sendiri. Pertahankanlah nilai-nilai yang dianggap baik dan jangan jadi orang yang beradaptasi dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri. Tidak semua orang yang dianggap pandai bergaul itu membuat nyaman. Kadang-kadang ada dari kalangan mereka yang annoying (mengganggu) dengan wicara mereka yang seringkali banyak berbasa-basi dan tidak to the point yaitu berkata berlarat-larat dengan memutar sehingga pendengar yang mengharapkan jawaban yang “kena” tidak terpuaskan.

Dhita juga mengatakan agar saya bergabung dengan www.friendster.com untuk mencari teman. “Carilah saya di sana,” begitu katanya. “Bagaimana dengan Lilo (apakah sama dengan Friendster juga)?” Ia menjawab tidak tahu, dan baru pertama kali mendengarnya. Saya tahu Lilofriends dari iklan di Radio Prambors.

Pada hari terakhirku dirawat di RS Duren Sawit, Dhita mewawancarai kakak pertamaku. Kakakku itu bercerita bahwa aku sakit karena aku tidak kuliah. Ia sama sekali tidak bercerita soal trauma sosial yang begitu hebat yang aku alami semenjak aku lulus SMU. Kiranya tidak ada yang peduli pada sikap buruk orang-orang di sekitarku. Aku tetap harus berperilaku sehat sementara orang-orang di sekitarku selalu memperlakukanku secara tidak sehat. Bagaimanakah caranya berperilaku normal dalam dunia yang menganggapku sebagai seorang majnun ini?

Aku pulang setelah dirawat selama 19 hari di rumah sakit itu. Dr. Lina memintaku agar di rumah aku menjalankan dua hal; yang pertama yaitu berpikir positif, dan yang kedua memperluas pergaulan sosial. Kakakku diminta untuk membantu secara penuh sosialisasiku. Kakakku menceritakan segala perasaannya pada hari perpisahan dengan Dr. Lina. Ia merasa kesulitan untuk meredakan konflik yang timbul dalam keluarganya, padahal sebenarnya ia ingin agar hidup saya pulih seperti sediakala. Air matanya berlinangan saat mengatakan “Saya sebenarnya ingin agar Anta sembuh.” Dr. Lina menyatakan empati dengan mengatakan kami sebenarnya saling menyayangi tetapi belum bertemu perasaan dan pikirannya.

Apa yang terjadi kemudian di menit-menit terakhirku di rumah sakit itu sungguh di luar dugaan. Kami diminta membayar Rp 3,9 juta atas biaya yang tidak ditanggung oleh Askeskin. Kakakku telah menanyakan tentang pembiayaan pada awal perawatan dan ia mendapat keterangan bahwa semua biaya perawatan yang akan aku jalani mendapatkan klaim penuh. Biaya dalam porsi terbesar di daftar yang dibaca oleh kakakku adalah biaya untuk obat Abilify. Ada juga biaya dalam daftar untuk aktivitas yang tidak pernah aku jalani.

Di sana tertulis bahwa aku menjalani TAK (Terapi Aktivitas Kelompok) bersama orang yang bahkan tak bisa kubayangkan wajahnya, karena memang aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Dr. Lina mengatakan telah menanyakan tentang Abilify pada bagian Askeskin, dan petugas di sana mengatakan bahwa biaya antipsikotik Abilify ditanggung oleh asuransi. Setelah kami selidiki, ternyata masalahnya adalah kami bukan penduduk DKI Jakarta, dan karena itu kami tak mempunyai hak untuk mendapatkan klaim penuh, karena RS Duren Sawit adalah rumah sakit Pemda DKI Jakarta.

Kami pulang dengan hati yang diliputi kekhawatiran: dari mana kami akan mendapatkan Rp 3,9 juta untuk mengganti biaya perawatanku? Cahaya matahari meredup lagi, karena cuaca kembali mendung .... * *

Aku kembali pada Risperidone berhubung Abilify terlalu mahal bagi kami. Halusinasiku timbul lagi, semenjak masih meminum sisa antipsikotik Abilify. Faktor ketidakmampuan ekonomi telah membuatku kembali terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Dr. Lina mencabut diagnosa skizo-afektifnya karena terbukti halusinasiku tidak tertangani dalam jangka dua minggu. Diagnosaku kembali pada skizofrenia paranoid.

Aku belajar untuk dapat menerima keadaan. Aku mencoba bersabar walaupun itu sangat sulit. Aku berupaya dalam keadaan sesukar apapun untuk tidak lagi merepotkan keluarga. Aku berobat jalan ke RSCM yang sepenuhnya gratis karena ditanggung jaminan kesehatan, walaupun obat yang kudapat hanyalah Risperidone. Aku ingin minum obat yang lebih ampuh, tapi kondisi keuangan keluargaku tidak memungkinkan.

Sewaktu berkunjung ke RSCM untuk memperpanjang lembaran asli Askes yang dirujuk ke sana—karena aku berencana kembali berobat di RSCM setelah terbukti aku tidak mendapatkan klaim penuh di RS Duren Sawit—aku diminta menceritakan pengalamanku dalam perkuliahan dr. Wahjadi Asmadibrata (seorang dosen di Departemen Psikiatri FKUI).

Perkuliahan berjalan amat intensif dan efektif. Sang dosen nampak amat cerdas, bersemangat, dan banyak canda. Ia mengungkap mengapa saya [bisa sampai] punya halusinasi visual. Ketika halusinasi visual itu terjadi, saya merasa amat lelah karena masalah. Zat gula dalam darah menurun. Sebenarnya halusinasi ini wajar dan bisa terjadi pada non-penderita skizofrenia jika waktunya menjelang dan setelah bangun tidur.

Ia juga mengungkap kepribadian saya. Semula ia menduga saya berkepribadian skizoid atau avoidance . Namun setelah ditelusuri secara lebih mendalam, ia mendiagnosa saya berkepribadian anankastik (perfeksionis) karena selalu merasa bermasalah dengan sesuatu yang tidak beres. Pandai sekali, ia dapat menebak ada orang yang otoriter pada masa kecil saya (yaitu Ayah). Ia bilang saya penurut di masa lalu karena superego saya kuat sekali.

Ia bilang aku bisa sembuh sempurna, namun ada satu yang dikhawatirkan yaitu kekambuhan. Ia berkata aku punya potensi untuk dikembangkan, namun ada satu hal yang mengganjal, yaitu kepribadianku. Aku merasa sedikit lega karena mendapatkan jawaban yang ilmiah.

Di rumah, kata-kata sang pengajar itu terngiang-ngiang di telingaku. Aku mencari kata anankastik pada beberapa kamus yang kupunya. Namun aku tak mendapatkan penjelasan lebih jauh. Aku harus puas pada penjelasan sang dosen.

Izrail tak datang menjemput - 4 Agustus 2007

Siang yang sunyi.

Aku meletakkan buku memoar Sidney Sheldon Sisi Lain Diriku di atas kursi di samping tempat tidurku. Buku itu kubeli dengan uang sisa pembelian buku-buku Universitas Terbuka. Kakakku menginginkan agar aku tak terus-menerus memikirkan penyakitku. Ia memberikan sejumlah uang agar aku dapat melanjutkan kuliahku, sehingga pikiranku teralihkan. Pulangnya, aku membeli buku ini, memoar Sidney Sheldon ini. Di bagian belakang buku itu tertulis bahwa ia adalah penderita gangguan manik depresi.

Aku pasti dapat mempelajari sesuatu dari hidup yang dijalaninya. Buku itu akan kubaca besok karena hari ini aku lelah sekali. Selang satu jam kemudian kakakku masuk kamar. Ia menanyakan kembalian membeli buku. Aku berkata terus terang bahwa uang itu dipotong saja dari uang bulananku. Waktu itu aku masih mendapat uang Rp 100.000,- per bulan karena kakakku berhutang kepada Ayah dan pesan Ayah waktu itu agar uang pelunasannya diberikan saja kepadaku agar ia tak perlu repot-repot mengantarnya ke Bekasi. Ayah memang sering memberikan uang tiap bulan kepadaku. Uang itu kupakai untuk mengembangkan pengetahuan. Kakakku masih belum dapat melunasi hutangnya bahkan setelah Ayah meninggal.

Kakakku rupanya tak terima akan perbuatanku itu. Ia memarahiku. Ia berkata bahwa ia-lah yang harus menanggung semua beban penyakitku. Aku sama sekali tak tahu diuntung telah membelikan sisa uangnya untuk sesuatu yang tidak penting. Aku tersudut di kamar. Aku tak menyangka akan begini jadinya. Aku membeli buku itu karena ingin mengetahui pengalaman orang lain dalam menangani gangguan jiwa yang dideritanya. Berbagi pengalaman melalui media buku adalah salah satu cara yang efektif untuk mencegah pemburukan gangguan yang kualami.

Aku bungkam dan tak bisa menjelaskan argumenku karena kakakku tidak sudi mendengarkanku. Ia terus mengomel dan aku sama sekali tak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Akhirnya aku lebih memilih untuk pergi ke rumah kakak ketigaku. Perasaanku berkecamuk mengenai apa yang harus kulakukan di sana. Aku tiba dengan pikiran dan perasaan yang labil. Akhirnya aku menulis:

4 Agustus 2007. Pukul 12.47.

Di sepanjang perjalanan, kedua bagian hatiku bertikai apakah aku harus bunuh diri atau tidak …. Kakak tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah mengerti mengapa aku selalu membeli buku-buku seperti itu: kisah hidup itu meredam depresi. Sudah sebulan ini aku depresi berat. Dan sama sekali tidak ada yang bertanya bagaimana keadaanku. Sama sekali tak ada.

Mungkin aku akan meminum semua diazepam yang aku punya agar aku mati. Rencanaku untuk memerangi stigma akan gagal. Ternyata aku hanyalah debu jalanan yang mudah tersingkirkan oleh angin. Aku akan menyusul ibuku ke alam sana… Bahkan kakak ketigaku tak peduli saat aku datang … * *

Pukul 13.59.

Aku telah menelan semua diazepam yang aku miliki. Kini tinggal menunggu malaikat Izrail datang menjemput. * *

Pukul 19.00.

Bunuh diri dengan diazepam tidak berhasil. Kini saya mencoba Luften dan Risperidone generik sekaligus. * *

Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi. Yang dapat kuingat hanyalah kilasan kejadian: Aku ditolak sebuah rumah sakit, aku diturunkan dari mobil, dan orang-orang yang hilir mudik. Rumah sakit yang sibuk. Aku tak suka banyak orang. Aku ingin sendiri.

Kakak iparku memasangkan selang oksigen di hidungku, namun itu malah membuatku sulit bernafas. Sesaat aku merasa bahwa aku di ambang kematian. Malaikat maut akan datang. Aku bisa merasakan dengus nafasnya. Sebentar lagi aku akan mati. Meninggalkan dunia yang menyengsarakan ini.

Lalu kantuk dan gelap datang lagi. Aku tidak sadar untuk yang kesekian kalinya. Entah untuk berapa lama.

Aku terbangun saat tak ada keluarga di sampingku. Kulihat orang yang tergeletak di sampingku. Seorang lelaki Tionghoa paruh baya. Kakinya buntung sebelah, dan yang satunya telapaknya berlubang besar. Tapi aku berkata dalam hatiku: kaki, bukan jiwa. Ia tak akan mati karena bunuh diri.

Lalu makanan datang. Aku disuapi. Bubur yang pahit rasanya. Aku menolak makan karena sesaat lagi aku akan mati. Tak ada gunanya kita makan jika kita akan mati.

Dua orang suster datang dan menyuntik di infusanku. Apakah itu penawar nyawa? Oh, tidak. Keluargaku menginginkanku agar tetap hidup, sementara aku lebih memilih mati. Lalu gelap dan rasa mengantuk datang lagi; dan aku kembali tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. * *

Aku terbangun dan tak sadarkan diri terus-menerus. Sampai akhirnya aku terbangun di tengah perjalanan pulang. Aku menatap ke luar jendela. Pikiranku melayang jauh. Semua yang kami lewati nampak begitu asing. Aku rindu pada orang tuaku dan kasih sayangnya. Tapi mereka telah tiada dan tak tergantikan lagi. Mungkin aku harus terus hidup menderita. Aku tak tahan. Tapi nampaknya mulai hari ini harus kuhadapi kenyataan itu. Tak ada jalan yang lebih baik selain menerima semua kenyataan buruk ini: penyakitku dan sikap keluargaku yang memburuk akhir-akhir ini.

Namun aku berjanji dalam hati bahwa aku tak akan bunuh diri lagi. Karena jika belum ajalnya, seseorang takkan bisa mati, walaupun ia telah berusaha untuk itu. Kematian takkan bisa dimajukan atau dimundurkan.

Sebagaimana hidup, kematian adalah takdir yang diatur Tuhan.

Sidney dan Sisi Lain Diriku - 2007

Jiwa itu seperti gelombang di lautan, tak pernah diam, tak pernah tetap; demikian juga dengan aku. Lahir, besar, jatuh, dan merayap bangkit. Hidup memang tak dapat melanggar hukum alam, namun kita, sebagai manusia dapat menjelajah semua kemungkinan yang pernah, sedang, dan akan ada. Manusia boleh terluka saat ini tapi di masa depan mungkin ia akan menjadi manusia yang paling berbahagia.

Aku membaca memoar Sidney Sheldon yang kusimpan di atas kursi di samping ranjangku. Memoar yang telah membuat aku bertikai dengan kakakku dan kemudian mencoba bunuh diri. Aku langsung terpukau pada bab pembukanya. Dalam bab pembuka itu Sheldon menceritakan bahwa ia juga pernah berniat untuk bunuh diri dengan obat, karena ia mengharapkan hidup yang lebih baik namun ia tak kunjung mendapatkannya. Sebelum melakukan niatnya itu, ia ketahuan ayahnya. Ayahnya itu mengajak jalan-jalan keluar dalam suasana cuaca yang dingin dan berangin.

Ayahnya bertanya padanya, “Ceritakan kepadaku, mengapa kau ingin bunuh diri?” Dalam memoarnya, Sheldon menulis:

Dari mana aku mesti memulainya? Bagaimana menjelaskan kepadanya betapa aku merasa kesepian dan terjebak? Aku setengah mati menginginkan hidup yang lebih baik – tetapi tidak ada hidup yang lebih baik untukku. Aku ingin masa depan yang indah dan tidak ada masa depan yang indah. Aku punya lamunan yang indah, tetapi pada penghujung hari, aku tetap saja kurir yang bekerja di apotek.

Khayalanku adalah bisa kuliah, tetapi tidak ada uang untuk itu. Impianku adalah menjadi penulis... namun yang kuterima sebagai balasan adalah penolakan tertulis. Akhirnya kuputuskan aku tidak bisa menghabiskan sisa hidupku dalam kesengsaraan yang menyesakkan ini.

Ayahku berkata kepadaku, “... dan begitu banyak tempat di dunia ini yang belum kaulihat...” Ayah Sidney terus berkata tapi ia tidak mendengarkannya. Sampai akhirnya:

“Sidney, kau bilang kau ingin jadi penulis lebih dari segalanya di dunia ini.”

Tiba-tiba perhatianku teralih kepadanya. “Itu kemarin.”

“Bagaimana dengan besok?”

Aku menatapnya bingung. “Apa?”

“Kau tak tahu apa yang akan terjadi besok. Hidup seperti novel, kan? Penuh ketegangan. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi hingga kaubuka halamannya.”

“Aku tahu apa yang akan terjadi. Tidak ada apa-apa.”

“Kau tidak tahu pasti, kan? Setiap hari adalah halaman yang berbeda, Sidney, dan setiap hari bisa penuh kejutan. Kau tak pernah tahu apa yang akan ada selanjutnya sebelum kaubuka halaman itu.”

Aku memikirkannya. Kata-kata itu ada benarnya. Setiap hari esok memang seperti halaman dalam novel.

...

”Kalau kau benar-benar ingin bunuh diri, Sidney, aku mengerti. Tapi aku tidak suka melihatmu terburu-buru menutup bukumu dan melewatkan kesenangan yang mungkin saja terjadi padamu di halaman selanjutnya – halaman yang akan kautulis.”

Jangan terburu-buru menutup bukumu... Apakah aku terburu-buru menutupnya? Sesuatu yang indah bisa saja terjadi besok.

(Halaman 13-15).

Aku layak berterima kasih kepada Sidney, karena memoarnyalah yang telah membuatku bangkit kembali. Sidney punya kesamaan denganku, sama-sama miskin dan menderita gangguan jiwa (Sidney menderita gangguan bipolar walaupun pada mulanya ia tak tahu), dan pernah berniat atau mencoba bunuh diri dengan obat. Namun ia berhasil bangkit dan menjadi orang yang sangat kreatif dan dihargai dunia. Beberapa dari karya-karyanya menginspirasi banyak orang, termasuk aku, yang baru kembali dari jurang keputusasaan, dan tak punya teman selain buku Sidney itu.

Nampaknya kami harus berterima kasih kepada ayah Sidney, karena berkat perumpamaannya yang bersahaja dan menyentuh, kami berhasil bangkit kembali, dan mulai merintis hidup dengan pandangan baru.

Kisah tentang Jiwa Sehat - 2008-2012

Lebih baik sepanjang hidup penuh perjuangan daripada hidup tak punya cita-cita.

(R.A. Kartini).

Aku juga berhalusinasi. Waham membuatku seolah-olah berada dalam Perang Dunia III,” Ariandy berkata tanpa takut-takut, karena semua yang mendengar adalah aktivis kesehatan jiwa.

“Kalau adikku seolah-olah ia memakai narkoba terus, padahal ia sudah berhenti,” kata Yeni bercerita. Hari ini kami berkumpul untuk mendirikan suatu organisasi konsumen kesehatan jiwa: Yayasan Jiwa Sehat. Tanggalnya adalah 5 Desember 2008. Tepat 489 hari setelah aku bunuh diri untuk yang kedua kalinya.

Dalam perkembangan selanjutnya, nama yayasan diganti dengan perhimpunan sehingga menjadi Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) karena kami menyelidiki Undang-Undang tentang yayasan dan menyadari bahwa bentuk yayasan tidak cocok untuk organisasi yang berbasis anggota. Kini sudah tiga tahun lebih usia Perhimpunan Jiwa Sehat.

Dalam usianya itu sudah banyak yang kami lakukan. Di antaranya audiensi ke Komisi VIII dan IX DPR-RI, advokasi ke Komnas HAM, bertemu dengan Menteri Kesehatan dan merintis kerjasama dengan Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial, demi memperjuangkan upaya pemulihan yang paripurna bagi orang dengan masalah kejiwaan. Kami juga menjadi peserta beberapa pelatihan; termasuk di antaranya iMHLP (International Mental Health Leadership) di Melbourne; dan menjadi penyelenggara Pelatihan Recovery (Pemulihan) dan Peer Support (Pendukung Sesama) dengan bekerjasama dengan Mind, LSM kesehatan jiwa terbesar di Australia.

Kami berpendapat bahwa masalah kesehatan jiwa adalah masalah yang menyangkut banyak aspek, dan bukan masalah tunggal, karena itu kerjasama semua pihak harus dilakukan dengan intensif. Setelah banyak berkecimpung di Perhimpunan Jiwa Sehat, aku banyak mengenal berbagai ragam penderita skizofrenia. Banyak yang perjuangannya lebih sulit daripada aku, namun Perhimpunan Jiwa Sehat seperti menyuntikkan semangat agar jangan gampang menyerah. Kami mengadakan pertemuan-pertemuan yang dikhususkan untuk berbagi pengalaman, juga menjalin perkawanan dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia, organisasi konsumen kesehatan jiwa yang lain.

Setelah bersama Perhimpunan Jiwa Sehat, aku seperti menemukan dukungan yang tidak kudapatkan di rumah; kini kondisiku lebih baik karena ada kawan-kawan yang sama-sama mengalami skizofrenia yang selalu mendorong agar lebih maju lagi. Walaupun banyak kesulitan menghadang, kami tidaklah patah arang. Karena kami yakin tak ada cuaca buruk yang tiada berganti.

Kami berharap dapat mendirikan cabang di seluruh daerah di Indonesia, dan ini adalah sebuah kerja besar, bukan kerja main-main. Kami juga berharap adanya pelayanan kesehatan jiwa di seluruh Puskesmas, sehingga yang membutuhkannya tidak lagi pergi jauh-jauh jika ingin berobat. (Bayangkan jika Anda tinggal di Papua, Anda harus keluar uang banyak untuk berobat ke Ambon atau Manado).