Gelombang Lautan Jiwa: Sebuah Psikomemoar
Part 10
Ada satu lagi peristiwa yang dapat menggambarkan keberanian dan ketegasan Ayah. Pada suatu waktu, tanah tempat sekolah ia mengajar dipermasalahkan oleh centeng-centeng yang mengklaim bahwa tanah itu milik mereka. Semua guru tak ada yang berani melawan, kecuali Ayah, yang dengan caranya yang tidak umum waktu itu mengajak anak-anak untuk berunjuk rasa di depan kantor polisi, menuntut hak mereka atas sebuah tempat pendidikan tempat mereka belajar. Polisi salut atas aksi itu, mereka pun menolak klaim para centeng itu. Sekolah tetap berdiri.
Tapi lihatlah ia sekarang, ia renta dan rapuh. Ia kini terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit umum. Didiagnosa menderita diare, pleura-pneumonia dan gagal ginjal. Analisa dokter menyatakan bahwa ia terlalu banyak merokok dan kurang minum. Namun kami punya tambahan analisa yang lebih canggih: Ayah terlalu tua untuk bergadang bermain kartu bersama anak-anak muda. Ayah mulai rajin salat sejak aku sakit jiwa. Ia rupanya diam-diam ikut merasakan penderitaaanku. Walaupun kadang-kadang menjengkelkan karena sikap yang ia tunjukkan adalah sikap yang acuh tak acuh. Kebiasaan lamanya tak bisa lepas, ia hampir tiap malam tidak tidur hanya untuk bermain remi atau gaple. Kawan-kawannya adalah orang-orang muda di seputaran rumah. Kawan-kawan seusianya menyindirnya agar ia berhenti berbuat dosa dan banyak-banyak berzikir.
Namun semakin lama Ayah semakin eksentrik. Saat azan tiba ia salat, dan saat malam mulai larut ia bermain kartu. Kebiasaan yang menurut Islam bertolak belakang itu dilakukannya dengan rutin. Pahala dan dosa sama-sama ia raih pada hari yang sama.
Selama di rumah sakit, Ayah disuntik Intrix (Ceftriaxone) dan diberi Ketosteril. Maka dalam jangka waktu delapan hari ia diperbolehkan pulang. Kami kemudian mengajaknya kontrol sekali ke rumah sakit itu. Tapi ketika obatnya habis, Ayah menolak untuk kembali kontrol karena takut ia akan dirawat lagi. Ia trauma dengan rumah sakit. “Aku tak mau kembali ke sana,” demikian katanya.
Kebetulan saudara tetangga kami ada yang menjadi tabib dan mampu mengobati dengan obat-obatan Cina. Setelah beberapa minggu diobati olehnya, ayahku membaik. Pada Lebaran tahun itu. Ayah mampu duduk untuk menyambut maaf dari para tetangga sekitar rumah.
Teman-teman bermain kartunya menjenguknya. Ia kini terlampau ringkih untuk keluar rumah. Ia bahkan jadi enggan untuk sekadar duduk menikmati cerahnya pagi. Kini kerjanya hanya tidur dan tidur. Pagi-pagi ia tidur; siang-siang ia tidur, apalagi jika malam. Ayahku hanya bangun untuk buang hajat. Makan pun mulai sukar untuk masuk. Diare Ayah semakin parah dan ia mulai muntah-muntah.
Dan kematian itu datang pelan merambat bagaikan suara yang lamat-lamat. Berdiri di kejauhan, memanggil mengajak pulang. Ayah yang telah renta, akhirnya wafat pada tanggal 7 November 2006, beberapa waktu setelah Lebaran. Dosanya terhadap sesama manusia telah termaafkan, tinggalah dosanya atas pengingkaran pada perintah Tuhan.
Aku tidak menangis pada pagi hari itu. Aku berkata pada diriku, “Aku kuat. Aku kuat.” Lalu malam mulai larut dan senyap mulai merayap. Saat semua orang telah terlelap karena kelelahan, aku masuk ke kamar mandi, agar bisa sendirian; duduk di lantainya.
Pandanganku memburam karena air mata menggenang di kedua mataku. Lalu air mataku itu jatuh berderai-derai. Aku menangis sesegukan tanpa ada seorang pun yang tahu. Aku di kamar mandi itu hingga fajar, saat air mataku telah kering dan yang tinggal hanyalah sesak di dada. Sesak yang tak jua hilang hingga bertahun-tahun kemudian. Aku tercenung memikirkan keluargaku yang merangggas. Aku kehilangan Ibu, Yayan, dan hari ini Ayah, di saat aku membutuhkan kasih sayang mereka, kala aku menghadapi skizofrenia. Aku punya firasat bahwa aku akan tambah merana.
Ayah dikuburkan di Bekasi, di tempat yang jauh dari perumahan kakakku.
Malaikat di dalam mesjid - 2007
Di pusara ayahku, ikut terkubur pula harapanku. Aku sedang kuliah Semester 1 Jurusan Penerjemahan di Universitas Terbuka ketika Ayah meninggal. Kakakku hanya sanggup membiayai hingga ujian semester itu. Semester berikutnya, Semester 2, aku sama sekali berhenti kuliah.
Entah hingga kapan. Tanpa uang pensiun Ayah aku tak lagi punya uang untuk melanjutkan pendidikanku. Seringkali aku menyalahkan nasibku yang begitu buruk. Hatiku muram, pikiranku tertekan. Aku enggan berbicara dengan siapa pun termasuk dengan kakak-kakakku. Dokterku di RSCM mulai memberikan antidepresan Kalxetin (Fluoxetin). Untungnya pemerintah masih berbaik hati, program Askeskin memungkinkanku untuk mendapatkan obat mahal itu secara cuma-cuma.
Aku menggunakan Diazepam melebihi daripada yang diresepkan. Dokter meresepkan 5 mg untukku, tapi obat itu seringkali kuminum hingga 10 mg per malam, agar aku lelap tertidur, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk lari dari kenyataan; dengan mengembara di dunia mimpi.
Kiranya tak ada yang memahami bahwa aku sangat kehilangan Ayah. Sama sekali tak ada yang mengerti bahwa bersama dengan wafatnya Ayah, lenyap pula pendukung moril dan finansial bagi proyek perkamusanku. Aku tak lagi mampu membeli kamus-kamus dengan isi yang menakjubkan. Juga tak ada lagi diskusi yang menggairahkan tentang buku-buku yang baru saja kami baca. Setelah terbukti tak mampu bekerja secara purna-waktu, dunia kepenulisan adalah harapanku satu-satunya. Kini, harapan itu sirna bersama dengan kepak sayap malaikat Izrail yang mencabut nyawa Ayah. * *
Pagi hari, awal tahun 2007. Aku tidak tidur semalaman. Bukan karena banyak nyamuk dan bukan pula karena udara dingin yang turun bersama hujan deras. Aku gelisah. Sudah seminggu aku tak minum antidepresan, karena seorang dokter menolak untuk meresepkannya. Katanya, Risperidone pun akan memicu serotonin. Aku tak lagi memerlukan antidepresan karena sang antipsikotik sudah sekalian menanganinya.
Namun aku gelisah, tak dapat duduk dengan tenang. Aku memandang ke luar jendela, hujan masih saja deras, angin berderau-derau. Aku merebahkan diri dan mencoba mengusir resah. Tapi tak berhasil. Aku mondar-mandir di ruangan atas. Aku semakin gundah.
Aku berpikir, memutar otak. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba metodeku yang dulu, yaitu dengan cara beritikaf di mesjid. Aku menyandang tas berisi baju dan Quran, turun ke bawah, keluar dan mengambil sepeda. Lalu dalam hujan aku menuju Mesjid Al-Hidayah. Jalanan begitu sepi, mungkin karena hujan bulan Januari ini, yang turun dengan begitu derasnya. Aku tak memakai jaket, aku lupa karena saking gelisahnya.
Di samping SD Panunggangan aku berbelok ke kanan, lurus, lalu belok kiri. Maka tibalah aku di mesjid Al-Hidayah. Kakak pertamakulah yang menyebabkan aku jadi begini. Ia semalam marah-marah kepadaku. Aku mencoba mencegah perzinahan antara keponakan dengan anak sepupuku. Aku bukan sok moralis, tapi kalau mau melakukannya, jangan di depan mataku.
Aku tak suka. Kakak pertamaku jengkel melihatku berkata-kata lantang, meminta agar sebaiknya mereka segera dinasehati. Ia tak mau suaminya tahu mengenai hal ini. Kakakku marah-marah kepadaku. Aku yang tak bersalah kena damprat, sedangkan mereka yang hampir melakukannya malah dapat duduk-duduk berduaan dengan tenang. Aku tak terima. Aku tak ikhlas. Aku memikirkannya semalaman hingga tak bisa tidur. Aku berdoa agar diberikan petunjuk, agar hatiku menjadi tentram. Namun hingga pagi tiba aku masih resah-gelisah, menunggu jawaban.
Di dalam mesjid, kutukar pakaianku yang basah kuyup dengan pakaian yang ada di tasku. Aku berwudu, lalu salat tahiyatul masjid dilanjutkan dengan salat duha. Selesai salat aku merenung, kenapa dunia selalu tak adil padaku. Aku berbuat kebaikan, tapi balasannya adalah keburukan. Apakah semua ini karena aku berpenyakit iwa?
Mesjid itu kosong. Dalam kosongnya, Tuhan dan diriku terasa begitu dekat. Atmosfer spiritual mesjid yang agung menyelusup lewat pori-poriku, menjalari darahku, lalu berdiam di dalam hatiku. Aku takkan lagi menunggu jawaban, akan kucari sendiri jawaban itu dalam terjemah dan Tafsir Al-Hikmah yang ada di dalam mesjid itu. Aku membuka Quran itu halaman demi halaman. Aku membaca ayat per ayat, tapi tetap tak kutemukan jawabannya.
Aku larut dalam kebingungan. Aku tak kunjung menemukan ayat yang kucari. Dengan pikiran yang gelisah dan bingung aku masih membuka-buka Quran itu. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku dengan berkata, “Aku utusan Tuhanmu.” Aku melihat ke arah sumber suara itu dan aku terlonjak. Aku hampir-hampir tak percaya pada apa yang kusaksikan. Malaikat yang bertubuh putih, melayang di udara mengisi kekosongan ruangan mesjid. Ia bersayap. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya. Kakinya melayang jauh di atas lantai mesjid.
Ia berkata lagi,”Buka Surat 20 ayat 112. Baca artinya.” Suaranya jelas terpantul dari sudut ke sudut.
Lalu ia lenyap di udara begitu saja. Tak berbekas. Tak ada sisa.
Aku kaget setengah mati. Dengan tangan gemetar kubuka ayat yang dimaksudkannya. Beginilah bunyi ayat itu menurut terjemah Al-Hikmah:
Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan haknya.
Aku mencatatnya. Perasaan takut menyelubungi hatiku. Aku tak pernah mengira akan bertemu makhluk selain manusia di mesjid itu. Kukembalikan Quran Al-Hikmah ke lemarinya, kusandang tasku, lalu kuambil sepeda dan pulang cepat-cepat dengan menerobos hujan yang belum juga reda. Tanganku yang masih tremor membuatku sulit untuk mengendalikan setang sepeda.
Ketika aku tiba aku langsung duduk di ruang atas. Mengendalikan napasku yang terengah-engah. Setelah sedikit lebih tenang aku mencoba berpikir akan apa yang baru saja terjadi. Apakah itu petunjuk dari Tuhan? Dari jin? Atau hanya halusinasi?
Ini bukan pertama kalinya aku melihat makhluk lain. Aku pernah melihat pocong dan hantu yang bersliweran lewat di depanku. Petunjuk tadi memang berguna namun kupikir itu hanyalah halusinasi. Tindakan pertama yang kulakukan adalah menaikkan dosis Risperidone-ku menjadi 3 mg.
Esok aku akan melaporkan kejadian itu kepada dokterku di RSCM.
Berbagi dengan gelandangan psikotik - 2007
Aku terperangah pada apa yang dikatakan oleh dokterku, dr. Vivie, “Kamu harus dirawat, Anta. Kamu gelisah dan halusinasimu parah sekali.” Ia memandangku lekat-lekat, mencoba meyakinkanku. Aku hanya melaporkan perkembanganku. Aku tak ingin dirawat lagi.
Aku terdiam. Aku memang tidak suka pada sikap keluargaku di rumah, dan perawatanku takkan mempengaruhi sikap keluargaku. Dr. Vivie terus membujukku, dan aku berpikir, “Mungkin saja keluargaku akan berubah jika aku keluar nanti. Sedikit waktu mungkin akan membuat perubahan.” Dan akhirnya aku memutuskan, “Baiklah, dokter. Buatkan saya surat untuk meyakinkan keluarga saya.“ Lalu ia pun membuatnya dan menyerahkannya kepadaku.
Aku merasa terperangkap dalam dunia derita diri. Tak ada jalan keluar. Yang ada hanyalah sistem dan orang-orang yang itu-itu saja. Aku adalah bola yang senantiasa dipingpong oleh rumah dan rumah sakit. Aku terjerat dalam lingkaran setan. Di Indonesia tak ada rumah perantara yang membuat para penderita gangguan jiwa menjadi berdaya. Para penderita skizofrenia di Indonesia hanya dapat meminta kemurahan hati bangsal psikiatri yang merawat mereka dan memohon belas kasih keluarga yang menanggung beban hidup mereka. Aku merasa jadi orang yang tak berguna. Jadi benalu kehidupan. Hidupku adalah sebuah simbiosa: simbiosa parasitisma.
Dalam bus yang kacanya bergetar aku membayangkan apa yang akan dikatakan oleh kakakku ketika aku menyampaikan apa yang dikatakan oleh dokter untuk dirawat untuk yang ketujuh kalinya: “Engkau memang anak yang pintar. Pintar membuat masalah dan pintar membuat susah keluarga. Engkau adalah orang yang pandai berhemat sampai-sampai aku berhutang ke sana ke mari hanya untuk ongkos menjengukmu dan memberimu bekal ketika dirawat. Engkau benar-benar mandiri: manusia yang doyan menyendiri. Sampai kapan engkau akan diam di rumah terus dan tidak mau bergaul dengan tetangga?”
Titik-titik air yang berjatuhan di kaca membuyarkan lamunanku. Bus meraung menyibak hujan yang baru turun. Dua orang penyair jalanan tampil dan bersajak membawakan puisi Orang Gila, Apa yang Kaucari?
Aku memperhatikan pertunjukan seni itu dan penasaran dengan bagian penghabisannya. Sayangnya suara kaca yang saling beradu membuat apa yang mereka katakan jadi tidak jelas terdengar.
Ketika tiba di Kebon Nanas, Tangerang, derai hujan telah menderas. Aku diam menunggu di jembatan penyeberangan yang beratap. Aku bukan menunggu hujan reda, karena tukang ojek menyediakan tudung bagi penumpangnya. Aku menunggu siap batin untuk menghadapi sikap kakakku.
Aku melihat arus lalu lintas yang bergerak di bawahku. Tetap hilir mudik walaupun hujan keras mendera. Sifat yang tak peduli pada keadaan. Hanya punya satu sasaran: tiba di tempat yang dituju. Mungkin aku harus begitu pula, tetap berjalan walau apapun yang terjadi. Tindakan harus tetap dilakukan meski kesulitan menghadang.
Kini hatiku telah tetap. Aku akan dengan berani menceritakan apa adanya pada kakakku. Meskipun mungkin ia akan menjawab dengan mengaum, sama seperti singa savana Afrika. * *
Berkat surat dari dr. Vivie, kakakku menyetujui perawatanku. Kami pergi ke RSCM, namun aku gagal masuk, sebab di sana penuh. Karena kami pengguna program JPS Bidang Kesehatan, kami disarankan untuk mencoba ke RS Duren Sawit yang juga punya bangsal psikiatri. Dengan alasan yang sama, RS Duren Sawit juga menolakku. Kami diberi nomer telepon oleh pegawai di sana. Kami harus menelepon setiap hari untuk memastikan bahwa tempat yang tersedia—jika ada pasien yang pulang—tidak ditempati oleh orang lain.
Esoknya (7 Februari 2008) aku menelepon dan katanya ada tempat bagi pasien baru. Siang itu juga kami datang dan, setelah melewati pemeriksaan di IGD (Instalasi Gawat Darurat), aku akhirnya berhasil masuk ke dalam perawatan di sana.
Sore itu juga aku disuntik Serenace (Haloperidol) dan Diazepam. Lalu aku jatuh tertidur di ranjang dalam ruangan yang pengap. Aku bangun lewat tengah malam dan duduk di ranjangku. Beberapa pasien nampaknya juga terjaga atau tidak tidur sama sekali. Salah satunya adalah Dodi, sang pasien bertato. Ia tidak minum obat, sehingga tidurnya tidak pulas. Sejak malam itu ia menjadi kawanku yang terdekat di bangsal ini.
Esoknya, kami bertemu dokter kami. Psikiaterku di rumah sakit ini adalah dr. Lina Regina Mangawean, yang kelak menjadi salah seorang psikiater terbaik yang pernah kutemui di sepanjang riwayat penyakitku. Ia banyak memberikan nasehat-nasehat yang berharga untuk masa depanku. Ia tidak hanya memperhatikanku, tetapi juga perikehidupan keluargaku. Bahkan ia menelusuri gangguan-gangguan kejiwaan yang diidap oleh keluargaku. * *
Sabtu, 10 Februari 2007. Pukul 06.40.
Kemarin kakak pertamaku datang. Tanpa diduga ia datang bersama kakak ketigaku dan anaknya yang paling kecil, Iqbal. Mereka mengatakan bahwa surat-surat untuk jaminan perawatanku sudah beres.
Lalu kami berkonsultasi dengan dr. Lina. Ia mengatakan bahwa penyakit saya sudah kronis, namun kognitifnya masih bagus dan mungkin akan pulang dalam jangka waktu dua minggu. Kami berdebat tentang keadaan di rumah (yaitu tentang hubungan saya dan keluarga); dr. Lina tidak menengahi, ia diam saja. Namun dr. Lina mengatakan bahwa saya perlu diajak berkomunikasi.
Sebelum pulang, kakak-kakakku itu berpesan agar jangan terlampau lancar berbicara sebab Gakin [program jaminan untuk keluarga miskin] hanya menanggung asuransi jika dirawat selama sebulan atau lebih. Sementara jika hanya dua minggu harus membayar.
Mulai hari Sabtu itu aku mengikuti kegiatan Rehab Mental yang dibimbing oleh Pak Iwan, Pak Riza, Suster Ferika dan Terapis Okupasi yang bernama Tri. Hari itu kegiatannya adalah karaokean. Ada satu hal yang mengejutkanku: ternyata aku bisa bernyanyi!
Kegiatan Rehab Mental hanya dilakukan sebanyak 10 kali per pasiennya. Aku harus memanfaatkan dengan baik setiap sesinya untuk mempercepat kesembuhanku. * *
Ada seorang pasien yang dititipkan oleh keluarganya dan tidak pernah dibesuk, namanya Arpan. Kami sebenarnya pernah bertemu di perawatan RSCM pada tahun 2003. Dulu istrinya setia sekali, ia dibesuk tiap hari. Kini itu tak terjadi lagi. Arpan disingkirkan oleh keluarganya di Panti Laras, tempat pembuangan yang kumuh namun setidaknya masih manusiawi daripada ia ditinggalkan di jalanan.
Hari ini lewat tengah hari saya berbincang-bincang dengan Arpan. Ia menyanjung istrinya yang katanya adalah seorang bidadari yang datang dari langit melalui pelangi sebagai tangga. Ia merasa malu dilihat istrinya sebab ia adalah ‘orang gila’ yang kerapkali keluar-masuk rumah sakit jiwa. Ia takut istrinya ‘dipake’ orang lain ketika ia ada di sini. Ia juga kerap malu karena anaknya sering membanding-bandingkan antara ibunya yang cantik luar biasa dengan dirinya yang menjadi ‘orang gila’....
Sementara itu Dodi, sahabatku itu, lain lagi kisahnya. Ia mengaku dibuang oleh keluarganya karena ia kecanduan narkoba.
Semalam Dodi bercerita banyak tentang keluarga[nya]. Ia mengatakan bahwa ia tidak menyukai sikap ayahnya yang berlaku diskriminatif terhadap dirinya. Ayahnya itu memperlakukan para menantunya secara istimewa. Ia ingin agar ia lepas, bebas saja dari rumah, dan mencari makan secara serabutan dan tinggal di pinggir jalan. Ia hanya akan pulang dua hari sekali untuk mandi dan mungkin makan sesekali.
Saya angkat topi atas pendiriannya itu. Sayang sekali saya tak dapat berbuat hal yang sama, walaupun konflik yang kami alami mirip. Memang, kemampuan sosial saya kurang cukup mantap untuk dapat menghadapi dunia jalanan. Mungkin jika saya diusir dari rumah kakak saya, saya akan tinggal di Panti Laras saja. Saya bisa menanyakan alamatnya kepada orang-orang yang ada di sini.
Sahabatku yang lain, penderita skizofrenia paranoid, adalah Eko. Ia kumat di rumah orang tua angkatnya sebab rumahnya kebanjiran. Sebelumnya ia telah dirawat beberapa kali di rumah sakit jiwa. Sakitnya tak kunjung sembuh. Karena keluarganya sudah bosan dengan penyakitnya, maka ia disuruh merantau ke Jakarta. Di sini ia diakui sebagai anak oleh sebuah keluarga. Kerjanya adalah berdagang asongan.
Ia adalah seorang yang mudah marah. Emosinya gampang terpancing. Ia hanya baik hati pada aku dan Dodi karena kami tak pernah menanggapi tingkah lakunya dengan kekerasan. Menurut pengakuannya di hadapan psikiater, ia merasa ada sensor di telinganya, yang mengawasinya terus-menerus.
Sementara itu, Frans adalah seorang Tionghoa yang merasa dibuang oleh keluarganya hanya gara-gara ia mencuri boneka cicinya (kakak perempuannya). Menurutnya boneka itu tak seberapa harganya, namun hukuman keluarganya berat sekali. Di Panti Laras ia dikurung selama 6 hari dalam ruangan yang sempit dan banyak nyamuk dan juga sangat kotor. Frans sakit semenjak pertengahan tahun 1990-an namun ia tidak minum obat secara rutin. Frans telah mencoba untuk mandiri dengan mendirikan toko pakaian yang modalnya merupakan hasil patungan dengan kawan baiknya. Ia bertanya pada dokternya apakah ia dibuang oleh keluarganya. Ia terus-menerus berbicara tak habis-habisnya. Ia minta tolong agar keluarganya ditelepon. Ia terus-menerus memohon, dan akhirnya dokternya menelepon keluarganya, lalu mereka datang.
Menurut keluarganya, Frans telah salah sangka, mereka tidak membuangnya akan tetapi mereka berusaha menggunakan pengobatan yang semurah mungkin. Dan pengobatan yang paling murah itu adalah Panti Laras.
Ali besar (Ali yang telah tua umurnya) adalah seorang arsitek. Ia pandai melukis; di ruang Rehab Mental terpampang beberapa lukisannya. Ia adalah pengidap skizofrenia kronis yang telah berpuluh kali dirawat di bangsal psikiatri RS Duren Sawit. Pernah juga ia dirawat selama beberapa bulan di Pesantren Suryalaya, Tasik, Jawa Barat. Ia punya keimanan yang cukup kuat. Itu terbukti dengan selalu salat tiap kali azan telah berkumandang. Akan tetapi ia tak selalu nyambung jika diajak bicara. Sesekali, ia juga berteriak-teriak dari jendela ruang tidur kami, memanggil istrinya yang menurut pandangannya lewat di jalanan di samping rumah sakit.
Sedangkan Ali kecil (Ali yang umurnya masih muda) adalah seorang pedagang kelapa parut. Ia dipaksa masuk ke sini karena di rumah omongannya melantur. Ia mengaku sebagai lulusan pesantren; ia rajin salat dan zikir. Dalam jangka waktu 2-3 hari pertama tinggal di perawatan ini, bicaranya tak keruan arah. Pada hari-hari pertamanya di rumah sakit ini ia seperti orang yang kehilangan ingatan. Ketika aku mencoba berkenalan dengannya, ia menampik, namanya bukanlah Ali seperti yang dikatakan oleh para perawat, akan tetapi Wali, singkatan dari Wali Songo, julukan penyebar Islam di Indonesia. * *
Bangsal psikiatri rumah sakit ini kaya dengan gelandangan psikotik. Kebanyakan dari mereka terjaring oleh operasi Kamtib dan dijebloskan ke Panti Laras. Walaupun ada juga yang dititipkan oleh keluarganya di sana dengan pertimbangan Panti Laras adalah tempat menginap yang paling murah. Di Panti Laras tak ada psikiater. Oleh karena itu jika memerlukan obat, sang pasien akan dikirim ke bangsal ini.
Tinggal bersama gelandangan psikotik bukanlah perkara yang mengenakkan. Sebagian besar dari mereka diam membisu atau berbicara kacau. Alangkah sulitnya membuat mereka menjawab suatu pertanyaan dengan benar. Namun mereka amat rakus terhadap makanan. Mata mereka tidak boleh melihat makanan yang tergeletak, segera saja mereka berebut untuk menikmatinya.
Pernah suatu hari aku dijenguk keluargaku. Aku diberi dua bungkus kue, satu untukku dan satu untuk dibagi-bagikan. Aku baru membuka bungkusnya, namun mereka telah berebut mengerubung. Aku membagikan kue itu satu-persatu, tapi seseorang yang bernama Pak Kasim – seorang gelandangan psikotik – tidak sabar dan merasa kurang. Ia memukul wadah kue yang kupegang. Kue pun jatuh dan hancur berantakan. Namun tanpa perasaan yang jijik akan lantai bangsal yang belum disapu dan telah terinjak-injak banyak kaki kotor, mereka memunguti bubuk kue itu sambil menjilati tangan mereka. Seolah-olah mereka baru saja menemukan makanan paling lezat di dunia. Kue itu pun bersih dari lantai hingga ke dedak terakhir, termasuk juga debu lantainya.
Kami – pasien yang masuk ke sana bukan karena tertangkap Kamtib – tidak pernah membiarkan sendal jepit tergeletak begitu saja. Karena pasti ada saja gelandangan psikotik yang menyambar lalu memakainya, seolah-olah sendal jepit itu adalah miliknya sendiri. Kami menyembunyikan barang-barang kami di bawah kasur di ranjang kami masing-masing, termasuk sendal jepit yang kotor dan handuk yang basah, karena kami tak mau selalu kehilangan barang kami.
Suatu hari aku kehilangan satu celana dalamku. Aku tahu seorang gelandangan psikotik pasti mencuri dan menyembunyikannya. Aku tak mencarinya karena setelah dipakai oleh orang lain aku bermaksud merelakannya. Aku takut tertular penyakit kelamin. Selang dua hari kemudian celana dalam itu kembali ada di bawah kasurku, dengan kondisi basah dan kotor. Aku ingin muntah lalu segera membuangnya. Kemudian Eko mengabarkan kepadaku, bahwa yang meletakannya di bawah kasur adalah Trisna, seorang gelandangan psikotik yang sangat gelisah, yang kemarin berusaha menjebol atap untuk melarikan diri.