Fasisme Adalah Politiknya dan Sepak-terjangnya Kapitalisme yang Menurun

Part 2

Chapter 22,353 wordsPublic domain (Wikisource)

Tetapi di dalam iapunya neergang, keadaan adalah genting! Konkurensi merdeka memang tak perlu lagi, karena sudah lama kapitalisme bersifat "monopoli". Konkurensi merdeka tak perlu lagi, karena sudah lama produksi dan perdagangan sudah habis "dikonkurensikan": hanya badan-badan-raksasa sahajalah yang tinggal hidup merdeka, – yang lain-lain yang kecil-kecil, sudahlah menjadi "penyambung-tangan", alat-alat, perkakas-perkakas, dari badan-badan-raksasa itu semata-mata. Karena itu maka, politik liberalismepun tidak perlu dipakai lagi: Parlementaire democratie menjadi satu barang yang "kolot", dan negara, – negara yang tahadinya tidak boleh campur tangan dalam economische activiteithya kapitalisme itu, – negara itu kini harus ikut campur tangan! Negara itu kini harus menjadi satu pusat-kekuasaan yang mendiktekan tindakan-tindakan yang perlu buat menolak kerubuhannya kapitalisme itu, – dijadikan "polisi" penjaga keadaan yang amat genting itu. Negara itu, yang dulu dialaskan kepada permufakatan dan permusyawaratan, kini dialaskanlah kepada geweld, kekerasan, perkosaan, teror. Negara itu kini dijelmakan di dalam dirinya seorang diktator, yang mendiktekan segala tindakan penjagaan, penjagaan penguasaan tenaga-tenaga produksi yang memberontak itu, penjagaan penguasaan kaum buruh yang mau melawan itu, penjagaan menyusun tenaga pemecahkan belenggu kesempitannya pasar-dunia, penjagaan penegakan tembok-tembok-bea yang maha-tinggi, – pendek kata penjagaan penyelamatan kapitalisme monopool itu dari kebinasaan yang sama sekali.

Inilah inti-intinya fasisme. Inilah inti-intinya perkataan Carl Steuermann yang saya sitir tempo hari, bahwa fasisme adalah satu "laatste reddingspoging", satu "pembelaan yang penghabisan" daripada kapitalisme di dalam iapunya niedergang. Apakah dus fasisme itu? Jadi fasisme sebenarnya adalah satu kontra-revolusi yang diadakan oleh kaum monopool-kapitalisme dizamannya penurunan. Haibatnya ketegangan-ketegangan yang saya gambarkan di muka tahadi, – ketegangan-ketegangan yang sejak peperangan 1914-1918 tidak berkurang bahkan ber t a m b a h ! -, haibatnya spanningen itu bukan sahaja membangkitkan atau memungkinkan revolusi dari bawah, tetapi jugalah membangkitkan kontra-revolusi dari atas! Kontra-revolusi itu ialah fasisme. Kontra-revolusi itulah pentung dan cambuk Hitler, Mussolini, Franco. Kontra-revolusi itulah yang kini menang di Jerman, di Italia, di Sepanyol, di beberapa negeri kecil yang lain-lain.

Ya, itulah masih perlu saya terangkan pula! Kenapa tidak juga di Inggeris, tidak juga di Amerika? Tokh di sana ada juga nedergang? Tokh disana ada juga kegentingan posisi kapitalisme? Benar begitu! Tetapi di sana keadaan kapitalisme belum begitu g e n t i n g seperti misalnya di Jerman, di mana kegentingan itu benar-benar menjadi satu hal mati atau hidup, satu hal "op leven en dood". Kita semua mengenal naiknya kapitalisme Jerman itu di zaman sebelum peperangan 1914-1918. Di Eropah tidak adalah satu negeri, di mana kenaikan kapitalisme itu begitu pesat seperti di Jerman. Cobalah perhatikan: dipertengahan abad kesembilanbelas, industri Jerman boleh dikatakan "belum apa-apa". Pada waktu itu Inggerislah yang duduk di puncak industrialisme. Pada waktu itu Inggeris-lah yang bernama "the workshop of the world", – bengkel bagi seluruh dunia, yang membuat semua barang-barang perkakas dan mesin-mesin bagi seluruh dunia. Tetapi Jerman belum apa-apa. Kemudian bangunlah industrialisme Jerman itu. Ia meluas, mekar, menghaibat, membubung keudara. Di dalam tempo setengah abad sahaja, ia mekar tujuh kali lipat ganda! Di dalam tempo setengah abad itu juga Inggeris cuma mekar t i g a kali lipat ganda. Pada permulaan abad keduapuluh Jerman sudah memukul Inggeris ditentang produksi industrialisme itu. "Made in England" terpukullah oleh "made in Germany", atau setidak-tidaknya terancamlah kedudukannya oleh "made in Germany".

Dua raksasa industrialisme mulai bersaingan haibat satu sama lain, mulai berjoang satu sama lain di belakang kelirnya sejarah dan di muka kelirnya sejarah. Jerman punya industri mekar, mekar, mekar, – tetapi … pasar-dunia sukar mekar baginya, sebagai telah, saya terangkan di muka tahadi. Industri produksinya mekar, tetapi afzetnya industriele productie itu tidak mekar secepat itu. Inggeris cukup banyak iapunya pasar. Inggeris mempunyai tanah-tanah-jajahan. Inggeris punya tanah-tanah-dominion yang menelan industriele productie itu; produksi industri itu dapat ia ekspor ketanah-tanah-jajahan dan dominions itu. Tetapi Jerman! Iapunya tanah-tanah-jajahan yang paling berarti, yaitu di Afrika Timur, di Kamerun, hanya dapat menelan … 0,5% sahaja dari iapunya uitvoer! Iapunya tanah-tanah-jajahan semuanya, di Selatan dan di Timur, di Afrika dan di Asia, hanyalah dapat ditanami … 1% sahaja dari semua kapital yang ia ekspor. Dan Inggeris? Inggeris dapat menanamkan f. 21.000.000.000 di dalam iapunya tanah-tanah-jajahan, yakni hampir 50% dari semua iapunya kapitaal-export itu. Jadi: walaupun industri produksi Jerman mekar, maka pasar-dunia adalah sukar sekali didapatnya. Ia coba desak barang-barang keluaran Inggeris dengan kelebihan kwaliteit. "Made in Germany" dengan senjata kwaliteit itu akhirnya dapat masuklah pula di pasar-pasar, yang tahadinya pasarnya "made in England". Persaingan semakin menghaibat, menyeru, memanas. Percikan api keluarlah dari haibatnya persaingan ini. Akhirnya meledaklah ia samasekali menjadi peperangan yang membakar seluruh angkasa, mengguruh di padang-padang Eropah Barat dan Eropah Timur, menaufan-prahara di lima samodra-raya. Monopool-kapitalisme Jerman jang kekurangan udara buat bernafas itu, yang garisnya sudah mulai ia rasakan sebagai garis nedergang, mengamuklah mati-matian mencari udara yang lebih lega!

Tetapi, – peperangan malahan makin menjatuhkan dia ke dalam bencana! Peperangan berakhir dengan kekalahannya samasekali. Tanah-tanah jajahannya hilang; daerah-bahan-bahan di negeri sendiri sebagai jajahan jatuh ketangan orang lain, kreditnya kepada negeri luaran rusak samasekali, hutangnya di negeri sendiri membubung ke udara sampai yumlah 150.000.000.000 mark, herstelbetalingen yang dibebankan kepadanya adalah sejumlah yang amat tinggi. Akhirnya, – patahlah samasekali tulang-tulang-punggungnya iapunya keuangan. Patahlah harga valutanya uang mark, merosot, hampir memusna, sampai 1/1.000.000.000.000 dari harga yang tahadinya! Inilah hantu inflasi yang mengamuk di Jerman sesudah peperangan dunia itu. Hasil peperangan yang tahadinya ia kira akan dapat mendobrak pintu kecakrawartian dunia dan pintu kecakrawartian ekonomi ! Mendobrak pintu, yang dapat meloloskan dia dari cengkeramannya hantu niedergang!

Tetapi, tidakkah ada manfaat juga inflasi itu bagi monopool kapitalisme itu? Buat apa ia mengadakan inflasi, buat apa ia turunkan harga mark, kalau tidak ada manfaatnya pula? Ai, memang ada manfaat itu! Pertama, harga upah kaum buruh sangatlah menurun; dan kedua, hutang di dalam negeri yang 150.000.000.000 mark itu segeralah habis terbayar. (Kaum middenstand, yang meng-hutangkan uang itu sebagian besar, niscaya rugi besar). Dengan turunnya harga upah kaum buruh dan kebebasan hutang di dalam negeri itu, segeralah monopoli kapitalisme Jerman dapat "bekerja kembali".

Segeralah ia dapat menghidupkan kembali iapunya produksi, mengerjakan kembali iapunya paberik-paberik, memutarkan kembali seluruh iapunya economisch apparaat. Rasionalisasi yang saya ceriterakan dimuka itu, mulailah dikerjakan di mana-mana! Tahun 1923 sudah berjalan lagi semua apparaat itu, inflasi diberhentikan, harga mark ditetapkan kembali, "conjunctuur" sudah mulai mengetok pintu!

Tetapi toch, – conjunctuur yang bagaimana! Conjunctuur yang bagi Jerman penuh kegentingan! Tidak ada conjunctuur di seluruh muka bumi ini, yang begitu penuh kegentingan dan ketegangan selalu seperti di Jerman itu. Monopool-kapitalisme Jerman selalu terpaksa bekerja "op hoogspanning", selalu terpaksa bekerja dengan maut di belakang tumitnya. Tertilik dari pendirian wereld-economie, maka ekonomi Jerman adalah yang paling lemah, paling kwetsbaar, paling gampang luka.

Perang dunia bukan memberi tanah-jajahan kepadanya, bukan memberi pasar-dunia kepadanya, tetapi malahan merampas tanah-tanahjajahannya yang ada. Bukan menambah iapunya buitenlandsche credieten, tetapi malahan mematikan iapunya buitenlandsche credieten. Kalau ia tokh mau masuk ke dalam pasar-dunia maka jalan yang satu-satunya ialah kwaliteit dan h a r g a murah,- lebih dari dulu-dulu, lebih dari sebelum perang dunia 1914-1918. Kwaliteit dan harga-murah itulah satu-satunya senjata yang ia dapat pakai di dalam perjoangan mencari laba. Karena itu, – selalu bekerja "op hoogspanning", dan sekali lagi "op hoogspanning". Rasionalisasi, rasionalisasi dan sekali lagi rasionalisasi! Tetapi, – apa akibat rasionalisasi? Sebagai saya terangkan di muka tambahnya pengangguran, dan pengangguran ini melemahkan pasar di dalam-negeri, dan lemahnya pasar – di dalam-negeri serta sempitnya pasardunia memaksakan perkerasan rasionalisasi, dan bertambah kerasnya rasionalisasi menambah lagi pengangguran . . . dan begitu seterusnya … putaran sial itu makin lama makin sial, makin lama makin mencekik, makin lama makin cilaka!

Demikianlah "fatum" monopool-kapitalisme Jerman sesudah perang dunia itu. Ketegangan ekonomi dan ketegangan sosial mengelektris ditiap-tiap sudut-udaranya, getaran tiap-tiap sudut-udaranya itu penuh dengan sinipanan kilat dan halilintar dan petir dan guntur. Kaum buruh, yang sesudah habisnya inflasi tidak naik lagi upah-buruhnya, dan yang milyun-milyunan terpaksa hidup sengsara karena menganggur, – kaum buruh itu seperti satu gudang mesiu yang menunggu datangnya percikan api sahaja yang membuat ia meledak menyundul langit. K.P.D. (komunis) dan S.P.D. (sosial demokrat) makin besar pengaruhnya, makin bertambah sahaja anggautanya. Ditambah lagi jumlahnya kaum middenstand, yang karena inflasi kehilangan harta bendanya, dan kini menjadi satu golongan yang menggerutu dan dendam pula! Jika kaum-kaum monopool-kapitalisme tidak lekas mengambil satu tindakan, maka kegentingan ini niscayalah menjadi kebinasaannya sama sekali!

Nah, – tindakan itu adalah tindakan-kilatnya fasisme! Kontra-revolusinya monopool-kapitalisme. Terornya Hitler. Cambuknya Gestapo dan concentratiekampen. Pembasmiannya kemerdekaan dan parlementaire democratie. Pembasmiannya serikat-serikat sekerja dan partai kaum buruh. Pendewaannya kekuasaan-satu, – kekuasaan monopool. Totaliterismenya nasional-sosialisme. Absolutismenya negara. Absolutismenya dictatuur!

Terhadap kepada paksaannya desakan ekonomi dan desakan kemasyarakatan, ditaruhlah p a k s a a n n y a n e g a r a. Terhadap kepada pentungnya proses kemasyarakatan ditaruhlah p e n t u n g n y a n e g a r a. Apakah negara itu lain daripada satu pentung? Tiap-tiap orang yang pernah mempelajari Marxisme, mengetahuilah bahwa pentung, itulah memang sifat-hakekatnya negara. Di Jerman negara betul-betul menjelma terang-terangan menjadi pentung, di Italia begitu juga pula, di Japan-pun boleh dikatakan begitu juga.

Perhatikan: Jerman, Italia, Japan, – ketiga-tiga negeri ini semuanya pada waktu habisnya peperangan 1914-1918 kekurangan koloni atau kehilangan koloni. Ketiga-tiganya "lapar", ketiga-tiganya kekurangan pasar. Ketiga-tiganya kapitalismenya kekurangan "udara", kekurangan "Lebensraum". Inggeris banyak koloni, Perancis banyak koloni, Amerika banyak koloni, tiga negeri ini termasuk golongan negeri yang sesudah perang dunia "mendapat". Mereka termasuk golongan yang "mempunyai", golongan yang (dengan perkataan Inggeris) "have". Tetapi Jerman, Italia, Japan, tidak "mendapat", tidak "mempunyai", tidak "have". Jerman, Italia dan Japan termasuk golongan negeri-negeri yang "have not ".

Mereka punya kapitalisme yang paling dulu menjadi genting, paling dulu kena "hoo . gspanning". Mereka punya kapitalisme yang paling dulu kelabakan. Mereka punya kapitalisme Yang paling dulu mengamuk mengadakan fascistische dictatuur!

Dan tidakkah kini terang pula, apa sebab Amerika, apa sebab Inggeris belum "kena" fasisme? Benar Amerika dan Inggeris juga mempunyai monopool-kapitalisme. Benar kapitalisme di situpun sudah mulai menurun. Tetapi "hoogspanning" itu belum ada benar-benar di dua negeri itu.

Pasar dunia dan pasar di dalam-negeri masih ada. Inflasi belum pernah mengamuk di situ benar-benar. Middenstand-nya tidak seperti middenstand Jerman yang menggerutu, karena menjadi miskin dan "verproletariseerd" karena inflasi itu. Rasionalisasi itu tidak begitu sangat seperti di Jerman, karena persaingan memang tidak dirasakan terlalu sengit. Merosotnya upah buruh dan pengangguran tidak begitu haibat, – tidak begitu haibat memain-mainkan apinya revolusi sosial. Pendek kata monopool-kapitalisme tidak begitu musti "di bakar tumitnya" seperti di Jerman, tidak begitu musti berkelahi mati-matian seperti di Jerman. Kapitalismenya sama menurun, sama-sama "im Niedergang", tetapi turunnya itu belumlah begitu mendesak, sehingga perlu main tjambuk, main diktatur!

Tetapi di Jerman bencana yang mau menerkam monopool-kapitalisme itu benar-benarlah mendesak. Karena itulah maka monopool-kapitalisme itu lantas "beraksi kilat" mengadakan diktatur! Segala susunannya ekonomi, segala susunannya negara, segala susunannya pergaulan-hidupmanusia ia bongkar, ia robah, ia dinamiskan menurut azas kepentingannya monopool-kapitalisme itu. Pengangguran ia hilangkan, tetapi ia hilangkan dengan menyuruh kaum buruh kerja ‘di . . . bewapenings-industrie, membuat bedil dan meriam, tank dan kapal udara, mesiu dan granat, kapal-silam dan kapal-perang. Dengan persenjataan yang maha-haibat ini ia nanti akan mendobrak-lebur pintu-pintu dan tembok-tembok yang menghalang-halangi perjalanannya kekecakrawartian pasar-dunia. Dengan persenjataannya yang maha-haibat ini, ia juga mengadakan pasar di dalam-negeri yang membeli barang-barang-produksinya monopool-kapitalisme itu.

Bukan? Sebagian besar dari modal monopool-kapitalisme itu kini di dalam industri-persenjataan itu, dan negara sendiri„ negara Jerman lah yang membeli produksinya industri-persenjataan itu. Negara Jerman telah mengobati sakit pusing-kepalanya monopool-kapitalisme itu, dan menjadi pentung yang haibat pula. Pentung keluar, pentung ke dalam. Keluar dengan hantamannya peperangan yang merebut "Lebensraum" dan mematahkan musuh, ke dalam dengan hantamannya teror yang membasmi tiap-tiap perlawanan kaum buruh yang tidak mau tunduk.

Fasisme adalah benar-benar satu "laatste reddingspoging" secara kilat. Tetapi benarkah ia akhirnya membawa satu p e n y e l a m a t a n yang sejati? Pertentangan-pertentangan maha-haibat di dalam tubuh kapitalisme menurun yang saya garnbarkan itu, pertentangan-pertentangan productie-krachten yang ekonomis dan maatschappelijk, pertentangan-pertentangan itu tidak dihilang-kan oleh fasisme itu," tidak dihapuskan, tidak ditiadakan. Pertentangan-pertentangan itu hanyalah ditindas semata-mata. Pertentangan-pertentangan itu tetap masih ada, tetap masih latent, dan niscaya akan meledak kalau syarat-syarat untuk peledakan itu telah ada. Garisnya monopool kapitalisme t e t a p menurun, tetap mengarah kepada titik kebinasaannya monopool-kapitalisme itu, oleh proses-dialektiknya productie-krachten yang memberontak kepada zatnya monopool-kapitalisme itu sendiri.

Dan manakala Heinrich Himmler, kepala Gestapo, sendiri telah berkata, bahwa di dalam peperangan yang sekarang ini Jerman juga akan mengenal "padang peperangan di dalam pagar", manakala apa yang dimaksudkan dengan itu bahwa di dalam peperangan sekarang ini Jerman akan mengalami pemberontakan rakyat di dalam pagar sendiri, – maka itu adalah suatu bukti, bahwa juga kaum Nazi insyaf dan mengetahui bahwa pertentangan-pertentangan itu tidak hapus dan tidak hilang, melainkan hanya tertindas dan tertutup sahaja.

Maka itu adalah bukti, bahwa kaum Nazi sendiri insyaf dan mengerti, bahwa mereka hidup di atas satu gunung-api, yang di dalamya menyala dan mendidih laksana kawah candradimuka, dan yang akan meledak membakar bumi dan angkasa manakala syarat-syarat-objektif telah ada. Insyaf dan mengerti bahwa mereka hidup di atas satu gunung-api, dan bukan di dalam satu taman-sari, – kendati omongan-muluk tentang "persatuan bangsa" dan "persatuan darah", tentang "volksgemeen-schap", dan "volkseenheid", tentang "ein Volk, ein Reich, ein Fuhrer", dan lain-lain sebagainya lagi! Ya, fatum monopool-kapitalisme Jerman yang telah menurun itu, yang memutarkan dia di dalam putaran vicieuze cirkel yang cilaka, tidak dapatlah diangkat dengan fasisme dan politisch-economische dictatuur, tetapi tetaplah menyeret dia ke arah lobangnya keruntuhan, kebinasaan, kehancuran sama sekali!

Dan kita? Kita hendaknya mengambil pelajaran dari semua ini. Kita hendaknya lekas insyaf dan lekas terbuka mata kita, apakah inti-inti fasisme itu, dan betapa jahatnya fasisme itu. Kita janganlah seperti Togog-bedok yang melongo dan takjub melihat kemenangan-kemenangan militer dari fasisme itu, tetapi hendaklah belajar membenci fasisme itu sebagai economisch-politisch-systeem.

Orang yang simpati kepada fasisme adalah orang yang picik atau buta samasekali di lapangan ekonomi dan kenegaraan, orang yang "politiknya" politik jengkol dan pepetek, orang yang dungu, orang yang bodoh atau – ia memang orang durhaka, orang zalim, orang penindas yang senang mematikan kemerdekaan orang lain dan hak-hak orang lain. Ia orang burjuis yang senang duduk di atas punggungnya rakyat-jelata, orang "super-burjuis" yang senang kepada monopoli!

Kalau karangan saya sekarang ini dapat membuka mata orang dan menanamkan benih benci kepada fasisme di dalam hati orang, maka sudah merasa puaslah saya di dalam hati. Rakyat Indonesia hanyalah dapat benar-benar cinta kepada demokrasi, kalau jiwanya, perasaannya, keinsyafannya, k e y a k i n a n n y a demokratis. Keyakinan demokrasi itu barulah menjadi keyakinan yang teguh dan sadar, kalau cukup pendidikan dan cukup penerangan.

Penerangan demokratis itulah maksudnya tulisan saya ini.

"Pembangunan",1940