Fasisme Adalah Politiknya dan Sepak-terjangnya Kapitalisme yang Menurun

Part 1

Chapter 13,011 wordsPublic domain (Wikisource)

FASISME ADALAH POLITIKNYA DAN SEPAK TERJANGNYA KAPITALISME YANG MENURUN

Orang yang cinta fasisme adalah orang yang jiwanya zalim.

Beberapa permintaan sudah sampai kepada saya, supaya menerangkan lebih jelas lagi kalimat yang tertulis di atas itu.

Rupanya saya punya karangan "Beratnya Perjoangan Melawan Fasisme" menarik perhatian orang. Hanya sahaja, ternyata masih ada beberapa bagian di dalam karangan itu, yang orang belum mengerti betul dan minta dijelaskan lagi: terutama sekali kalimat-kalimat yang; mengandung di dalamnya kata-kata "kapitalisme yang menaik" dan "kapitalisme menurun ", (kapitalisme "im Aufstieg", dan kapitalisme "im Niedergang").

Apakah itu, – kapitalisme yang menaik, dan kapitalisme yang menurun? Bagaimanakah keterangan karangan itu kalimat yang berbunyi bahwa fasisme adalah politiknya dan sepak-terjangnya kapitalisme yang menurun?

Marilah coba saya terangkan dengan cara yang populer. Tetapi alangkah sukarnya! Sukar menerangkan satu soal yang sulit-rumit, dengan cara populer! Tetapi marilah saya coba. Memang saya punya kesenangan, saya punya kegemaran, dan barangkali juga saya punya pembawaan diri, ialah selalu mencoba m e m p o p u l e r k a n soal-soal. Buat apa saya menulis karangan-karangan di surat-surat khabar-harian, bergembar-gembor di atas podium, "memberi penerangan" kepada umum, kalau saya tidak menulis atau berpidato dengan cara yang dimengerti orang? Saya merasa sangat puas, kalau tulisan-tulisan saya, pidato-pidato saya dimengerti orang. Karena itu saya minta kepada Tuan-tuan: manakala karangan-karangan saya di "Pemandangan" ini menurut hemat, Tuan-tuan masih kurang populer, kurang mudah dimengertinya, kurang "angler" dibacanya, manakala ada di antara Tuan-tuan itu yang merasa seperti "buntu pikiran" pada waktu membaca tulisan-tulisan saya itu, – tegorlah saya, lajangkan-lah kartupos kepada saya dengan permintaan mempopuler-kan lagi tulisan-tulisan saya itu. Kartupos-kartupos yang demikian itu akan saya anggap sebagai petunjuk yang berharga, yang di atasnya saya mengucap diperbanyak terima kasih.

Sekarang, marilah kita mulai meninjau soal fasisme itu.

Tuan-tuan tentu masih ingat kalimat saya yang berbunyi:

"Kapitalisme yang menaik melahirkan liberalisme dan parlementaire democratie, kapitalisme yang menurun melahirkan faham monopoli dan fascistische dictatuur."

Apakah arti kapitalisme yang menaik, dan kapitalisme yang menurun? Kapitalisme memang mengalami zaman menaik dan mengalami zaman menurun. Kapitalisme ada yang subur-tumbuhnya sebagai jejaka yang muda-remaja dan gagah-perkasa dan ada yang sakit-sakitan seperti orang yang sudah umur tua. Kapitalisme yang menaik adalah penuh dengan kesuburan, penuh dengan kesehatan, penuh "vitaliteit", tetapi kapitalisme yang menurun adalah penuh penyakit-penyakit dan tanda-tanda-keripuhan. Ia tidak lagi sehat, tidak lagi subur, banyak cacat-cacat ketuaan, kurang "vitaliteit". Ia adalah kapitalisme yang kita alamkan di zaman sekarang ini.

Agar saudara pembaca lekas mengerti apa yang saya maksudkan, bandingkanlah kapitalisme zaman sekarang itu dengan kapitalisme sebelum peperangan-dunia 1914-1918. Tidakkah mudah terlihat perbedaan "kesehatan" padanya? Pada umumnya bolehlah dikatakan, bahwa kapitalisme sebelum peperangan-dunia itu adalah memperlihatkan garis menaik, garis subur, garis "mekar", sedang kapitalisme sesudah peperangan-dunia itu adalah kelihatan "ripuh" atau "sakit-sakitan" sahaja.

Apakah penyakit kapitalisme itu? Penyakit itu ialah krisis. Kita bisa menamakan krisis itu dengan perkataan malaise. Di dalam masa sebelas tahun sahaja sesudah peperangan-dunia itu, kita mengalami dua krisis yang maha-haibat: pertama di dalam tahun 1921, dan kedua tahun 1929 sampai beberapa tahun lamanya. Penyakit krisis ini selalu menyerang tubuh kapitalisme itu. Maka mampu atau tidaknya kapitalisme itu "menyembuhkan diri kembali" dari pukulan-pukulannya krisis itu, – itulah yang terutama sekali menjadi ukuran ia cukup "vitaliteit" atau tidak cukup "vitaliteit", ia "menaik" atau ia "menurun". Kapitalisme yang sehat, yang menaik, kalau kena pukulan krisis, dapatlah ia mengalahkan krisis itu buat sementara waktu. Tetapi kapitalisme yang telah menurun, menderita krisis itu seperti orang tua yang terserang penyakit haibat. Ia deritakan krisis itu dengan deritaan yang pedih sekali dan lama sekali, ia susah mendapat kembali kesehatannya yang sediakala. Ia seperti tidak ada daya-daya-penyembuh lagi, yang dapat mematikan kuman-kuman penjakitnya itu dengan segera dan effectief.

Krisis memang satu penyakit yang selalu "mengintai" kapitalisme disepanjang perjalanannya. Sebagai satu bayangan, ia selalu ikuti kapitalisme itu. Ia memang satu penyakit yang tidak dapat dielakkan di dalam stelsel kapitalisme itu, oleh karena akar-akarnya memang ter- kandung di dalam stelsel kapitalisme itu. Tetapi satu kapitalisme yang masih muda dan menaik, senantiasa dapatlah "hidup-kembali" dari pukulan-pukulannya krisis itu. Benar krisis itu satu penyakit, benar ia selalu merusak, tetapi di dalam kapitalisme yang menaik, krisis itu tidak terlalu amat lama menyerangnya, dan jarak-waktu antara satu krisis dengan lain krisispun tidak terlalu amat rapat. Di dalam kapitalisme yang menaik, krisis segeralah dapat disembuhkan, diikuti lagi dengan satu masa "sehat" yang segala-galanya kapitalisme itu subur kembali dan segar kembali: dagang, industri, bankwezen, perhubungan internasional, semua itu subur kembali dengan penuh vitaliteit, membawakan laba yang ribuan dan milyunan. Di dalam kapitalisme yang menaik, segeralah krisis dapat diikuti lagi dengan masa yang paberik-paberik berdentam mesin-mesinnya, pelabuhan-pelabuhan padat dengan kapal-kapal yang keluar-masuk, perdagangan giat sibuk gegap-gempitanya.

Sudahkah pernah pembaca mendengar kata conjunctuur? Masa kesuburan inilah yang dinamakan conjunctuur ! Sesudah krisis, datanglah conjunctuur. Di dalam kapitalisme yang sedang menaik, maka krisis tidak terlalu haibat dan tidak terlalu sering, tetapi lekaslah diikuti lagi oleh masa conjunctuur!

Tetapi tidak begitu di dalam kapitalisme yang telah menurun. Segala kelemahannya tubuh yang telah tua menjelma kepada kapitalisme yang telah menurun itu. Padanya pukulan krisis senantiasalah haibat dan pedih. Padanya krisis adalah satu azab yang maha-berat, dan padanya krisis itu lekas sekali diikuti oleh krisis yang baru. Krisis yang satu belum sembuh sama sekali, sudah datanglah menimpa krisis yang baharu. Habis krisis tidak timbul satu masa conjunctuur yang subur dan panjang waktu. Masyarakat seakan-akan tidak mempunyai tenaga lagi buat sembuh sama sekali dari pukulannya krisis itu. "Kesembuhan" yang ia capai sesudah krisis, bukanlah kesembuhan yang sempurna, tetapi kesembuhan yang masih sakit-sakitan sahaja. Meskipun sudah datang lagi "conjunctuur", maka masih adalah crisisresten (sisa-sisa-krisis) yang menempel kepadanya. Segala daya-upayanya buat membangunkan kembali conjunctuur yang 100% conjunctuur, tetaplah sia-sia. Bahkan belum pula daya-upaya ini berhasil, sudah datanglah lagi menimpa satu krisis yang baru, yang haibat, lebih lama, lebih mendalam, lebih melemahkan lagi sekujur tubuhnya. Misalnya krisis dari tahun 1921 belum sembuh sama sekali, conjunctuur yang mengikutinya belum conjunctuur sama sekali, sudahlah datang krisis tahun 1929 yang maha-dahsyat dan maha-seru.

Satu, dua, tiga, empat, lima tahun krisis ini menggelapkan sama sekali udaranya kapitalisme, – bukan sahaja di Amerika dan Eropah, tetapi sampai ke tiap-tiap lobang di muka bumi. Adakah kini agak terang bagi pembaca perbedaan antara kapitalisme sebelum perang dunia itu, dengan kapitalisme yang kemudian? Kalau kita ambil perang dunia itu sebagai batas, maka tampaklah garis perbedaan itu. Sebelum perang dunia itu, kapitalisme adalah menaik, gagah perkasa, penuh vitaliteit; sesudah perang dunia itu, kapitalisme adalah menurun, sakit-sakitan, ripuh, kurang vitaliteit. Garis kapitalisme-modern sejak pertengahan abad kesembilanbelas sampai perang dunia itu, adalah garisnya kenaikan, garisnya "Aufstieg"; tetapi kemudian daripada itu garis itu adalah garis yang menurun, garisnya "Niedergang".

Tetapi adalah satu hal yang Tuan-tuan harus ingatkan: Janganlah Tuan-tuan mengira, bahwa s e b e l u m perang dunia itu kapitalisme belum mulai menurun! Apakah pada hakekatnya peperangan 1914-1918 itu? Ia justru adalah satu a k i b a t dari garis yang sudah mulai m e n u r u n itu! Ia bukan terjadi karena misalnya Groothertog Frans Ferdinand ditembak orang di Serajewo, ia adalah "krisis" di dalam satu garis yang telah "mengerisis" lebih dulu. Ia bahkan terjadi di dalam garis ekonomi internasional yang telah mulai menurun dan kocar-kacir. Ia satu "letusan" dari tabrakannya tenaga-tenaga yang bersaing-saingan di dalam ekonomi internasional yang sudah kocar-kacir.

Sebab, apakah salah satu obat buat mengobati ekonomi kapitalisme yang kocar-kacir? Obat ini ialah pasar-pasar baru, tempat-tempat penjualan-barang baru, afzetgebieden baru. Maka tabrakan-tabrakannya tenaga-tenaga yang bersaing-saingan merebut dan menguasai pasar-pasar baru inilah yang akhirnya meletus-keluar menjadi tabrakannya tentara dengan tentara, meriam dengan meriam, armada dengan armada. Siapa dapat mencarikan pasar-pasar baru buat mengobati ekonomi kapitalisme yang kocar-kacir, dan apakah daya-upaya kalau pasar-pasar itu tidak dapat diperoleh dengan jalan-jalan yang biasa? Kalau jalan-jalan biasa dihalang-halangi oleh orang lain, maka jalan-jalan yang "luar biasa" harus ditempuh. Maka staatspolitiek yang tahadinya berbicara dengan mulut biasa itu, kini menjadilah berbicara dengan mulut senapan dan mulut meriam. Peperangan, menurut Clausewitz, tidaklah lain dari penerusannya staatspolitiek "dengan jalan-jalan lain", – oorlog is niets anders dan de voortzetting van de staatspolitiek "met anciere middelen"!

Dan sesudah peperangan 1914-1918 itu berakhir, – adakah kapitalisme sembuh kembali, adakah "spanningen" yang menyebabkan peperangan itu tidak berakhir pula? Kita mengetahui, spanningen itu tidak berakhir, malahan makin bertambah pula. Dan kapitalisme tidak sembuh kembali benar-benar, tetapi malahan makin sakit, makin menurun. Sebentar ia seperti sembuh, seperti tidak mengandung penyakit-penyakit di bawah kulit, seperti mengalami conjunctuur yang benar-benar conjunctuur, tetapi, belum makmur pula kembali padang-padang-peperangan di Vlaanderen dan Perancis-Utara dan Rusia-Barat yang gundul itu sudah datang lagi, krisis-krisis dari tahun 1921 dan 1929 yang maha-haibat dan maha-seru!

Benarkah kata orang, bahwa bertambahnya kesakitan kapitalisme ini ialah oleh karena peperangan 1914-1918 itu? Pada hakekatnya tidak! Sebab umpama benar begitu, kenapa kapitalisme tidak makin sembuh manakala ia makin jauh dari tahun-tahun 1914-1918 itu? Kenapa kapitalisme tetap sakit, bahkan mak in sakit, pada masa-masa yang ia makin jauh dari tahun 1918 itu? Bukan dua tiga tahun, tetapi sebelas, duabelas, tigabelas tahun sesudah 1918 itu ia malahan mengalamkan krisis-mahakrisis yang kehaibatannya seumur-hidup ia belum mengalamkan! Sebelas tahun sesudah peperangan itu, ia buat beberapa tahun lamanya menderita pukulannya krisis, yang kerasnya, lamanya, luasnya, pedihnya, merusaknya belum pernah ada bandingannya di seluruh sejarah peri-kemanusiaan. Belum pernah merosot produksi seperti di dalam krisis 1920-1923 itu. Belum pernah perdagangan internasional hampir mati samasekali, seperti di dalam krisis ini. Belum pernah jumlahnya kaum werkloos begitu naik menyundul langit, seperti di dalam krisis ini. Belum pernah begitu banyak perusahaan-perusahaan gulung-tikar, seperti di dalam krisis ini. Dan itu semuanya apa sebab? Sebabnya ialah, bahwa krisis 1929 itu bukan lagi satu "gangguan", satu "interruptie", satu "tijdelijke inzinking" daripada satu kapitalisme yang sedang menaik, (seperti krisis-krisis di dalam abad kesembilanbelas dan di permulaannya abad keduapuluh), -tetapi ialah penutupannya satu "conjunctuur" yang di dalamnya telah mengandung zat-zatnya penurunan dan sifat-sifatnya penurunan.

Saudara-saudara pembaca barangkali telah pernah mendengar perkataan rasionalisasi. Ia adalah buah pemutaran otaknya kaum insinyur dan kaum perusahaan buat mengadakan sesuatu hasil dengan sedikit mungkin tenaga-manusia dan kapital. Ia adalah satu barang baik, di dalam satu masyarakat yang baik. Tetapi rasionalisasi yang kita bicarakan sekarang ini tidaklah timbul di dalam masyarakat yang baik. Ia timbul di dalam masyarakat yang cilaka, dan menimbulkan kecilakaan pula. Sebab, apakah yang kita lihat di zaman menurunnya kapitalisme itu? Otaknya insinyur-insinyur dan bedrijfsleider-bedrijfsleider berputar keras buat memerangi penurunan itu, dan hasilnya pemutaran otak itu ialah rasionalisasi; di mana-mana orang ikhtiarkan rasionalisasi ikhtiarkan, supaya hasil pekerjaan manusia bertambah. Susunan bedrijf, mesin-mesin, pembahagian kerja, pembahagian waktu, pemasakan bahan-bahan, -semuanya dirasionalisasikan oleh insinyur-insinyur dan bedrijfsleider-bedrijfsleider itu, supaya productiviteit-nya pekerjaan manusia makin bertambah, makin meninggi, makin menaik. Apa sebab? Tak lain tak bukan, oleh karena p e r s a i n g a n di dalam udara-keturunan yang amat sempit itu, makin sengit, makin haibat. Persaingan yang makin sengit dan makin haibat inilah yang memaksa kepada insinyur-insinyur dan bedrijfsleider-bedrijfsleider itu, supaya mencari ikhtiar dan daya-upaya yang pekerjaan yang misalnya dulu dikerjakan oleh lima orang, kini dapat dikerjakan oleh satu-dua orang sahaja.

Tetapi tiap-tiap orang tentu mengetahui atau mengerti, bahwa rasionalisasi ini hanyalah dapat menjadi berkah bagi kapitalisme, kalau dibarengi dengan bertambahnya pasar, yang membeli barang-barang hasilnya rasionalisasi itu! Apakah akibat penambahan productiviteit pekerjaan manusia, kalau tidak dibarengi dengan penambahan productiviteit itu? Yang musti menelan hasilnya penambahan? Akibat yang paling pertama ialah bertambahnya p e n g a n g g u r a n, bertambahnya werkloosheid. Ribuan, ketian, milyunan kaum buruh menjadi werkloos karena rasionalisasi itu, terlempar ke dalam sarnpahnya kemiskinan, oleh karena pasar-pasar yang a d a, sudah cukuplah "diladeni" oleh satu jumlah kaum buruh yang kurang daripada dahulu.

Dan meskipun kapitalisme ingin , menambah produksinya, ingin melipat-lipat-gandakan produksinya, – ia tak dapat mengalahkan conjunctuur besar-besaran kembali, tak dapat memaksakan adanya conjunctuur besar-besaran itu. Justru di negeri-negeri yang paling haibat produksinya itu, di situlah paling haibat pula jumlah kaum buruh yang tidak mendapat pekerjaan! Di Amerika, di Inggeris, di Jerman jumlah itu adalah bermilyun-milyun! Dan perhatikan: jumlah-jumlah milyun-milyunan ini bukan jumlah kaum penganggur di waktu k r i s i s, tetapi jumlah kaum penganggur di waktu "Conjunctuur"! Bukan jumlah di waktu "meleset", tetapi jumlah di waktu "laris"! Dan malahan jumlah kaum penganggur di waktu conjunctuur sesudah perang dunia itu, adalah berlipat-ganda l e b i h b e s a r daripada jumlah katun penganggur di waktu k r i s i s sebelum peperangan itu.

Itulah salah satu tanda niedergang! Tanda kapitalisme telah menurun. Tanda satu kesakitan terus-menerus, yang susah diobati dan disembuhkan. Tanda kapitalisme telah "jompo", telah "lapuk", telah "ripuh". Tanda bahwa alam kapitalisme yang menyuburi kapitalisme itu, kini telah mendialektik menjadi satu alam yang menutup nafas kapitalisme itu. Dan supaya pembaca-pembaca lebih terang lagi melihat perbedaan-perbedaannya kenaikan dan penurunan itu, – marilah kita membuat satu ikhtisar dari tanda-tanda kenaikan dan penurunan itu.

Perhatikan dan bandingkanlah!

Sebelum perang dunia, maka jumlah produksi selalu naik dengan pesat sekali. Tetapi sesudah perang dunia, maka jumlah produksi itu, meski di waktu conjunctuur-pun, tidak begitu naik.

Sebelum perang dunia, maka productiviteit-nya pekerjaan manusia naik dengan cara sedang-sedang sahaja. Tetapi sesudah perang dunia itu, maka, dengan jalan rasionalisasi, productiviteit-nya pekerjaan manusia itu dipaksakan menjadi naik dengan cara yang amat cepat sekali.

Sebelum perang dunia, terutama sekali di bahagian kedua dari abad kesembilanbelas, maka pasar-pasar-dunia sangat luaslah bertambahnya, yakni dengan bertambahnya koloni-koloni di sana-sini. Tetapi sesudah perang dunia itu, maka hampir tidak adalah lagi tambahnya koloni-koloni, bahkan boleh dikatakan dunia telah habis sama sekali terbagi-bagi.

Sebelum perang dunia, maka perhubungan-perhubungan ekonomi internasional sangatlah giat dan pesatnya. Tetapi sesudah perang dunia itu perhubungan-perhubungan makin kurang, bahkan tiap-tiap negeri mengurung diri sendiri dengan tembok-tembok bea yang maha-tinggi.

Sebelum perang dunia, maka harga barang-barang yang diperdagangkan, ratusan, ribuan, milyunan rupiah. Tetapi sesudah perang dunia meski di waktu conjunctuur-pun, harga ini l e b i h r e n d a h dari harga di permulaan abad yang sekarang.

Sebelum perang dunia, maka jumlah kaum buruh yang dikerjakan adalah senantiasa naik. Tetapi sesudah perang dunia, maka jumlah ini boleh dikatakan tidak naik samasekali, bahkan ada yang t u r u n meskipun di waktu conjunctuur.

Sebelum perang dunia, maka jumlah kaum penganggur di waktu conjunctuur adalah amat kecil sekali, dan di waktu krisis tidak adalah satu negeri yang jumlah kaum penganggurnya meliwati satu milyun. Tetapi sesudah perang dunia, meskipun di waktu conjunctuur, jumlah kaum penganggur itu jauh meliwati satu milyun dan malahan jauh melebihi jumlah kaum penganggur disesuatu krisis sebelum peperangan!

Sebelum perang dunia, maka krisis-krisis yang mengganggu kapitalisme itu tidaklah merusak garis kenaikan kapitalisme itu; sebelum perang dunia itu, maka boleh dikatakan conjunctuur adalah keadaan yang normal, sedang krisis hanyalah gangguan-gangguan-sementara sahaja. Tetapi sesudah perang dunia itu, maka boleh dikatakan tidak ada lagi conjunctuur yang sebenar-benarnya conjunctuur. Sesudah perang dunia itu, krisislah yang "normal". Conjunctuur menjadilah satu hal yang "luar biasa", krisis menjadilah satu hal yang "biasa". Conjunctuur menjadi satu perkecualian; krisis menjadi satu barang sehari-hari, satu barang tetap, satu barang permanen.

Pendek kata: sebelum perang dunia, maka garis kapitalisme nyatalah garis kenaikan, garisnya opgang; tetapi sesudah perang dunia, garis itu menjadi garis menurun, garisnya niedergang. Dan itupun dengan diperingatkan, bahwa garis menurun itu sudah mulai s e b e 1 u m perang dunia itu, dan malahan, bahwa perang dunia itu adalah akibat dari penurunan yang sudah mulai itu.

Demikianlah gambarnya garis penurunan itu. Mengertikah Tuan sekarang, apa sebab krisis 1929, yang jatuhnya tepat pada masa penurunan itu, haibatnya meliwat-liwati batas? Laksana hantaman penyakit-penyakit baru kepada seorang yang memang sedang di dalam sakit, maka hantaman krisis 1929 itu melemahkan sama sekalilah pada tubuhnya kapitalisme yang sejak permulaannya abad keduapuluh memang sudah di dalam sakit itu. Wereldindustrie, wereldhandel, wereldbankwezen, wereldscheepvaart, semuanya menjadi kocar-kacirlah sama sekali buat bertahun-tahun lamanya. Semuanya itu mendapat kebencanaan yang begitu rupa, sehingga surat khabar "Times" (surat khabarnya kaum modal) di dalam tahun 1937, yakni lama sesudah krisis itu telah berakhir, masih girap-girapen sahaja, dan memberi peringatan yang berbunyi: "Peradaban modern tak akan dapat memikul satu krisis baru, atau satu peperangan baru. Baik yang satu ataupun yang lain, akan mematahkan dia sama sekali."

Apa sebab surat-surat-khabarnya kaum modal ini berkata begitu?

Oleh karena ia mengerti, bahwa kapitalisme zaman sekarang ini sudah sedang menurun! Kalau datang satu krisis lagi, kalau datang satu hantaman lagi, maka hantaman itu tidak lagi kenal ampun! Kalau datang satu hantaman lagi, niscaya meledaklah bangun pula semua tenaga-tenaga yang akan membinasakan kapitalisme itu sama sekali!

Sebab, bukan sahaja kapitalisme itu kini sakit, iapun duduk di atas gunung-api! Permanente werkloosheid yang telah ia bangunkan itu, menambahlah haibatnya ketegangan sosial di dalam masyarakat, mengenai udara masyarakat itu dengan listriknya halilintar dan geledek revolusi sosial. Pengangguran permanen itu mengisi udara dengan hawa-panasnya hati yang dendam, dan merendahkan upah-upahnya kaum buruh yang dikerjakan. Dan apa akibat turunnya upah ini? Kemampuan membeli di pasar-dalam-negeri merosotlah ke bawah: kemampuan membeli itu menjadi minimal, sedang pasar-di luar-negeri sukar sekali dicari bertambahnya. Dan apa akibat dari merosotnya kemampuan membeli serta sukarnya mencari pasar-pasar baru itu? Akibatnya ialah, bahwa produksi terpaksa dikurangi, dan pengangguran bertambah-tambah lagi! Yang satu berakibat yang lain, yang lain berakibat yang satu. Kapitalisme berputar di dalam satu putaran cilaka, berputar di dalam satu vicieuze cirkel, yang tidak dapat lagi melepaskan did daripadanya.

Sungguh takjub kita, kalau melihat garis perjalanan-hidupnya kapitalisme itu! Di dalam iapunya opgang, di dalam iapunya kenaikan, maka ia membangunkan ekonomi dunia. Ia langkahi garis-garis-batasnya kenegerian dan kedaerahan, iapunya tangan-tangan melancar kemana-mana melangkahi negeri dan benua dan samodra. Tetapi di dalam iapunya keturunan, di dalam iapunya niedergang, ia berangsur-binasakan lagi ekonomi dunia itu. Berangsur-angsur ia melemahkan perniagaan dunia, produksi dunia, penerbangan dunia, pelayaran dunia. Dialektiknya keadaan telah menerkam kepadanya. Dengan cara-cara yang biasa, ia sukar ditegakkan terus. Ketegangan-ketegangan sosial memberontak kepadanya, tenaga-tenaga produksi memberontak kepadanya. Memberontak kepada batas-batas yang menjadi terlalu sempit dan terlalu mengikat kepadanya.

Apa daya sekarang? Badannya sendiri telah amoh, tenaga-tenaga produksinya sendiri telah memberontak kepadanya, kaum ‘ buruh seperti satu lautan yang mendidih. Apa daya sekarang? Tidak ada lain daya, melainkan dayanya k e k e r a s a n ! Di dalam iapunya opgang, tatkala ia masih bersenang-senang menaik dengan conjunctuur merdeka, tatkala semua barang sesuatu adalah lapang dan luas, di dalam iapunya opgang itu ia di dalam lapangan ekonomi adalah liberal, dan di dalam lapangan politikpun liberal pula.

Di dalam iapunya opgang itu, iapunya "sistim" ialah economisch en politiek liberalisme: konkurensi m e r d e k a, demokrasi parlementer, dan negara tidak boleh campur-campur tangan, melainkan menjaga keamanan sahaja serta mengerjakan putusan-putusannya sahaja.