Le mystère de la chambre jaune
Chapter 3
Dalam mempertimbangkan hubungan antara kerajaan Allah, kerajaan Kristus dan Gereja, adalah penting untuk menghindari penekanan yang tak berimbang, seperti dalam kasus dengan “pengertian-pengertian itu yang secara sengaja menekankan kerajaan dan yang menjabarkan mereka sendiri sebagai ‘kerajaan terpusat’. Mereka menekankan gambaran sebuah Gereja yang tidak peduli terhadap dirinya sendiri, tetapi yang sepenuhnya peduli untuk menjadi saksi dan melayani kerajaan. Ia adalah sebuah ‘Gereja bagi sesama,’ seperti Kristus adalah ‘manusia bagi sesama’…. Bersamaan dengan hal- hal positif, konsep-konsep ini sering menyatakan hal-hal negatif juga. Pertama, mereka bungkam tentang Kristus: kerajaan yang mereka bicarakan adalah berdasarkan ‘teosentris’, karena menurut mereka, Kristus tidak dapat dimengerti oleh mereka yang kurang beriman Kristiani, sedangkan bangsa-bangsa yang berbeda, budaya-budaya, dan agama-agama dapat menemukan dasar bersama di dalam sebuah realitas ilahi, dengan nama apapun juga. Dengan alasan yang sama, mereka menempatkan penekanan besar pada misteri penciptaan, yang dicerminkan di dalamnya keanekaragaman budaya dan kepercayaan, tetapi mereka bungkam tentang misteri penebusan dosa. Selanjutnya, kerajaan, seperti yang dimengerti oleh mereka, berakhir dengan entah meninggalkan sangat sedikit ruang bagi Gereja atau merendahkan nilai Gereja sebagai reaksi terhadap sebuah anggapan ‘eklesiosentrism’ di masa lalu dan karena mereka menanggap Gereja sendiri hanya sebagai sebuah tanda, untuk hal itu, tanda yang tidak tanpa banyak arti/ ambigu.”[77]. Thesis- thesis ini bertentangan dengan iman Katolik sebab mereka menolak keunikan hubungan yang dimiliki oleh Kristus dan Gereja dengan kerajaan Allah. VI. Gereja Katolik dan agama-agama lain di dalam hubungannya dengan keselamatan
20. Dari apa yang telah dinyatakan di atas, timbul beberapa butir yang penting untuk permenungan teologis sebab hal itu menjelaskan hubungan Gereja dan agama-agama lain dalam hal keselamatan.
Di atas segalanya, haruslah diimani dengan teguh bahwa “Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya’.[78] Ajaran ini harus tidak ditempatkan berlawanan dengan kehendak keselamatan Tuhan yang bersifat universal: Gereja yang satu adalah pengantara dan jalan keselamatan (cf. 1 Tim 2:4); “Adalah penting untuk menjaga dua kebenaran ini bersama-sama, yaitu, kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus untuk semua umat manusia dan pentingnya Gereja untuk keselamatan ini.”[79]
Gereja adalah “sakramen keselamatan bagi semua orang”[80], karena, selalu bersatu secara misterius dengan Sang Juru Selamat Yesus Kristus, Kepalanya, dan tunduk kepada-Nya, ia mempunyai, di dalam rencana Tuhan, sebuah hubungan yang sangat diperlukan dengan keselamatan setiap manusia.[81] Bagi mereka yang bukan merupakan anggota resmi dan yang kelihatan (visible) dari Gereja, “keselamatan di dalam Kristus dicapai dengan kebajikan rahmat, yang ketika mempunyai hubungan yang misterius dengan Gereja, tidak membuat mereka secara resmi bagian dari Gereja, tetapi [rahmat ini] menerangi mereka di dalam cara yang diakomodasikan dengan situasi rohani dan jasmani mereka. Rahmat ini datang dari Kristus; rahmat ini adalah hasil dari kurban-Nya dan disampaikan oleh Roh Kudus”;[82]; ia [rahmat ini] mempunyai sebuah hubungan dengan Gereja, yang “berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa”.[83]
21. Dengan memperhatikan cara yang di dalamnya rahmat Allah yang menyelamatkan – yang diberikan selalu melalui Kristus di dalam Roh Kudus dan mempunyai sebuah hubungan yang misterius dengan Gereja- datang kepada pribadi yang non- Kristiani, Konsili Vatikan II membatasi dirinya kepada pernyataan bahwa Tuhan memberikan hal itu “dengan cara yang diketahui oleh Diri-Nya sendiri.”[84] Para teolog sedang mencari untuk memahami masalah ini dengan lebih penuh. Pekerjaan mereka harus didukung, sebab itu tentunya sangat berguna bagi pemahaman yang lebih baik tentang rencana keselamatan dan cara- cara yang melaluinya hal itu diwujudkan. Namun demikian, dari apa yang telah disebutkan di atas tentang Pengantaraan Yesus Kristus dan “keunikan dan hubungan yang khusus”[85] yang dimiliki oleh Gereja dengan kerajaan Allah di antara manusia- yang pada hakekatnya adalah kerajaan universal Kristus Sang Penyelamat- adalah jelas bahwa menjadi bertentangan dengan iman, untuk menganggap Gereja sebagai satu jalan keselamatan yang ada berdampingan dengan jalan-jalan agama- agama lain, yang dilihat sebagai yang melengkapi Gereja atau yang secara hakiki sama dengannya, meskipun jika ini dikatakan sebagai pertemuan dengan Gereja menuju kerajaan Tuhan di akhir jaman.
Jelaslah, berbagai tradisi religius mencakup dan menawarkan elemen-elemen religius yang datang dari Tuhan,[86] dan yang mana bagian dari apa “yang dihasilkan oleh Roh Kudus di dalam hati umat manusia dan di dalam sejarah bangsa-bangsa, di dalam budaya-budaya dan agama-agama”.[87] Sungguh, beberapa doa dan ritual dari beberapa agama dapat mengambil sebuah peran persiapan bagi Injil, dalam hal bahwa mereka adalah kesempatan-kesempatan dan bantuan-bantuan yang mendidik di mana hati manusia didorong untuk menjadi terbuka terhadap pekerjaan Allah.[88] Namun demikian, seseorang tidak dapat menganggap hal-hal ini, [sebagai] sebuah sumber ilahi atau sebuah ex opere operato kemanjuran keselamatan, yang layaknya pada sakramen-sakramen Kristiani.[89] Selanjutnya, tidak dapat diabaikan bahwa ritual-ritual yang lain jika mereka tergantung pada tahyul dan kesalahan- kesalahan yang lain (cf. 1 Kor 10:20-21), merupakan sebuah penghalang keselamatan.[90]
22. Dengan kedatangan Sang Juru Selamat Yesus Kristus, Tuhan telah meginginkan bahwa Gereja yang didirikan-Nya menjadi alat bagi keselamatan semua manusia (lih. Kis 17:30-31).[91] Kebenaran iman ini tidak mengurangi penghormatan yang tulus yang dimiliki oleh Gereja terhadap agama-agama di dunia, tetapi pada saat yang sama, Gereja mengatasi, dengan cara yang radikal, mentalitas acuh tak acuh, “yang ditandai dengan sebuah relativisme religius yang mengarah kepada kepercayaan bahwa ‘suatu agama adalah sama bagusnya dengan agama yang lainnya’ “.[92] Jika itu benar bahwa para pengikut agama-agama lain dapat menerima rahmat ilahi, maka pastilah, secara obyektif, mereka berada dalam keadaan yang sungguh kurang jika dibandingkan dengan dengan mereka yang berada di dalam Gereja, yang mempunyai kepenuhan sarana keselamatan.[93] Namun demikian, “Pun hendaklah semua Putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa pula. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras”.[94] Karena itu, seseorang memahami bahwa mengikuti perintah Tuhan (lih. Mat 28:19-20) dan sebagai sebuah persyaratan dari kasihnya kepada semua orang, Gereja “tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya”.[95]
Di dalam dialog antar agama, kegiatan misi ad gentes “sekarang ini seperti selalu tetap sepenuhnya mempunyai daya-kekuatan dan sifat keharusannya”.[96]. “Sungguh, Tuhan menghendaki “supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2:4); yaitu Allah menghendaki supaya semua orang sampai kepada keselamatan melalui pengetahuan akan kebenaran. Keselamatan terdapat dalam kebenaran. Barang siapa taat kepada dorongan Roh Kebenaran, ia sudah berada di jalan menuju keselamatan: tetapi Gereja, kepada siapa dipercayakan kebenaran ini, harus memperhatikan kerinduan manusia dan membawakan kebenaran itu kepadanya. Oleh karena Gereja percaya kepada keputusan keselamatan yang mencakup semua manusia, maka ia harus bersifat misioner”.[97]. Oleh karena itu, dialog antar agama, sebagai bagian dari misi evangelisasi, adalah hanya salah satu tindakan-tindakan Gereja di dalam misinya di seluruh bangsa/ad gentes.[98] Kesetaraan, yang merupakan sebuah persyaratan kondisi awal dari dialog antar agama, mengacu kepada persamaan martabat pribadi dari pihak-pihak di dalam dialog, tidak dari isi pengajarannya, atau bahkan kurangnya posisi Yesus Kristus- yang adalah Tuhan sendiri yang menjadi manusia- dalam hubungannya dengan agama-agama lain. Sungguh, Gereja, yang dibimbing oleh kasih dan hormat bagi kemerdekaan,[99] harus pada dasarnya berkomitmen untuk mewartakan kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan kepada segala bangsa, dan untuk mengumumkan pentingnya pertobatan kepada Yesus Kristus dan perlekatan kepada Gereja melalui Baptisan dan sakramen-sakramen yang lain, agar dapat mengambil bagian secara penuh di dalam persekutuan dengan Tuhan, Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Jadi, kepastian tentang kehendak Allah untuk menyelamatkan semua orang tidak mengurangi, tetapi sebaliknya meningkatkan tugas dan keadaan mendesak tentang pewartaan keselamatan dan pertobatan kepada Tuhan Yesus Kristus. Kesimpulan
23. Maksud Deklarasi ini, dalam hal mengulangi dan menegaskan kembali kebenaran-kebenaran tertentu dari iman, telah mengikuti teladan dari Rasul Paulus, yang menulis kepada umat di Korintus: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri.” (1 Kor 15:3). Berhadapan dengan anggapan- anggapan tertentu yang problematik dan salah, permenungan teologis dipanggil untuk menguatkan kembali iman Gereja, dan untuk memberikan alasan- alasan bagi pengharapannya dengan cara yang meyakinkan dan efektif.
Untuk menanggapi pertanyaan tentang agama yang sejati, para Bapa Konsili Vatikan II mengajarkan: “Kita percaya, bahwa satu-satunya Agama yang benar itu berada dalam Gereja katolik dan apostolik, yang oleh Tuhan Yesus diserahi tugas untuk menyebarluaskannya kepada semua orang, ketika bersabda kepada para Rasul: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20). Adapun semua orang wajib mencari kebenaran, terutama dalam apa yang menyangkut Allah dan Gereja-Nya. Sesudah mereka mengenal kebenaran itu, mereka wajib memeluk dan mengamalkannya”.[100]
Wahyu Kristus akan terus menjadi “bintang pedoman sejati”[101] dalam sejarah umat manusia: “Kebenaran, yang adalah Kristus, menekankan sendiri sebagai sebuah otoritas yang menjangkau semua”.[102] Misteri Kristiani, pada kenyataannya, mengatasi semua penghalang waktu dan ruang, dan mencapai kesatuan keluarga besar umat manusia: “Dari tempat-tempat dan tradisi- tradisi mereka yang berbeda, semua [manusia] dipanggil di dalam Kristus untuk mengambil bagian di dalam kesatuan keluarga anak-anak Allah…. Yesus menghancurkan tembok-tembok pemisah dan menciptakan kesatuan di dalam sebuah cara yang baru dan tak terlampaui melalui keterlibatan kita di dalam misteri-Nya. Kesatuan ini adalah sangat dalam sehingga Gereja dapat berkata dengan Rasul Paulus: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah… ” (Ef 2:19).[103]
Imam Agung Yohanes Paulus II, pada saat Audiensi 16 Juni 2000, memberikan jaminan kepada Kardinal Prefek dari Kongregasi untuk Doktrin Iman (CDF) yang menandatangani di bawah ini, dengan pengetahuan yang pasti dan dengan otoritas apostolik, meratifikasi dan menyetujui Deklarasi ini, mengambilnya di dalam Sesi Plenary (keseluruhan) dan memerintahkan publikasinya.
Roma, dari Kantor Kongregasi untuk Doktrin Iman (CDF), 6 Agustus 2000, pada Pesta Transfigurasi, Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor.
Kardinal Yosef Ratzinger Prefek
Tarcisio Bertone, S.D.B Uskup Agung Emeritus Vercelli Sekretaris
Referensi
Pranala luar The official text of the document Cardinal Ratzinger Answers The Main Objections Raised Against The Declaration Dominus Iesus Roman Catholic Church's views on other faiths, as seen by Ontario Consultants on Religious Tolerance Responses to some questions regarding certain aspects of the doctrine on the church, Congregation for the Doctrine of the Faith, June 29, 2007
Kategori:Dokumen Katolik