Dominus Iesus

Part 2

Chapter 23,259 wordsPublic domain (Wikisource)

11. Serupa dengan itu, ajaran iman tentang keunikan pengaturan rahmat keselamatan yang diinginkan oleh Allah Trinitas harus diimani dengan teguh, di mana sumber dan pusatnya adalah misteri dan Inkarnasi Sang Sabda, Pengantara rahmat ilahi pada saat Penciptaan dan Penyelamatan (lih. Kol 1:15-20), Ia yang merangkum semua (lih. Ef 1:10), Ia “yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30). Kenyataannya, misteri Kristus mempunyai kesatuan yang hakiki, yang membentang dari pilihan Tuhan yang ilahi sampai paraousia [kedatangan Kristus yang kedua]: “Sebab di dalam Dia [Kristus] Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Ef 1:4); “Di dalam Kristus, …kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (Ef 1:11); “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Rom 8:29-30)

Magisterium Gereja, setia dengan wahyu ilahi, menyatakan kembali bahwa Yesus Kristus adalah Sang Pengantara dan Penebus umat manusia: “Sebab Sabda Allah sendiri – karena-Nya segala sesuatu dijadikan – telah menjadi daging, supaya Ia sebagai manusia yang sempurna menyelamatkan semua orang dan merangkum segalanya dalam Dirinya. Tuhanlah … yang ditetapkan Bapa menjadi hakim bagi mereka yang hidup maupun yang mati”.[35] Pengantaraan keselamatan ini termasuk juga keunikan dari korban Kristus yang menyelamatkan, Sang Imam Agung yang abadi (lih. Ibr 6:20; 9: 11; 10:12-14).

12. Ada juga orang-orang yang mengusulkan hipotesa tentang pengaturan rahmat Roh Kudus dengan sebuah aliran yang lebih universal daripada Sabda yang menjelma menjadi manusia, disalibkan dan bangkit. Pandangan ini juga bertentangan dengan iman Katolik, yang sebaliknya, menganggap Inkarnasi Sang Sabda yang menyelamatkan sebagai kesatuan tindakan/ kejadian Allah Trinitas. Di dalam Perjanjian Baru, misteri Yesus dan Sang Sabda yang menjelma, merupakan wadah kehadiran Roh Kudus dan juga sebagai prinsip penyebaran Roh Kudus kepada umat manusia, tidak hanya pada jaman mesianis (lih. Kis 2:32-36; Yoh 7:39, 20:22; 1 Kor 15:45), tetapi juga sebelum kedatangan-Nya di dalam sejarah (lih. 1 Kor 10:4; 1 Pet 1:10:12).

Konsili Vatikan II telah mengingat kembali dengan kesadaran tentang iman Gereja tentang kebenaran yang mendasar ini. Dengan menghadirkan rencana keselamatan Bapa bagi semua umat manusia, Konsili menghubungkan eratnya misteri Kristus dengan awal permulaan misteri Roh Kudus.[36] Keseluruhan karya membangun Gereja oleh Yesus Kristus Sang Kepala, di sepanjang segala abad, dilihat sebagai sebuah tindakan yang dilakukan-Nya di dalam persekutuan dengan Roh-Nya.[37]

Selanjutnya, tindakan penyelamatan oleh Yesus Kristus, dengan dan melalui Roh-Nya, melampaui batas-batas yang kelihatan dari Gereja kepada semua umat manusia. Berbicara tentang misteri Paska, di mana Kristus bahkan sekarang menghubungkan umat beriman dengan Diri-Nya sendiri dengan cara yang hidup di dalam Roh Kudus dan memberikan kepada umat pengharapan akan kebangkitan, Konsili menyatakan: “Semua ini bukan hanya berlaku bagi kaum beriman Kristiani, melainkan bagi semua orang yang berkehendak baik, yang di hatinya rahmat yang tidak kelihatan aktif berperan. Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk dengan cara yang diketahui oleh Allah digabungkan dengan misteri Paska itu”.[38]

Oleh karena itu, hubungannya jelas antara misteri keselamatan Sabda yang menjelma dan misteri Roh Kudus, yang merealisasikan kemanjuran penyelamatan dari Sang Putera yang menjelma menjadi manusia di dalam kehidupan semua orang, yang dipanggil oleh Tuhan kepada tujuan yang satu, baik mereka yang secara historis hidup sebelum penjelmaan Sang Sabda, dan mereka yang hidup setelah kedatangan-Nya di dalam sejarah: Roh dari Allah Bapa, yang dicurahkan secara melimpah oleh Sang Putera Allah, adalah yang menghidupkan segalanya (lih. Yoh 3: 34).

Dengan demikian, Magisterium Gereja belakangan ini mengingatkan kembali dengan teguh dan jelas kebenaran akan sebuah/ satu pengaturan ilahi: “Kehadiran Roh Kudus dan tindakan-Nya tidak hanya mempengaruhi pribadi-pribadi tetapi masyarakat dan sejarah, bangsa-bangsa, budaya dan agama-agama… Kristus yang bangkit ‘sekarang ini sedang bekerja di dalam hati manusia melalui kekuatan Roh Kudus-Nya’…. Lagi, adalah Roh Kudus yang menaburkan ‘benih dari Sang Sabda’ yang hadir di dalam berbagai cara hidup dan budaya, mempersiapkan mereka bagi kedewasaan di dalam Kristus”.[39] Sementara mengenali fungsi Roh Kudus yang menyelamatkan secara historis di seluruh alam semesta dan di dalam seluruh sejarah manusia,[40] Magisterium menyatakan: “Ini adalah Roh Kudus yang sama, yang bekerja pada saat Inkarnasi dan di dalam hidup, kematian dan kebangkitan Yesus, dan yang kini bekerja di dalam Gereja. Karena itu, Ia bukanlah merupakan alternatif di samping Kristus ataupun seperti yang kadang diduga, Ia mengisi kekosongan yang ada antara Kristus dan Sang Sabda. Apapun yang dihasilkan oleh Roh Kudus di dalam hati manusia dan di dalam sejarah bangsa-bangsa, di dalam budaya-budaya dan agama-agama, menjadi sebuah persiapan bagi Injil dan hanya dapat dimengerti dengan mengacu kepada Kristus, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia oleh kuasa Roh Kudus ‘sehingga karena Ia adalah sungguh-sungguh manusia, maka Ia dapat menyelamatkan semua manusia dan merangkum segala sesuatu’”.[41]

Kesimpulannya, pekerjaan Roh Kudus tidaklah berada di luar ataupun sejajar dengan pekerjaan Kristus. Hanya ada satu pengaturan keselamatan dari Allah yang satu dan Tritunggal, yang dinyatakan di dalam misteri Inkarnasi, kematian dan kebangkitan Putera Allah, yang dilakukan dengan kerjasama Roh Kudus dan diteruskan di dalam nilai yang menyelamatkan kepada semua umat manusia dan kepada segenap alam semesta. “Oleh karena itu, tak seorangpun, yang dapat masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan kecuali melalui Kristus, dengan kuasa perbuatan Roh Kudus”.[42] III. Keunikan dan keuniversalan Misteri Keselamatan oleh Yesus Kristus

13. Tesis yang menolak keunikan dan keselamatan bagi semua orang dari misteri Yesus Kristus juga diketengahkan di sini. Pandangan semacam ini tidak mempunyai dasar Alkitabiah. Kenyataannya, kebenaran tentang Yesus Kristus, Putera Allah, Tuhan dan satu-satunya Penyelamat, yang melalui kejadian Inkarnasi-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya telah membawa sejarah keselamatan kepada penggenapannya, dan yang mempunyai kepenuhan dan pusat di dalam diri-Nya, harus diimani dengan teguh sebagai sebuah elemen iman Gereja yang tetap.

Perjanjian Baru menegaskan hal ini dengan jelas: “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” (1 Yoh 4:14) Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. (Yoh 1:29). Di dalam pernyataannya di hadapan Sanhedrin, Petrus, untuk membenarkan penyembuhan seorang laki-laki yang cacat dari lahir, yang dilakukan di dalam nama Yesus (lih. Kis 3:1-8), menyerukan: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12). Rasul Paulus menambahkan, selanjutnya, bahwa Yesus Kristus adalah “Tuhan di atas segalanya”, “hakim dari yang hidup dan mati”, dan karenanya, “barang siapa yang percaya kepada-Nya menerima pengampunan dosa melalui nama-Nya.” (lih. Kis 10:36, 42, 43)

Paulus, kepada jemaat di Korintus, menuliskan: “Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga, maupun di bumi–dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian– namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Kor 8:5-6) Selanjutnya Rasul Yohanes mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan dapat beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:16-17) Di dalam Perjanjian Baru, kehendak Allah yang untuk menyelamatkan semua orang adalah sangat erat berhubungan dengan Pengantaraan Kristus yang satu-satunya: “[Tuhan] menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” (1 Tim 2:4-6)

Adalah suatu kesadaran tentang satu karunia keselamatan yang universal yang ditawarkan oleh Allah Bapa melalui Yesus Kristus di dalam Roh Kudus (lih. Ef 1:2-14), bahwa jemaat Kristen yang pertama bertemu dengan bangsa Yahudi, menunjukkan kepada mereka pemenuhan keselamatan yang terjadi melampaui Hukum Taurat dan, pada saat yang sama, kesadaran, yang dinyatakan oleh mereka untuk menentang dunia pagan pada jaman mereka, yang menginginkan keselamatan melalui banyak juru selamat. Warisan iman ini telah diingatkan kembali oleh Magisterium: “Adapun Gereja mengimani, bahwa Kristus telah wafat dan bangkit bagi semua orang (lih. 2 Kor 5:15). Ia mengaruniakan kepada manusia terang dan kekuatan melalui Roh-Nya, supaya manusia mampu menanggapi panggilannya yang amat luhur. Dan dibawah langit tidak diberikan kepada manusia nama lain, yang bagi mereka harus menjadi pokok keselamatan (lih. Kis 4:12). Begitu pula Gereja percaya, bahwa kunci, pusat dan tujuan seluruh sejarah manusia terdapat pada Tuhan dan Gurunya”.[43]

14. Karena itu, juga harus diimani dengan teguh sebagai sebuah kebenaran iman Katolik bahwa kehendak Allah yang Satu dan Trinitas akan keselamatan [umat manusia] secara universal ditawarkan dan digenapi satu kali dan selama-lamanya di dalam misteri Inkarnasi, kematian dan kebangkitan Putera Allah.

Dengan memegang artikel iman ini, teologi dewasa ini, di dalam permenungannya atas keberadaan pengalaman-pengalaman religius dan atas maknanya di dalam rencana keselamatan Tuhan, diundang untuk meneliti apabila dan di dalam hal apa tokoh- tokoh sejarah dan elemen-elemen positif dari agama-agama ini dapat masuk di dalam rencana ilahi tentang keselamatan. Konsili Vatikan II, telah menyatakan bahwa: “begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada makhluk-makhluk aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber”.[44] Isi dari partisipasi pengantaraan ini harus diteliti dengan lebih mendalam, tetapi harus tetap konsisten dengan prinsip pengantaraan Kristus yang unik: “meskipun bentuk- bentuk partisipasi dalam pengantaraan di berbagai cara dan derajatnya tidak diabaikan, mereka memperoleh maknanya dan nilainya hanya dari Pengantaraan Kristus sendiri, dan mereka tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang sejajar ataupun melengkapi terhadap Pengantaraan Kristus”.[45] Oleh karena itu, solusi-solusi tersebut yang mengusulkan sebuah tindakan penyelamatan Allah yang melampaui Pengantaraan Kristus yang satu- satunya, bertentangan dengan iman Kristiani dan iman Katolik.

15. Tidak jarang, dikatakan bahwa teologi harus menghindari penggunaan istilah- istilah seperti “keunikan”, “keuniversalan” dan “keabsolutan”, yang memberi kesan penekanan yang berlebihan pada keutamaan dan nilai penyelamatan Yesus Kristus dalam hubungannya dengan agama-agama lain. Namun pada kenyataannya, istilah itu hanyalah karena kesetiaan kepada wahyu, karena hal itu menyampaikan perkembangan sumber- sumber iman itu sendiri. Sejak awal mula, para umat beriman telah mengenali sebuah nilai keselamatan di dalam Yesus, bahwa Ia sendiri, sebagai Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, disalibkan dan bangkit, dengan misi yang diterima dari Allah Bapa dan dengan kuasa Roh Kudus, mencurahkan wahyu (lih. Mat 11:27) dan kehidupan ilahi (lih. Yoh 1:12; 5:25-26; 17:2) kepada semua umat manusia dan kepada setiap orang.

Dalam hal ini, seseorang dapat dan harus mengatakan bahwa Yesus Kristus mempunyai sebuah keutamaan dan sebuah nilai bagi umat manusia dan sejarahnya, yang unik dan satu- satunya…, eksklusif, universal dan absolut. Yesus adalah, Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia untuk keselamatan semua orang. Di dalam mengekspresikan kesadaran iman ini, Konsili Vatikan II mengajarkan: “Sebab Sabda Allah sendiri – karena-Nya segala sesuatu dijadikan – telah menjadi daging, supaya Ia sebagai manusia yang sempurna menyelamatkan semua orang dan merangkum segalanya dalam Dirinya. Tuhanlah tujuan sejarah manusia, titik-sasaran dambaan-dambaan sejarah maupun peradaban, pusat umat manusia, kegembiraan hati semua orang dan pemenuhan aspirasi-aspirasi mereka. Dialah yang oleh Bapa dibangkitkan dari kematian, ditinggikan dan ditempatkan disisi kanan-Nya; Dialah yang ditetapkan-Nya menjadi hakim bagi mereka yang hidup maupun yang mati”.[46]. “Justru keunikan Kristus inilah yang memberikanNya sebuah keutamaan yang absolut dan universal, yang walaupun menjadi bagian dari sejarah, Ia tetap menjadi pusat dan tujuan: ‘Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir’ “.[47] IV. Keunikan dan kesatuan Gereja Katolik

16. Tuhan Yesus Kristus, dan satu-satunya Penyelamat, tidak hanya mendirikan sebuah komunitas sederhana yang terdiri dari murid-murid-Nya, tetapi mendirikan Gereja sebagai sebuah misteri yang menyelamatkan: Ia sendiri adalah Gereja dan Gereja adalah di dalam Dia (lih. Yoh 15:1ff.; Gal 3:28; Ef 4:15-16; Kis 9:5). Oleh karena itu, kepenuhan misteri Kristus yang menyelamatkan menjadi milik Gereja dan tidak dapat dipisahkan dengan Tuhannya. Sungguh, Yesus Kristus melanjutkan kehadiran-Nya dan pekerjaan keselamatan di dalam Gereja dan melalui Gereja (lih. Kol 1:24-27)[48], yang adalah Tubuh-Nya (cf. 1 Kor 12:12-13, 27; Kol 1:18).[49] Dan oleh karenanya, seperti kepala dan anggota-anggota tubuh dalam sebuah tubuh yang hidup, meskipun tidak sama, tapi tidak dapat dipisahkan, maka demikian juga Kristus dengan Gereja juga tidak dapat dicampur-baurkan atau dipisahkan, dan merupakan sebuah “keseluruhan Kristus”[50]. Ketidakterpisahan ini juga dinyatakan di dalam Perjanjian Baru dengan analogi Gereja sebagai Mempelai Kristus (lih. 2 Cor 11:2; Eph 5:25-29; Rev 21:2,9).[51]

Oleh karena itu, di dalam hubungan dengan keunikan dan Pengantaraan Yesus Kristus yang menyelamatkan semua umat manusia, keunikan Gereja yang didirikan oleh-Nya harus diimani dengan teguh sebagai sebuah kebenaran iman Katolik. Seperti bahwa hanya terdapat satu Kristus, maka hanya terdapat satu Tubuh Kristus, satu Mempelai Kristus: “sebuah Gereja yang satu dan apostolik”.[52] Selanjutnya, janji-janji Tuhan bahwa Ia tidak akan meninggalkan Gereja-Nya (lih. Mat 16:18; 28:20) dan bahwa Ia akan membimbingnya dengan Roh Kudus-Nya (lih. Yoh 16:13) berarti, menurut iman Katolik, bahwa keunikan dan kesatuan Gereja – seperti segala sesuatu yang menjadi milik keutuhan Gereja- tidak akan pernah kurang.[53]

Umat Katolik disyaratkan untuk mengakui bahwa terdapat kesinambungan historis- yang berakar dari rantai apostolik[54] – antara Gereja yang didirikan Kristus dengan Gereja Katolik: “Itulah satu-satunya Gereja Kristus … Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada [subsistit in] dalam Gereja katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya”.[55] Dengan istilah subsistit ini, Konsili Vatikan II menyelaraskan dua pernyataan doktrin: di satu sisi, bahwa Gereja Kristus, meskipun terbagi-bagi di antara umat Kristen, tetaplah terus berada dalam kepenuhannya hanya di dalam Gereja Katolik dan di sisi lain, bahwa “di luar strukturnya, dapat ditemukan banyak elemen pengudusan dan kebenaran”, [56], yaitu di dalam Gereja- gereja dan komunitas eklesial yang belum bersatu dengan penuh dengan Gereja Katolik.[57] Tetapi berkenaan dengan hal ini, perlu dikatakan bahwa, “…hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan”.[58]

17. Dengan demikian, terdapat sebuah Gereja Kristus, yang berada di dalam Gereja Katolik, dipimpin oleh Penerus Rasul Petrus dan dengan para Uskup dengan persekutuan dengannya.[59] Gereja -gereja yang, sementara ini tidak dalam persekutuan yang sempurna dengan Gereja Katolik, tetap bersatu dengannya melalui ikatan yang terdekat, yaitu dengan rantai apostolik dan Ekaristi yang sah, adalah Gereja-gereja partikular yang sejati.[60]. Karena itu, Gereja Kristus hadir dan bekerja juga di dalam Gereja- gereja ini, meskipun mereka kurang dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, karena mereka tidak menerima ajaran Katolik tentang Keutamaan Paus, yang menurut kehendak Tuhan, telah secara obyektif dimiliki dan dilaksanakanoleh Uskup Roma terhadap seluruh Gereja.[61]

Di lain pihak, komunitas-komunitas eklesial yang tidak mempertahankan Episkopat yang sah dan hakekat misteri Ekaristi yang asli dan menyeluruh,[62] tidak dapat disebut sebagai Gereja dalam arti yang sebenarnya; namun demikian mereka yang dibaptis di dalam komunitas ini adalah, dengan Pembaptisan, tergabung di dalam Kristus dan karenanya di dalam persekutuan tertentu, walaupun tidak sempurna, dengan Gereja.[63] Pembaptisan, sesungguhnya cenderung mengarah kepada perkembangan hidup yang penuh di dalam Kristus, melalui pengakuan iman yang menyeluruh, Ekaristi, dan persekutuan yang sempurna di dalam Gereja[64].

“Karena itu, umat Kristiani tidak diijinkan untuk membayangkan bahwa Gereja Kristus adalah tidak lebih dari sekedar sebuah kumpulan – terbagi-bagi, tetapi dikatakan satu- dari Gereja-gereja dan komunitas eklesial; ataupun mereka tidak boleh menganggap bahwa sekarang ini Gereja Kristus tidak benar- benar ada, dan menganggap sebagai hanya sebuah tujuan yang harus dicapai dengan kerja keras oleh semua Gereja-gereja dan komunitas-komunitas eklesial.”[65] Sebenarnya, “elemen-elemen yang telah diberikan kepada Gereja, ada dan tergabung bersama di dalam kepenuhannya di dalam Gereja Katolik dan, tanpa kepenuhannya, di dalam komunitas-komunitas yang lain”.[66] “Oleh karena itu Gereja-Gereja dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja Katolik.”[67]

“Kekurangan kesatuan di antara umat Kristiani tentu adalah sebuah luka bagi Gereja; tidak dalam arti bahwa ia kehilangan kesatuannya, tetapi “bahwa hal itu menghambat pemenuhan yang lengkap dari ke-universalannya di dalam sejarah”.[68] V. Gereja Katolik: Kerajaan Tuhan dan Kerajaan Kristus

18. Misi Gereja adalah untuk “mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah, dan mendirikannya ditengah semua bangsa. Gereja merupakan benih dan awal mula Kerajaan itu di dunia”[69]. Di satu sisi, Gereja adalah “sebuah sakramen – “yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia”.[70] Karena itu, ia adalah tanda dan alat kerajaan; ia dipanggil untuk mempermaklumkan dan mendirikan kerajaan. Di sisi lainnya, Gereja adalah “umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus”.[71]; dengan demikian, ia adalah “kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri”[72] dan merupakan benihnya dan permulaannya. Kerajaan Allah, sesungguhnya, mempunyai segi eskatoligis: hal itu adalah realitas di saat ini, tetapi realisasi sepenuhnya hanya akan dicapai dengan penggenapan atau pemenuhan sejarah.[73]

Arti istilah-istilah kerajaan surga, kerajaan Allah dan kerajaan Kristus di dalam Kitab Suci dan tulisan para Bapa Gereja, juga di dalam dokumen-dokumen Magisterium, tidak selalu sama persis, demikian juga hubungan-hubungan mereka dengan Gereja, yang adalah sebuah misteri yang tidak dapat dipahami secara total oleh pemikiran manusia. Oleh karena itu, terdapat berbagai penjelasan teologis dari istilah-istilah ini. Namun demikian, tidak satupun dari penjelasan- penjelasan yang mungkin ini sama sekali dapat menolak atau meniadakan hubungan yang akrab antara Kristus, kerajaan dan Gereja. Nyatanya, kerajaan Allah yang kita ketahui dari wahyu, “tidak dapat dipisahkan baik dari Kristus atau dari Gereja… Jika kerajaan dipisahkan dari Kristus, itu bukan lagi kerajaan Allah yang diwahyukan-Nya. Hasilnya adalah sebuah distorsi tentang makna kerajaan, yang beresiko diubah menjadi sebuah tujuan yang murni dari manusia atau ideologis dan sebuah distorsi tentang identitas Kristus, yang tidak lagi tampil sebagai Tuhan, yang kepada-Nya setiap ciptaan suatu hari nanti akan tunduk (lih. 1 Kor 15:27). Karena itu, seseorang tidak boleh memisahkan kerajaan dengan Gereja. Adalah benar bahwa Gereja bukan sebuah akhir dari dirinya sendiri, sebab ia diarahkan menuju kerajaan Allah, yang mana ia adalah benihnya, tanda dan alat. Tetapi, sementara tetap berbeda dari Kristus dan kerajaan, Gereja disatukan secara tak terceraikan dengan keduanya.[74]

19. Untuk menyatakan hubungan yang tak terceraikan antara Kristus dan kerajaan adalah tidak untuk mengabaikan kenyataan bahwa kerajaan Allah – meskipun jika dianggap di dalam tahap historis- tidak diidentifikasikan dengan Gereja di dalam realitasnya yang kelihatan dan bersifat sosial. Kenyataannya, “tindakan Kristus dan Roh Kudus di luar batas- batas Gereja yang kelihatan” tidak boleh diabaikan.[75] Sehingga, seseorang harus juga mengingat bahwa, “kerajaan menyangkut semua orang: pribadi-pribadi, masyarakat dan dunia. Bekerja untuk kerajaan berarti mengakui dan memajukan pekerjaan Allah, yang hadir di sejarah manusia dan mengubahnya. Membangun kerajaan berarti bekerja bagi pembebasan dari kejahatan di dalam segala bentuknya. Singkatnya, kerajaan Allah adalah perwujudan dan realisasi rencana keselamatan Allah di dalam segala kepenuhannya”.[76]