Di Manakah Tinjumu

Part 2

Chapter 2415 wordsPublic domain (Wikisource)

Tuan percaya akan machtsvorming tahadi! Wahai, kita pun ada penuh kepercayaan akan masa yang akan datang. Kita pun ada penuh kepercayaan, bahwa suatu kali rakyat kita p a s t i mencapai machtsvorming itu pula, dan pasti “masih penuh kekuatan untuk menjunjung diri menuju Sinar yang Satu yang berada di tengah-tengah kegelap-gelitaan yang mengelilingi kita ini”.

Kita mengulangi; dan kita menambah. Kita mufakat akan emigrasi; kita ingin pula melihat pemindahan rakyat kelain pulau Indonesia. Akan tetapi kita mengira, bahwa emigrasi itu tidak bisa terjadi dengan sesungguh-sungguhnya, jikalau susunan pergaulan hidup di tanah Jawa belum “masak” baginya. Kita teristimewa menuntut hapusnya industri gula sebagai adanya sekarang ini, dan yang mengurangi rezeki tanah Jawa itu, untuk meringankan penghidupan penduduk tanah Jawa sebelum pergaulannya hidup sendiri sebagai “veiligheidsklep” membangunkan emigrasi itu.

Kita yakin, bahwa obat yang semanjur-manjurnya bagi penyakit overbevolking ini ialah tiada lain, melainkan perbaikan-perbaikan cara pertanian dan perbaikan cara pertukangan, dan berdirinya suatu industri Indonesia dengan modal Indonesia yang sekokoh-kokohnya, yang nanti akan “mengisap” segenap rakyat yang “lebih” sebagai yang telah terjadi di Inggeris, di negeri Jerman, di negeri Perancis, atau di negeri Jepang itu, misalnya industri k a i n untuk mengganti keadaan yang sekarang, di mana hampir segenap rakyat Indonesia yang berpuluh-puluh juta itu hampir semuanya sama memakai pakaian yang kainnya dari Eropah, seharga berpuluh-puluh juta rupiah: sedang kapasnya hendaklah ditanam umpamanya di tanah-tanah Sumatera yang kini masih kosong itu, sehingga penanaman kapas ini bisa memakai beribu-ribu kaum “lebih” dari tanah Jawa pula adanya.

Kita mengetahui, bahwa kepabrikan itu bisa pula mengandung racun dan bahaya bagi rakyat dan kaum buruh sebagai yang sudah terjadi di mana-mana; tetapi kita mengetahui, bahwa adanya racun dan bahaya ini tidaklah tergantung dari a d a n y a kepabrikan, melainkan dari c a r a n y a kepabrikan itu. Dan walaupun kepabrikan Indonesia ini pada waktu sekarang terdengarnya masih sebagai suatu impian; walaupun banyak orang yang menyangkal akan bisa terjadinya kepabrikan itu, maka kita percaya, bahwa, menurut hukum alam, kepabrikan itu pastilah datang.

Kepercayaan, kepercayaanlah yang senantiasa menjadi wahyunya kita punya fikiran dan perbuatan. Dan dengan kepercayaan ini; dengan kepercayaan bahwa segala obat-obat overbevolking itu pada waktunya tentu sama datang sandiri; dengan kepercayaan, bahwa suatu masa kita tentu bisa pula mengenyahkan segala pengaruh-pengaruh yang menambah adanya bahaya overbevolking itu, maka dengan ketetapan hati kita mengarahkan muka kepada tempo yang akan datang, dan dengan ketetapan hati kita menyambut hari kemudian itu. “Suluh Indonesia Muda”,