The Crime of the Congo

Chapter 2

Chapter 2877 wordsPublic domain

Suatu ketika, di bangsal Pakungwati, Susuhan Jati Purba sedang berkumpul dengan para pembesar istana. Tiba-tiba datanglah Ki Padhilah menghadap kepada Susuhunan Jati.Selaku panglima angkatan bersenjata Demak, ia diperintah oleh Sultan Demak untuk menyerang Banten dan Kalapa. Itu dilakukan setelah diketahui bahwa Kerajaan Sunda mengadakan perjanjian persahabatan dengan pihak Portugis di Malaka. Kalapa dan Banten adalah dua pelabuhan utama kerajaan Sunda, bandar perdagangan antarbangsa, yang memberi kemakmuran kepada warga masyarakat kerajaan Sunda.

Dengan restu dari Susuhunan Jati, angkatan bersenjata Demak diperkuat oleh kesatuan bersenjata Cirebon yang semuanya berjumlah 1967 orang dibawah komando panglima tertinggi Padhilah disertai para pendamping dari Cirebon, antara lain, Pangeran Cirebon, Dipati Keling Dipati Kuningan, dan Dipati Cang-Kuang. Tempat pertama yang dituju ialah Banten karena selain letaknya lebih jauh ke pusat kerajan Sunda, juga di Banten telah terjadi huru hara yang dilakukan oleh para pengikut Pangeran Sabakingkin--ia telah lama bermukim di sana sebagai penyiar ajaran Islam. Banten dapat ditundukkan pada 1526, dan Sunda Kelapa ditundukkan 1527 setelah melalui pertempuran sengit yang menewaskan Raja Sanghiyang, raja yang berkuasa di Sunda Kalapa, beserta istrinya.

Setelah Sunda Kalapa diduduki oleh angkatan bersenjata Demak dan Cirebon, datanglah kesatuan bersenjata Portugis setelah menemui musibah diserang badai di lautan. Mereka tidak mengetahui bahwa situasi di Sunda Kalapa telah berubah. Kedatangan kesatuan bersenjata Portugis itu untuk melaksanakan isi perjanjian persahabatan yang disetujui bersama antara wakil Portugis dan Kerajaan Sunda beberapa tahun sebelumnya (1522). Lalu, pecahlah pertempuran sengit. Apabila pihak Portugis di bawah komando Prangko Bule telah mempergunakan meriam besar yang belum pernah dialami oleh pihak angkatan bersejata Demak dan Cirebon. Kendatipun demikian, orang Portugis dapat dihalau, dan merek yang tersisa karena terbunuh dan luka berat melarikan diri, pulang ke Malaka.

Bagian Keduapuluh Tiga

Menceritakan silsilah Susuhunan Jati dari pihak ayah. Suatu ketika Susuhunan Jati sedang berkumpul di tengah bangsal di keraton Pakungwati yang di hadiri oleh para pembesar wilayah dan para wali beserta para senopati. Dalam pertemuan ini, Susuhunan Jati mengatakan bahwa isi Alquran itu seperti samudra luasnya, tak ada duanya di dunia ini. Hukum yang terdapat di dalam nya adalah ucapan dan gubahan Yang Mahakuasa,yang senyata-nyatanya.

Selanjutnya,Susuhunan Jati menceritakan leluhur dirinya, baik dari pihak ayah maupun ibu. Ia berkata bahwa dirinya adalah putra Syarif Abdullah, Syarif Abdullah adalah putra Ali Nurul Alim yang beristri putri Mesir, Ali Nurul Alim adalah putra Jamaludin dari Kamboja, Jamaludin putra Amir, Amir putra Abdul Malik dari India, Abdul Malik putra Alwi dari Mesir, Alwi putra Muhamad, Muhamad putra Baidilah, Baidilah putra Ahmad, Ahmad putra al-Bakir, al-Bakir putra Idris, Idris putra Kasim al-Manik, Kasim al-Manik putra Japar Sadik dari Parsi, Japar Sadik putra Muhamad Bakir, Muhamad Bakir putra Jenal Abidin, Jenal Abidin putra Sayyid Husen, dan Sayyid Husen adalah putra Sayyidina Ali yang beristrikan Siti Fatimah az-Zahra putri Nabi Muhammad Saw.

Bagian keduapuluh Empat

Menceritakan silsilah Susuhunan Jati dari pihak ibu. Susuhunan Ampel Denta ayah Susuhunan Bonang yang berasal dari Cempa adalah uak Syarif Hidayat, sedangkan Pangeran Cakrabuana adalah uak dari ibunya [Nyai Rara Santang] karena keduanya adalah putra Prabu Siliwangi.

Adapun Nyai Subang Larang [ibu Lara Santang] yang lahir pada 1404 adalah putri Patih Singapura, Ki Ageng Tapa dari istri Nyai Ratna Kranjang. Nyai Ratna Kranjang adalah putri Ki Ageng Kasmaya, penguasa di Cirebon Girang dukuh wilayah Wanagiri. Pada usia 14 tahun, oleh uaknya Nyai Lara Ruda-istri Ki Dampu Awang-ia dibawa ke Malaka selama dua tahun. Ketika kembali ke pulau Jawa, ia berguru kepada Syekh Kuro di Kerawang selama dua tahun. Pada 1422,Nyai Subang Larang menikah dengan Prabu Siliwangi di Singapura yang letaknya di sebelah utara Gunung Amparan Jati. Setahun kemudian, ia melahirkan Raden Walangsungsang (1423), Nyai Lara Santang (1426), dan Raja Sengara (1428). Pada 1440, Nyai Subang Larang meninggal di keraton Pakwan. Setahun setelah Nyai Subang Larang wafat, pada 1442, Raden Walangsungsang meninggalkan keraton Pakwan dan tinggal di Kebon Pesisir.

Pada 1448, Syarif Hidayat dilahirkan di Mekah, dan setahun kemudian (1449), lahirlah adiknya, Syarif Arifin atau Syarif Nurullah. Pada 1470, Syarif Hidayat tiba di Cirebon, dan setahun kemudian menikah dengan Nyai Babadan di Babadan. Nyai Babadan meninggal pada 1477, dan tidak sempat mempunyai anak. Setahun kemudian (1478), Syarif Hidayat menikah dengan Nyai Pakungwati, putri uaknya. Pada 1481, Syarif Hidayat menikah dengan Ong-Tien yang meninggal pada 1488. Dengan putri Ong-Tien ini,Syarif Hidayat mempunyai seorang putra yang meninggal ketika baru lahir di Luragung.

Pada 1475, Syarif Hidayat menikah dengan Nyai Kawunganten dan berputra dua orang; Ratu Winaon (1477) yang kemudian menjadi istri Pangeran Raja Laut, dan Pangeran Sabangkingkin (1478) yang kemudian berkuasa mewakili ayahnya sebagai Sultan di Banten pada 1552 dengan gelar Pangeran Hasanudin.

Pangeran Pasarean menjadi Dipati Cirebon pada 1528 atas nama ayahnya ketika Syarif Hidayat sedang berkeliling tanah Sunda menyebarkan agama Islam. Pangeran Pasarean yang di lahirkan pada 1495 adalah putra kedua Syarif Hidayat dari istri Nyai Tepasari, Putri Ki Gedang Tepasan dari Majapahit. Putra pertama dari perkawinannya itu adalah seorang putri bernama Ratu Ayu yang lahir pada 1493.

Ratu Ayu bersuamikan Pangeran Sabrang Lor pada 1511, namun Pangeran Sabrang Lor meninggal dunia pada 1521 dengan tidak berputra. Kemudian Ratu Ayu bersuamikan Padhillah pada 1524, dari perkawinan itu, Ratu Ayu mempunyai seorang putri bernama Wanawati Raras yang lahir pada 1525.

Pangeran Pasarean beristrikan Ratu Nyawa, putri Raden Patah, janda dari Pangeran Gung Anom. Dari perkawinan itu, lahirlah enam orang putra; Pangeran Kesatriyan yang lahir pada 1516, Pangeran Losari (1518),