Capailah Tata Tentrem Kerta Raharja

Part 3

Chapter 3464 wordsPublic domain (Wikisource)

Perjoangan membangun, – dan bukan membangun kecil-kecilan, tetapi membangun besar-besaran buat rakyat yang 75.000.000! -, perjoangan membangun itu hanya dapat dijalankan dengan sempurna, apabila segenap tenaga rakyat seluruhnya ditujukan kepadanya. Adakanlah koordinasi, adakanlah simfoni yang seharmonis-harmonisnya antara kepentingan-sendiri dan kepentingan-umum, dan janganlah kepentingan sendiri itu dimenangkan di atas kepentingan-umum! Kepentingan perseorangan akhirnya tidak bisa terjamin kalau kepentingan umum tidak terjamin. Kepentingan umum meliputi pula kepentingan perseorangan, akan tetapi kepentingan perseorangan belum berarti kepentingan umum, bahkan mungkin bertentangan dengan kepentingan umum.

Saudara-saudara, hari ini adalah hari ulangan Ucapan Proklamasi. Kita-semua merasa bangga atas semangat kita pada 17 Agustus 1945. Kita semua malahan berkata, ingin kembali kepada semangat Proklamasi 17 Agustus 1945.

Tetapi bagaimanakah semangat 17 Agustus 1945 itu? Semangat 17 Agustus 1945 adalah semangat keikhlasan. Semangat pengorbanan. Semangat persatuan. Semangat Pancasila. Semangat pembangunan, membangun Negara dan Masyarakat dari ketiadaan. Pada 17 Agustus 1945 itu kita sungguh tidak mempunyai apa-apa, melainkan rancangan Undang-Undang Dasar, lagu Indonesia Raya, bendera Merah Putih, secarik kertas Proklamasi. Tetapi pada waktu itu hidup dalam kalbu kita, hidup betul-betul suci-murni dalam kalbu kita, semangat Pancasila!

Karena itulah kita pada waktu itu ikhlas. Karena itulah kita pada waktu itu bersatu, dan tidak dengki-mendengki seperti sekarang. Karena itulah kita pada waktu itu sedia-berkorban. Karena itulah kita pada waktu itu berani mengadakan Proklamasi, meski sebagai tadi telah saya katakan, kita telah mengetahui bahwa akan mendarat di Indonesia meriam dan mortir, tank dan mobil-berlapis-baja; akan menderu-deru di angkasa kita pesawat pengintai, pesawat pemburu dan pesawat pengebom; akan hujan di atas kepala-kita ini hujan peluru dan hujan dinamit, – hujan api yang hendak membakar membinasakan kita samasekali. Dan karena semangat yang demikian suci-murninya itulah, – dari ketiadaan – itu telah dapat kita bangunkan permulaannya organisasi Negara. Karena semangat yang demikian itulah, maka respect dunia dilimpahkan kepada kita. Karena semangat yang demikian itulah, nama Indonesia disebutkan orang di seluruh dunia, dengan hormat dan kagum.

Sekarang enam tahun telah lewat. Dengan melangkahi banyak rintangan-rintangan dan kesulitan-kesulitan, Negara telah berdiri. Tetapi karena perbuatan-perbuatan kita di waktu yang akhir-akhir ini, respect dunia kepada kita mulai turun. Nama Indonesia disebut-sebut orang lagi, tetapi – disebut dengan cara yang lain daripada beberapa tahun yang lalu. Saya khawatir, kalau kita tidak lekas mengkoreksi kita punya jiwa, kalau kita tidak lekas mengkoreksi kita punya perbuatan-perbuatan, – nauzubillah min zalik, respect dunia terhadap kita akan hilang samasekali.

Perkataan-perkataanku ini pedas. Tetapi di dalam renungan-renungan di waktu malam, di waktu aku duduk seorang diri, di dalam renungan-renungan merenungkan tanggung jawabku terhadap kepada negara, kepada rakyat, kepada tanah air, kepada Tuhan, aku sampailah kepada konklusi bahwa aku harus bicara kepadamu terang-terangan.

Lebih dari tigapuluh tahun aku aktif mengabdi Tanah Air. Entah berapa lama lagi aku diperbolehkan Tuhan mengabdi Tanah Air. Tetapi justru karena itu, aku makin merasakan tanggungjawabku terhadap pada Tuhan dan Tanah Air!

Camkanlah, saudara-saudara!

Dan terimalah salamku.

MERDEKA!

Kategori:Pidato Soekarno‎