Chapter 3
Ya, appeal kita kepada P.B.B. itu adalah satu hal yang penting. Tetapi lebih penting lagi ialah berjalannya kodrat. Dan berjalannya kodrat inilah hendaknya lebih dimengerti oleh fihak Belanda. Memang, dengan macam-macam tafsiran yang njlimet, soal Irian Barat dapat saja mereka seluman-selumunkan, dapat saja mereka belat-belitkan, supaya dunia atau sidang-umum P.B.B. mau percaya, bahwa penjajahan di Irian Barat itu bukanlah satu penjajahan. Tetapi kodrat tidak dapat dibalut oleh belat-belitnya tafsiran. Kodrat tidak dapat diseluman-selumunkan. Kodrat akan tetap berlaku, di atas segala belat-belitnya tafsiran, ondanks segala belat-belitnya tafsiran. Satu hari akan datang, yang kodrat itu akan mendadal. Satu hari akan datang, entah besok entah lusa, yang rakyat kita di Irian Barat pun akan bangkit karena diayunkan oleh iramanya kodrat itu. Satu hari akan datang, pasti akan datang, Insya Allah subhanahu wa ta'ala, seperti terbitnya matahari di hari besok, yang Irian Burat kembali kepada kita, kembali ke Pangkuan-Besarnya Ibu Pertiwi!
Dan saudara-saudara ingin mengetahui hal Unie lndonesia-Belanda?
Ternyata bahwa di dalam hal Unie itu kodrat pula telah berjalan! Telah lama kita menyatakan ketidaksenangan kita kepada Unie itu, karena tidak sesuai dengan anggapan kita tentang kemerdekaan dan kedaulatan. Lama pula fihak Belanda mengemukakan alasan-sambung-alasan, terutama mengenai jaminan-jaminan di atas lapangan keuangan dan ekonomi.
Tetapi apa ternyata akhirnya? Ternyata bahwa kodrat tidak dapat ditahan-tahan. Ternyata bahwa kodrat berjalan terus. Seluruh rakyat lndonesia, seluruh partai, ternyata menghendaki bubarnya Unie itu. Dan Syukur Alhllmdulillah: Pada hari-keramat 17 Agustus 1954 sekarang ini, aku sebagai Presiden Republik Indonesia dapat menyatakan kepada seluruh bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, dari Miangas sampai ke Numodale, dan kepada seluruh Umat manusia di muka bumi ini, bahwa menurut protokol yang telah ditandatangani pada hari Selasa malam Rebo seminggu yang lalu, sebagai hasil perundingan di Den Haag baru-baru ini, Unie Indonesia-Belanda telah bubar!
Ya, Kodrat kini telah berjalan. Unie telah masuk di dalam kubur.
Kita tidak terikat lagi oleh sesuatu Unie dengan Belanda. Atas hal itu kita berkata: "Allahu Akbar!, Engkau jualah yang memberikan kepada kita hasil-perjuangan yang baik ini!" Dan kepada rakyat Indonesia aku berkata: Insyafilah bahwa bubarnya Unie itu adalah satu tugu-pertandaan di tepi jalan kita ke Indonesia Sempurna, satu mijlpaal di tepi jalan itu.
Tetapi insyafilah juga bahwa ia hanya satu tugu-pertandaan saja, hanya satu mijlpaal. Jalan kita masih bersambung, perjalanan kita masih terus. "For a fighting nation there is no journey's end", – perjalanan satu rakyat yang berjuang, tak pernah berhenti. Berjalanlah kita terus!
Masih banyak hal-hal antara Indonesia dan Belanda harns kita ikhtiarkan rubahnya, terutama sekali hal-hal di lapangan keuangan dan perekonomian. Dan – sudah barang tentu soal Irian. Tidak jemu-jemu kukemukakan, bahwa soal Irian Barat adalah satu perintang-besar hubungan baik antara Indonesia dan Belanda. Berulang-ulang aku katakan, bahwa kita mengingini adanya hubungan-baik itu, tetapi bahwa soal Irian Barat adalah satu perintang yang amat besar.
Saudara-saudara!
Di dalam abad ke-20 ini memang kita menyaksikan satu keanehan, menyaksikan satu paradox. Di mana-mana orang menggembar-gemborkan kemerdekaan, "freedom", "human dignity", tetapi bersamaan dengan itu orang tidak mau memberikan kemerdekaan kepada bangsa-bangsa yang menuntut kemerdekaan. Di mana-mana orang bergembar-gembor berkata "ingin perdamaian", "ingin kerja-sama internasional", "ingin persaudaraan dunia". Tetapi bersamaan dengan itu, kita tetap menyaksikan masih adanya penjajahan di beberapa daerah dunia ini. Padahal, dua hal ini tidak mungkin dipertahankan bersamaan. . "You cannot believe in freedom, and deny freedom", – demikianlah pernah diperingatkan oleh seorang pujangga. Pengertian perdamaian dan pengertian penjajahan tidak mungkin berjabatan tangan satu sama lain. Satu di antara dua: atau perdamaian zonder penjajahan, atau penjajahan zonder perdamaian. Siapa yang hendak mengawinkan perdamaian dan penjajahan ia bertindak bertentangan dengan begrip-begrip yang paling elementer daripada logika manusia, – ia bertentangan dengan kodratnya alam.
Namun aneh bin aneh, kenyataan ialah, bahwa orang tetap menjalankan paradox yang bertentangan dengan kodratnya alam itu.
Orang bertanya: Apakah jalan yang harus ditempuh, sesudah menghadapi kenyataan yang demikian itu?
Berbagai teori dikemukakan dan diperdebatkan secara akademis, tetapi orang kurang memperhatikan alam di sekitarnya, dan menarik tamsil daripadanya.
Pada suatu malam yang dingin menggigil, di satu kebun binatang aku pernah melihat sekelompokan landak yang kedinginan. Karena kedinginannya itu, mereka desak-mendesak mencari hangat. Tetapi karena terlulu desak-mendesaknya, maka bulu-durinya saling menusuk ke dalam dagingnya, hingga mereka merasakan sakit, dan mereka lantas merenggangkan badan-badannya lagi satu dari yang lain. Dengan kerenggangan itu, kedinginanlah mereka lagi, dan berdesak-desakanlah mereka lagi.
Lagi bulu-durinya menusuk-nusuk, lagi mereka merenggang, lagi mereka kedinginan, lagi berdesak-desakan, lagi bulu-durinya menusuk-nusuk, lagi mereka merenggang, lagi kedinginan, lagi berdesak-desakan, – demikianlah seterusnya proses perdekatan dan perenggangan itu silih-berganti, sampai pada akhirnya tercapailah jarak yang paling tepat antara mereka itu: mereka saling mendapat kehangatan badan yang diperlukan, zonder saling menusuk dengan bulu-durinya.
Sungguh sederhanalah cerita ini, tetapi dalamlah tamsil yang dapat ditarik daripadanya!
Jikalau hubungan antar-bangsa terlalu dekat-melekat hingga menjadi percampuran-tangan dalam urusan dalam-negeri bangsa yang lain, maka menjadilah hubungan itu satu penjajahan, Dan tiap-tiap penjajahan bersifat tusukan yang membahayakan kehidupannya yang terjajah, Dan di mana sesuatu kehidupan dibahayakan, timbullah perlawanan secara kodrat. Hilang-terbanglah perdamaian.
Sebaliknya, hubungan antar-bangsa yang terlalu renggang "aing-aingun", akan menimbul-kanlah proses-berantai: alam-fikiran yang terlalu jauh berbedaan, salah faham, salah sangka, purbasangka, persaingan, curiga-mencurigai, ketegangan, perlombaan persenjataan, perang-dingin, mungkin perang-panas. Hilang-terbanglah pula perdamaian!
Itulah, saudara-saudara, tamsll, berhikmat daripada cerita sederhana tentnng sekelompok landak di malam yang dingin itu!
Sungguh-sungguhkah semua bangsa di dunia ini menghendaki perdamaian? Kalau memang sungguh-sungguh menghendaki perdamaian, lenyapkanlah selekas-lekasnya segala macam penjajahan! Lenyapkanlah sekarang, lebih baik daripada besok, segala macam perbudakan! Berikanlah selekas-lekasnya kepada tiap bangsa di muka-bumi ini kemerdekaan dan kedaulatan yang penuh, dan janganlah kemerdekaan dan kedaulatan itu ditahan-tahan dengan macam-macam advocaterij atau dengan bom dan dinamit sekalipun. Sebab Kemerdekaan dan Kedaulatan akhirnya toh akan dadal-keluar, Akan menggempur hancur semua rintangan, akan memecahkan semua bungkus, oleh karena ia adalah Puteranya Kodrat.
Berikanlah selekas-lekasnya kemerdekaan itu, dan kemudian adakanlah satu kerjasama internasional atas dasar "berdiri sama tinggi, duduk sama rendah". Yakni adakanlah satu kerja-sama antara bangsa-bangsa, zonder diskriminasi apapun, – seharkat, sederajat, semartabat, dengan tidak membeda-bedakan warna kulit, tidak membeda-bedakan asal keturunan, tidak membeda-bedakan keyakinan agama, ideologi politik, corak peradaban, atau sistim sosial.
Cita-cita yang demikian itulah cita-cita-hidupnya bangsa Indonesia dalam hubungannya antar-bangsa. Cita-cita yang demikian itu, tidak lain tidak bukan adalah satu pemancaran atau refleksi daripada falsafah-kenegaraan Pancasila, – yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kerakyatan, Keadilan Sosial. Dengan falsafah-kenegaraan ini kita merasa berbahagia. Dengan falsafah-kenegaraan ini kita merasa kuat. Dengan falsafah-kenegaraan ini kita menjelmakan dan menjalankan politik Negara kita di lapangan internasional.
"Bhinneka Tunggal Ika" pun bukan hanya melukiskan kesatuan bangsa kita ke dalam saja, "Bhinneka Tunggal Ika" melukiskan juga anggapan bangsa Indonesia tentang bagaimana harusnya hubungan bangsa-bangsa di bawah kolong langit ini: "berbeda-beda, tetapi satu". Dengan "Bhinneka Tunggal Ika" dan Pancasila, kita yakin dapat menjadi anggota yang baik dalam keluarga bangsa-bangsa. Dengan "Bhinneka Tunggal Ika" dan Pancasila kita berjalan terus. Dengan "Bhinneka Tunggal Ika" dan Pancasila, kita, prinsipiil dan dengan perbuatan, berjuang terus melawan kolonialisme dan imperialisme di mana saja, dan menyumbangkan diri kita kepada usaha menjelmakan kerjasama merdeka antar-bangsa dan perdamaian internasional.
Dengan "Bhinneka Tunggal Ika" dan Pancasila, kita menyesuaikan hidup kita ini dengan Iramanya Kodrat;
Saudara-saudara bangsa Indonesia, anak-anakku sekalian!
Demikianlah cita-cita kita, bangsa Indonesia! Peliharalah cita-cita ini tetap menyala-nyala di dalam dadamu! Mempunyai cita-cita berarti mempunyai pegangan-batin dan arah-hidup yang tentu. Sungguh miskinlah seseorang manusia yang tidak mempunyai cita-cita, atau sesuatu bangsa yang tidak mempunyai cita-cita. Dan engkau bangsa Indonesia, tetap berusahalah mati-matian untuk mewujudkan cita-citamu itu.
Bintang-bintang di langit memang menujumkan kebesaran Indonesia di masa yang akan datang, tetapi ngelamun memandang bintang-bintang di langit tak ada gunanya sepeserpun juga. Jangan ngelamun, berusahalah mewujudkan segenap cita-citamu mati-matian!
Tetapi kehendak mencapai satu cita-cita harus disertai dengan pembangunan kekuatan di dalam diri kitn sendiri duhulu. Bangunlah kekuatan itu, susunlah ia tingkat demi tingkat, galilah ia batu-demi-batu, gemblenglah ia gumpal-demi-gumpal! Kita sekarang, meski sudah sembilan tahun merdeka, baru ampat tahun dalam alam pembangunan, – kita sekarang masih dalam tingkat penyusunan batu-batu permulaan, dalam tingkat penegakan saka-guru-saka-guru yang pokok lebih dahulu.
Empat jumlahnya saka-guru itu, dan camkanlah jenis-jenisnya:
pertama, peliharalah dan pertahankanlah kesatuan tanah-air Indonesia dalam satu ikatan Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, dari Sabang sampai ke Merauke;
kedua, bangunlah organisasi ekonomi nasional kita;
ketiga, peliharalah keutuhan Angkatan Perang kita atas dasar Proklamasi 17 Agustus 1945;
keempat, siapkanlah pemuda kita, latihlah pemuda kita, gemblenglah pemuda kita, sebagai generasi yang bertanggungjawab atas hari-depannya Negara dan hari-depannya Bangsa!
Empat jumlahnya saka-guru itu. Keempat-empatnya masing-masing pada hakekatnya merupakan medan-bakti, lautan-bakti pembangunan, pembangunan Kekuatan Nasional. Terjunlah kamu sekalian ke dalam lautan-bakti itu! Terjunlah ke dalamnya, masing-masing menurut kecakapan sendiri-sendiri, masing-masing menurut panggilan-jiwa sendiri-sendiri, dengan Semangat-Perintis yang berkobar-kobar-menyala-nyala di dalam dada, dengan Api-Idealisme yang menyundul angkasa.
Berikanlah jiwa-ragamu dengan mutlak! Jangan setengah-setenguh! Yang setengah-setengah tidak akan mendapat padi segegam, yang mutlak akan mendapat Dunia.
Vivekananda pernah berkata, bahwa sesuatu bangsa yang tenggelam hanyalah dapat diangkat oleh orang-orang yang jiwanya terbuat dari zatnya petir dan zatnya guntur.
Terjunlah ke dalam lautan-bakti itu dengan jiwa yang terbuat dari Zatnya Petir dan Zatnya Guntur!
Moga-moga Tuhan selalu beserta kita!
Sekianlah!
Terima kasih!
Kategori:Pidato Soekarno