Lulu, Alice and Jimmie Wibblewobble
Chapter 4
Setialah kepada pendirian demokratis dan progresif daripada Revolusi kita itu, dan janganlah tergendam oleh gebyarnya kwasi-revolusionerisme! Janganlah nyelèwèng! Apa, – ada yang putus-asa? Lantas nyelèwèng? Karena "sudah sebelas tahun kok masih begini saja?" Tahun yang lalu saya berkata: "Adakah yang berputus-asa di antara kita? Adakah yang berpatah-semangat, karena melihat jalan masih jauh? Menolehlah ke belakang sebentar! Sepuluh tahun kita berjalan, sepuluh tahun kita berjuang, sepuluh tahun kita sering-sering menderita, sepuluh tahun kita sering-sering berkorban, malahan kadang-kadang rasa remuk segala-galanya, – tetapi tidak sepuluh detik kita remuk dalam semangat, tidak sepuluh detik kita berpatah tekad".
Ya, memang, kini sebelas tahun memang bukan waktu sebentar. Kini sesudah sebelas tahun memang banyak di antara kita yang tidak puas, dan sayapun tidak. Tetapi itu bukan alasan untuk dus lantas putus-asa terhadap rail yang sudah, bukan alasan untuk dus meninggalkan pendirian asli daripada Revolusi yaitu pendirian demokratis dan progresif, bukan alasan untuk dus nyelèwèng, bukan alasan untuk dus membiarkan diri hanyut dalam aliran kwasi-revolusionerisme. Semestinya kita ini setia kepada pendirian-pendirian asli itu, lebih membanting tulang di atas rail asli itu, lebih memeras habis-habisan kita punya keringat di atas rail asli itu, lebih demokratis-dinamis dan lebih progresif-dinamis, lebih mengembang-kan tenaga Rakyat, lebih berkontak dan mengaktivir potensi Rakyat, lebih sehidup-semati-setindak-setanduk dengan Rakyat, lebih menggembleng dan digembleng Rakyat, lebih menjadi kancahnya Rakyat dan dalam kancahnya Rakyat, lebih menggodok dan digodok Rakyat, lebih ber-Kerakyatan, lebih "massisch", – dan bukan golongan intelektuil atau pemuda yang tak banyak hubungan dengan Rakyat, tetapi kwasi-revolusioner. Benar kita adalah satu bangsa dalam perjuangan, benar kita satu bangsa yang berjuang, satu "fighting nation" yang tak mengenal berhenti, – satu "fighting nation" yang tak mengenal "journey's end". Tetapi kita ini adalah juga satu demokrasi yang berjuang, – satu "fighting democracy", yang harus setia kepada semua isme-ismenya dan cara-caranya kerakyatan. Setialah kita kepada isme-isme dan cara-cara kerakyatan itu, sebab suatu isme dan suatu cara-hidup barulah menjadi satu Kenyataan yang Hidup, jikalau kita beri kesetiaan kepadanya.
Di hadapanku sekarang ini berdirilah satu lautan manusia dengan hati yang berkobar-kobar dan jiwa yang berdentam-dentam. Semua mereka itu adalah sebenarnya wakil dari seluruh Rakyat Indonesia, dan semua mereka itu adalah wakil dari satu kenang-kenangan, satu cita-cita, satu tekad, satu Ide: Ide Kemerdekaan untuk Rakyat, Ide Kemerdekaan oleh Rakyat. Semua mereka itu berkehendak memegang-tetap nasib sendiri dalam tangan sendiri, dan tidak mau mereka nasibnya ditentukan oleh orang intelektuil atau pemimpin atau pemuda siapapun juga. Ide Kemerdekaan untuk Rakyat dan oleh Rakyat itulah membuat mereka di masa lampau berjiwa laksana ndaru, ide itulah membuat mereka berjiwa laksana jiwa malaekat, jiwa dinamit, – jiwa petir dan halilintar! Mereka, mereka, Rakyat jelata yang berpuluh-puluh juta, mereka Rakyat jelata di kota-kota dan di desa-desa, mereka Rakyat jelata di gubuk-gubuk dan di pinggir sungai, mereka Rakyat jelata dari Sabang sampai Merauke, merekalah pembuat Revolusi, merekalah motor Revolusi, merekalah Revolusi!
Marilah kaum intelektuil dan pemuda berjalan terus dengan mereka itu, yang itu berarti berjalan terus untuk mereka itu!
Untuk mereka Revolusi tak akan gagal, dengan mereka Revolusi pasti menang!
Sekian!
Terima kasih!
Merdeka, sekali merdeka tetap merdeka!
Kategori:Pidato Soekarno