Lulu, Alice and Jimmie Wibblewobble
Chapter 2
"Ah, jikalau difikir-fikir, pengacauan-pengacauan itupun reruntuh-reruntuh kolonialisme. Apalagi sesudah terbukti jelas, bahwa anasir-anasir jahat dari fihak Belanda bercampur-tangan dalam pengacauan-pengacauan itu! Karena itu aku tetap optimistis. Satu waktu nanti Insya Allah pasti datang, yang pengacauan-pengacauan itu tidak ada lagi. Satu waktu nanti pasti akan datang, yang brandalan politik itu habis samasekali. Sebab kolonialismepun akan lenyap-bersih dari sini, – lenyap bersih samasekali, zonder ada sedikitpun sisa reruntuh-reruntuhnya lagi. Tetapi proses-proses historis pun tidak berjalan zonder campur-tangan manusia. Kita harus bertindak, kita harus berbuat sebagai elemen aktif dalam histori. Kita harus mematahkan pengacauan-pengacauan itu, sebagaimana juga kita harus mematahkan reruntuh-reruntuh kolonialisme yang lain-lain, – ya, sebagaimana juga kita mematahkan tulang-punggung kolonialisme dengan seribu-satu jalan.
Dus? Ya, – patahkanlah pengacauan-pengacauan itu dengan segala ikhtiar! Sedapat mungkin patahkanlah ia dengan jalannya penginsyafan, dengan jalannya penerangan, dengan jalannya kekuatan ratio dan moril. Sedapat mungkin laluilah jalannya otak dan jalannya batin. Tetapi jika tidak mungkin, patahkanlah ia dengan kekerasan senjata juga. Hantam dia dengan palu godam, jika ratio dan jika moril tidak mempan.
Malah barangkali inilah satu-satunya jalan pemadaman pengacauan yang tepat bagi Indonesia: Kombinasi antara jalan ratio moril dan jalan kekerasan senjata! Tidakkah kita menghantam kolonialisme bertahun-tahun lamanya juga dengan jalan kombinasi itu? Kombinasi antara desakan politik dan hantaman Revolusi? Kombinasi antara "moreel geweld" dan "materieel geweld?"
Akhirnya, saudara-saudara, masih ada satu penghambat persatuan lagi yang maha-negatif. Penghambat persatuan, penghambat iklim-baik, penghambat pembangunan; peluka rasa kebangsaan, peluka rasa Nasional. Penghambat dan peluka itu ialah masih adanya penjajahan di Irian Barat. Sebelum penjajahan di Irian Barat itu lenyap, kita belum merasa aman. Dan rakyat di Irian Barat sendiripun menunggu-nunggu penggabungan kepada Republik. Karena itu, maka semua minat kita harus kita tujukan kepada pembebasan Irian Barat itu. Dengan gembira saya umumkan, bahwa pada hari syakti sekarang ini kita telah membentuk Propinsi Irian Barat. Sebagian daripada wilayah Propinsi Irian Barat itu telah berada dalam kekuasaan de facto kita, sebagian lagi belum. Di bagian yang belum dalam kekuasaan de facto kita itu masih bercokollah kekuasaan Belanda, – masih bercokollah kolonialisme dan imperialisme Belanda. Pembentukan Propinsi Irian Barat ini adalah hanya merupakan salah satu jalan saja dalam rangka perjuangan melaksanakan kekuasaan de facto Republik Indonesia atas bagian yang diduduki oleh Belanda itu. Salah satu jalan saja! Sebab kita tidak menyandarkan perjuangan kita pada pembentukan Propinsi Irian Barat itu saja, kita berjuang di segala lapangan yang kita pandang baik. Kita menyandarkan perjuangan kita pada Kekuatan Rakyat Indonesia, dan di samping itu pada kekuatan-kekuatan anti-kolonialisme di dunia internasional. Terutama sekali Kekuatan Rakyat Indonesia sendirilah yang akan menentukan hasil kesudahannya. Ingatkah saudara kepada ucapan saya di Surabaya tahun yang lalu?: "Perjuangan Irian Barat, the Battle of Irian, tidak ditentukan di Den Haag, tidak di Washington, tidak pula di P.B.B., tetapi di sini, di dalam pagar tanah-air kita sendiri!
Maka susunlah Kekuatan Rakyat itu sehebat-hebatnya, bangkitkanlah Kekuatan Rakyat itu sehebat-hebatnya. Irian Barat harus lekas kita kembalikan ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Saudara-saudara! Sebelum saya meneruskan pidato, marilah saya lebih dulu mengulangi lagi beberapa pokok:
P e r t a m a:
Kita mengadakan perayaan Hari Kemerdekaan sekarang ini dalam beberapa suasana:
Perayaan ini adalah sesudah terselenggara pemilihan-umum untuk D.P.R. dan Konstituante. Perayaan ini diadakan dengan adanya satu pemerintah atas dasar program yang diterima dengan suara bulat oleh Parlemen pilihan rakyat. Perayaan ini adalah perayaan sesudah kita membatalkan seluruh perjanjian K.M.B. Perayaan ini adalah perayaan dalam alamnya investment untuk pembangunan.
K e d u a:
Dharma menggemblèng Persatuan Nasional perlu kita pergiat penyelenggaraannya, sebab Persatuan Nasional mendatangkan iklim baik untuk invesment dan pembangunan. Pemilihan-umum telah meletakkan dasar-dasar untuk iklim baik dan Persatuan itu. Tetapi pemilihan-umumpun hanya satu permulaan saja. Pemilihan-umum hanya batu yang pertama.
Persatuan Nasional masih harus disempurnakan lagi, agar iklim baik itu segera tercipta:
Hubungan antar partai masih belum baik; perbaikilah hubungan antar partai itu. Hubungan pusat daerah masih belum baik; perbaikilah hubungan pusat daerah itu. Pengacauan keamanan masih belum berakhir; banteraslah terus pengacauan itu. Irian Barat masih dijajah; banteraslah penjajahan di Irian Barat itu.
Nah, saudara-saudara, itulah yang saya uraikan di muka tadi. Satu hal menclèrèt di sepanjang uraian itu, – satu clèrètan api, apinya ikhtiar, apinya perjuangan. Saya menguraikan hal hubungan pusat daerah yang belum lancar itu tadi, hal keamanan yang di sana-sini belum terjamin, hal penjajahan di Irian Barat, bukan untuk meminta saudara-saudara berhenti, bukan untuk menyuruh saudara-saudara termenung bertopang dagu, melainkan justru untuk meng-gugah semangat saudara-saudara, membangkitkan saudara-saudara supaya berusaha, ber-ikhtiar, berjuang, bercancut-taliwanda, memasuki tingkat Revolusi Invesment dan Revolusi Pembangunan dalam nyala api-unggunnya Persatuan Nasional.
Alhamdulillah, platform untuk mempersatukan segenap tenaga nasional sekarang sudah ada: Program Kabinet, yang sudah diterima oleh seluruh partai. Gunakanlah platform politik ini sebagai tempat berpijak bagi kita semua untuk memutar roda pembangunan segiat-giatnya. Jangan program kabinet itu sekadar merupakan dokumen perhiasan saja. Jangan ia naskah yang mati! Sebab, program yang bagaimanapun indah susunannya, bagaimanapun progresif-nya, bagaimanapun kebenaran teoretisnya, akan menjadi satu bangkai naskah, jika tidak disertai keberanian bertindak dalam melaksanakannya.
Kita telah menunjukkan keberanian untuk secara jantan merobek-robek seluruh perjanjian K.M.B. Kita dengan itu telah menjalankan satu revolutionnaire daad, satu tindakan revolusioner. Tetapi jangan kita sekarang mandek! Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner dalam menampung segala akibat-akibatnya. Jangan setengah-setengah, jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan. Benar, memang jangan kita main sembrono, bertindak zonder perhitungan, tetapi ketidak-sembronoan dan perhitungan janganlah diartikan "alon-alon asal kelakon"! Rakyat sudah tidak sabar lagi! Kita boleh bersabar satu bulan, dua bulan, ya satu-dua tahunpun masih mungkin dapat kita bersabar, tetapi sekali-kali janganlah mencoba meminta kesabaran rakyat 350 tahun lagi!
Apa yang segera dikehendaki oleh si Dadap, si Waru, si Polan, si Badu, si Kromo? Apa yang dikehendaki oleh seluruh rakyat, terutama sekali oleh si Tani? Yang dikehendaki oleh mereka segera, ialah makanan, pakaian, perumahan, dan bagi si Tani ini berarti tanah. Tanah untuk mengambil makanan daripadanya, tanah untuk mengambil pakaian daripadanya, tanah untuk menaruh perumahan di atasnya.
Ini, inilah tiga masalah pokok yang mengisi fikiran rakyat sehari-hari: bagaimana periuk supaya berisi, bagaimana pakaian dapat berganti, bagaimana mempunyai rumah untuk berteduh diri? "Sandang, pangan, pangan". Dan bagi si Tani persoalan ialah: bagaimana mempunyai tanah untuk ketiga-tiga hal itu? Si Tani! Ya, siapa itu puluhan juta manusia yang berduyun-duyun tempo hari ke tempat-tempat pemungutan suara dalam pemilihan-umum? Siapa itu laki-laki yang antri di sinar matahari, siapa itu wanita yang menggendong anak? Mereka adalah si Tani, dan di muka mereka berdiri pula si Tani. Dan di belakang mereka juga si Tani. Mereka datang mengeluarkan suaranya tentu dengan harapan di dalam kalbunya, bukan untuk sekadar "memilih" saja. Harapan mereka itu, dalam Negara kita ini, harus segera dipenuhi. Indonesia sekarang bukan lagi Indonesia jajahan. Indonesia sekarang adalah Indonesia yang telah merdeka dan berdaulat, dan, Indonesia sekarang adalah Indonesia yang demokratis, Indonesia yang berkerakyatan. Alangkah baiknya jika Parlemen kita sekarang, – Parlemen yang dipilih oleh si laki di sinar matahari itu tadi dan oleh si wanita yang meng-gendong anak itu -, alangkah baiknya jika Parlemen kita sekarang ini menanggulangi opgave ini dengan selekas-lekasnya! Dan bukan Parlemen saja! Semua kita harus menanggulangi opgave ini. Semua kita, baik Parlemen, maupun Pemerintah, maupun partai-partai. Dan bukan menanggulanginya dengan "memepersoalkan" melulu opgave ini, melainkan menanggulangi-nya dengan penyelesaian yang kongkrit nyata. Dengan bicara saja kita tak dapat membangun Negara dan Masyarakat. Met praten alleen bouwt men geen land!
Ya, di segala lapangan kita tak boleh hanya "mempersoalkan soal" saja, di segala lapangan kita tak boleh hanya "praten" saja. Investment dan Pembangunanlah semboyannya perayaan sekarang ini. Investment besar-besaran, untuk Pembangunan besar-besaran. Ini berarti: mem-banting tulang, mengulur tenaga, memeras keringat, bekerja keras, bekerja mati-matian.
Investment of human skill meminta kita mendidik kader-kader kejuruan, kader-kader ekonomi, kader-kader teknis, kader-kader organisasi, – meminta kita memperluas jumlah sekolah-sekolah kita, menambah tempat-tempat penggemblengan tunas-tunas muda kita. Material Investment meminta kita memupuk modal materi, modal bahan, modal barang, dan terutama sekali, sebagai saya katakan tadi, modal uang, Kapital Nasional, yang harus kita pupuk dari uang-bangsa Indonesia sendiri.
Dan mental investment meminta kita merubah segenap kita punya alam-berfikir dan alam-kejiwaan, dari alamnya mentaliteit kolonial ke alamnya mentaliteit Nasional, dari alam mentaliteit Inlander ke alam mentaliteit Dinamika Revolusi.
Kita telah membatalkan seluruh perjanjian K.M.B. Rakyat sekarang menanti penampungan pembatalan itu. Dan sahabat-sahabat Indonesia di seluruh duniapun menanti-nanti, seolah-olah bertanya kepada kita: "Apa yang engkau perbuat seterusnya, hai Indonesia?" Karenanya, marilah berjalan terus! Sebagai kukatakan tadi: jangan kita mandek di tengah jalan. Terus! Dengan berpedoman kepentingan Negara dan kepentingan Rakyat Jelata! Bahu-membahu, berbareng bersama-sama dalam satu barisan Nasional! Penampungan pembatalan perjanjian K.M.B. yang disetujui oleh segenap rakyat itu adalah pula satu platform bersama yang baik untuk mempersatukan tenaga nasional.
Alhamdulillah, kita memang tidak mandek di tengah jalan. Kita tidak mangu-mangu. Setelah seluruh perjanjian K.M.B. kita batalkan, dengan segera kita telah bentuk "Panitia Negara Penasehat Penyelesaian Pembatalan K.M.B." Panitia ini telah memberikan nasehat-nasehatnya, dan Pemerintah mempelajari nasehat-nasehat itu dengan saksama. Selangkah-demi-selangkah, setapak-demi-setapak. Pemerintah hendaknya bertindak untuk membersihkan Negara kita dari sisa-sisa tali-temali yang mencekek leher rakyat kita, menjirat kaki rakyat kita.
Salah satu tali itu adalah hutang-hutang K.M.B.
Ya, – "hutang-hutang K.M.B." Hutangnya siapa? Pada waktu Belanda mengakui kemerdekaan kita pada akhir tahun 1949, pada waktu ia angkat kaki, ia meninggalkan almari besi. Bukan almari besi yang penuh dengan uang atau emas atau berlian, bukan almari besi yang berisikan "mas picis raja-brana", melainkan almari besi yang penuh dengan – bon.
Bon-bon hutang pemerintah Nederlands-Indië yang berjumlah berjuta-juta, bahkan bermilyar-milyar gulden. Bon-bon ini menurut perjanjian K.M.B. kita harus oper. Bon-bon itu kitalah yang harus bayar. Bayar, bayar, ya bayar, bukan saja oleh generasi sekarang, tetapi meski sampai generasi ini menjadi tua-bangka, dan sampai generasi yang akan datang sekalipun. Ya, bayar, betalen, – bont en blauw betalen!
Perjanjian K.M.B. telah berjalan lebih dari enam tahun. Dan selama enam tahun itu, kita sebagai satu bangsa yang berbudi telah membayar, membayar dengan bunga-bunganya samasekali. Kita telah membayar "bont en blauw". Membayar sampai kuning-hijau muka kita. Ya, kita memang pembayar hutang yang paling setia!
Akan tetapi, pada waktu bon-bon itu disodorkan kepada kita di K.M.B., kita tidak mempunyai cukup waklu untuk menelitinya dengan saksama. Kita pada waktu itu tidak mempunyai cukup waktu untuk menyelidiki: "layak apa tidak hutang-hutang itu dibebankan kepada kita?" "Layak apa tidak ia kita oper?" Dan pada waktu itu Belanda was zo lief en zo goed untuk menghitungkan semua hutang-hutangnya – untuk kita!
Kita telah telaah semua bon-bon itu dengan saksama. Kini malah semua akibat-akibat perjanjian K.M.B. telah kita selidiki dengan teliti. Apa ternyata? Ternyata bahwa tidak semua hutang itu seharusnya kita yang bayar, tidak selayaknya kita yang bayar. Sebab sebagian besar daripada hutang itu ialah hutang untuk membeli pentung untuk mementung kepala kita. Dan atas nasehat Panitia, Pemerintah telah pula mengambil satu-satunya keputusan yang tepat: yaitu, tidak mengakui hutang-hutang Indonesia kepada fihak Belanda, dan tidak akan mem-bayar lagi hutang-hutang Indonesia kepada fihak Belanda.
Perhatikan: kepada fihak Belanda! Hutang-hutang Nederlands Indië kepada negara-negara lain, dan yang telah kita oper menjadi hutang kita, tetap kita akui, dan tetap kita jamin pembayarannya. Dus yang tidak kita bayar lagi itu ialah hutang-hutang kita kepada fihak Belanda, bukan hutang-hutang kita kepada fihak yang bukan-Belanda.
Kita bukan kaum kemplang. Kita bukan golongannya bangsa yang mau main sikut hutang. Kita bersedia membayar semua hutang, asal hutang itu nyata-hutang. Tetapi perhitungan-perhitungan yang kita kerjakan di waktu-waktu yang akhir ini membuktikan, bahwa kita ini sebenarnya – tidak punya hutang lagi kepada Belanda.
Bagaimana? Sebagian besar hutang itu ialah untuk membeayai peperangan menghantam kita, dan sebagian kecil ialah untuk pembangunan. Yang kecil ini sudah barang tentu kita akui sebagai hutang. Tetapi yang besar? Tidakkah sangat tidak layak, tidak adil, sangat aneh bin ajaib, kalau rakyat kita dibebani memikul hutang-hutang Belanda yang dulu dipakai untuk membeayai pentung pemukul kita? Tidakkah aneh bin ajaib bin majnun, kalau rakyat kita harus membayar hutang pembelian bom-bom dan dinamit-dinamit yang dulu dimuntahkan atas kepala-kepala kita, untuk membunuh kita dan menghancur-leburkan kita? Anak-kecil yang masih umbelen pun akan menjawab: wah itu memang aneh bin ajaib bin majnun.
Tapi hutang yang kecil, hutang yang untuk pembangunan? Ya, tentu, itu kita akui, itu kita mau bayar. Tapi hutang kecil ini dapat kita perhitungkan kembali kepada jumlah hutang yang jauh lebih besar itu tadi! Dan telah kita perhitungkan! Dengan begitu, hutang kita kepada fihak Belanda itu sebenarnya-sudah tidak ada lagi. Sudah habis. Sudah lunas. Sudah punah. Kita memang bukan tukang kemplang!
Saudara-saudara! Kita berjalan terus.
Siapa mandek akan mati! Roda sejarah berputar dengan tak mengenal berhenti. Kita bangsa Indonesia bersama-sama dengan bangsa-bangsa Asia-Afrika lainnya masih di dalam kancahnya perjuangan-umum untuk membersihkan dunia ini dari kutu-kutunya kolonialisme. Kita bersama-sama dengan mereka harus mengerahkan seluruh tenaga kita untuk mcnggugur-kan singgasana penjajahan. Oleh karena itu, dari tempat ini dan pada hari yang keramat bagi kita ini, saya menyatakan salut-kehormatan kepada semua pahlawan-pahlawan penggempur kolonialisme, semua pahlawan-pahlawan dari segala bangsa, yang telah gugur atau sedang menderita karena perjuangan kemerdekaan. Saya serukan kepada mereka, bahwa segenap rakyat Indonesia berdiri di belakangnya, sebab rakyat Indonesia tidak dapat netral, sekali lagi tidak dapat netral, dalam menghadapi pertarungan antara penjajahan dan kemerdekaan. Saya ulangi sekarang juga ucapan saya di Cairo tahun yang lalu, bahwa kita sahabat Mesir dan tak kenal kompromi dalam perjuangan melawan kolonialisme. Kita cinta damai, sungguh kita cinta damai, tetapi hanya damai tanpa kolonialisme. Untuk menghancur-leburkan koloniaIisme itu diperlukan konsentrasi, pemusatan segenap tenaga-tenaga anti-kolonialisme. Jangan kita memboroskan tenaga dan waktu dengan bercekcok-bercecengilan antara kita sama kita, dan antara sesama bangsa-bangsa Asia-Afrika. Berjuanglah kita terus melawan penjajahan, dengan segala cara yang dapat dipakai, lewat segala jalan yang dapat ditempuh, di atas segala forum dunia yang kini ada, dalam segala rasa tanggungjawab internasional yang harus dipikul sebagai Negara yang tahu harga-diri.
Dunia sekarang gempar karena nasionalisasi Terusan Suez. Pendirian Indonesia jelas dan tegas: Indonesia mengakui hak Mesir sebagai negara merdeka dan berdaulat untuk menasionalisasi Terusan Suez. Indonesia mengharap, supaya persiapan-persiapan damai, sesuai dengan jiwa Konperensi Asia-Afrika dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Indonesia menaroh kepercayaan penuh kepada jaminan Mesir, bahwa Terusan Suez akan tetap terbuka untuk perlalu-lintasan internasional.
Indonesia ikut menghadiri Konperensi London yang dibuka kemarin itu. Indonesia ke sana itu dengan ketegasan, bahwa ia tidak merasa terikat kepada premisse-premisse yang ditentukan oleh penyelenggara-penyelenggara Konperensi itu. Indonesia pergi kesana itu dengan berdiri teguh atas segala pernyataan yang telah ia nyatakan dalam Statement Pemerintah mengenai persoalan Terusan Suez sepuluh hari yang lalu. Indonesia pergi ke sana untuk membela hak-daulat Mesir dan untuk membela perdamaian.
Ya, tegas dan jelas pendirian Pemerintah Indonesia itu! Nasionalisasi Terusan Suez adalah hak Mesir yang berdaulat, yang tak boleh diganggu-gugat! Malahan saya tambah di sini: Terusan Suez bukan saja soal Mesir, tetapi soal semua negeri-negeri jajahan, soal semua negara-negara yang baru merdeka. Terutama semua bangsa-bangsa Asia-Afrika sekarang ini harus mengadakan "call": Hands off Egypt! – Jangan sentuh Mesir, jangan ganggu-gugat Mesir! Kalau tergantung dari saya, maka dengan segera saya niscaya panggil Konperensi Asia-Afrika yang kedua untuk membicarakan call ini!
Di luar-negeri tempo hari saya katakan, bahwa bantuan ataupun simpati yang kita berikan kepada perjuangan-kemerdekaan bangsa-bangsa lain dan self-realisasinya bangsa-bangsa lain, bukanlah karena perhitungan untung-atau-rugi, melainkan karena "it is a matter of principle", yakni karena soalnya adalah soal pendirian, soal azas, soal prinsip: Prinsip antikoloniolisme, prinsip hak merdeka, prinsip hak self-realisasi. Prinsip satu dunia-baru yang terdiri dari bangsa-bangsa yang merdeka, prinsip perhubungan-baik antara semua bangsa-bangsa dalam suasana kemerdekaan, perdamaian dan persaudaraan, prinsip "world-brotherhood of man". Sungguh, kita cinta damai, kita mencari damai, kita membanting tulang untuk menyumbang ke arah damai, tetapi damai tanpa penjajahan, sebab damai-sejati tak mungkin dengan penjajahan.
Kenapa masih ada saja bangsa-bangsa yang tak mengerti akan hal ini? Kenapa masih ada saja bangsa-bangsa yang menjalankan kolonialisme dan imperialisme, terang-terangan atau tertutup?
Lihat kepada hubungan Indonesia-Belanda! Selama hubungan Indonesia-Belanda ini masih dinodai oleh soal kolonialisme, sampai lebur-kiamat jangan mengharapkan hubungan itu meluncur lancar, melaju licin, apalagi menguntungkan. Malahan sebaliknya! Salah-salah hubungan itu dapat menjadi kocar-kacir-kececeran samasekali, yang pada akhirnya, merugikan bukan kita, tetapi rakyat Belanda sendiri. Energi rakyat Belanda, yang dulu dalam abad keenambelas meruntuhkan tyranny Spanjol, – tyranny "die mij mijn hert doorwondt" kata Prins Willem van Oranje -, energi rakyat Belanda yang dalam abad kesembilanbelas mengusir penjajahan Perancis, dalam abad keduapuluh turut menggemblèng palu-godam penghantam penjajahan Nazi, – jikalau energi rakyat Belanda itu sekarang dikerahkan untuk mencuci-bersih tubuh negara Belanda daripada kolonialisme yang dibangunkan olehnya sendiri, maka yang demikian itu terutama sekali akan membawa kebaikan kepada bangsa Belanda sendiri.
Bukankah satu ironi dalam sejarah, bahwa satu bangsa, yang telah tiga kali dalam perjalanan hidupnya mati-matian berjuang melawan penjajahan, sekarang, justru dalam abad progresif ini, mati-matian pula mempertahankan kolonialisme yang ia jalankan di Irian Barat?
Dan bukan saja satu ironi sejarah, "There must be something wrong in the Dutch mental structure", – "tentu ada sesuatu hal yang bejat dalam susunan mental bangsa Belanda itu" – , demikianlah pernah saya dengar di luar-negeri. Mereka ingin bersahabat dengan Indonesia tetapi mereka melukai hati Indonesia. Mereka ingin "goede betrekkingen" dengan Indonesia, tetapi mereka menjajah sebagian dari wilayah Indonesia. Mereka ingin bahu-membahu dengan Indonesia, tetapi sebagian dari mereka, dalam bicara dan dalam tulisan, dalam ucapan dan dalam perbuatan, in woord en in geschrift, in woord en in daad, seringkali mengata-ngatai kita, memburuk-burukkan kita, mengobral-obral omongan yang menodai kehormatan kita dan melukai rasa-halus kita. Inilah yang dinamakan "something wrong" yaitu "barang bejat" dalam susunan mental sebagian orang Belanda itu. Tidak difikirkan bahwa kalau ingin hubungan baik, janganlah ngobral-omongan cara begitu. Tidak difikirkan, bahwa kalau ingin goede betrekkingen, janganlah mengkoloni kita lagi. Tidak difikirkan, bahwa masih beribu-ribu warga-negara Belanda dapat menemukan nafkah-hidup yang amat baik di Indonesia, meskipun Indonesia telah merdeka. Tidak difikirkan, bahwa bumi Indonesia masih dapat memberikan dividend yang amat baik bagi modal Belanda, meskipun Indonesia sudah bukan Hindia-Belanda lagi. Tidak difikirkan, bahwa – ya, katakan keuangan Indonesia kocar-kacir, produksi mundur, keamanan belum beres, pendidikan belum sempurna, administrasi belum running well, – katakan segala keburukan itu, tetapi toh rakyat Indonesia yang 80.000.000 itu pada hari ini ternyata mampu merayakan Kemerdekaannya yang sudah sebelas tahun!
Katakan apa yang engkau mau kata, – kami berjalan terus! Dan sungguh, posisi kita tidak menjadi lemah oleh karenanya. Siapa yang berjuang dengan sungguh-sungguh di atas jalan yang benar, ia tidak akan dihina orang, melainkan malahan ia akan naik dipandang orang. Siapa yang menjunjung tinggi self-respect, – meski ia miskin-papa-sengsara, jembel telanjang bulat, makan kulit ubi setiap hari, – orang akan mempunyai respect kepadanya.
Lihat, saudara-saudara! Tadi saya sebutkan dua macam ironi, yaitu ironi dalam sejarah Belanda, dan ironi dalam tata-fikirnya. Ada satu ironi lagi yang mengenai mereka itu! Saudara-saudara ingat, bahwa tatkala ada suara-suara bahwa kita hendak membatalkan perjanjian K.M.B. secara sefihak, fihak imperialis dan kolonialis geger mengatakan bahwa perbuatan semacam itu akan merusakkan nama Indonesia di dunia internasional. "Indonesia akan kehilangan kepercayaan dunia samasekali dan akan kehilangan respect dunia samasekali!", demikianlah nujuman mereka itu. Tetapi apa terjadi? Begitu perjanjian K.M.B. itu kita sobek-sobek setcara unilateral, begitu sobekan-sobekan itu kita masukkan ke dalam keranjang-kotoran, – membanjirlah undangan-undangan dari mana-mana kepada Presiden Republik Indonesia untuk mengadakan perkunjungan-perkunjungan kenegaraan! Dengan undangan-undangan itu ternyata, bahwa kedudukun Indonesia dalam susunan dunia dimengerti dan diakui orang. Dengan undangan-undangan itu ternyata bahwa respect dunia yang dikatakan akan amblas itu malahan menaik. Dengan undangan-undangan itu ternyata bahwa common sense sebagian besar dari dunia adalah di fihak Indonesia.