Lulu, Alice and Jimmie Wibblewobble
Chapter 1
__NOTOC__ __NOEDITSECTION__
Saudara-saudara!
Di bawah kepulan hitam api-peperangan yang masih kemelun di udara Indonesia sebelas tahun yang lalu menyatakan kemerdekaannya. Bukan sinarnya Purnama-Sasi yang mengiringi Proklamasi itu, bukan nyanyian-nyanyian yang merdu-merayu. Sebaliknya, gempa peperangan masih terasa; api-revolusi-rakyat meledak sekaligus oleh karenanya; gemerincingnya pedang dan pekiknya barisan-barisan bambu-runcing memenuhi angkasa; ledakan bom dan granat menjadi pengalaman sehari-hari.
Tidak ada seorangpun di waktu itu yang menghitung-hitung atau menimbang-nimbang: "bagaimana dunia nanti akan menerima Proklamasi ini?" Tidak ada seorangpun yang menghitung-hitung: "berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya?"
Pada waktu itu, yang ada hanyalah satu tekad-bulat daripada segenap rakyat Indonesia, tekad-bulat "sekali merdeka tetap merdeka". Pada waktu itu segenap rakyat Indonesia laksana hidup dalam hikmahnya sesuatu wahyu.
Di tembok-tembok rumah, di tembok-tembok jembatan, orang tuliskan isi-hatinya dengan singkat tetapi tegas: "Indonesia never again the lifeblood of any nation", – "Indonesia tidak lagi akan jadi darah-hidupnya sesuatu bangsa asing"; we fight for freedom, we have only to win, "kita berjuang untuk kemerdekaan, kita pasti menang".
Seluruh angkasa gemetar dengan getaran-tekad: "merdeka, atau mati!"
Benar, selama 350 tahun Indonesia memang telah memberikan darahnya bagi hidupnya bangsa lain. Penjajah menjadi gemuk, kita menjadi kurus-kering. Di luar dugaan mereka, rakyat yang kurus-kering ini, – rakyat yang mereka sebutkan het zachtste volk der aarde, "rakyat yang paling lemah-lembut di dunia", rakyat yang begitu lama mereka tunggangi namun toh menurut saja, rakyat yang begitu sering mereka labrak dengan pecut namun toh tidak melawan -, di luar dugaan mereka, rakyat kurus kering ini bangkit berdiri serentak sambil berkata: "Stop! Sampai di sini, – kita merdeka, kita tidak mau dijajah lagi!"
Dan di luar dugaan mereka juga, rakyat kurus-kering itu dapat mempertahankan Republik-nya terhadap hantaman-hantaman kontra-ofensifnya, dapat membangun dan membina Republiknya kendati segala rintangan, dapat membuktikan sumpahnya "sekali merdeka tetap merdeka" dengan cara yang mengagumkan dunia.
Setahun menjadi dua tahun, dua tahun menjadi tiga tahun, tiga tahun menjadi empat tahun, empat tahun menjadi lima tahun, – enam tahun, tujuh tahun, delapan tahun, sembilan tahun, sepuluh tahun, sebelas tahun. Dan Insya Allah sebelas tahun ini akan menjadi sebelas puluh tahun, sebelas ratus tahun, mungkin sebelas ribu tahun!
Ya, Agustus 1945; Republik Indonesia pada waktu itu dalam pandangan dunia satu pertanyaan, satu question-mark; dalam pandangan Belanda satu umpan-ganyangan yang akan dapat di-gaglak lagi dalam beberapa hari atau beberapa pekan. Sekarang Agustus 1956: Republik Indonesia dalam pandangan dunia satu potensi berharga dalam susunan internasional, dalam pandangan Belanda satu taaie kost, satu "makanan alot", yang tak dapat di-gaglak begitu saja! Ya, katakanlah keuangan Indonesia belum beres, katakanlah produksi belum maju, katakanlah administrasi belum sempurna, katakanlah pendidikan belum teratur, katakan, katakan apa saja yang orang mau katakan, tetapi toh, 80.000.000 rakyat Indonesia pada saat ini merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaannya yang kesebelas, Hari Ulang Tahun Republik dalam Dasa-Warsa yang kedua!
Buat kesebelas kalinya saya diberi kehormatan memidatoi rapat semacam ini, tetapi ah, apa aku ini dalam alam usaha dan perjuangan bangsa? Engkau, engkau, rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, engkau rakyat Indonesia yang 80.000.000, engkaulah yang berusaha, engkaulah yang berjuang, engkaulah yang dengan berkat Tuhan menegakkan Republik ini, engkaulah yang menjadi hidupnya dan menjadi tenaganya. Engkaulah yang dibuat Tuhan satu rakyat yang merdeka, engkaulah yang menjadi Alat-Kehendak-Nya. Ya, Tuhanlah Pemberi merdeka kepada bangsa-bangsa, Tuhanlah Pemerdeka rakyat-rakyat, – tengadahkanlah mukamu keatas, tengadahkanlah tanganmu kepada zat yang Satu itu, agar supaya engkau bersyukur dan berterimakasih kepada-Nya, dan agar supaya engkau tetap diberkahi oleh-Nya menjadi bangsa yang merdeka, kekal dan abadi!
Saudara-saudara! Dalam pidato saya 17 Agustus tahun yang lalu, saya dengungkan Panca Dharma:
Kesatu: Kembali kepada Persatuan.
Kedua: Membanteras pengacauan.
Ketiga: Memperhebat Pembangunan.
Keempat: Memperhebat perjuangan Irian Barat dan anti-kolonialis-imperialis.
Kelima: Menyelenggarakan pemilihan-umum.
Mari kita tinjau, mana dari Panca Dharma itu sudah kita selesaikan, mana yang belum:
Membanteras pengacauan, – itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan.
Kembali kepada Persatuan, – itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan.
Memperhebat Pembangunan, – itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan; kita baru saja mulai dengan Plan Lima Tahun.
Memperhebat perjuangan Irian Barat dan anti-kolonialis-imperialis, itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan.
Menyelenggarakan pemilihan-umum, – itu sudah kita kerjakan, berhasil lumayan juga.
Dus: dari Panca Dharma itu baru satu Dharma sajalah telah kita kerjakan penuh. Empat Dharma belum kita selesaikan. Catur Dharma, – Catur artinya empat – , dus belum kita tunai-kan. Catur Dharma masih memanggil-manggil!
Dan sebenarnya: Catur Dharma ini berpusat kepada satu Dharma saja, yaitu Dharma Pembangunan. Catur Dharma berjiwakan Eka Dharma, – Eka berarti satu -, Tugas yang Empat berpusat kepada Tugas yang Satu: membangun, membangun, sekali lagi membangun. Tidak dapat kita membangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma Persatuan. Tidak dapat kita membangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma keamanan. Tidak dapat kita mem-bangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma mengenyahkan imperialisme dari Irian Barat.
Bahkan kitapun tak dapat membangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma pemilihan-umum lebih dahulu. Dus, Panca Dharmapun berpusat kepada Eka Dharma pula. Lima berpusat kepada yang satu. Lima untuk yang satu, empat untuk yang satu, tiga untuk yang satu, dua untuk yang satu, satu-membangun-untuk yang satu! Ialah untuk Rakyat. Untuk si Dadap, untuk si Waru.
Untuk Nyi Icih, untuk Sarinah. Untuk Bang Amat, untuk Pak Bopèng. Untuk si Proletar, untuk si Tani, untuk si Prajurit, untuk si Pegawai. Untuk seluruh lapisan Rakyat Indonesia. Bukan untuk si kaya saja, bukan untuk Sang Ndoro saja. Bukan untuk Bung Karno, bukan pula untuk Pak Menteri.
Itulah yang saya maksudkan dengan "yang satu" itu. Panca Dharma atau Catur Dharma untuk rakyat. Dan inipun masih harus memuncak lagi dalam isi-batinnya: – memuncak kepada "Yang Lebih Satu" lagi, yaitu memuncak kepada Tuhan.
Saudara-saudara, pemilihan-umum kita yang pertama, telah kita selesaikan: 29 September 1955 untuk D.P.R., 15 Desember 1955 untuk Dewan Konstituante. Zaman "demokrasi raba-raba" telah ditutup, zaman "demokrasi yang lebih kongkrit" telah mulai berjalan. Dunia kagum melihat rapihnya pemilihan-umum kita itu berjalan. Tadinya disangka akan terjadi kekacauan, – bahkan ada yang meramalkan akan terjadinya kekacauan – , tetapi rakyat Indonesia bukan anak-kemarin di lapangan demokrasi! Jiwa demokrasi dan arti demokrasi buat bangsa Indonesia bukan barang-baru atau barang-import, tetapi adalah bagian daripada darah-daging bangsa Indonesia sendiri. Tatkala rakyat-rakyat di dunia Barat masih pentung-pentungan satu-sama-lain rebutan kebenaran, maka di Indonesia beberapa inti demokrasi telah berjalan! Karena itu, jika tadi saya memakai istilah "demokrasi raba-raba" untuk zaman sebelum pemilihan-umum D.P.R. dan Konstituante, maka itu samasekali tidak berarti bahwa rakyat Indonesia masih meraba-raba apa arti demokrasi, melainkan hanyalah karena dalarn zaman sebelum pemilihan-umum itu tidak seorangpun dapat menyatakan dengan tepat siapa-siapa, mewakili apa, di dalam badan-badan-perwakilan kita. Pada waktu itu, belum ada tata-pelaksanaan hak-hak-azasi rakyat yang bernama demokrasi, yaitu memilih wakilnya sendiri dengan cara rahasia, bebas, aman.
Pada waktu itu, tidak satu partaipun dapat mengatakan dengan pasti berapa besar jumlah rakyat yang diwakilinya. Pada waktu itu, kita serba meraba-raba tentang bagaimana dan seberapa kekuatan-demokratis, yang harus menentukan corak kehidupan-politik Negara.
Kini keadaan telah kita rubah. Kini kita telah mempunyai Dewan Perwakilan Rakyat pilihan rakyat sendiri. Tegaslah kini bentuk-bentuk politik, – morphologi politik – , daripada rakyat kita. Tegaslah kini warna-warna dalam pelangi politik bangsa Indonesia, – de kleuren in de politieke regenboog. Tegaslah kini imbangan-imbangan kekuatan politik dalarn masyarakat kita, – de politieke krachten-verhoudingen in ons volk. Tegaslah kini corak-coraknya Kemauan Rakyat, – de schakeringen van de Volkswil.
Dan dengan demikian, kita telah meletakkan dasar yang lebih kokoh lagi untuk mengem-bangkan kehidupan demokrasi yang lebih sempurna di masa datang. "Mengembangkan". Sebab tata-demokrasi kitapun belum sempurna.
Tetapi Panta Rei, – alles vloeit -, kataku tempo hari, segala sesuatu mengalir, segala sesuatu berjalan, tidak ada barang sesuatu yang mandek. Janganlah lupa akan hukum sejarah ini! Saya tahu, ada di antara saudara-saudara yang tidak puas dengan cara atau prosedure daripada pemilihan-umum yang lalu itu. Saya tahu, ada yang berkata: "ah, orang itu-lagi dan orang itu-lagi masuk D.P.R.!" Tetapi saya bertanya: tidakkah prosedure itulah yang disetujui oleh D.P.R. yang lampau? Dan tidakkah demokrasi berarti tunduk kepada kehendak yang banyak? Kita ini mau berdiri atas dasar demokrasi atau tidak? Tidak seorangpun dari kita ini yang telah puas dengan apa yang telah kita capai sekarang, dan sayapun tidak. Tetapi saya berpikir riil. Saya tidak mau berpikir di luar buminya kenyataan. Karena itulah saya tadi berkata, bahwa dengan pemilihan-umum yang lalu itu kita meletakkan dasar yang lebih kokoh lagi untuk mengembangkan kehidupan demokrasi yang lebih sempurna di masa datang! Dan bahwa kita pasti menuju kepada kesempurnaan itu di masa datang, – itu bukan raba-rabaan saja bagiku, itu adalah pengetahuanku yang kokoh, itu adalah keyakinanku yang tidak goyang, laksana batu-karang di tengah lautan. Sekali lagi: Panta Rei, segala sesuatu berjalan, segala sesuatu ber-Evolusi. Aku melihat hari-kemudian kita selalu menaik. Aku melihat masa depan kita terang-benderang. Aku tahu benar kekuatan daripada cita-cita bangsaku, aku kenal benar kemampuan-kemampuan bangsaku untuk merealisir cita-citanya. Aku belum kehilangnn kepercayaan kepada bangsaku sendiri!
Segi lain yang memberi corak khusus kepada perayaan hari ini ialah, bahwa kita kini mempunyai satu Pemerintah yang program-bekerjanya diterima dengan suara bulat oleh Parlemen pilihan rakyat. Dan Parlemen pilihan rakyat inipun pada tanggal 21 April 1956 membenarkan dengan suara bulat, pembatalan unilateral daripada seluruh perjanjian-perjanjian K.M.B.!
Apakah arti pembatalan perjanjian K.M.B. itu? Arti daripada pembatalan itu ialah, bahwa kita telah berhasil mengembalikan status Negara kita kepada status yang dimaksudkan oleh Proklamasi: Satu Negara Merdeka yang berdaulat penuh, dengan tiada ikatan sedikitpun kepada suatu negara lain, yang mengurangi kepada kedaulatannya. Kembalilah kita kepada Realiteit Politik sebagai yang kita nyatakan sebelas tahun yang lalu. Kembalilah kita kepada maksud Proklamasi yang asli. Kembalilah kita kepada maksud ikrar: "Merdeka, 100% merdeka, dari Sabang sampai Merauke!" Sebagai yang kita gelèdèkkan pada permulaan Revolusi.
Ya, itulah arti pembatalan perjanjian K.M.B.: Kembali kepada realiteit politik yang semula, yaitu pada saat diadakan Proklamasi 17 Agustus 1945 bukan saja Hari Proklamasi, 17 Agustus 1945 adalah pula Hari Lahirnya Republik. Dus, pembatalan perjanjian K.M.B. berarti kembali kepada Realiteit Politik 17 Agustus 1945. Tetapi, apakah pembatalan itu juga sudah berarti kembali kepada Jiwa sebagai yang kita alami tepat sebelas tahun yang lalu? – Jiwa Gemilang yang dalam bulan Agustus 1945 membuat hati-sanubari patriot-patriot Indonesia bersinar seperti ndaru, bersinar sebagai hatinya malaekat-malaekat? Jiwa Gemilang yang penuh dengan idealisme dan kesediaan berkorban. Jiwa Gemilang yang tidak mengenal takut, tidak mengenal kepentingan diri sendiri, tidak mengenal rasa kecil, tidak mengenal kesetengah-setengahan, – Jiwa Gemilang yang membuat Revolusi Politik kita pada waktu itu bersifat satu Revolusi Batin yang tiada taranya dalam sejarah revolusi-revolusi nasional di seluruh muka-bumi? Jawablah pertanyaan ini sendiri! Sebab, tergantung pula dari kita selanjutnya akan lekas mencapai hasil yang memuaskan, atau tidak!
Sebagaimana saya katakan pada pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat yang sekarang, kita ini telah melampaui dua taraf perjuangan: taraf revolusi bersenjata, dan taraf mengatasi akibat-akibat perjuangan bersenjata. Taraf "physical revolution", dan taraf "survival". Dan sekarang, demikian kataku selanjutnya, kita berada dalam taraf "investment", yaitu taraf menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya, untuk pembangunan seterusnya. Dan telah saya jelaskan pula investment apa: Investment of human skill. Material investment. Dan Mental investment.
Investment of human skill: pemupukan modal yang berupa kejuruan, ketrampilan, keprigelan. Dus terutama sekali pemupukan Kader.
Material investment: pemupukan modal materie. Modal barang, modal bahan, modal alat-alat. Modal uang, yang harus berupa Modal Nasional yang harus kita pupuk dari uang bangsa Indonesia sendiri, sebagai yang sudah saya anjurkan dalam pidato 17 Agustus dua tahun yang lalu.
Mental investment: pemupukan modal mental. Modal cara-berfikir. Modal pandangan-hidup. Modal tekad. Modal batin.
Terangkah atau tidak, bahwa semua investment-investment ini, terutama sekali investment mental, menghendaki Jiwa Nasional yang suci-murni, "sepi hing pamrih ramé hing gawé", – Jiwa Nasional yang benar-benar Jiwa Proklamasi, jiwa Nasional yang laksana ndaru kataku tadi, Jiwa Nasional yang laksana jiwanya malaekat kataku tadi pula? Ya, buat kesekian kalinya saya katakan: boleh sekarang kita belum mempunyai alat-alat materiil secara lengkap, boleh sekarang kita belum memiliki tractor ketian atau laksaan, boleh sekarang kita belum memiliki baja atau semen, arang-batu seribu gunung, boleh sekarang kita belum mempunyai bahan-bahan kimia seribu gudang, ya, boleh sekarang kita belum memiliki satu gergaji dan satu martilpun, – boleh sekarang kita belum beralat samasekali, laksana telanjang bulat hanya berdjari lima dan "akandang langit akemul mega", – maka dengan jiwa malaekat Insya Allah kita tidak akan mati. Tetapi jika jiwa kita bukan jiwa yang benar-benar ingin membina satu Indonesia Baru, jika jiwa kita masih jiwa yang dihinggapi oleh penyakit-penyakit minder-waardigheidscomplex, jika jiwa kita masih jiwa yang berkarat dengan karatnya "Hollands denken", jika jiwa kita belum jiwa yang mengalami Mental Revolution yaitu Revolusi Batin, maka janganlah mempunyai harapan apa-apa mengenai hari-kemudian melainkan kebelakangan dan perbudakan. Di Amerika tempo hari saya katakan: lebih baik kita tiada bertractor dan tiada berbulldozer daripada mengorbankan sebagian kecilpun daripada kedaulatan kita dan cita-cita kita, lebih baik kita membuka hutan kita dan menggaruk tanah kita dengan jari sepuluh dan kuku kita ini, daripada menjual serambutpun daripada kemerdekaan kita ini untuk dollar atau untuk rubel, – dan apa yang saya maksudkan dengan kata-kata itu niscaya tak mungkin berupa satu kenyataan, bila tidak dipikul oleh satu Jiwa Rakyat Indonesia yang benar-benar Jiwa Proklamasi.
Banyak hal-hal yang masih mengecewakan, meski harus diakui bahwa ada kemajuan. Ambillah misalnya kerjasama antar partai. Kerjasama antar partai belum seperti yang kita harapkan. Untuk investment secara efisien, diperlukanlah iklim baik yang memungkinkan orang bekerja keras zonder gangguan-gangguan apapun juga. Belum nanti kerja raksasa pembangunannya an sich! Iklim baik itu harus diusahakan, antara lain dengan penyempurnaan hubungan-antar-partai. Ya, sebenarnja hubungan-antar-partai itupun masuk dalam rangka investment mental yang saya maksudkan tadi. Mental kita harus berubah! Mental kita harus ber-revolusi! Mental kita harus mengangkat diri kita di atas kekecilan jiwa, yang membuat kita suka gègèr dan èkèr-èkèran mempertengkarkan urusan tètèk-bèngèk yang tidak penting.
Parlemen pilihan rakyat telah tersusun, pemerintah koalisi telah terbentuk, program-bekerja pemerintah telah disetujui oleh seluruh D.P.R., – mudah-mudahan kenyataan ini dapat memperbesar kemungkinan berkembangnya iklim yang baik, buat bekerja secara kontinu guna memulai usaha-usaha investment dan pembangunan secara tingkat-meningkat dan berencana, menuju pelaksanaan cita-cita rakyat!
Meskipun pemilihan-umum belum mendatangkan penyederhanaan dalam sistim kepartaian di tanah air kita, – ai, berapa jumlah partai besar-besar dan kecil-kecil dan maha kecil-kecil di tanah-air kita ini? -, namun setidak-tidaknya pemilihan umum itu dengan jelas telah menunjukkan konsentrasi alam fikiran kepada tidak lebih daripada empat-lima-enam buah. Alangkah baiknya, bila pemimpin-pemimpin konsentrasis ini dapat mengusahakan satu kerja-sama yang hidup atas dasar saling-mengerti dan saling-menghargai, dapat menjelmakan iklim-baik untuk simfoni yang hendak kita lakukan, yaitu simfoni pembangunan Negara dan pembangunan masyarakat yang telah puluhan-puluhan tahun kita idam-idamkan. Hendaknya pemimpin-pemimp0in konsentrasis itu mengusahakan agar supaya konsentrasi itu bukan konsentrasinya negativisme yang menyebarkan antagonisme ke kiri dan ke kanan, tetapi konsentrasi-nya positivisme yang menyebarkan sintese ke kiri dan ke kanan, – inti-inti energi di sekitar mana partai-partai lainnya bergerak runtut-tertib laksana elektron-elektron yang merupakan kesatuan dengan intinya.
Ya, memang telah ada kemajuan dibandingkan dengan beberapa waktu yang lalu. Antagonisme kepartaian sebagai tahun yang lalu, sekarang sudah berkurang. Kepanasan udara sebagai tahun yang lalu, yang orang hampir saja bunuh-bunuhan, sekarang sudah agak reda. Tetapi masih ada hal-hal lain yang menghambat persatuan dan kesatuan.
Antara lain: Pertama, hubungan antara pusat dan daerah, dan antara daerah dan daerah, belum sebagaimana mustinja. Kedua, penggangguan keamanan oleh gerombolan-gerombolan bersenjata masih belum kita sapu bersih samasekali. Ketiga, penjajahan ekonomi oleh Belanda masih belum kita lempar ke dalam laut, penjajahan kolonialis-imperialis di Irian Barat masih belum kita habisi. Kalau kita dalam waktu singkat dapat menyudahi tiga penyakit ini saja, dan kita menjalankan investment dengan serajin-rajinnya, maka dapatlah pembangunan berjalan dengan lantcar selancar-lancarnya.
Hubungan antara pusat dan daerah! Sudah menjadi pembawaan tiap-tiap manusia, bahwa ia lebih memperhatikan barang sesuatu yang berdekatan dengan dia, daripada barang sesuatu yang jauh. Sesuatu pemerintahanpun tak luput dari pembawaan ini: Kadang-kadang pandangan matanya ke daerah yang jauh letaknya menjadi kendor. Tetapi, sebagai yang saya katakan di Universitas Heidelberg dua bulan yang lalu: sesuatu Negara, sesuatu bangsa, adalah satu organisme, dan sesuatu organisme tak dapat dibagi-bagi, tak dapat dicerai-pisahkan, zonder membahayakan keselamatannya organisme itu. Ia adalah satu tubuh-hidup, yang meskipun terdiri dari bermacam-macam jenis organ, toh seluruhnya merupakan satu kesatuan yang saling memerlukan, saling pengaruh-mempengaruhi dalam fungsi-fungsinya, saling mengaktivir, saling menghidupi.
Republik Indonesia adalah satu organisme, bangsa Indonesia adalah satu organisme. Jagalah kesatuan hidupnya organisme itu. Jagalah jangan sampai satu organ tak dapat berfungsi, karena kurang mengalirnya zat-zat hidup kepadanya. Jagalah, sebaliknya, jangan sampai ada satu organ yang mendapat bagian zat hidup begitu banyak sehingga mengakibat-kan pertumbuhan yang tak seimbang antara organ dengan organ, dan oleh karenanya mengganggu irama hidupnya sang tubuh sebagai satu keseluruhan.
Dalam istilahnya Republik kita: jagalah jangan sampai hubungan antara pusat dan daerah, antara daerah dan daerah, kurang irama, baik di lapangan pemerintahan, maupun di lapangan ekonomi dan keuangan. Hanya bilamana ada keseimbangan yang rasionil dalam hubungan pusat dan daerah, dan antara daerah dan daerah, di lapangan-lapangan yang kusebutkan tadi, maka akan lenyaplah salah satu faktor negatif dalam usaha kita menyelenggarakan iklim baik dan keseragaman, bagi investment dan pembangunan, bagi pembinaan Negara dan masyarakat.
Saudara-saudara, semua hal yang saya katakan mengenai kehidupan antar-partai dan perhubungan pusat daerah itu, adalah masuk ke dalam Dharma menggembléng Persatuan, Persatuan yang begitu perlu-mutlak untuk iklim-baik. Dan Dharma Persatuan itupun, kecuali adalah satu syarat mutlak untuk kehidupan sesuatu rakyat sebagai Bangsa, sebagai kukatakan tadi adalah satu syarat untuk melaksanakan Dharma Pembangunan. Demikian pula maka Dharma menyelesaikan soal keamanan adalah satu syarat untuk Pembangunan.
Selama keamanan masih belum terjamin kembali pembangunan tak akan lancar! Bagaimana rakyat dapat bekerja tenang untuk penghidupannya, dapat bekerja tekun untuk membangun masyarakatnya, jikalau mereka selalu diliputi oleh rasa tidak aman, rasa kekhawatiran, rasa takut, karena masih ada gerombolan-gerombolan pengacau yang berkeliaran? Brandalan atau bendewezen ini selekas-lekasnya harus dibasmi bersih! Dan meskipun ada sesuatu ideologi politik di belakang sebagian daripada gerombolan-gerombolan itu, – bukan cara yang dapat kita benarkan, cara mereka itu mencoba mengembangkan tujuan-tujuan politiknya dengan memberontak kepada Negara, dengan membakar dan membunuh, dengan menggedor dan menggarong, – dengan menterori rakyat, menyengsarakan rakyat, menelanjangi rakyat, mengkocarkacirkan ekonomi rakyat, mengkocarkacirkan hati rakyat, mengkocarkacirkan keselamatan jiwa rakyat.
Karena itu, habisilah dengan segera pengacauan ini. Ya, itu telah sering saya katakan. Ya, itu telah sering pula dikatakan oleh orang-orang lain. Dan memang adalah kemajuan. Pemerintah menjalankan politik keamanannya, dibantu oleh alat-alat kekuasaan Negara. Di sana-sini tercapai hasil-hasil yang lumayan. Di sana-sini ada gerombolan-gerombolan yang berbalik fikir, dan datang ke pangkuan Republik dan masyarakat kembali. Saya mengucapkan penghargaan kepada saudara-saudara yang berbalik fikir itu, dan sebagai Presiden saya mengucapkan kepada mereka "Selamat datang di rumah kembali".
Kepada mereka yang belum berbalik fikir, saya ulangi panggilanku yang telah kuucapkan berulang-ulang. Untuk mereka itu saya ulangi di sini ucapanku tahun yang lalu: "Semua lapisan, semua gerombolan-gerombolan di hutan-hutan saya panggil pada hari ini, supaya lebih dalam menginsyafi dan mempraktekkan hidup ketatanegaraan, – hidup ketatanegaraan Republik Indonesia!"
Jikalau saya tinjau segala sesuatu dengan kacamata histori, maka saya tetap optimistis, "Historis optimistis!". Saya tidak berkata bahwa misalnya D.I. dan T.I.I. dapat kita likwidir dalam tempo satu dua hari, atau satu dua pekan. Tidak! Tetapi saya berkata bahwa nanti, sesudah sesuatu jangka masa, D.I. dan T.I.I. pasti akan lenyap dari muka-bumi. Setahun yang lalu saya telah berkata:
"Di semua daerah-daerah pengacauan itu bukanlah rakyat sebagai satu keseluruhan memberontak kepada Republik, tetapi berjalanlah terornya bendewezen, terornya brandalan, – brandalan kriminil dan brandalan politik".