Berilah Isi kepada Hidupmu!

Part 3

Chapter 32,987 wordsPublic domain (Wikisource)

Indonesia, sebagai sumber bahan-bahan mentah dan sebagai pasaran, diakui pentingnya bagi kesejahteraan dunia, dan kebudayaannya pun diakui dapat memberi sumbangan kepada kesejahteraan rokhani peri-kemanusiaan.

Perkunjungan Kepala Negara Republik Indonesia telah membuat dunia lebih rnengenal lagi akan hal itu. Lebih mengenal ia pula segala cita-cita bangsa Indonesia, lebih mengerti politik-luar-negeri kita yang bebas dan aktif, sehingga cita-cita dan sikap Indonesia terhadap pelbagai masalah dunia makin menjadi faktor yang tidak dapat disingkirkan dari perhitungan politik internasional. Jikalau dahulu politik-luar-negeri kita yang bebas dan aktif itu diragu-ragukan, disangsikan, dicurigai, bahkan dicemoohkan kadang-kadang, maka sekarang orang mengakui bahwa politik bebas itu mempunyai kedudukan tersendiri di samping politik-luar-negerinya negara-negara yang lain. Jikalau dahulu politik bebas itu dipandang sebagai politik yang antagonistis, maka sekarang orang sudah dapat melihat, bahwa ia sebenarnya berjalan paralel dengan usaha dunia internasional untuk mengurangi ketegangan dan untuk memupuk perdamaian.

Asia-Afrika yang berpolitik bebas kini makin masuk dalam perhitungan! Nasib dunia kini tak dapat ditentukan lagi hanya dari dua pool-kekuasaan dan oleh dua pool-kekuasaan, yakni dari Washington dan dari Moscow.

Tidak! Nasib dunia sekarang ditentukan pula oleh adanya pool-pool yang lain. Mau atau tidak mau, senang atau tidak senang, di samping Washington dan Moscow orang sekarang harus memperhitungkan adanya pool-pool baru seperti Cairo, New Delhi, dan … Jakarta! Jelas dan nyatalah bahwa sekarang ini mulai nampak adanya depolarisasi dalam susunan-politik di muka-bumi.

Jelas dan nyata adanya depolarisasi itu, – tetapi sebagian rakyat Belanda rupanya tidak melihat depolarisasi itu. Tidak mereka melihat, bahwa di Asia-Afrika sekarang ini sedang tumbuh sesuatu yang baru, sesuatu yang rupanya tak pernah diperhitungkan oleh pemimpin-pemimpin negara Belanda itu. Padahal "one cannot escape history", – sejarah tak dapat orang hindari. Senang atau tidak senang, mereka nanti akan mengalami, bahwa di Asia-Afrika sekarang ini sedang bangkit dengan cara yang dahsyat satu tenaga-ghaib yang tidak dapat ditahan oleh siapapun juga, tidak dapat dibinasakan oleh siapapun juga, tidak dapat diperdayakan oleh lambaian lemah-lunglai siapapun juga!

Kita berpolitik bebas. Tetapi berulang-ulang telah kita katakan bahwa kebebasan tidak berarti kenetralan. Kita tidak netral dalam menghadapi baik dan buruk. Kita tidak netral dalam menghadapi masalah penjajahan. Kita tidak netral dalam menentukan sikap terhadap rakyat-rakyat yang berjuang untuk kemerdekaan. Kita pasti memihak kepada rakyat atau bangsa apapun yang berjuang untuk kemerdekaan. Kita tidak netral dalam menghadapi pilihan ideologi. Kita pasti memihak kepada ajaran Pancasila. Kita bukan tidak-berwarna, kita tidak kleurloos, kita mempunyai warna sendiri, warnanya Pancasila. Kita berpolitik bebas, tetapi politik kita bukan politik yang tidak mempunyai moral. Adakah satu politik yang dipimpin oleh kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menjunjung-tinggi rasa peri-kemanusiaan, yang menghormati rasa kebangsaan, yang mempraktekkan kedaulatan rakyat, yang melaksanakan cita-cita keadilan sosial, – adakah politik yang demikian itu suatu politik yang tak mempunyai moral? Jikalau orang belum dapat menilai moral yang setinggi ini, maka sungguh kita tidak mengerti apa yang dinamakan moral!

Dan bukan saja kita bukan tidak bermoral, kitapun bukan tidak berikhtiar. Kita tidak "menonton dunia sambil diam ungkang-ungkang di atas pagar", kita tidak afzijdig dari segala kejadian dunia: sambil "duduk tenguk-tenguk". "We are not sitting on the fence", – demikianlah kataku di luar-negeri tempo hari. Kita berikhtiar, kita berusaha ke kanan dan ke kiri, kita ke luar juga "rame hing gawe", kita aktif. Politik kita bukan politik yang bebas saja, politik kita adalah politik yang bebas dan aktif.

Lihat sikap aktif kita dalam soal Indocina. Lihat sikap aktif kita dalam soal persengketaan Terusan Suez sekarang ini. Daerah persengketaan harus diperkecil, daerah perdamaian harus diperluas. Memang di dunia ini ada daerah-daerah persengketaan, daerah-daerah angin puyuh, daerah-daerah taufan, – storm centres of the world. Korea dulu satu daerah persengketaan, Alhamdulillah sekarang sudah reda. Indocina dulu satu daerah persengketaan, Alhamdulillah sekarang sudah reda. Suez sekarang satu daerah persengketaan, marilah kita semua berikhtiar supaya kesalahan-kesalahan yang dulu jangan berulang lagi.

Dari pengalaman di Korea dan di Indocina, marilah semua bangsa-bangsa di dunia ini belajar. Belajar, untuk tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan yang telah dibuat. Kesalahan-kesalahan, yang telah menjadi ajangnya peperangan, yang hampir-hampir saja mengkocar-kacirkan perdamaian dunia samasekali.

Kapankah manusia ini belajar! Korea masih dalam ingatan kita, Indocina masih belum habis bau mesiunya, – kini hantu-bencana telah menghintai-hintai lagi di Cakrawala Lautan Tengah! Di sana orang sibuk membuat persiapan-persiapan militer, di sana kapal-kapal perang dimondar-mandirkan, di sana tentara-tentara-payung dikerah-siapkan, di sana tentara cadangan dimobilisir. Untuk apa? Ya, saya bertanya lagi: untuk apa? Mengapa orang terburu-buru mengepal tinjunya, mengapa orang terburu-buru mengoroki bedilnya, mengasah pedangnya, mengisi kampil pelurunya, menyabukkan sabuk-pistolnya?

Mesir adalah satu negara yang merdeka dan berdaulat. Ia mempunyai hak-hak kedaulatan, tak kurang dan tak lebih daripada negara-negara lain yang merdeka dan berdaulat. Adalah hak-daulat Mesir untuk mengambil tindakan-tindakan yang dianggapnya perlu untuk menyeleng-garakan ekonomi nasionalnya dan mempertinggi taraf hidup rakyatnya. Adalah hak-daulat Mesir untuk menasionalisasi Terusan Suez yang merupakan perusahaan Mesir. Apakah ini satu kejahatan yang harus ditumpes? Tidakkah lain-lain negara pernah pula menjalankan nasionalisasi sesuatu perusahaan yang bekerja di dalam wilayahnya? Memang harus diakui bahwa Terusan Suez merupakan satu urat-nadi yang penting sekali bagi kehidupnn dunia. Penting sekali tidak kurang pentingnya daripada Terusan Panama, Selat Jibraltar, Selat Bosporus. Kebebasan pelayaran di Panama dan Jibraltar dan Bosporus itu dijamin oleh negara-negara yang bersangkutan. Amerika menjamin kebebasan pelayaran di Panama, Inggeris menjamin kebebasan pelayaran di Jibraltar, Turki menjamin idem-dito di Bosporus. Mesir telah menyatakan menjamin kebebasan pelayaran di Terusan Suez, – kenapa orang harus ragu-ragu atau marah atas hak Mesir untuk itu?

Atau barangkali orang ragu-ragu atas kemampuan Mesir untuk menjamin kebebasan pelayaran itu? Kalau ini yang menjadi sebabnya kemarahan atau keragu-raguan itu, maka dengan menyesal saya harus berkata bahwa orang yang marah itu masihlah dihinggapi oleh alam fikiran kolonial. Kalau ini yang menjadi sebabnya kemarahan atau keragu-raguan itu, maka dengan menyesal saya berkata, bahwa di samping adanya zogenaamde "underdeveloped countries", masih ada apa yang harus disebut "underdeveloped minds".

"Fahamilah aspirasi-aspirasi nasional bangsa-bangsa Asia-Afrika sekarang ini!", demikian-lah tempo hari di luar-negeri saya telah tandaskan berpuluh-puluh kali. Fahamilah nasionalisme Asia-Afrika sekarang ini, jikalau ingin mengerti jalannya sejarah, dan jikalau ingin keselamatannya dunia. Jangan bermain-main dengan pedang, jangan bermain-main dengan "nasib". Jangan main-main dengan "fate"! Sebab apa yang diperbuat oleh Mesir itu tak lain tak bukan adalah jalannya sejarah, tak lain tak bukan adalah "the course of history". Sekali lagi, buat kedua kalinya dalam pidato ini, saya akan menirukan perkataan Abraham Lincoln: "One cannot escape history". Carilah penyelesaian persengketaan ini dengan jalan damai, dan hanya dengan jalan damai! Hentikan semua persiapan militer! Hentikan semua ancaman senjata! Meski diadakan satu Konperensi Internasional sekalipun untuk memecahkan masalah persengketaan ini – tak akan sehat hasil Konperensi itu, bila ia diadakan di bawah bayangan-nya Dewa Mars, yaitu bayangannya kapal-kapal perang, derunya bomber-bomber, gemerincingnya pedang-pedang, dentamnya tank-tank, sorak-gertaknya serdadu-serdadu yang mengancam!

Demikianlah politik kita yang bebas dan aktif. Aktif menuju kepada perdamaian.

Kita menyetujui azas hidup berdampingan secara damai, hidup tidak serang-menyerang, tidak mencampuri urusan-urusan dalam-negeri masing-masing, hormat-menghormati integriteit daerah masing-masing, mengakui persamaan derajat antara negara-negara besar dan kecil, menjalankan kerjasama yang saling menguntungkan. Dan perhatikanlah siapa yang pantas memperhatikan! Azas hidup berdampingan secara damai itu janganlah hendaknya memberi kenikmatan dan keuntungan kepada negara-negara raksasa saja, tetapi harus memberi nikmat dan keuntungan kepada negara-negara kecil juga, – kepada semua negara-negara, kepada semua bangsa-bangsa, kepada seluruh umat manusia di seluruh muka-bumi.

Alangkah hebatnya sebenarnya, kemungkinan-kemungkinan dalam abad ke-XX sekarang ini! Kita sekarang telah menginjak abad yang manusia hampir-hampir menyakar langit! Kita sekarang telah menginjak abadnya atom! Seribu kali lebih besar kemungkinan-kemungkinan-nya abad atom itu, daripada abadnya mesin-uap dan abadnya listrik. Seribu kali lebih besar kemungkinan terbukanja jalan-jalan baru untuk mempercepat pembangunan bagi kesejahteraan dunia-kemanusiaan. Akan tetapi satu syarat pokok harus dipenuhi, satu syarat pokok menjadi tuntutan mutlak: Revolusi Atom harus disertai Revolusi Mental. Revolusi Atom harus dikawani Revolusi Moral. Kita harus berani berfikir dalam alam damai, bukan dalam alam perang. Kita harus berani berfikir dalam alam percaya-mempercayai, bukan dalam alam curiga. Kita harus berani berfikir dalam alam kerjasama, bukan dalam alam jegal-menjegal. Jikalau Revolusi Atom ini tidak disertai dengan Revolusi Mental dan Revolusi Moral, maka kemajuan yang dibawanya itu akan membawa manusia masuk terjungkel dalam jurangnya kebencanaan. Jauhkanlah manusia ini, ya Tuhan, dari jurang kebencanaan itu! Abad atom sampai sekarang ini adalah laksana hari terang, yang terangnya diancam oleh gumpalan-gumpalan awan yang mengerikan dan mendirikan bulu. Hantu, hantu kehancuran, hantu kebinasaan, menghintai-hintai dari dalam gumpalan-gumpalan awan itu. Hantu yang mengerikan itu menghintai pula dari dalam alam fikiran manusia dan dari dalam impian-takutnya manusia. Hantu itu telah membuat manusia hidup dalam nachtmerrie. Dunia sekarang adalah dunia ketakutan. Ya, Alhamdulillah sampai saat sekarang ini hantu itu belum menjelma meledak ke bumi menghamuk-hancurkan segala apa yang ada, mematikan segala hal yang hidup. Tetapi entah apa yang tcrjadi di hari besok.

Dunia sekarang masih dunia dipinggirnya mala-petaka neraka jahanam. Karena itu, hai semua umat manusia, hai semua makhluk di muka-bumi, marilah kita bersama membangkit-kan "moreel geweld" kita, agar supaya hantu atom itu enyah dari muka bumi! Demikianlah Indonesia ikut turut serta dalam mobilisasi moril menentang hantu atom itu. Demikianlah Indonesia dari sudut moraliteit berjuang aktif untuk terselenggaranya keselamatan manusia dan perdamaian dunia. Maka oleh karena itu pulalah Indonesia dari sudut realiteit kenegaraan tidak mau menggabung-kan diri dalam sesuatu persekutuan militer.

Persekutuan militer tidak mendekatkan kita kepada perdamaian, persekutuan militer mendekatkan kita kepada peperangan. Persekutuan militer setidak-tidaknya membangunkan iklim pertentangan, iklim "siap-siapan", iklim permusuhan.

Padahal pelaksanaan cita-cita untuk mempergunakan tenaga atom untuk tujuan-tujuan pembangunan memerlukan iklim damai. Dikatakan bahwa persekutuan-persekutuan militer tidak dimaksud untuk keperluan agresi, tetapi untuk keperluan mempertahan-kan diri secara kolektif. Tetapi tidak semua usaha yang dianggap baik dalam niatnya, juga baik dalam akibatnya. Yang kita hadapi adalah masalah manusia, masalah hubungan manusia dengan manusia, bukan masalah hubungan mesin dengan mesin, atau masalah hubungan materi-mati dengan materi-mati. "International relations are human relations", – hubungan internasional adalah hubungan manusia dengan manusia, demikianlah kukatakan tempo hari. Manusia bukan barang mati, manusia mempunyai perasaan-perasaan dan fikiran-fikiran. Dan yang harus lebih diperhitung-kan lagi: manusia mempunyai instinct-instinct, mempunyai garizah-garizah, yang pada sesuatu saat turut menentukan segala tindak-tanduknya.

Jikalau sekelompok manusia mengadakan persekutuan bersenjata, maka yang merasa terancam dirinyapun mengadakan persekutuan bersenjata. Maka lambat-laun akan timbullah pengaruh timbal-balik yang menyeret dua persekutuan itu dalam perlombaan persenjataan, yang inipun makin lama makin memuncak, sejalan dengan tumbuhnya ketegangan antara kedua belah fihak itu. Akhirnya berdirilah berhadapan-muka-satu-sama-lain bukan sekadar dua kelompok manusia yang bersenjata sampai kepada ujung-ujung giginya, – tot aan de tanden toe gewapend -, tetapi dua pool yang bermuat-padat dengan tenaga listrik yang bertrilliun-trilliun volt dahsyatnya. Segenap angkasa hampir pecah dengan tenaga listrik tiu, de gehele atmosfer is tot berstens toe electrisch geladen! Satu pletikan api-kecil, satu pletikan instinct manusia, pletikan instinct manusia yang tak dapat dikendalikan, dan angkasa itu akan meledak menggledek-memelir-menghalilintar ke kanan dan ke kiri laksana Krisna Triwikrama. Dunia akan menjadi lautan api, angkasa akan terbakar dari Barat sampai ke Timur, semua peradaban manusia akan hancur-lebur menjadi abu! Maka niat baik apapun yang terkandung dalam persekutuan-persekutuan-militer tadi itu, obyektif toh mendatangkan peperangan karena tidak diperhitungkan faktor-faktor subyektif dalam kalbu manusia, yang dinamakan instinct kebinatangan.

Mengapa toh orang harus ragu-ragu dan sayang-sayang untuk menghentikan perlombaan persenjataan yang makin hari makin menyebarkan rasa-takut di mana-mana itu? Rasa-takut, bukan saja dalam hatinya mereka yang tidak bersenjata, tetapi pasti juga dalam lubuk-hati mereka yang bersenjata! Mengapa toh dunia manusia ini, yang telah beribu-ribu tahun naik tangganya peradaban, yang telah berabad-abad bersemboyan kemerdekaan, freedom, liberte, belum juga mampu memerdekakan dirinya dari belenggu nafsu-kekuasaan, yang nota-bene dibuat oleh tangan manusia sendiri, sehingga ia terkungkung dalam kungkungannya ketakutan, – ketakutan yang dus juga buah tangannya sendiri?

Alangkah baiknya jika manusia sekarang ini lebih banyak melihat ke dalam hati nurani masing-masing, menjalankan introspeksi masing-masing. Marilah kita semua manusia, dan terlebih-lebih lagi semua pemimpin-pemimpin negara dari segala bangsa, lebih banyak menjalankan introspeksi itu, dan bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa sebenarnja kita ini dilahirkan di dunia ini? Toh tidak untuk mengabdi kepada batu? Tidak pula untuk mengabdi kepada emas? Tidak untuk mengabdi kepada senjata? Tidak pula untuk mengabdi kepada kekuasaan? Ya, tidak pula untuk mengabdi kepada manusia? Tidak! Kita dilahirkan di dunia dan dihidupkan di dunia ini untuk mengabdi kepada Pembuat kita, mengabdi kepada Pembuat sesama Hidup. Kita dilahirkan dan dihidupkan di dunia untuk mengabdi kepada Tuhan Rabbulalamin! Dapatkah kita hidup mengabdi kepada Tuhan Rabbulalamin kalau kita tidak mempunyai moral hidup terhadap sesama hidup, sesama makhluk, sesama yang "kumelip" di alam ini?

Pengabdian kepada Tuhan Rabbulalamin mengandung makna hidup rukun-damai antara sesama manusia dan sesama bangsa. Karena itu kita cantumkan dalam Pancasila, sila Peri-Kemanusiaan. Karena itu politik kita ialah politik bebas dan aktif menuju kepada perdamaian. Karena itu kita tak mau masuk sesuatu persekutuan militer. Karena itu kita menentang penggunaan atom untuk tujuan-tujuan kebinasaan. Karena itu, ya, karena itu, – karena pengabdian kepada Tuhan Rabbulalamin – , kita mengajak semua manusia hidup rukun-damai, mengajak semua manusia bekerjasama, mengajak semua manusia bantu-membantu satu-sama-lain, mengangkat derajat-hidupnya bersama-sama kepada tingkat hidup yang lebih tinggi, tingkat-hidup yang setinggi-tingginya, baik di lapangan wadag maupun di lapangan batin, baik di lapangan jasmani maupun di lapangan rokhani.

Inilah yang dinamakan isi-hidup dan arah-hidup, inilah yang dinamakan "levensinhoud" dan "levensrichting". Bangsa Indonesia harus mempunyai isi-hidup dan arah-hidup. Kita harus mempunyai Levensinhoud dan Levensrichting. Bangsa yang tidak mempunyai isi-hidup dan arah-hidup adalah bangsa yang hidupnya tidak dalam, bangsa yang dangkal, bangsa yang cètèk, bangsa yang tidak mempunyai Levensdiepte samasekali. Ia adalah bangsa penggemar emas-sepuhan, dan bukan emasnya batin. Ia mengagumkan kekuasaan pentung, bukan kekuasaan moril.

Ia menyembah berhala kemasyhuran, bukan menyembah Tuhan. Ia cinta kepada gebyarnya lahir, bukan kepada nurnya kebenaran dan keadilan. Ia kadang-kadang kuat, – tetapi kuatnya adalah kuatnya kulit, padahal ia kosong-melompong di bagian dalamnya!

Bangsa Indonesia tidak hendaknya menjadi bangsa yang demikian itu. Bangsa Indonesia hendaknya setia kepada sifat asalnya. Sebelas tahun kita telah merdeka, dan kemerdekaan kita ini politis-ekonomis harus selalu kita sempurnakan, – kita sempurnakan, dan sekali lagi kita sempurnakan, tetapi kesempurnaan politis-ekonomis tidak akan cukup jika tidak disertai dengan isi-hidup dan arah-hidup, tidak akan membawa kebahagiaan-sejati jika tidak diarahkan kepada arah-hidup dan diisi dengan isi-hidup.

Satu tahun yang lalu saya berkata: "Ketahuilah bahwa Panca Dharma adalah sekadar Dharma, kewajiban yang harus dipenuhi, dan belum syarat-mutlak untuk kelanjutan hidup sesuatu bangsa. Syarat-mutlak untuk kelanjutan hidup ialah Kemauan Hidup, – Levenswil, Levensdrang -, dan sjarat-mutlak untuk kelandjutan hidup sesuatu bangsa ialah Kemauan Hidup Sebagai Bangsa, – Nationaal Levenswil, Nationaal Levensdrang. Bangsa yang tidak mempunyai Api-Hidup-Nasional ini, Api-Keramat yang menghikmati semua warga-bangsa-nya, dari agama apapun, dari lapisan sosial apapun, dari ethnologi apapun, dari ideologi-politik apapun, bangsa yang kalbunya tidak berkobar-kobar dengan Api-Keramat "Feu Sacré" ini, – bangsa yang demikian itu lambat-laun akan gogrok dan akan buyar menjadi "bangsa-bangsa" yang kecil, atau akan gogrok dan buyar menjadi kelompokan-kelompokan manusia belaka, atau akan tenggelam-lenyap-musna samasekali".

Ya, memang demikianlah! Tetapi kelanjutan hidup sajapun belum cukup, hidup-sekadar-hidup pun belum cukup. Hidup barulah hidup-sejati, -Life worth while living! -, jika hidup itu mempunyai arah dan mempunyai isi. Hidup barulah hidup-sejati jika hidup itu bukan hidup kosong-melompong. Berilah arah dan isi itu, berilah richting dan inhoud itu. Di samping Levenswil harus ada Levensrichting, harus ada Levensdiepte, harus ada Levensinhoud, harus ada Levenszin. Di samping Nationaal Levenswil, karenanya, hidup-hidupkanlah di dalam dadamu laksana Api yang membakar engkau punya jiwa: Nationaal Levensrichting, Nationaal Levensdiepte, Nationaal Levensinhoud, Nationaal Levenszin. Hidup-hidupkanlah di dalam dadamu: Pancasila, oleh karena Pancasila memenuhi semua tuntutan-tuntutan itu, dan oleh karena Pancasila memang inti-sari daripada Jiwa Indonesia!

Sebelas tahun kini usianya Proklamasi, dan dengan itu sebelas tahun kini usianya Republik.

17 Agustus 1945 memang bukan saja hari-lahirnya Proklamasi, 17 Agustus 1945 adalah pula hari-lahirnya Republik. Kini kita memasuki usia Republik tahun yang keduabelas. Tugas yang masih harus kita penuhi tampak jelas. Empat Dharma dari Panca Dharma masih menunggu penyelesaian. Selesaikanlah empat tugas yang belum selesai itu!

Dalam pada itu adalah satu pesan lagi dari saya kepada saudara-saudara semua.

Apakah pesan saya itu?

Kita telah memilih Konstituante, Dewan Penyusun Undang-undang Dasar. Insya Allah akhir bulan Oktober saya akan lantik Konstituante itu, sepulang saya dari perlawatan ke Rusia, Austria, Yugoslavia, Cekoslovakia dan R.R.T. Insya Allah saya akan gembira dapat berkata kepada sidang Konstituante: "Bentuklah satu Undang-undang Dasar bagi Republik Indonesia, Republik Kesatuan, berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke, berdaulat penuh, lepas-bebas dari tiap ikatan yang mengurangi kedaulatannya. Bentuklah satu Undang-undang Dasar bagi Republik Indonesia, – bukan Republik K.M.B., tetapi Republik Proklamasi!" Nah, saudara-saudara, Republik kita harus satu Republik yang mempunyai isi-hidup dan arah-hidup, satu Republik yang mempunyai Levensinhoud dan Levensrichting! Maka isi-hidup dan arah-hidup itu haruslah tercerminkan dalam Undang-Undang Dasar yang harus kita susun dalam Konstituante itu, sedapat mungkin telah dalam tahun yang akan datang.

Tahun yang akan datang dus adalah tahun yang amat penting. Dalam tahun yang akan datang itu Republik Indonesia harus menentukan Undang-Undang Dasarnya, paling sedikit inti Undang-Undang Dasarnya dan jiwa Undang-Undang Dasarnya. Dalam tahun yang akan datang itu Republik Indonesia harus menentukan secara definitif isi-hidupnya dan arah-hidupnya, secara definitif Levensinhoudnya dan secara definitif Levensrichtingnya.

Karena itu, pada saat kita berdiri di muka pintu-gerbang tahun yang akan datang itu, saya memesan kepada saudara-saudara: Renungkanlah hal ini dari sekarang dalam-dalam dan sungguh-sungguh, renungkanlah isi-hidup, arah-hidup, dasar-hidup, bagi Republik kita yang dapat menjamin keutuhan dan Kesatuan Republik, hidup-kekal Republik, hidup-berisi bagi Republik, dan kemudian tuanglah hasil-renungan itu dalam Konstitusi yang dibuat oleh Konstituante.

Dengan demikian, maka Dharma yang saya pesankan kepada saudara-saudara untuk di-selenggarakan dalam tahun yang akan datang, menjadilah lima buah lagi: empat Dharma sisa tahun yang lalu, satu Dharma babaran tahun sekarang. Dengan demikian, maka suatu "Panca Dharma Baru" saya minta saudara-saudara persembahkan tahun ini di atas persadanya Ibu Pratiwi:

Pertama : Gemblènglah terus Persatuan.

Kedua : Gemblènglah terus Keamanan.

Ketiga : Perhebatlah terus Pembangunan, terutama sekali dalam tarafnya yang pertama yaitu "Rencana Lima Tahun".

Keempat : Perhebatlah Perjuangan Irian Barat diatas segala lapangan. Agar Irian Barat lekas masuk kedalam kekuasaan de facto Republik.

Kelima : Tentukanlah isi-hidup, arah-hidup, dasar-hidup Republik dalam Konstitusi, yang menjamin Hidup Gemilang bagi Republik.

Terimalah lima pesan ini menjadi "Panca Dharma Baru" yang menghikmati seluruh lapisan Rakyat. Kerjakanlah Panca Dharma Baru itu dengan gegap-gempitanya élan, yaitu dengan gegap-gempitanya dinamik jiwa yang berkobar-kobar, dinamiknya jiwa yang tak mau patah. Terutama sekali dari kaum intelektuil dan kaum pemuda saya mengharap jiwa yang demikian itu. Mereka sebenarnya motornya Rakyat, mereka sebenarnya pengarah geraknya Rakyat. Tetapi ada di antara mereka yang berjiwa mlempem, dan ada pula yang karena putus-asa lantas nyelèwèng dari pendirian-pendirian demokratis dan progresif daripada Revolusi, dan lantas mengikuti pendirian-pendirian yang kwasi-revolusioner tetapi sebenernya nyelèwèng dari tujuan-asli Revolusi.