Chapter 2
Alangkah piciknya pemimpin-pemimpin yang demikian itu! Kemelaratan sahaja belum pernah membawa sesuatu kelas kepada kemenangan. Perobahan-perobahan sosial yang besar-besar belum pernah terbikin oleh kelas-kelas yang "mati-kutunya", tetapi selamanya terbikin oleh kelas yang sedang "menaik". Perobahan-perobahan-sosial itu selamanya adalah hasil-perjoangannya sociaal-opgaande klasen, oleh karena sociaal-opgaande klassen itu nanti yang akan memegang kendali masyarakat sesudah kemenangan. Bukankah di dalam peperanganpun j u m l a h sahaja b e l u m menjadi jaminan kemenangan? Jaminan kemenangan adalah di dalam tangannya tentara yang berorganisasi, berdisiplin, bersemangat, bersatu-hati, berkeras-kemauan, berpimpinan, cakap, bercukup bekal, berlengkap-senjata. Jaminan kemenangan adalah di dalam tangannya kelas yang sempurna syarat-syaratnya moril, materiil, teknis, dan o r g a n i s a t o r i s. Kalau tidak ada syarat-syarat ini, jangan mimpikan kemenangan!
Nah, syarat-syarat inilah musti disediakan dan dilengkapkan oleh fihak anti-Hitler di bawah tanah. Dan itupun baru berarti langkah yang pertama sahaja! Langkah yang kemudian ialah bahwa Kleinbiirgertum harus diputuskan persatuannya dengan kaum Nazi, dimatikan kecintaannya kepada kaum Nazi, – dan bahwa kaum tani harus diinjeksi masak-masak dengan simbolisme anti-fasis, agar mereka nanti, kalau ada aksi menghantam status quo, tidak membela status quo itu, tetapi sebaliknya membantu perjoangan menghantam status quo itu. Langkah yang pertama dan langkah yang kemudian itulah historische taak (kerja menurut kehendak sejarah) maha-sulit dan maha-haibat yang kini dipikulkan oleh kaurn proletariat di Jerman.
Akankah historische taak ini terselenggarakan selesai? Churchill adalah mengajarkan kepada kita, bahwa di musim bahaya baiklah kita jangan terlalu optimistis. Meskipun tidak putus-asa, baiklah jangan dilupakan, bahwa fasisme bukanlah "bikinan orang" bukan satu idealnya orang pengelamun, yang seperti rumah-dari-kartu akan gugur musna kalau ada sedikit angin yang bersilir. Fasisme adalah satu maatschappelijke realiteit, satu georganiseerde, tot de tanden toe gewapende maatschappelijke realiteit, yang sedia menghantam binasa segala apa sahaja yang membahayakan kedudukannya,- walaupun dengan membakar seluruh dunia, menyapu rata dusun-dusun dan kota-kota dengan meriam dan bom dan dinamit. Fasisme dulu, kini dan kemudian, asal dia masih hidup, adalah sebagai raksasa maha-syakti dan maha-kejam yang menggenggam petir dan halilintar didalam tangannya, yang tidak kenal kasihan dan tidak kenal ampun manakala kedudukannya terancam sedikitpun juga.
Pekerjaan yang maha-sulit dan maha-sukarlah terpikul oleh pundaknya kaum proletariat Jerman itu! Tetapi alhamdulillah, bantuan telah datang dari luaran: peperangan telah membantu pekerjaan itu. Peperangan yang sebenarnya diadakan oleh fasisme sendiri, peperangan itu justru menjadi salah satu tenaga yang mungkin m e m bantu kepada kematiannya fasisme itu.
Inilah dialektikn y a k e a d a a n, yang tak mungkin dielakkan oleh siapapun juga oleh karena wet dialektik memang wetna sekalian alam. Peperangan yang tahadinya dengan sengaja disedia-sediakan lebih dulu oleh fasisme itu dengan segala akal-syaitannya moderne strategie dan moderne techniek, peperangan itu akibatnya menjadilah satu "anti" bagi "laatste reddingspogingnya" monopool-kapitalisme itu. Peperangan itu i n t e r r u m p e r e n laatste reddingspoging itu, dan taufan-praharanya nanti mengkalang-kabutkanlah segala milik-milik dan tenaga-tenaga fasisme itu.
Tetapi sekali-kali ini tidak berarti, bahwa oleh karena adanya peperangan ini " d u s " dengan sendirinya "unvermeidlich" akan datang sosialisme di Jerman! Unvermeidlich akan datang satu pergaulan hidup sosialis di Jerman, sedang sekarang nyata kaum proletariat Jerman belum tentu habis selesai menyediakan syarat-syarat yang saya sebutkan tahadi? Apakah benar kata orang, bahwa, kalau satu kelas gugur, kelas*- musuhnya musti naik, – bahwa kalau kapitalisme binasa, sosialisme musti menggantinya? Ah, inilah yang dinamakan "vulgair Marxisme", inilah "Marxisme kecek kampung"! Seolah-olah dunia satu luilekkerland, satu firdaus, di mana segala barang yang diingini orang bisa didapat dengan sendirinya! Seolah-olah "datuk" Marxisme sendiri tidak mengajarkan lain, yakni menulis di dalam ia punya manifes yang termasyhur (notabene di pagina yang pertama): "Vrij man en slaaf, patricier en plebejer, baron en lijfeigene, gildemeester en gezel, in een woord: verdrukker en verdrukten, stonden in een voortdurende tegenstelling tot elkander en voerden een gestadigen, nu eens bedekte dan weer open strijd, – een strijd die altijd met een revolutionaire omvorming van de gehele maatschappij eindigde, of wel met de gezamenlijke ondergang der strijdende klassen".
Artinya: "Orang-merdeka atau budak, kaum ningrat atau kromo, kepala-kerja atau buruh dengan satu perkataan: penindas dan yang tertindas, selalu bertentangan satu sama lain, selalu berjoang satu sama lain, dan perjoangan ini selalu berakhir dengan perobahan susunan masyarakat sama sekali, atau dengan hancur-binasanya kedua-duanya kelas yang berjoang itu."
Hancur-binasanya kedua-dua kelas yang berjoang,ini kemungkinan adalah tertulis di dalam risalah Marx itu dengan kata-kata terang dan aksara-aksara terang! Namun di dalam tahun 1934, sesudah kaum Nazi maha-kuasa di Jerman dan mengamuk mengobrak-abrik hancur semua organisasi-organisasi yang memusuhi kepadanya, Internationale kaum buruh mengeluarkan manifes yang berbunyi: "Dari peperangan baru, yang nanti mungkin menimpa kita semua, maka niscayalah tidak-boleh-tidak ("mit unwiderstehlicher Gewalt") akan muncul pemberontakan proletar melawan penghasut-penghasut-perang fasistis serta majikan-majikannya yang imperialistis itu."
Lho, kok gampang di dalam manifes itu dituliskan "mit unwiderstehlicher Gewalt"! Kok gampang di situ dituliskan bahwa "niscaya tidak-boleh-tidak" pasti akan bangkit satu pemberontakan proletar! Padahal tidak benar, tidak tentu, tidak pasti bahwa dari peperangan ini "mit unwiderstehlicher Gewalt" akan timbul perlawanan proletar. Perlawanan proletar hanyalah mungkin kalau perlawanan itu d i s u s u n lebih dulu, diorganisir lebih dulu, disedia-sediakan lebih d u l u , dengan mengerjakan syarat-syaratnya semuanya. Perlawanan proletar itu tidak bisa datang dengan sendirinya, tidak bisa datang "vanzelf". Yang bisa datang "vanzelf" hanyalah kekalutan, kekacauan, barbarij!
Ya, yang "dengan sendirinya" datang, hanyalah barbarij! Barbarij, kekalutan, ketiadaan di dalam sejarah, akan datang di Jerman sesudah perang ini, kalau kaum buruh Jerman tidak bisa mengorganisir kembali iapunya tenaga sebagai sediakala, dengan menjauhi segala kesalahan-kesalahan dulu, yang ia sudah alamkan sendiri kebencanaannya. Barbarij, – "hancur binasa kedua-dua kelas yang berjoang", – dan bukan sosialisme, yang akan datang di Jerman, kalau kaum buruh Jerman tak mampu menyelenggarakan pekerjaan maha-sulit dan maha-berat sebagai yang saya gambarkan di muka tahadi. H a n y a kalau kaum buruh Jerman itu bisa menyelenggarakan pekerjaan ini, maka peperangan yang sekarang menaufan dan memprahara di atas bumi dan lautannya itu, bisalah menjadi satu "liberator" (pemerdeka) baginya, – pembantu-besar di dalam iapunya perjoangan menuju satu Dunia-Baru yang gilang-gemilang. Hanya kalau demikian, sekali lagi, hanya kalau demikian dan tidak lain!
Perang kini sedang berkilat terus sabung-bersabung. Bumi menggempa, angkasa menyala-nyala, separo dunia seperti kancah kenerakaan. Kleinbiirgertum dan kaum tani Jerman kini merasakan apakah artinya menjadi anak-emasnya Hitler. Akan sadarkah mereka siang-siang? Kalau Hitler menang perang, barangkali mereka akan terus cinta kepadanya. Tetapi kalau Hitler kalah, ya, kalau Hitler megap-megap sedikitpun sahaja, mereka niscaya akan menggerutu, akan mendongkol. Maka di sinilah kesempatan-baik bagi kaum buruh Jerman, buat menarik mereka sama sekali dari hikmahnya pukau yang memabukkan mereka itu sebagai penyudah dari pekerjaan menangkap hati Kleinbiirgertum dan kaum tani, yang memang dari tahadi harus dikerjakan.
Sekarang pekerjaan ini susah, tetapi, nanti kalau Hitler sudah mulai megap-megap, pekerjaan ini menjadi makin bertambah susah. Sekarang Hitler tidak hemat dengan concentratie-kamp dan senapan-pengedrelan, tetapi nanti kalau ia merasa posisinya terancam, ia malahan akan mengamuk habis-habisan, – main senapan-mesin dan main bom membombardir rakyat sendiri, main hantam tabula-rasa kepada siapa sahaja bangsa sendiri yang melawan kepadanya. Sekarang pekerjaan ini satu pekerjaan yang "toh pati", tetapi nanti pekerjaan itu makin "toh pati" lagi. Hitler bukan musuh yang setengah-setengah-hati, Hitler adalah manusia "kepanjingan syaitan" yang tidak kenal ampun. Buat membela kedudukannya, ya kalau perlu tak akan segan membakar hangus seluruh Jerman sendiri. Tetapi, sebagai Ernst Henri katakan tempohari, "that is already a second' war"- itu sudah lagi satu peperanga n yang k e d u a, yang, digabungkan dengan hantamannya Stalin dan hantamannya Churchill, akan mematah-remukkan dia sama sekali. Pekerjaan ini sungguh pekerjaan "toh pati", tetapi ganjarannya ialah satu dunia yang lebih aman.
Akhirnya, tidakkah semua orang yang melawan Hitler itu masingmasing "toh pati" juga? Saya mengunci artikel ini dengan menundukkan saya punya kepala, sebagai tanda kehormatan kepada semua orang yang menyediakan jiwanya kepada perjoangan melawan Hitler itu. Kepada heldennya R.A.F. dan Red Air Force, kepada heldennya Britse dan Russische Navy, kepada helden di darat dari semua nationaliteit – Inggeris dan Rusia dan Belanda, Czechia dan Polandia dan India dan lain-lain – yang satu-persatunya main catur dengan maut di padang-padang-peperangan dan samodra-samodra-peperangan melawan Hitler. Dan kepada itu onbekende dan ongenoemde helden pula, yang dengan diikuti maut di belakang tumitnya, menyusun di bawah tanah satu barisan-rahasia penghantam Hitler.
Kepada mereka itu semua, saya tundukkan saya punya kepala, dan saya ucapkan doa kepada Tuhan, moga-moga Dia memberkahi perjoangan mereka dan jiwa mereka itu semuanya.
"Pemandangan", 1941