Bahasa Melayu Baba

Part 2

Chapter 21,439 wordsPublic domain (Wikisource)

Pembentukan kata turunan dari akar kata melalui awalan dan akhiran, kaum Baba tidak tahu apa-apa; dalam banyak kasus namun mereka menggunakan kata turunan, tetapi tampaknya tidak memahami hubungannya dengan kata dasar: seperti misalnya kata "pnyapu", [alat sapu] sering digunakan, tetapi mereka tidak mengerti hubungannya dengan "sapu", [verba menyapu] dan jika seseorang menggunakan bentuk "mnyapu" mereka mungkin tidak akan tahu apa yang dimaksud.

Dalam beberapa kasus mereka hanya menggunakan bentuk turunan, dan tidak mengetahui akarnya sama sekali: "mnangis" dan "mnari" umum digunakan, tetapi akar kata "tangis" dan "tari" sama sekali tidak diketahui oleh mereka. Di sisi lain jika seorang Baba mengetahui akar kata, itu sama sekali tidak berarti bahwa dia akan memahami turunannya, dia tahu kata "suroh", tetapi tidak tahu apa-apa tentang "pnyuroh"; dia menggunakan kata "tunggu", tetapi tidak mengetahui kata "pnunggu".

Semua awalan dan akhiran yang digunakan oleh kaum Baba selalu berhubungan dengan kata-kata tertentu, tetapi tidak dengan yang lain, bahkan mereka menggunakannya tanpa mengetahui mengapa atau bagaimana mereka harus digunakan. Sufiks "-i", bagaimanapun, yang membentuk kata kerja transitif, praktis tidak pernah digunakan, dan dalam satu kata "mula'i" yang mereka gunakan, mereka tidak tahu bahwa kata itu merupakan turunan dari kata "mula" yang sering digunakan, karena mereka ucapkan itu "mulai" [dengan diftong 'ai'], dan kemudian membuatnya menjadi kata kerja transitif lagi dengan menambahkan akhiran serupa lainnya "-kan", membuat kombinasi luar biasa [aneh] "mulaikan".

Dengan cara yang sama, kaum Baba membuat kata turunan mereka sendiri yang tidak pernah digunakan oleh orang Melayu, dan bagi mereka terdengar sangat biadab; misalnya saya pernah melihat di cetakan seperti "kbersehan", "bharukan" untuk "bharui", "mmbikinkan", dll. Bahkan beberapa preposisi sederhana tidak pernah digunakan oleh kaum Baba: alih-alih preposisi "k-", ke suatu tempat, mereka selalu menggunakan "di", yang sebenarnya berarti 'pada'; kata "bagi", 'untuk', hampir tidak diketahui, dan kata "dngan", 'dengan', sangat sedikit digunakan, kata "sama" digunakan untuk melakukan tugas di mana orang Melayu menggunakan kata "dngan", "pada" dan bahkan "akan".

Kata-kata seperti yang digunakan dalam ungkapan sopan orang Melayu tidak pernah digunakan oleh Babas, dan hanya sedikit dari mereka yang tahu arti kata-kata itu jika mereka mendengarnya; Secara khusus saya merujuk pada kata-kata seperti "bonda", "adinda", "kakanda", yang digunakan oleh orang Melayu dari semua kelas dalam korespondensi pribadi mereka, dan juga pada bentuk-bentuk sapaan kepada orang-orang yang berpangkat lebih tinggi, dan kata ganti yang digunakan oleh yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi, berbagai kata untuk berbicara, seperti, "firman" Tuhan, "titah" raja, "sabda" nabi atau orang yang berpangkat tinggi, "kata" untuk orang sederajat, "smbah" untuk orang rendah yang menyapa seorang bangsawan. Keseluruhan sistem ungkapan ini praktis tidak diketahui oleh kaum Baba, dan demikian pula sebagian besar ungkapan keagamaan orang Melayu.

Akan tetapi, tidak perlu melangkah lebih jauh dalam masalah ini, karena cukup banyak yang telah dikatakan untuk menunjukkan dengan sangat jelas berapa banyak bahasa Melayu yang merupakan buku yang disegel [tidak diketahui] untuk kaum Baba.

3. Kata-kata Melayu yang salah diucapkan oleh kaum Baba

Para Babas tidak mengalami kesulitan dalam melafalkan setiap huruf dalam bahasa Melayu. Dalam hal ini mereka sama sekali berbeda dari imigran Tiongkok [orang Totok/singkek], yang sama sekali tidak dapat mengucapkan huruf r atau d, dan yang selalu mengubah akhiran s menjadi t, dan membuat berbagai perubahan lain yang sesuai dengan kekhasan mereka sendiri.

Kaum Baba salah mengucapkan kata-kata Melayu baik karena mereka menganggap cara pengejaan mereka sendiri lebih mudah, atau karena mereka menganggapnya lebih elegan. Mereka tidak mengalami kesulitan dalam membunyikan huruf b dan l, tetapi alih-alih "ambil" mereka mengatakan ambek atau bahkan amek, dan untuk "tinggal" kadang terdengar tinggek. Akhiran "ai" selalu berubah menjadi e dan "au" ke o, seperti sunge dan pulo untuk "sungai" dan "pulau".

Huruf terakhir "h" tidak dibunyikan sama sekali, sehingga "rumah" menjadi ruma, "bodoh" menjadi bodo, dan "boleh" menjadi bole; dengan demikian mereka tidak membedakan antara suara akhir "ai" dan "eh", keduanya dibuyikan e. Di sisi lain, akhiran "a" umumnya dibunyikan sebagai ak, dan kadang-kadang akhiran "i" menjadi ik: jadi alih-alih "bapa", "bawa", dan "pula", mereka menyebut bapak, bawak, dan pulak.

Korupsi suara huruf terakhir ini menyebabkan banyak kebingungan dalam beberapa kata; misalnya kaum Baba selalu mengucapkan "chari" sebagai charik atau charek, dan tidak tahu bahwa ini adalah kata yang sangat berbeda yang artinya merobek [mencarik-carik]: ada juga kebingungan yang serupa antara "bawa" dan "bawah". Para Baba juga sering menghilangkan huruf "h" di tengah kata seperti baru untuk "bharu", saja for "sahaja", saya untuk "sahya"; dan mereka memiliki sedikit kecenderungan untuk menghilangkan huruf "h" di awal kata, seperti pada kata "hati", "hanyut", dll.

Orang Melayu terkadang tidak membunyikan huruf "h" di awal kata, tetapi mereka selalu membunyikan huruf "h" di akhir kata, dan terkadang bahkan membawa huruf "h" di akhir kata tersebut ke awal kata berikutnya, seperti "rumah horang", "tlah hada", etc.

Korupsi lainnya hampir tidak dapat diklasifikasikan, jadi sebaiknya saya berikan beberapa contoh secara acak, misalnya, bergitu for "bgitu", ktawa untuk "tertawa", rti untuk "arti", kreja untuk "kerja", piara untuk "plihara", pegang untuk "pgang", sumpit untuk "spit", mnimpi untuk "mimpi", kmantin untuk "pngantin", smunyit untuk "smbunyi".

Kata-kata asal Arab pada umumnya lebih banyak dikorupsi daripada kata-kata Melayu murni, misalnya, pe'da untuk "faidah", jerki untuk "rzki", akérat untuk "akhirat", masohor atau mersohor untuk "mashhur".

4. Idiom Baba adalah bahasa Tionghoa dan bukan bahasa Melayu

Mungkin keanehan yang paling mencolok dalam cara para Baba menyusun kalimat mereka adalah sangat seringnya penggunaan partikel posesif punya, yang mereka gunakan persis seperti orang Hok-kien menggunakan partikel e [ 的]; tetapi kata punya karena suku katanya lebih banyak maka ketika digunakan lebih tidak praktis , dan menghasilkan kalimat yang canggung, seperti, “Dia punya mak-bapa ada dudok makan di sblah punya meja.” [mak-bapanya => dia 的 mak-bapa; meja sebelah => sebelah 的 meja] Ungkapan seperti “tiga bulan punya lama” [waktu tiga bulan => tiga bulan 的 waktu], “sperti macham itu punya kreta” [kreta macham itu => macam itu 的 kereta], selalu digunakan, dan terdengar menggelikan bagi orang Melayu. Kalimat-kalimat itu semuanya diambil dari tulisan para Baba sendiri.

Berikut adalah kalimat khas lainnya, “Ini macham punya orang fikir apa yang banyak salah ta’patut buat, dan apa yang sdikit salah boleh buat. Apa punya bodo satu fikiran ini?” Redundansi kata "punya" bukanlah satu-satunya kekhasan kalimat ini, yang penulisnya, meskipun ia tidak dapat berbicara bahasa Tionghoa, telah memberi kita penaksiran yang sangat dekat dengan idiom Tionghoa, dan seluruh kalimatnya adalah benar-benar tidak seperti apa pun yang dikatakan orang Melayu.

Pertama-tama ungkapan seperti ini macham [这样] dan apa yang [那么] tidak pernah digunakan oleh orang Melayu; alih-alih ini macham punya orang fikir [这样 的 orang fikir], orang Melayu akan mengatakan "pada fikiran orang yang dmkian"; dan sebagai ganti apa yang banyak/sdikit salah [那么 banyak/sdikit salah], orang Melayu akan mengatakan "ksalahan yang bsar/sdikit"; seorang Melayu mungkin akan mengatakan keseluruhan kalimatnya sebagai berikut: "Pada fikiran orang yang dmkian, ksalahan yang bsar tiada patut di-perbuat, dan ksalahan yang sdikit boleh di-perbuat."

Kalimat terakhir “Apa punya bodo satu fikiran ini?” [那么 bodo satu fikiran ini] [alih-alih "bodoh sekali pikiran ini"] bahkan lebih asing lagi bagi idiom Melayu. Perhatikan bahwa dalam kalimat di atas sebagaimana direkonstruksi dalam idiom Melayu, digunakan bentuk pasif "di-perbuat"; orang Melayu tentu saja banyak menggunakan konstruksi ini baik dalam tulisan maupun percakapan, tetapi orang Baba hampir tidak pernah menggunakannya [imbuhan / bentuk pasif] sama sekali.

Keunikan lain dari kaum Baba adalah bahwa mereka hampir selalu membuat kata ganti kata sifat itu dan ini mendahului kata benda [mengikuti pola bahasa Tionghoa] alih-alih setelah kata benda, sebagaimana seharusnya menurut idiom Melayu. [mis. itu orang alih-alih "orang itu"]

Lalu kemudian, kaum Baba menggunakan kata kerja “to be” dengan cara yang sangat berbeda dari idiom Melayu; ambil kalimat seperti, “Ini ada btul salah;” “ini macham punya orang ada bodo”’—tidak ada orang Melayu yang akan menggunakan "ada" dalam hubungan seperti itu sama sekali. Mereka juga mengikuti idiom bahasa Inggris yang menempatkan kata kerja “to be” di akhir kalimat, sehingga, “brapa chantek dia-orang ada,” “how beautiful they are.” [alih-alih "cantik sekali mereka"]

Ungkapan Tionghoa lainnya adalah penggunaan datang untuk “di sini” atau “ke sini”, seperti penggunaan kata lai [ :wikt:来] dalam bahasa Tionghoa, seperti dalam kalimat, “knapa t'ada bawa dia datang?” [alih-alih "mengapa tidak membawa dia ke sini"] dan “Kalau lu jalan datang.” [alih-alih "kalau kamu jalan ke sini"]

Pernah digunakan dalam arti “pada suatu waktu”, sebagai lawan dari ta'pernah, “tidak pernah”, seperti halnya orang Hok-kien menggunakan kata bat dan m-bat, seperti, “kuda yang sudah pernah tanggong seksa,” “seekor kuda yang telah menderita pada suatu waktu;” “kuda yang sudah pernah jatoh”, “kuda yang pernah jatuh;” kutipan-kutipan ini berasal dari terjemahan “Black Beauty” oleh Mr. Goh Hood Keng, yang berbicara sedikit bahasa Mandarin.

Berikut ini juga dapat diberikan sebagai contoh frasa yang khas Tionghoa—"Dipiarakan sampai mnjadi orang,” “diurus sampai dia dewasa” = Tionghoa chia n -lang [成人 jadi orang] ; tengok rengan, alih-alih "pandang mudah" = khoa n -khin; “orang yang kna dia pukol”, “orang yang dipukulinya” = ho i phah.