Arahan Presiden pada Sidang Kabinet Paripurna Membahas Antisipasi Dampak Krisis Keuangan AS
Part 2
Ekspor, kita tahu tadi Menteri Keuangan akan melakukan sesuatu agar lebih kompotitif barang-barang kita. Lantas impor, tadi ada pikiran bagaimana kita menahan impor tidak mengalami defisit. Tolong dilihat one by one dan kemudian kita jalankan bersama karena setiap konponen menyumbang pada pertumbuhan itu secara bersama-sama. Mari kita manfaatkan perekonomian domestik, Newsweek atau Times, saya lupa baca minggu ini, bahwa kita hanya 29 % perdagangan kita dibandingkan China 40 %, Vietnam 78 %. Apa yang kita pikirkan tahun 2005 tidak keliru bahwa kita tidak bisa mengikuti jejak ekonomi Taiwan, Korea Selatan, Singapura, bahkan Macan Asia yang exsport oriented economic. Kita harus juga membesarkan domestic market kita.
Ketika terjadi krisis seperti ini, ternyata itu menjadi satu pengaman dan kembali ke sabuk pengaman, ambil pelajaran krisis 1998. Sabuk pengaman perekonomian kita UKM, pertanian, sektor informal. Meskipun ya saya katakan tidak seburuk 1998, make sure, bahwa itu menjadi basis pengaman dari ekonomi kita, ketika kita mengalami goncangan, meskipun goncangan itu berawal dari luar negeri itu yang kedua.
Yang ke tiga, Saudara-saudara, mari kita optimalkan APBN 2009 untuk tetap memacu pertumbuhan dan membangun social safety nett. Alokasi untuk pembangunan infrastruktur dan stimulasi pertumbuhan lainnya mesti cukup. Ingat ini adalah penyumbang growth dan employment. Bicara infrastruktur, jangan lupakan listrik. Tanpa listrik, industri tidak bisa bergerak, banyak sekali yang berkaitan dengan permintaan listrik ini. Pastikan dalam struktur APBN kita yang sedang digodok bersama DPR cukup, karena kita ingin sekali lagi memelihara momentum pertmbuhan ini.
Yang kedua adalah alokasi untuk penanggulangan kemiskinan, social safety nett juga mesti cukup. Kita harus bersimpati kepada rakyat miskin. Semua ingin dari Wall Street tidak masuk main street, dari main street tidak masuk dari kantong-kantong ekonomi lemah saudara-saudara kita. Ini masalah moral, ratusan triiun, ribuan triliun digunakan untuk bailout, tapi itu disertai dengan misalkan unemployment, disertai dari kesulitan yang paling bawah. Nah, kalau tidak kita berikan, sebagai bagian dari new deal, berarti tidak adil kita, karena itu program tiga cluster yang telah disampaikan Menteri Keuangan mesti kita jalankan, mesti kita sukseskan. Manakala ada tarik-menarik di DPR harus bisa dijelaskan bahwa ini adalah bagian untuk social safety nett, empati kepada rakyat kita. Mereka golongan yang sangat memerlukan. Kalau mereka mendapatkan keadilan semua upaya kita akan mendapatkan dukungan dan politik berkaitan dengan dukungan rakyat. Mari kita pastikan di situ, saya garis bawahi, pangan dan BBM prioritas tahun ini, tahun depan.
Saudara,
Yang ketiga adalah devisit anggaran harus tepat dan rasional. Saya tidak mematok berapa persen --Bu Ani 1,7; 1,8 ; 1,6 persen. Tetapi bagi saya, pertama, tetap kita berharap terjadi pertumbuhan dan kemudian dengan struktur penerimaan dan pembelanjaan itu defisit. Juga ada dana untuk penanggulangan kemiskinan, growth of equity pilihan kita, mari kita jalankan. Jangan kita ulangi kesalahan ideologi ekonomi seperti itu. Tetapi defisit itu saya menyadari sumber-sumber pembiayaan tidak semudah sewaktu nggak ada krisis keuangan. Ya tetap dapat dibiayai, ditutup, kalau tidak ya menganga disitu.
Kemudian masih berkenaan dengan APBN, tadi Wapres mengingatkan lihat kembali penerimaan negara dari sumber daya alam, minyak, gas, barang-barang mineral, barang tambang. Tolong dilihat, semua harus sharing dalam kondisi seperti ini. Harus. Kalau saudara membaca wawancara Won Ca Pau sahabat saya di Newsweek minggu ini dikatakan, karena diwawancarai oleh wartawan Amerika Won Ca Pau mengatakan Adam Smith menggunakan invisible hand tapi yang paling baik ya campuran invisible hand dan visible hand. Peran pemerintah dalam arti ini menjadi melengkapi untuk semua yang tidak diserahkan pada mekanisme pasar, kita harus melakukan seperti itu apalagi negara dalam keadaan menghadapi kesulitan ekonomi.
Dan masalah APBN yang terakhir, ini untuk para menteri semua hadir disini, yang juga akan mengelola, mengolah bersama-sama DPR saya ingatkan sekali lagi, tetap dilakukan efisiensi dan pembatasan pembelanjaan yang konsumtif, pembelanjaan yang dapat ditunda. Untuk apa? Mari kita yakinkan betul setiap rupiah yang kita keluarkan lebih pada stimulasi pertumbuhan, lebih pada social safety nett. Demikian juga APBD, Mendagri, Menteri Keuangan pastikan betul APBD juga punya structure, punya politik yang sama dan yang berlaku pada tingkat national. Jangan terlalu banyak untuk yang konsumtif, harus lebih banyak yang produktif. APBN sangat-sangat penting dan memang dalam situasi seperti ini, ada orang berpendapat solusinya moneter, ada orang berpendapat solusinya fiskal. Saya lebih memilih solusi fiskal lebih dulu dan moneter mengimbangi, karena bagaimanapun lebih dairet dan lebih nyata, lebih cepat kita rasakan hasilnya, itu direktif saya yang ke tiga.
Yang keempat, bagi teman-teman di kalangan dunia usaha, sektor riil harus tetap bergerak meskipun saya tahu, ekspansi bisa berkurang ke depan. Logis, negara manapun juga begitu. Mengapa? Kalau sektor riil bergerak, saudara tetap mempertahankan kinerjanya, pajak dan penerimaan negara tetap terjaga dan berterima kasih kami, agar pula pengangguran tidak bertambah, tidak ada gelombang PHK. Itu harapan kami, harapan rakyat, harapan pekerja dan itu semua berada di tangan dunia usaha, yang sangat penting perannya, bukan hanya pada masa sekarang ini, tapi juga pada masa normal. Oleh karena itu sinergi yang harus kita bangun adalah BI dengan jajaran perbankan, silakan mengembangkan policy yang memungkinkan kredit dan likuiditas itu bisa tersedia agar sektor ril bergerak. Saya tidak ingin menyampaikan pasnya berapa suku bunga itu, dikaitkan dengan inplasi dan sebagainya, saya kira Gubernur BI punya otoritas bekerjasama dengan Menteri Keuangan, berkonsultasi atau berkomunikasi dengan dunia usaha sehingga ada policy mix yang tadi berkali-kali disebut moneter policy dan fiscal policy.
Kadin mengusulkan kerjasama, bank sentral kita dengan bank sentral negara-negara lain, saudara masih ingat, dulu waktu krisis 1997-1998 nyaris kita itu tidak punya kawan untuk saling membantu, barangkali karena negara lain juga repot atau barangkali karena situasi politiknya khas negara waktu itu. Tahun 2005 sesungguhnya kita mengalami permasalahan kurs teguncang waktu itu, saham, devisa kita, tapi dengan cekatan gubernur BI, menteri keuangan dan kita semua bekerja. Saya juga berkomunikasi lewat telepon saya menulis surat, saya ngirim message kebeberapa pemimpin Asia, Perdana Menteri China, Perdana Menteri Jepang, Perdana Menteri Thailand, Perdana Menteri Singapura dan mereka mengatakan suatu pikiran yang positif, mudah-mudahan ini bisa meringankan beban dunia usaha.
Kewajiban dunia usaha, kewajiban swasta, ada kewajiban BI, kewajiban kami pemerintah, ada kewajiban dunia usaha. Saya berharap lebih resilient dan berupaya sekuat tenaga mempertahankan kinerja, tetap mencari kinerja, tetap share the hardship. Tentu tidak ideal, tapi kalau dunia usaha menunggu, semuanya beres pemerintah mengatasi semuanya tentu tidak mungkin terjadi, perlu berbagi dengan masing-masing menjalankan kewajibannya, itu yang ke empat.
Yang ke lima, saudara-saudara tadi digambarkan even apa yang terjadi di Eropa, yang terjadi di Asia, terjadi di Amerika, sesuai dengan gelombang sunami keuangan yang episentrumnya di Amerika tadi. Oleh karena itu yang ke lima saya berharap kita semua cerdas menangkap peluang, opportunity, misalnya untuk melaksanakan perdagangan, kerjasama ekonomi lainnya dengan negara-negara sahabat, ekonomi Asia meskipun turun 11 menjadi 9 %, di China, India, 8 turun menjadi 7 barangkali, tetapi menurut saya tetap ok. Dua minggu lagi saya akan menghadiri pertemuan Summit, KTT di Beijing, saya akan gunakan kesempatan ini untuk bertemu dengan Presiden Hu Jin Tao atau Perdana Menteri Won Ca Pau dan teman-teman lain bagaimana kita di Asia ini bisa melakukan satu kerjasama karena kita punya posisi yang, insya Allah, better dibandingkan negara-negara lain terutama dari segi keuangan.
Pasar di Amerika dan di Eropa akan lebih tertutup kita tahu semua dan barangkali melemah untuk ekspor kita. Oleh karena itu solusinya bikin produk kita lebih kompetitif dibandingkan produk negara-negara lain. Untuk bisa kompetitif kembali macam-macam produktivitas, insentif dan sebagainya. Jangan keliru kita membaca, dimana opportunity ada dalam masa-masa seperti ini, patner kita yang paling baik siapa, Jepang, Amerika, China, atau negara-negara lain. Barangkali kita bisa mendapatkan peluang. Saudara, tahun 2005 kita dengan China --saya masih ingat Presiden Hu Perdana Menteri Won bersama-sama kita ingin tahun 2010 itu volume perdagangan kita 30 billiun loan dengan Indonesia – China. Kita ingin tahun 2008 ini 20 billiun. Dubes kita di Beijing melapor kepada saya, tahun ini Insya Allah kita sudah mencapai 26 atau 27 billiun, berarti akan terlampaui target 30 billiuen. Barangkali, saya tidak tahu dengan situasi keuangan ini, tahun depan 2010 it’s mean ada opportunity besar. Jangan kita sia-siakan.
Yang ke enam, mari kita lakukan lagi, saya garis bawahi lagi, karena sudah berulang-ulang, sejak orde baru, orde reformasi, agar kita lebih menggunakan produk dalam negeri, produk Indonesia. Kampanye besar-besaran, yang paling gampang kalau kita mengurangi impor kita menggunakan produk dalam negeri. Dalam situasi seperti ini, create account, akan sangat dibebaskan dari tekanan-tekanan, kemudian pasar domestik kita makin kuat dan tumbuh, saya sudah mengatakan tadi ini jangan dilupakan. Yang ke tiga menteri terkait berikan insentif dan disinsentif agar kita benar-benar menkonsumsi produk dalam negeri.
Saya ingatkan, mana Pak Wacik, tenaga kerja mana Pak Erman, itu sektor yang mesti kita genjot, karena kalau kita mendapatkan devisa lebih banyak lagi akan teringankan neraca pembayaran. Saya tahu tidak mudah, challenging, tapi justru jadikan ini opportunity. Kalau kita dapat di situ, neraca pembayaran kita selamat. Nanti kalau krisis sudah selesai kita akan mendapatkan penguat baru dalam pertumbuhan ekonomi kita.
Kemudian tadi Wapres titip saya, proyek-proyek luxurious import, barang-barang yang berkaitan dengan itu bisa ditunda dulu supaya kita tidak terlalu berat. Kita punya beban pembiayaan impor. Saya memandang perlu, tolong dirumuskan kepada menteri terkait, sebuah intruksi kepada jajaran pemerintah, kalau perlu lewat Inpres, agar dalam precurement pengadaan barang itu mengutamakan industri nasional. Berkali-kali kita sampaikan, masih saya lihat lebih suka beli dari luar negeri. Mari kita hentikan budaya yang tidak masuk akal, yang berlebihan, menyedot devisa, mungkin masih ada, mungkin yang harus kita basmi, karena kalau itu terjadi industri nasional tidak bergerak, kita tergantung memberikan sesuatu yang bagi negara tidak ada menfaatnya.
Saya juga meminta semua, dalam suasana seperti ini mencegah mengalirnya barang-barang produk-produk luar negeri secara besar-besaran, dumping --saya mendapat informasi, bisa jadi produk negara-negara yang selama ini mengalir ke Amerika, ke Eropa, karena pasarnya menciut, itu balik kanan, atau belok kanan, membanjiri Indonesia. Harus kita cegah. Imigrasi, Bea dan Cukai semua harus ketat, disiplin, supaya tidak tertembus oleh seperti itu akhirnya melumpuhkan produksi dalam negeri. Itu yang ke enam saudara-saudara.
Direktif yang ke tujuh, mari kita perkokoh sinergi dan kemitraan atau patnership diantara pemerintah, Bank Indonesia dan jajaran Perbankan, swasta atau dunia usaha. Saya meminta dengan sangat, cegah dan hilangkan prejudice, curiga, pemerintah mencurigai dunia usaha, dunia usaha tidak percaya kepada pemerintah, dianggap BI tidak tepat kebijakannya, BI menganggap dunia usaha tidak benar. Itu harus kita hentikan. Semua berperan saudara-saudara, semua penting, swasta dan bisnis, merekalah yang memberikan pajak, memberikan lapangan pekerjaan, bukan pemerintah. Pemerintah memerlukan penerimaan, revenue, untuk membiayai pembangunan. Bukan untuk apa-apa, revenue terhenti, pajak tidak masuk, ya kita tidak bisa membangun, membiayai urusan pemerintahan, termasuk membangun negeri ini.
Bank Indonesia dan perbankan dengan kebijakan moneter, tentu berperan mendanai sektor riil dan mengelola inflasi. Saya hanya ingin menggambarkan semua penting, semua simpul harus berpungsi dengan benar. Kalau ada masalah diantara kita, mari kita pecahkan dengan baik, mari kita cegah tindakan yang unilateral, sepihak, sepanjang itu tidak berkaitan dengan pelanggaran hukum. Ya kalau pelanggaran hukun, ya hukum ditegakan. Tapi kalau sifatnya non hukum, bukan crimes, ada dispute, ada dispute seettlement mechanism, mengapa tidak kita gunakan? Ini bangsa, bangsa sendiri, kita, kita sendiri, ekonomi, ekonomi kita sendiri, mengapa kita lantas tidak bisa duduk bersama untuk mengatasi masalah itu.
Ingat saudara, pengalaman pahit krisis 1998, tidak ada saling kepercayaan dulu. Saya ingat, tidak ada kebersamaan, strategi yang kita tempuh, strategi SDM --Selamatkan Diri Masing-masing. Kita ketawa, tapi itulah dulu. Ada lagi sikap mental perusahaan boleh bangkrut, tetapi saya pribadi tetap jaya. Ada mungkin di kalangan dunia usaha, di kalangan pemerintah, ada juga sikap mental, sambil ngurusi cari rejeki, ya korupsi. Ada saya kira itu sisi gelap masa lalu yang mari sama-sama kita cegah untuk tidak terjadi lagi, jangan terjadi lagi, akan raih masa depan kita kalau kita bisa keluar dari seperti-seperti itu.
Yang ke delapan, ini penting, kita banyak merugi, kita banyak jalan di tempat. Akibat ini, hentikan dan ubah sikap ego sektoral. Pertama-tama yang jelas memalukan, embarassing. Yang kedua, menghambat momentum, yang ke tiga merusak kepercayaan. Ini bagaimana ini mau investasi di Indonesia, mau bisnis di sini, pecah konsi semua. Saya tidak bisa menerima kalau sama sekali tidak ada solusi, tidak ada jalan keluar. Saya ingatkan kita ini betapapun penting dan kuatnya institusi tidak akan pernah bisa bekerja sendiri, siapapun termasuk saya Presiden, termasuk Pak Jusuf Kalla Wakil Presiden, termasuk semua. Kita memerlukan patnership, kita memerlukan kerjasama. .
Direktif yang ke sembilan adalah semua tahu tadi diangkat juga oleh Pak Hidayat, oleh Ibu Ani, Pak Budiono agak kurang hobi bicara politik, tahun 2008-2009 dikatakan adalah tahun politik dan tahun pemilu. Ada permintaan Bu Ani, janganlah isu ekonomi dipolitikan. Ya pasti terjadi Bu Ani, we have to be more realistic, that’s politic. Tetapi yang penting, jangan kehilangan kejernian berpikir kita. Mesti kita hadapi, nanti kita surprise dan tidak siap, dikiranya baik-baik saja. Mesti ada seperti itu. Harapan saya sebagai kepala negara, saudara-saudara, mari kita lakukan politik yang lebih non partisan, khusus mengatasi masalah-masalah ini, untuk kepentingan rakyat. Non partisan dalam arti ya ada konsensus, ada kompromi, ada bagaimana baiknya untuk rakyat, baiknya untuk negara, baiknya untuk masa depan. Ya mari kita nomorduakan kepentingan kelompok, tapi tidak mungkin diabaikan. Saya berharap, pemerintah Bank Indonesia, DPR, DPD, Dunia Usaha dan pelaku lainnya, sama-sama kita melakukan peran yang positif dan konstruktif.
Less but not least yang nomor sepuluh, dan ini tidak kalah pentingnya karena memburuknya situasi 1998 dulu karena kepanikan, informasi yang tidak dimiliki oleh masyarakat luas, sehingga apa yang terjadi ya kepanikan. Oleh karena itu, mari kita lakukan komunikasi yang tepat, bijak kepada rakyat. Jujur, jangan beri angin surga.. oh semuanya akan baik, tenang-tenang saja. Don’t worry be happy, misalkan gitu. Itu tidak mendidik. Memang ada masalah, ada pengaruh dari krisis keuangan global ini, namun mari kita mulai dari diri kita dan semua tetap kita ajak berpikir positif dan tetap optimis. Cegah statement yang bukan kewenangannya, maupun yang tidak perlu, yang tidak punya kaitan dengan fiskal dan moneter.
Kita ngomong tiap hari bikin rusak nanti, ataupun kewenangannya tapi tidak perlu. Setiap masalah langsung disampaikan ke publik karena bisa terjadi mis-persepsi. Tapi pada saatnya menjelaskan, jelaskan. Pada saatnya menyampaikan ke publik, sampaikan. Pada saatnya ada acara dengan media, dengan editor, lakukan. Dengan demikian informasi yang akurat yang benar itu bisa di terima masyarakat kita. Di sini banyak pimpinan media massa yang hadir, saya hanya berharap karena peran pers dan media massa sangat penting, saya percayakan penuh bagaimana saudara-saudara bisa berperan pula terhadap keberhasilan upaya kita sebagai bangsa sebagai negara untuk mengatasi persoalan ini.
Itulah sepuluh direktif yang saya sampaikan dan tentu ini bukan pertemuan yang terakhir, tetapi saya berharap channel ini, forum seperti ini, dibuka diantara kita, yang kecil yang lebih efektif yang kadang-kadang besar agar pikiran-pikiran yang luar biasa. Tadi dari Kadin mewakili pikiran saudara-saudara, pikiran dari Gubernur B, pemerintah policy- nya, itu juga betul-betul bisa disinergikan sehingga semuanya akan berhasil dengan baik. Di sini banyak ekonom, para pengamat, saya juga menitipkan sesuatu agar berperan secara konstruktif karena ini waktunya untuk kita joint hand, bersama-sama mengatasi masalah ini dengan sebaik-baiknya.
Itulah saudara-saudara yang ingin saya sampaikan. Saya tahu Gubernur BI dan Menteri Keuangan akan tugas ke luar negeri, saya minta yang menjadi Ad Interim itu melakukan konsultasi dan pekerjaan bersama terus-menerus, jangan sampai ada yang vakum, jangan sampai ada respon yang terlambat. Dengan demikian, dengan antisipasi yang baik, kita selalu bisa mengambil keputusan dan selalu bisa menetapkan yang baik pula.
Itulah bapak, ibu ,saudara-saudara sekalian, terimakasih atas kehadirannya. Dan ini hari yang bersejarah untuk kebersamaan kita dicatat oleh sejarah, pula sebagai sebuah upaya untuk memelihara momentum pertumbuhan, ekonomi kita dan mengatasi dampak dari krisis keuangan.
Terima kasih, selamat berjuang, Tuhan beserta kita, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Kategori:Pidato Presiden Indonesia