Maxims and Opinions of Field-Marshal His Grace the Duke of Wellington, Selected From His Writings and Speeches During a Public Life of More Than Half a Century

Chapter 3

Chapter 33,271 wordsPublic domain

Janganlah hendaknya kita menjatuhkan sesuatu pendapat atas sesuatu perkara, sebelum kita mengerti seluk-beluknya perkara lebih dulu. Mengertilah lebih dahulu! Kalau sudah mengerti, bolehlah ke­mudian than benarkan atau tuan salahkan, tuan puji atau tuan cela, tuan cium atau tuan pukul!

Marilah kita "ambil" sejarah Turki itu lebih dulu secara kilat.

Duapuluh abad sebelum Nabi Isa: Asia Depan sudah masuk benar­-benar ke dalam lapangan histori. Di sana sudah berdirilah tegak-tegak kerajaan Heitiet. Mulai dari dua ribu tahun sebelum Isa itulah boleh dikatakan Asia Depan selalu berada di dalam kancah pergolakan inter­nasional, yang menyala, yang selalu mendidih, menggolak, mengapi, menyala. Apa sebab? Sebabnya tak sukarlah kita mengerti: Asia Depan adalah satu negeri "cepitan" antara Timur dan Barat, satu "overgangs­land" antara Orient dan Occident. Tiap-tiap negeri cepitan, – apa lagi negeri cepitan antara dua benua, dua peradaban, dua daerah budaya sebagai Asia Depan itu tak akan mengenal perkataan tenteram.

Lihatlah kerajaan Heitiet di Asia Depan itu! Baru beberapa abad sahaja ia berdiri sudahlah ia digempur lebur oleh bangsa Thuracia dan Hellenia (Yunani), dan Baru sahaja kekuasaan Hellenia ini subur di situ, sudahlah ia pula digempur lebur oleh raja Cyrus dari Iran.

Tetapi belum lama pula kultur Iran ini berkembang di sana, maka sudahlah Iskandar Zulkarnain merampas Asia Depan dan memasukkan Asia Depan itu ke dalam ia punya kerajaan-dunia yang maha-luas. Tetapi tuan tahu pula: Iskandar tidak lama hidup: sesudah ia mati, gugur kembalilah susunan ia punya kerajaan-dunia yang maha-luas itu. Asia Depan ikut-­ikutlah di dalam keguguran ini, ratusan tahun lamanya, ia terpecah-­pecah-belah dan terkucar-kacir. Baru sesudah kekuasaan Hellenia tegak kembali di situ, terutama sekali sesudah kekuasaan Rumawi men­jadi kuat di Asia Depan (sesudah Nabi Isa), datanglah ketenteraman dan kesejahteraan.

Tetapi – juga di dalam kerajaan Hellenia-Rumawi ini, yang sebagian rakyatnya ielah memeluk agama Nasrani, datang lagi perpecahan! Negeri Hellenia-Rumawi ini, yang satu memisahkanlah diri dari yang lain, bagiannya yang sebelah Timur dengan ibu-kotanya Byzantium (Istambul yang sekarang) menjadilah satu kerajaan Nasrani sendiri, memisahkan diri sama sekali dari bagian sebelah barat dengan ibu-kotanya Roma.

Bagian yang Timur inilah, Byzantium – menegakkan sendiri satu haluan agama Nasrani, yang biasa dinamakan orang gereja "Katolik­Grik". Bagian yang Timur inilah menegakkan satu cara-pemerintahan sendiri pula, yang dinamakan caesaro-papisme, yakni, satu cara-pemerin­tahan yang segala kekuasaannya digenggam oleh seorang kaisar, tetapi kaisar ini menjadi kepala agama juga. Di sinilah bagi Asia Depan itu permulaan cara-pemerintahan negara disatukan dengan religi. Kaisar merangkap menjadi paus, – paus merangkap menjadi kaisar.

Perhatikan! Ini caesaro-papisme di Asia Depan terjadi sebelum Asia Depan dimasuki Islam, ya, sebelum ada agama Islam. Sebab di bawah pemerintah Justinianus, yang memerintah antara 527 dan 565, – dua abad sebelum kita punya maha-pemimpin Nabi Muhammad s.a.w. lahir di dunia, – di bawah Justinianus itu, caesaro-papisme ini sudah lama subur, sudah lama berkembang-biak, berdiri berkemegahan, membubung keudara ia punya kemasyhuran sampai terlihat dari ujung-ujungnya dunia­ peradaban di waktu itu. Byzantium, Constantinopel, – dinamakan begitu buat memuliakan nama kaisar Constantijn de Grote yang pertarna-tama masuk Nasrani -, Byzantium menjadilah pusatnya peradaban grieks­katholiek, dari mana-mana datanglah orang-orang ke Byzantium itu buat berdagang atau mencari ilmu. Kebudayaan "Byzantium-Grik" menanam­kan ia punya akar-akar dalam sekali di dalam bumi Timur di Asia Depan dan di sekeliling Asia Depan, akar-akar, yang walaupun di kemudian hari kerajaan Byzantium itu gugur, musnah dari dunia, toch masih sahaja terus tertanam ia punya pengaruh di situ, sampai puluhan tahun, ratusan tahun, ya, sampai ke zaman yang akhir-akhir. Kebudayaan-kebudayaan Byzantium-Grik Asia Depan yang kemudian memberi cap kepada ben­tuknya kesenian, cap kepada outlook-nya agama (juga agama Islam!), cap kepada ideologi pemerintahan, cap kepada adat-istiadat rakyat sehari­-hari, cap kepada segala adat-kebiasaan kelakuan rokhani dan jasmani dari rakyat di Asia Depan itu.

Tetapi marilah lebih dulu meneruskan kita punya "perjalanan kita"! Kerajaan Byzantium ini di dalam abad ketujuh berdiri masih tegak, tetapi dari Tenggara datanglah satu musuh yang maha-haibat, yang di ke­mudian hari akan berangsur-angsur menggoncangkan dan membelah­-leburkan ia punya alas-alas dan pandemen-pandemen: kerajaan Islam, yang pada waktunya kaisar-paus Heraclius (pertengahan abad ketujuh) telah melebar ke Sirya, ke Irak, ke Syarkular dan ke Mesir, ke Iran. Malahan sampai dua kali perajurit-perajurit telah masuk Asia Depan, dua kali mereka mengepung Constantinopel, tetapi dua kali pula tentara kaisar-paus dengan amat susah-payah sekali masih dapat memukul mereka kembali.

Musuh baru ini ternyatalah satu musuh yang maha ulet. Dipukul dengan pedang ia dua kali mundur, tetapi dengan jalan lain ia telah masuk ke dalam selimut pula: orang-orang Islam banyak yang masuk ke Asia Depan sebagai budak belian. Dengan jalan begitu berangsur­-angsur ke dalam Byzantijnse verdedigingslinie masuklah pula pengaruh Islam, masuklah Islam itu ke dalam pusat-jantungnya masyarakat Byzan­tium, sebagaimana di zaman sekarang negeri-negeri kemasukan pengaruh­nya "vijfde colonne".

Dengan begitu, – dan ada juga sebab yang lain-lain yang tidak saya bicarakan di sini, dengan begitu makin lama makin lapuklah kekuasaan kerajaan Byzantium itu! Dan tatkala pada pertengahan abad kesebelas bangsa Islam Seldsyuk dari sebelah Kirgis-Irania menyerbu ke negeri itu, gugurlah sama sekali ia punya kekuasaan di bagian Ikonia, dan di sinilah buat pertama kali bisa berdiri kerajaan Islam di daerah Byzantium yang tahadinya maha-haibat itu: Ikonia, atau di tarich Islam sering dinamakan Rum, satu nama yang kita semua sudah kenal. Ikonia., atau Rum, yang memasukkan ke dalam peradaban Grieks-Byzantijn itu satu elemen baru, satu "dzat" baru, satu Nap" baru, yang juga akan tetap bersulur-akar di dalam peradaban Asia Depan yang kemudian: capnya peradaban Iran.

Jadi, apakah cang kita lihat kini di Asia Depan itu? Kini kita melihat campuran dari tiga peradaban: peradaban Grieks-Byzantijn, ditambah dengan peradaban Arab (Islam), ditambah dengan peradaban Iran! Campuran dari tiga peradaban inilah yang selalu musti kita ingat, kalau kita mau mengerti sifat dan wujudnya anggapan-anggapan dari rakyat-rakyat dari sebelah Timurnya Lautan Tengah. Campuran dari tiga peradaban inilah yang menjadi kunci bagi kita buat membuka banyak soal-soal yang kemudian hari sudah begitu lazim, sehingga tidak berupa "soal" lagi, tetapi "ditelan" sahaja oleh umat-umat Islam sebagai "hukum-hukum Islam" yang "murni" dan "sejati". Campuran dari tiga peradaban inilah yang misalnya sahaja menerangkan kepada kita asal­-asalnya orang Islam ikut-ikut mengurung dan menutup dan "menyelimuti" perempuan (operan adat Grieks-Byzantia), asal-asalnya orang Islam benci kepada rasionalisme atau kemerdekaan akal, gemar kepada agama "bila kaifa" dan kesufian (operan dari mistik Iran).

Dan perhatikan: saya menulis di sini dengan terang "orang-orang Islam", dan bukan orang Islam di Ikonia sahaja! Sebab sudah pada permulaan abad ketigabelas ibu-kota negeri Rum itu menjadi satu pusat perdagangan dan ilmu, yang didatangi oleh orang dari mana-mana, sebagai juga Constantinopel di zaman yang terdahulu. Itulah sebabnya nama Rum begitu termasyhur di dalam tarich-tarich Islam! Semua ahli­-ahli pengetahuan dan peradaban di dunia Timur waktu itu berkumpullah di ibu-kota Ikonia, semua ahli-ahli fikir dari sebelah Timur lari ke ibu-­kota itu.

Lari, – sebab dari Timur meniuplah satu taufan baru, yang mempelan­tingkan singgasana-singgasana dan menghancurkan kerajaan-kerajaan: taufannya tentara-tentara Mongol yang mengobrak-abrik kekanan dan kekiri! Maka Ikonia-lah lama sekali menjadi tempat bernaung bagi ahli-ahli ilmu dan pengetahuan itu, tetapi celaka, juga Ikonia kemudian diterjang pula oleh taufan Mongolia itu. Pada per­mulaan abad keempatbelas jatuhlah dinasti Seldsyuk di Ikonia, dan Asia Depan menjadilah satu "daerah pinggir" dari kerajaan Mongol yang maha-maha-luas itu, yang melebar dari pantai Timur sampai ke pantai Barat dari tepi Laut Tiongkok sampai tepi Laut Tengah. Tetapi meskipun dinasti jatuh, tidak jatuhlah pula peradaban Seldsyuk sama sekali. Ia masih ada yang meneruskan. Justru karena ia hanya satu "negeri pinggir" sahaja, justru karena ia hanya satu "buitenpost" sahaja, satu "rand­gebied", maka kekuasaan Mongol tidaklah dapat "masuk" di situ sebagai satu kekuasaan riil. Dinasti Seldsyuk telah jatuh, dinasti itu telah gugur berantakan, tetapi banyaklah amir-amir Turki yang masih dapat berkuasa di sana-sini. Amir-amir inilah yang meneruskan tradisi Seld­syukiyah, menjadi waris-waris yang sesungguhnya dari peradaban dan kekuasaan Seldsyukiyah itu. Salah seorang dari amir-amir ini adalah Amir Usman, dan Amir Usman inilah yang kelak menjadi "datuknya" kerajaan Usmaniah yang megah dan termasyhur itu.

Sebab kerajaan kecil Usmaniah itu makin lama makin kuat, makin lama makin tambah pengaruh dan kekuasaan, makin lama makin tambah luasnya daerah. Dengan kerajaan Usmaniah itu Asia Depan membuat satu sejarah baru.

Kerajaan Byzantium mendapat saingan baru yang maha-haibat. Ikonia silam, tetapi Usmaniah mengganti ia punya tempat! Kalifah Abbasiyah-pun telah runtuh sama sekali di tahun 1258, dan Usmaniah-lah yang sekarang memegang monopoli "peradaban Islam". Peradaban Byzantium dan peradaban Usmaniah berjoanglah diam-diam atau terang­-terangan terus-menerus, Asia Depan menjadilah gelanggangnya per­joangan dua peradaban ini. Tetapi,- sebagai kita lihat pada tiap-tiap perjoangan kultur satu fihak "ketularan" dzat-dzatnya cultuur yang lain, satu fihak mengoper banyak hal dari isinya kultur yang lain. Malahan satu fihak bisa menundukkan fihak yang lain itu, justru karena mengoper banyak hal dari isi kultur yang lain itu. Byzantium di kemudian hari kalah sama sekali di dalam pertandingan ini, tetapi ia kalah dengan meninggalkan banyak Nap" di atas tubuhnya ia punya musuh. Byzantium tunduk dan patah di dalam tahun 1453 karena hantamannya Sultan Muhammad II yang di dalam tahun itu merebut kota Constantinopel, – tetapi sesudah di bawah Sultan Murad I, seratus tahun terdahulu, banyaklah cara-cara pemerintahan dan cara-cara kemiliteran Byzantium dioper oleh negara Usmaniah itu.

Sudah di bawah pemerintahan bapaknya Sultan Murad I itupun hampir semua cara organisasi negara Byzantium ditiru dan diambil sebagai tauladan oleh kerajaan Usmaniah. Susunan tentara berkuda yang dinamakan "Spahi", susunan tentara kaki yang bernama kaum "Janitsar" (diambil dari kalangan orang Nasrani), susunan kehakiman, susunan pemerintahan dalam negeri, – semua itu banyaklah menaulad kepada susunan Byzantium. Apa lagi menurut perintah Islam memang kaum Nasrani dibolehkan ikut hidup di daerah dan mengabdi kepada negara Muslimin, maka elemen-elemen Grik semakin besarlah pengaruhnya ke dalam segala urusan-urusan-dunia dan segala ideologi Usmaniah itu. "Islam" di negeri Usmaniah ini bukan sahaja Islam yang banyak mistik dan kedarwisyan dan kesyi'ahan (operan dari Iran), ia adalah Islam pula yang banyak mengambil open cara-hidup sehari-hari (antara lain-lain urusan perempuan) dan cara-pemerintahan Griek-Byzantia, dan – ia adalah Islam pula yang paling "berani" dan paling radikal" mengoper dzat-dzat dari kanan dan dari kiri. Sebagai negeri cepitan yang terletak di tengah-tengahnya pertemuan pengaruh-pengaruh dari Barat dan dari Timur, sebagai satu negeri yang terletak di tempat "ciumannya" ideologi­-ideologi Grik dan Iran, maka Islamnya menjadilah satu Islam yang "ber­muka tiga"; bermuka-muka sendiri, bermuka Grik, dan bermuka Iran.

Dan Islam inilah yang banyak atau sedikit mempengaruhi pula "muka" dari Islam-umum di negeri-negeri lain. Tidakkah sudah saya terangkan, bahwa Rum menjadi salah satu pusat pengetahuan Islam, yang ideologinya niscaya menjalar ke negeri-negeri yang putera-puteranya datang kepada­nya, dan tidakkah kerajaan Usmaniah-pun di kemudian hari, sesudah runtuhnya Byzantium, melebar ke Timur, ke Barat, ke Selatan, ke Magribi, ke Madinah, ke Mekkah, ke Yaman, sampai meliputi hampir semua dunia Islam di Asia bagian Barat dan Afrika bagian Utara? Tidak­kah barang tentu ideologi Islam Usmaniah menjalar pula ke mana-mana? Maukah tuan satu perbandingan dari zaman sekarang? Lihatlah: orang­-orang Islam kolot di negeri kita banyak mengambil "muka" dari Hadramaut, dan orang-orang Islam-muda banyak mengambil "muka" dad Islam di negeri Mesir. Dan lihatlah adat-kebiasaan kita sehari-hari: kita banyak mengambil oper pakaian Eropah, banyak mengambil oper kata-kata dari bahasa Eropah, cara-hidup Eropah, cara memikir Eropah, kultur Eropah, dan lain-lain hal dari Eropah lagi. Kita punya seni bangunan makin menjadilah seni bangunan Eropah, kita punya kesenangan-kesenangan adalah meniru kesenangan Eropah pula. Maka begitu jugalah dengan Islam Usmaniah dan kultur Usmaniah itu: ia menjadi banyak ditiru dan ditaulad oleh negeri-negeri yang takluk kepadanya atau yang berhubungan kepadanya, dari Magribi sampai ke Yaman. Tetapi ia sendiri mendapat ia punya Islam dan kultur itu dengan banyak "mencuri" anggapan­-anggapan Irania dan Griek-Byzantia, ia sendiri meniru dan menaulad kepada orang-orang lain!

Sudah menyimpang lagi saya dari kita punya "penerbangan kilat" melalui sejarah Turki! Marilah kita sambung lagi: Byzantium runtuh, Usmaniah berdiri terus, malahan melebar, meluas, menjalar, Salim I dan anaknya Sulaiman I menaklukkanlah daerah-daerah baru. Orang haibat Salim I ini! Ia tidak puas menjadi Sultan sahaja, ia angkat juga ia punya diri sendiri menjadi Kalifah seluruh dunia Islam! Ia adalah satu Sultan Turki yang pertama-tama mengambil oper sama sekali 100% segala sifat-sifat caesaro-papisme dan cara-pemerintahan Byzan­tium itu, ia punya kerajaan meluas sampai ke Mesir dan ke Yaman; daerah kerajaan ia punya anak Sulaiman I tambah lagi luasnya, yaitu dengan menaklukkan negeri-negeri Nasrani di Balkan, di Hongaria, di Krim, dan negeri-negeri sebelah utaranya Laut Hitam. Kerajaan Usma­niah yang memang dad tahadinya telah berisi rakyat-rakyat Nasrani, kini menjadi sama sekali satu kerajaan yang dua elemen di dalamnya hampir sama kuatnya: elemen Islam dan Griek-Byzantia. Ya, di dalam sistim­ pemerintahan dan di dalam tubuh-pemerintahan, malahan lebih kuasa­lah elemen Griek-Byzantia itu. Di dalam tubuh-pemerintahan semakin banyaklah jumlah amtenar-amtenar yang bukan Islam atau bukan Turki, sebagaimana di dalam tubuhnya kemiliteranpun semakin bertambah besar pengaruh dan kekuasaan tentara Janitsar yang bukan Turki pula itu. "Stelsel pemerintahan di dalam periode peluasan-daerah ini", begitulah Noordman menulis, "Stelsel pemerintahan di dalam periode peluasan­ daerah ini makin dirobahlah menurut tradisi Byzantia, yang memang dari mulanya sudah menjalankan pengaruhnya. Sebab yang terbesar dari perobahan ke arah kebyzantiaan ini ialah, bahwa jabatan-jabatan pemerintahan makin lama makin jatuh ke dalam tangannya orang-orang bangsa Grik, bangsa Albania, bangsa Slavia, yang masuk agama Islam, sedang keluarga-keluarga Turki tulen dari Anatolia makin lama makin terdesak mundur." Menurut keterangan Oberhummer di dalam ia punya buku, "Die Fuurjen", maka antara tahun 1453 dan 1623, dari 40 wazir yang mengepalai pemerintahan Usmaniah itu, hanyalah lima orang sahaja dari turunan Turki!

Sesudah periode peluasan-daerah di bawah Salim I dan Sulaiman I itu, datanglah satu periode yang agak tenteram. Kini satu setengah abad lamanya pedang tidak begitu sering dicabut dari sarungnya, kini bukan lagi taktik dan strategi yang menggetarkan jiwa Usmaniah, tetapi pemerintahan. Kini pengaruh sultan-kalifah menjadi surutlah, tetapi makin naiklah pengaruhnya kaum amtenar dan kaum ulama-ulama di bawah pimpinannya Sheik-ul-Islam. Dulu, waktu pedang dan tombak dan panah beterbangan kian-kemari, waktu mati-hidupnya kerajaan tergantung dari malang-mudjurnya senjata didaerah-daerah dar-ul-harb, dulu, sultan dengan jenderal-jenderalnyalah yang menentukan tiap­-tiap langkah. Dulu kaum amtenar dan ulama-ulama ini tinggallah di atas tingkatan yang kedua. Tapi kini, sesudah dar-ul-harb-dar-ul-harb itu menjadi dar-ul-salam, sesudah pedang masuk kembali ke dalam sarung­nya, sesudah sultan boleh main-main sahaja dengan bidadari-bidadarinya di dalam istana, dan jenderal-jenderal dengan selir-selirnya di dalam harem (meniru adat Byzantia!) – kini kaum amtenar dan kaum ulama­-ulamalah yang mendapat alam. Dulu sultan-kalif ah sahajalah yang sebagai raja-mutlak menentukan tiap-tiap tindakan atau aturan, kini tiap-tiap tindakan atau aturan itu dibicarakanlah habis-habisan lebih dulu antara kaum amtenar dan kaum ulama yang bersenjatakan kitab fiqh, dan sering sekali bertabrakanlah pembicaraan-pembicaraan itu. Alat Pemerintahan menjadi "log", menjadi "berat badan", menjadi "hilang ketangkasannya".

Halide Edib Hanoum mengatakan bahwa sejak itu hilanglah kera­jaan Usmaniah ia punya sifat kelaki-lakian. Ia bukan lagi satu negara yang dinamis dan rikat seperti singa betina, ia menjadilah satu negara yang "pelan" dan "malas". Maka sejak dari saat itulah kerajaan­–kerajaan Nasrani mulai mereka punya tegenoffensief, sejak dari saat itulah kerajaan-kerajaan Eropah mulai mereka punya stormioop-pem­balasan di atas tembok-temboknya kerajaan Usmaniah. Pada tahun 1683 mendapatlah ia pukulan haibat yang pertama kali di muka pintu gerbang­nya kota Wina, dan di dalam abad kedelapan belas mulailah Ustria dan Rusia merebut daerah-daerah luas dari genggaman-tangan kekuasaannya.

Usmaniah dengan lambat-laun mulai menjadi "de zieke man van Europa", Usmaniah mulai menderita. Ia mencoba menyusun kekuatan­nya kembali dengan satu-satunya jalan yang dapat memberi kekuatan kepadanya. Yakni dengan mengadakan perobahan-perobahan militer kearah kemoderenan di bawah petunjuk adviser-adviser dari negeri asing, tetapi kaum Yanitsyar dan kaum ulama menentang perobahan-perobahan ini mati-matian, sehingga gagallah tindakan-tindakan itu sama sekali. De zieke man menjadilah makin sakit, obat yang mau ia minuet ditam­par jatuh dari tangannya ,oleh kaum Yanitsyar dan kaum ulama itu.

Apa daya? Sekali lagi dicobalah perobahan itu oleh Sultan Salim III (1789-1808), kendati rintangan, kendati perlawanan, kendati vetonya kaum ulama dan kaum Yanitsyar itu. Halide Edib Hanoum memuji Salim III itu sebagai sultan yang paling berhaluan kemajuan di dalam seluruh sejarah dinasti Usmaniah. Tetapi ini "raja" pertama dari Turki modern, ini "eerste heerscher van het moderne Turkendom" sebagai seorang penulis lain yang bernama Muhiddin sebutkan dia, ini "eerste heerscher van het modern Turkendom", kalahlah ia punya perjoangan dengan kaum-kolot dan kaum-jumud, dan terpaksalah menyudahi per­joangannya itu dengan putusnya ia punya jiwa: di dalam tahun 1808 dibunuhlah Salim III itu!

Tetapi Mahmud II yang mengganti dia, tidak takut meneruskan perjoangan Salim III pula! Sebab, apa harapan bagi kerajaan Usmaniah, kalau modernisasi tidak dapat dijalankan, kalau kaum Yanitsyar dan kaum ulama masih tetap melawan sahaja, kalau Turki masih tetap bersistim kuno dan bersenjata kuno, sedang musuh menerjang dari mana-mana, – musuh yang sekarang bersenjata meriam dan bedil, ber­taktik dan berstrategi secara baru, berorganisasi dan berperang secara modern? Mahmud II mengerti, bahwa kaum Yanitsjyr melawan perobahan itu oleh karena mereka takut akan kehilangan pangkat dan pengaruh, dan bahwa kaum ulama berani melawan pula, oleh karena mereka ber­satu dengan kaum Yanitsyar itu, bersandar kepada kaum Yanitsyar itu.

Maka Mahmud II kerjakanlah apa yang Salim III tidak berani kerjakan: Ia bubarkan tentara Yanitsyar itu, matikan tentara Yanitsyar itu sama sekali zonder banyak omong-omong lagi! Kaum ulama yang kini kehilangan tulang-belakang itu, tak beranilah lagi melawan terang-terangan, tetapi masih teruslah mereka beraksi sembunyi-sembunyian. Di atas tanah jalan tertutup, di bawah tanah masih adalah lapang!

Ya, kaum Yanitsyar, Mahmud II bisa binasakan dengan semau-maunya sahaja, kaum Yanitsyar yang jumlahnya hanya ribuan atau puluhan ribu itu ia bisa hapuskan dengan satu usapan tangan. Tetapi kaum ulama yang begitu besar pengaruhnya di atas rakyat jelata! Dan kaum amtenar, yang juga buat sebagian besar hanya ingat kepada kepentingan sendiri sahaja di bawah sistim pemerintahan Usmaniah yang kuno! Kaum ulama dan kaum amtenar itu toch tidak dapat ia putar lehernya dengan satu putaran sahaja? Maka oleh karena itu, – oleh karena ia tidak bertindak seperti Kemal Pasya di kemudian hari, yang tindakan perobahannya ialah terutama sekali satu perobahan dari dalam, satu perobahan di dalam outlooknya seluruh rakyat Turki sendiri – , oleh karena itulah perobahan Mahmud II itu boleh dikatakan tidak berhasil pula. Hanya dibagian­-bagian yang kecil sahajalah ia dapat mengadakan modernisasi, misalnya di dalam cara-pakaian Turki, jubah dan sorban Arab dibuang, dan digantilah dengan pantalon serta feznya bangsa Grik! Ya, pembaca, saya tidak salah tulis: feznya bangsa Grik! Tidakkah pantas saya tertawa, kalau di zaman kita sekarang ini orang Islam marah-marah kepada Kamal Ataturk yang menghapuskan lagi fez itu, karena dikatakan ia telah "mengliilangkan simbul keislaman"? Satu contoh dari kepicikan kita, – marah-marah zonder mengetahui pokok-asalnya perkara!

Mahmud II meninggal dunia di dalam tahun 1839. Ia punya pembaharuan telah gagal. Ia punya politik membela Turki dari "titilan" musuh-musuh tidak berhasil sama sekali. Ia punya kerajaan makinlah menjadi kecil, ia kehilangan Rumania, kehilangan Serbia, kehilangan sebagian dari Mesir, kehilangan daerah yang lain-lain. Ia makin dice­mooh dan dicerca oleh kaum kolot, yang mengatakan, bahwa ia ke­hilangan negeri-negeri itu "djustru karena ia mendurhakai tradisi-tradisi kuno". Tetapi ia punya haluan tidak putus di tengah jalan. Makin lama makin banyaklah kaum intelektuil Turki, yang sejak modernisasi Salim III dan Mahmud II pergi menghisap pengetahuan di luar negeri,- teru­tama di Paris -, dan sekembalinya di tanah-air mempropagandakan keras pembaharuan itu. Makin banyaklah pula kaum amtenar dan kaum opsir yang terkena oleh angin baru itu. Karena itu, maka sejak meninggalnya Mahmud II itu, sampai naiknya absolutisme Abdul Hamid II di atas sing­gasana kerajaan ditahun 1876, kurang lebih 10 tahun lamanya, cara pemerintahan ke arah pembaharuan itu makin nyatalah menjadi idealnya kaum ahli kenegaraan dan kaum politik. Karena itulah pula maka periode empat puluh tahun itu lazim sekali dinamakan tanzim, periode tanzimat. Di dalam periode inilah kaum intelektuil dan kaum opsir men­dirikan satu pergerakan yang bernama. pergerakan "Turki-Muda" pergerakan "Persatuan dan Kemajuan". Pergerakan bukanlah hanya menyokong sultan sahaja di mana sultan mau mengadakan sesuatu perobahan, tetapi malahan sebaliknya mendesak kepada sultan, agar supaya cara pemerintahan dibikin modern semoderen-moderennya sama sekali: satu negara, seperti negara modern di Eropah Barat, di mana semua rakyat, baik Islam maupun bukan Islam, baik Turki-tulen maupun bukan Turki­ tulen mempunyai hak yang sama dan kewajiban yang sama.