Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?
Part 2
Tiap-tiap konflik, tiap-tiap perjoangan, tiap-tiap pertentangan, membawa akibat mempertajam" perbedaan antara dua fihak yang berkonflik itu. Ini memang sudahlah hukumnya alam. Yang modern memoderen, yang kolot mengolot. Yang mau kepada perobahan menjadilah ekstrim radikal, yang tidak mau kepada perobahan menjadilah beku datuknya beku. Inilah sebabnya itu gejala yang ganjil sekali di masyarakat Turki. Sebabnja itu kejadian yang aneh sekali di masyarakat Turki: tidak adalah dulu satu negeri yang ulama-ulamanya begitu kolot seperti di Turki, tetapi juga tidak ada satu negeri Islam yang pergerakannya hervorming-nya begitu radikal dan ekstrim. Tidak ada satu negeri yang faham-faham kolot begitu bersulur-akar seperti di Turki, tetapi tidak pula ada satu negeri yang apinya fikiran-modern begitu menyala menjilat-langit.
Ambillah misalnya faham tentang qadar. Tidak ada satu negeri yang faham tentang qadar itu begitu kolot dan salahnya seperti di Turki, begitu mematikan tiap-tiap inisiatif, begitu melemahkan tiap-tiap iradat. Segala hal diserahkan sahaja kepada qadar, segala hal dikembalikan sahaja kepada taqdir. Perkataan "kismet" adalah tertanam dalam-dalam jiwanya bangsa Turki dulu itu. Tiap-tiap kemalangan diterimanya sebagai kismet, tiap-tiap kemudratan dikembalikan kepada kehendak kismet. Kismet inilah yang menjadi asalnya kebanyakan kaum Orientalis mengira bahwa agama Islam adalah satu agama yang sama sekali bersandar kepada fatalisme: mati, hidup, putih, hitam, pahit, mans, mujur, malang, – semuanya terserah sahajalah kepada Ilahi karena telah tertulis di dalam kismet lebih dahulu, tak gunalah terlalu ikhtiar, cukuplah kita menunggu sahaja nasib kita itu seperti menunggu tetesnya air embun.
Hartman, seorang Orientalis yang kesohor, pernahlah menceritakan, betapa seorang Turki berkata kepadanya: Buat apa membanting tulang terlalu? "Siapa yang betul-betul percaya kepada Allah, seringlah ia mendapat ia punya nasi dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Belum pernahlah kejadian, bahwa orang yang betul-betul percaya kepada Allah, menderita kelaparan." Percaya sahajalah kepada kismet, kalau engkau sengsara, maka itulah sudah kehendak Allah buat kebaikan engkau punya jiwa!
Noordman menceritakan, betapa di Turki-dulu itu kaum penghulu agama selalu membuat propaganda anti-keduniaan, anti-kekayaan, anti kerezekian: "Seorang mukmin harus sederhana dan sabar. Kekayaan mengikat manusia kepada dunia, kemiskinan membuka pintu-gerbangnya surga." Dan manakala ada fihak yang membantah propaganda yang berbahaya ini, maka fihak itu sendirilah terancam bahaya: sebab kaum penghulu-agama adalah mewakili negara!
Ya, – kismet! Kismet, kalau engkau masuk bui karena engkau punya bantahan yang dinamakan "merusak agama" itu. Kismet, kalau aturan-aturan yang mengenai kesehatanpun tidak dapat dijalankan karena ulama-ulama yang mengikat negara itu memfatwakan, "bahwa aturan-aturan itu haram".
Noordman menceritakan pengalamannya Krausz in — Hellauer, bahwa dulu pernah ada wabah yang haibat sekali di Istambul, yang pemberantasannya sangat sekali menjadi sukar, oleh karena ulama-ulama mengatakan, bahwa haramlah diadakan barak-barak, lazaret-lazaret dan sebagainya. Haram, – karena menentang kismet, menentang qadar! Meskipun ratusan, ribuan manusia pada waktu itu menjadi binasa, ribuan manusia mati karena nyata menjalarnya pes ini tidak dicegah, maka tak berhenti-hentinyalah ulama-ulama ini menentang tiap-tiap tindakan hygiene dengan alasan: "Allah maha mengasihi, kismetNya tak dapatlah orang elakkan". Satu-satunya tindakan penolak penyakit itu yang dianjurkan oleh ulama-ulama ini ialah . . . menempelkan secabik kertas dengan ayat Qur'an di atas pintu … ! Dokter Karantina Saad bukan sahaja mendapat rintangan haibat dari mereka, tidak sahaja dari rakyat yang sama sekali hidup di dalam udara-pendidikannya ulama-ulama itu, tetapi dari amtenar-amtenarpun is mendapat tuduhan mengerjakan barang-barang yang mendurhakai kismet.
Di pertengahan abad yang lalu, perusahaan sutera Turki mendapat pukulan keras dari satu penyakit yang membinasakan banyak ulat-ulat sutera. Di dalam tahun 1880 pemerintah mau memberantas penyakit ini secara modern dengan methode Pasteur, tetapi rakyat melawan kepada tindakan pemerintah ini, karena dianggap – mendurhakai kismet.
Dengan begitu maka tiap-tiap inisiatif dirintangi, tiap-tiap kemauan ke arah kemajuan ditindas, dipadamkan dengan alasan kismet. Tiap-tiap aturan baru, tiap-tiap tindakan, meskipun yang paling maha-perlu sekalipun, tak dapat lekas-lekas dijalankan oleh pemerintah, sebab pemerintah adalah terikat kaki-tangannya kepada Sheik-ul-Islam dan mufti-mufti, terikat kaki-tangannya kepada fatwa yang sering sekali mengeluarkan perkataan "jangan".
Dan sebaliknya, maka Sheik-ul-Islam dan mufti-mufti itu "membeku"- lah memusat dan menyentral kepada fiqh oleh karena segenap mereka punya perhatian, segenap mereka punya interesse haruslah memusat dan menyentral kepada fiqh itu sahaja, sebagai yang telah ditetapkan dan diakui syah oleh mazhabnya beratus-ratus tahun lebih dahulu. Masyarakat Turki, rakyat Turki, jiwa Turki menjadilah satu barang yang mati, yang tiada inisiatif, tiada iradat, tiada kemauan. Kismet, kismet, yah, – semua kismet. Allah nanti akan mengatur sendiri segala sesuatu menurut kebijaksanaannya. Allah maha mengetahui, manusia baiklah sabar dan sederhana, menunggu segala pahit-getirnya, berat-ringannya, celaka-bahagianya Kismet itu, zonder ikhtiar, zonder usaha, zonder zonder daad.
Dan bukan penyerahan kepada Kismet ini sahaja menurut fahamnya pemimpin-pemimpin Turki-muda itu satu "roman-muka" agama Islam di negeri Turki, tetapi masih adalah "roman-muka" lain pula, yang juga sangat menjadi remnya kemajuan yang materiil, juga sangat menghambat suburnya perekonomian rakyat. Roman-muka yang lain itu ialah "perasaan puas dengan diri sendiri", satu perasaan "zelfgenoegzaamheid" yang selalu berkata:
Kita punya aturan-aturan sudah sempurna, tak perlu ambil over apa-apa lagi dari negeri lain! Bukankah kita punya negara sudah negara Islam, kita punya wet-wetnya negeri adalah wetnya syari'at, kita punya negara adalah satu dengan kitabullah, – buat apa menengok lagi ke negeri lain? Semua ilmu sudah terkandung di dalam Qur'an, buat apa menengok lagi kepada ilmu yang di Eropah?
Dulu beberapa abad yang lalu, dulu tatkala bangsa Turki merebut kota Istambul dari tangannya orang Nasrani, tokh juga semua kitab-kitab dari bibliotik-bibliotik-besar dibakar habis, kecuali kitab-kitab yang di dalamnya ada tertulis nama Allah? Ya, bagi bangsa ‘Turki, berpengetahuan bancak bukanlah cita-cita hidup,- cita-cita hidup adalah menjadi orang yang baik sahaja. Ini, menjadi "baik" inilah cita-cita hidup, menjadi "baik" inilah yang membuka pintu-syorga, meskipun engkau dungu seperti seekor sapi, tak tahu apa-apa seperti seekor kerbau, bodoh dan goblok seperti seekor keledai Buat apa masih mau mengejar pengetahuan umum lagi, toch sudah cukup segala-galanya di dalam Qur'an? Lebih baik engkau, kalau ada tempo lapang, mempelajari tarikah! Itulah ilmu sejati, itulah ada gunanya sebagai bekal kekampung akhirat. Itulah ilmunya ilmu, mutiaranya mutiara, pokoknya pokok, sarinya sari!
Maka kegemaran kepada tarikah itulah satu "roman-muka" lagi dari agama Islam, di negeri Turki dulu, satu roman-muka lagi yang menurut kesaksiannya Becker, seorang Orientalis yang terkenal, sangatlah membuat rakyat Turki itu menjadi malas, benci-kerja, indolent: iradat manusia diarahkan kepada hidup kebathinan sahaja, dunia materiil yang fana ini tidaklah mendapat perhatian. Akibatnya? Keinisiatifan ekonomi musnah, keaktifan di lapangan kerezekian padam, kegiatan dan ketangkasan perjoangan-hidup sedikitpun tidak ada sama sekali. Hilanglah kehendak akan merebut dunia sebagai diajarkan oleh Islam sejati, musnahlah kemauan ekonomi daripada banyak lapisan rakyat. Sebaliknya suburlah sarekat-sarekat-darwisj dan tarikah-tarikah dari segala ragam, seluruh negeri Turki penuhlah dengan darwisj-darwisj yang pakaian-pakaiannya bertambal-tambal dan hidupnya dari mengemis, menganggur, menjadi penjaga kuburan-kuburan-keramat, menjual azimat-azimat dan tangkal-tangkal.
"Dari vilayet-kevilayet, dari desa-kedesa, mereka menyebarkan kepercayaan kepada takhayul, kepercayaan kepada ilmu sihir, yang memang sangat dalam sekali berakar kepada keyakinan rakyat", begitulah Halide Edib menulis di dalam majalah "Azia".
Dan akibat dari takhayul ini pula? Lagi-lagi pemerintah mendapat rintangan haibat kalau pemerintah mau memerangi sesuatu penyakit atau wabah dengan tindakan-tindakan kedokteran yang rationeel, oleh karena rakyat lebih pertcaya kepada azimat-azimat, tangkal-tangkal, sihir-sihir dan kemak-kemikannya mulut seseorang darwisj. Menurut keterangannya Naumann, maka kaum tani percaya benar bahwa hama-ulat dan hama yang lain-lain yang merusakkan tanaman itu dapatlah dengan segera dibasmi atau ditolak dengan tengkorak-tengkorak binatang yang ditaruh di atas tiang-tiang di ladang-ladang! Pekerjaan-pekerjaan tidak ada yang dimulai pada hari Selasa, hari Arbaa dan hari Jum'at, oleh karena hari-hari ini adalah hari-hari sial, hari-hari yang membawa celaka! Hanya hari Seninlah yang sebenarnya hari yang baik, hanya pada hari Senin itulah segala pekerjaan penting boleh dimulai. Dan kalau tuan membuat sebuah rumah, dan tuan mati sebelum rumah itu selesai, maka ahli-waris tuan buat beberapa tahun lamanya tak berani meneruskan pekerjaan tuan itu. Darwisj-darwisj satu kampung haruslah lebih dulu mengusir atau mendamaikan syaitan-syaitan dan jin-jin itu, dengan macam-macam bacaan-bacaan, macam-macam tumbal-tumbal, macam-macam sihir-sihir, macam-macam upacara-upacara, sebelum tuan punya ahli-waris boleh meneruskan pekerjaan tuan itu!
Jadi: bermacam-macam churafat dan kekotoran Islam sudahlah membuat status-ekonominya rakyat Turki itu menjadi status-ekonomi yang rendah tingkat dan kebelakangan-langkah. Tetapi di dalam mengerjakan syari'atpun perekonomian itu sering mendapat gangguan. Bukan oleh karena syari'at tidak baik, bukan oleh karena syari'at tidak dapat memajukan ekonomi sesuatu rakyat, – sebab telah terbukti gilang-gemilangnya di zaman Kalifah-kalifah besar, baik di Timur maupun di Sepanyol, tetapi oleh karena syari'at di Turki itu dikerjakan oleh satu syari'at yang malas (lihatlah keterangan di muka), dan oleh karena syari'at disitu itu karena terikatnya, tak ada kekuatan untuk membangunkan kegiatan dan ketangkasan rakyat, mengobar-kobarkan kemauan-bekerja dan kemauan-berjoang kepada rakyat.
Ambillah misalnya hukum kewajiban sembahyang lima waktu sehari. Siapa berani mengatakan, bahwa sembahyang itu memadamkan kegiatan sesuatu rakyat? Saya berani mengatakan, bahwa sembahyang itu malahan satu "sumber-tenaga", satu "sumber-kekuatan", bagi orang yang tahu mengerjakannya. Tapi bagaimana di Turki dulu? "Sembahyang ini yang harus dikerjakan lima kali sehari pada waktu-waktu yang telah ditentukan, dipakailah menjadi alasan, disalah-gunakan, buat menarik diri dari macam-macam pekerjaan", begitulah keterangan Noordman. Dan dokter-dokter-karantina Saad mengatakan, bahwa amtenar-amtenar sering sekali meninggalkan mereka punya tempat pekerjaan, dan kalau ditegor, sembahyang itulah dibuat alasan.
Begitulah juga dengan hal puasa!
Kita mengetahui semua, bahwa puasa di bulan Ramadan itu, asal kita kerjakan dengan cara yang benar, tidak melemahkan kita punya kegiatan bekerja, tidak membuat kita seperti orang yang sakit t.b.c., tidak memadamkan perekonomian rakyat. Tetapi bagaimana di Turki dulu? Semua kegiatan menjadi musnah, semua "vitaliteit er uit getrapt", semua kesegaran jiwa binasa sama sekali, oleh karena anggapan-anggapan salah, yang telah disebarkan oleh kaum tarikah dan kaum kolot di kalangan rakyat itu. Di dalam bulan Ramadan itu dianggap berpahala besarlah kalau orang tidak tidur malam-hari dari magrib sampai subuh, tetapi banyak "baca-baca" atau teriak-teriak "memuji" Allah sampai parau kerongkongan atau banyak-banyak bicara wirid menurut tarikah masing-masing. Dan orang-orang yang tidak ahli ibadatpun anggap pahala besar mengeluyur dari kedai kekedai, dari tempat-makan ke tempat makan, dari tempat-tontonan ke tempat-tontonan, dari mertamu ke sahabat yang satu rumah ke satu rumah dan ke sahabat yang lain "guna merapatkan silaturrahim".
Tarikah dan bukan tarikah, ahli ibadat dan bukan ahli ibadat, amtenar, saudagar, tani, ulama, kuli, – semuanya boleh dikatakan tidak tidur di waktu malam, tetapi makan dan minum hantam-kromo sampai mendekati fajar. Keesokan harinya?
Keesokan harinya tiap-tiap orang "Muslim sejati" lantas tidak berharga sepeserpun, tapi mengantuk atau tidur "sebagian besar dari hari", begitulah ‘ kesaksian Boker.
Di dalam bulan ini telah dikatakan semua amtenar main kia-kia teledor dan pemalas, sehingga seluruh dinas negara mendapat kesukaran yang amat besar. Datang telat, mangkir sama sekali,
lekas pulang karena "pusing-kepala", semua itu dialaskanlah kepada "Ramadan". Perdagangan dan transport seperti mendapat penyakit lumpuh, kaum-kaum-dagang "duduk seperti tidak bernyawa menjaga mereka punya toko, tak perduli barang-barangnya laku atau tidak laku", begitulah kesaksian Boker tahadi. Dan siapa tidak di bawah perintah orang lain, siapa "tuan sendiri", ia tidur sahaja sampai sore, menunggu datangnya saat mencari lagi "pahala" di waktu malam …
Negara lemah terhadap hal ini. Negara tidak dapat berbuat sesuatu apa, kalau ia tidak mau tabrakan dengan Sheik-ul-Islam dan mufti-mufti. Sebab negara adalah di dalam tangan mereka, setidak-tidaknya, negara adalah di bawah pengaruh mereka, terikat kepada mereka, wajib mengarahkan diri kepada mereka. Konflik bathin yang saya terangkan di muka tahadi, yaitu pertentangan bathin antara kaum kekuasaan-dunia dan kaum kekuasaan-agama selalulah mengguratkan ia punya "keretakan" di atas tubuhnya masyarakat dan jiwanya masyarakat.
Ambillah, begitulah kata pemimpin-pemimpin Turki-muda itu, ambillah misalnya perintah agama untuk bersedekah. Perintah ini adalah yang maha baik, maha luhur, meluhurkan jiwanya si pemberi, meringankan mudratnya sipenerima. Tetapi bagaimana di Turki? Karena anggapan salah tentang hal sedekah ini, banyak orang menjadi malas, jalan-jalan penuh dengan kaum pengemis, tempat-tempat keramat dikerumuni kaum-kaum peminta, rumah-rumah-miskin padat dengan orang-orang yang mustinya tidak harus ada di situ. Malahan sering sekali kaum pengemis ini bukan lagi mengemis, meminta dengan kerendahan budi, melainkan mereka bersikap menuntut, mendesak, seperti mengambil apa yang telah dianggapnya menjadi mereka punya hak. Apa sebab? Oleh karena anggapan salah dibiarkan oleh penuntun-penuntun agama; oleh karena anggapan salah itu tidak dikenal oleh penuntun-penuntun agama, bahwa itu adalah anggapan yang salah; oleh karena negara tidak berdaya apa-apa buat memberantas anggapan salah ini, selama tidak diakui salah pula oleh Sheik-ul-Islam serta orang-orangnya. Sehingga hakim-hakimpun sering tidak mau menolong orang-orang yang mau menagih hutang atau menagih bayar sewa rumah, oleh karena hal ini dikatakan bertentangan dengan faham kesedekahan! (Begitu juga kesaksian de Laveleye di dalam ia punya buku "Balkans").
Islam tidak melarang orang minum kopi, Islam hanya melarang orang minum alkohol. Tetapi bangsa Turki hantam-kromo sahaja minum barang yang halal ini zonder batas, kopi hitam yang kental sekali, berulang-ulang kali sehari, sehingga umumnya menurut keterangan Fraser orang Turki tidak sehat ia punya lever, terganggu ia punya limpa. Akibatnja? Orang yang sakit limpa umumnya adalah orang pemalas, sehingga juga karena kopi ini umumnya bangsa Turki bangsa pemalas! Tetapi manakala pemerintah mau membuat anti-propaganda tentang kopi itu, maka segeralah ia mendapat perlawanan, oleh karena ia mau memberantas satu hal yang menurut agama nyata halal.
Pembaca barangkali pernah mendengar, bahwa sebelum berdirinya republik, amtenar Turki itu terkenal di seluruh dunia sebagai kaum penipu, kaum penggelap, kaum perampok harta-kekayaannya negara? Korupsinya kaum amtenar Turki dulu adalah salah satu "roman-muka" dari alat perlengkapannya mereka punya negara. Sebagian yang terbesar dari semua uang-uang cukai dan uang-uang bea macam-macam, tidaklah masuk kedalam kas negara, tetapi "sudahlah dimakan onta", sebagai seorang penulis yang bernama Endres mengatakannya. Sehingga orang-orang yang tulus dan jujur di dalam urusan partikulirpun, yang terkenal tidak pernah menipu atau mendurhakai orang lain, yang bukan pemeras dan bukan penindas, tidak akan segan menggelapkan uang-uang kepunyaan negeri.
Sebab apa? Sebab "agama", – agama sontoloyo! – selalu sedia mencarikan pengampunan buat perbuatan-perbuatan yang demikian itu, dan sebab negara tidak cukup kekuatan untuk menindas anggapan-anggapan sontoloyo itu. Seorang amtenar Turki yang nafsi lauwamahnya merasa goncang sekali, oleh karena ia selalu terpaksa mencuri uang negeri untuk menyenangkan hati kepala-kepala di atasnya, pergilah kepada seorang Mollah untuk menumpahkan ia punya rasa-dosa itu. Dan apakah yang dikatakan Mollah ini?
Bukan mempersalahkan perbuatan itu kontan-kontanan, bukan mengatakan bahwa amtenar itu nanti mendapat hukuman berat di akhirat, bukanpun menyuruh amtenar itu bertobat dan tidak berbuat lagi perbuatan itu, tetapi: "Tuan di akhirat boleh berkata kepada Allah bahwa tuan telah mengambil tuan punya bagian dari harta kenikmatan umat di dunia, sehingga tuan tak minta lagi bagian dari harta kenikmatan itu di akhirat. Kecuali daripada itu, halal menurut Qur'an merampas miliknya pencuri, dan oleh karena seluruh beleid-nya pemerintah itu bertentangan dengan hukumnya Allah, maka halal pulalah tuan mengambil miliknya negara."
Begitulah saya baca keterangan Saad di dalam kitabnya Noordman. Kesontoloyoan yang saya kupas di dalam artikel saya yang dulu itu masihlah satu "amal baik", kalau dibandingkan dengan kesontoloyoan ini! Subahanallah!
Ada lagi satu akibat yang tidak baik di atas perekonomian rakyat, orang Turki suka sekali mewakafkan ia punya tanah. Bukan karena satu maksud suci mempersembahkan mink kepada perhambaan kepada Allah, bukan untuk mencari pahala di akhirat, bukan dus sebagai satu "religieuze daad", tetapi hanyalah untuk menjaga yang tanahnya itu kena beslag, dengan tetap bisa mendapat hasil dari tanah-tanah itu. Maka dengan taktik yang demikian ini, ratusan, ribuan, ya, puluhan ribu bau tanah terlepaslah dari pergolakannya dagang umum. Meskipun taksiran Endres, yang mengatakan bahwa luasnya tanah-tanah-wakaf itu jumlahnya-total sudah tiga perempat dari semua tanah yang sudah ditanami, nyata terlalu tinggi, tetapi tak boleh dibantahlah bahwa tanah-tanah-wakaf "taktik" itu adalah meliputi satu keluasan, yang amat besar, satu "enorme oppervlakte" yang sudah mati buat perekonomian rakyat.
Satu aturan agama yang baik, di sini sudahlah menjadi satu rem bagi berkembangnya perekonomian bangsa! Dan kalau negara mau mempengaruhi hal ini, maka bertabrakanlah ia dengan kekuasaannya kaum agama!
Ambillah lagi larangan riba. Siapa mau membantah, bahwa larangan ini baik sekali buat melindungi si kaum miskin dari hisapannya si kaum kaya, baik sekali buat menghindarkan si kaum kaya dari iblisnya keserakahan dunia? Tetapi siapa pula mau membantah, bahwa satu masyarakat modern perlu kepada bankwezen yang sehat sendi-sendi kemanusiaannya? Perlu kepada pemutaran uang di dunia internasional, perlu kepada kredit dari negeri lain, perlu kepada pelbagai hal yang di situ tidak dapat dielakkan perhitungannya rente yang sederhana? Tetapi manakala di. Turki diadakan bank tabungan macam-macam, maka menurut kesaksian Noordman semua bank tabungan itu nafasnya adalah "senin-kemis", hidupnya tak dapat menjadi subur oleh karena rintangan bermacam-macam. Perniagaan dan perusahaan kurang "darah", kurang jiwa, kurang "bensin" karena banyak kaum-kaum hartawan membenamkan harta-kekayaannya di dalam peti-besi di rumah sahaja, atau memasukkan harta-kekayaannya itu ke dalam "benda tak bergerak" sebagai tanah-tanah dan rumah-rumah, tidak ke dalam pergolakannya perekonomian modern yang memakai bank-bank dan kertas-kertas-effek, tidak ke dalam "surat-surat perbunga" secara modern.
Memang bagi kaum agama coal ini adalah sukar di dalam masyarakat yang sekarang ini! Tetapi justru di sinilah tampak dengan seterang-terangnya itu konflik haibat antara tuntutan-tuntutannya masyarakat modern dengan fiqh, antara pemerintah dunia dengan pemerintah agama, antara negara dengan "gereja".
Justru di sinilah guratan retak di atas tubuhnya masyarakat itu. Makin bertambah menjadi belahan sama sekali yang membagi tubuh-masyarakat itu menjadi dua bagian, yang bertentangan satu sama lain, berkonflik satu sama lain, beringkar satu sama lain. Yang satu ingin merdeka dari yang lain, yang lain ingin mengikat sama sekali kepada yang satu. Yang satu ingin berevolusi, yang satu sering dipaksakan oleh keadaan internasional buat mengambil sesuatu tindakan-baru secara kilat, yang lain tidak mengenal akan dinamika yang dimustikan oleh keadaan atau desakan internasional. Maka apakah daya guna mendamaikan konflik ini? Kata pemimpin-pemimpin Turki-muda tidak lebih dan tidak kurang: "beri tabe" sahaja yang satu kepada yang lain. Rujak sentul, lu ngalor gua ngidul! Kalau sudah terpisah satu sama lain, kalau sudah tidak terikat lagi satu sama lain, nanti tentu berjabatan tangan satu sama lain, menyokong satu sama lain, bersatu hati satu sama lain. Ya, bersatu hati, sekali lagi bersatu hati satu sama lain!
Persis seperti di dalam halnya dua individu! Dua individu-pun tidak bisa saling mencinta, tidak bisa saling menolong, saling menjaga, bersatu hati betul-betul, kalau tubuhnya diikat erat-erat satu sama lain sehingga masing-masing payah menarik nafas. Dua individu hanyalah dapat bercintaan, bersaudaraan, bersatu satu sama lain, kalau terpisah satu sama lain di dalam kemerdekaan masing-masing. Tidakkah ini satu paradox? Persatuan di dalam perpisahan, percintaan di dalam perceraian, perikatan di dalam perlepasan! Sekali lagi, tidakkah satu paradox? Benar satu paradox, tapi satu paradox yang riil, yang nyata, yang boleh disaksikan dengan kedua belah mata kita!
Benarkah pemimpin-pemimpin ini? Atau salahkah mereka itu? Wallahu'alam! Sekali lagi Wallahu'alam!
Saya hanya memperslahkan mereka punya "alasan ekonomi", di dalam nomor yang akan datang saya akan perslahkan mereka punya alasan yang lain-lain.
Sementara itu haraplah sabar!
Di dalam bagian II dari seri artikel saya sekarang ini, saya telah menerangkan kepada pembaca, apakah "Alasan ekonomi" dari pernimpin-pemimpin Turki-Muda itu buat memisah agama dari negara. Di dalam bagian III sekarang ini akan saya terangkan kepada tuan-tuan apakah mereka punya "alasan politik".
Buat terangnya ini hal, perlulah saya mengajak tuan-tuan lebih dulu membuka buku-sejarah Turki menerbangi sejarah Turki itu "sebagai kilat" dari 4000 tahun yang sudah, sampai ke zaman sekarang, di dalam beberapa kolom P.I. sahaja. Sebab zonder pengertian betapa tumbuhnya, zonder pengetahuan sejarah Turki, betapa tumbuhnya ia punja ideologi-ideologi, tak mungkinlah orang bisa mengerti dan menakar betul-betul semangat Turki-Muda yang menggemparkan seluruh dunia Islam itu. Zonder inzicht di dalam sejarah itu, tetapi hanya dengan penerangan tentang fiqh sahaja, menjadilah tiap-tiap pertimbangan dan pendapat atas Turki-Muda itu satu pendapat yang kurang lengkap dan malahan, acapkali menjadilah satu pendapat yang kurang adil dan bijaksana. Zonder pengertian di dalam sejarah itu, seringkali kita punya pendapat itu menjadi keruh dengan rasa cemburu, rasa dendam, rasa benci, rasa marah, rasa fanatik yang sudah barang tentu tak mungkin membawa kita kepada syaratnya tiap-tiap pendapat yang adil dan bijaksana, yakni syarat: mengerti.