The Great Round World And What Is Going On In It, Vol. 1. No. 21, April 1, 1897 A Weekly Magazine for Boys and Girls

Chapter 1

Chapter 13,366 wordsPublic domain

__NOTOC__ __NOEDITSECTION__

ANJURANKU KEPADA SEGENAP BANGSA INDONESIA Ceramah Presiden Pada Pertemuan Gerakan Pembela Pancasila di Istana Pada Tanggal 17 Juni 1954

Saudara-saudara sekalian

Lebih dahulu saya mengucap banyak-banyak terima kasih kepada Saudara-saudara sekalian, bahwa Saudara-saudara pada malam ini memerlukan datang di sini untuk bersilaturahmi dengan kepala negara serta Ibu Soekarno.

Sekarang saya diminta untuk membuat ceramah. Ceramah yang terutama sekali mengenai hal Pancasila dasar dan azas negara Republik Indonesia yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kadang-kadang saya mendengar sebutan "Gerakan Pembela Pancasila".

Sebenarnya sebutan yang demikian itu kurang lengkap. Harusnya, ialah "Gerakan Pembela Pancasila Sebagai Dasar Negara". Kalau sekadar dinamakan "Pembela Pancasila", maka berarti bahwa Pancasila itu harus dibela. Dan dengan sendirinya timbullah pertanyaan: Apakah Pancasila itu harus dibela? Pertanyaan ini ada hubungannya dengan paham atau pendapat yang pernah dikemukakan oleh salah seorang Saudara bangsa kita, bahwa Pancasila adalah buatan manusia.

Saudara-saudara

Dalam hubungan ini buat kesekian kalinya saya katakan, bahwa saya bukanlah pencipta Pancasila, saya bukanlah pembuat Pancasila. Apa yang saya kerjakan tempo hari, ialah sekadar memformulir perasaan-perasaan yang ada di dalam kalangan rakyat dengan beberapa kata-kata, yang saya namakan "Pancasila". Saya tidak merasa membuat Pancasila. Dan salah sekali jika ada orang mengatakan bahwa Pancasila itu buatan Soekarno, bahwa Pancasila itu buatan manusia. Saya tidak membuatnya, saya tidak menciptakannya. Jadi apakah Pancasila buatan Tuhan, itu lain pertanyaan.

Aku bertanya. Aku melihat daun daripada pohon itu hijau. Nyata hijau itu bukan buatanku, bukan buatan manusia. Apakah warna hijau daripada daun itu dus buatan Tuhan? Terserah kepada Saudara-saudara untuk menjawabnya. Aku sekadar konstateren, menetapkan dengan kata-kata satu keadaan.

Di dalam salah satu amanat yang saya ucapkan di hadapan resepsi para penderita cacat beberapa pekan yang lalu, saya berkata bahwa saya sekadar menggali di dalam bumi Indonesia dan mendapatkan lima berlian, dan lima berlian inilah saya anggap dapat menghiasi tanah air kita ini dengan cara yang seindah-indahnya. Aku bukan pembuat berlian ini; aku bukan pencipta dari berlian ini, sebagaimana aku bukan pembuat daun yang hijau itu. Padahal aku menemukan itu ada daun hijau. Jikalau ada seseorang Saudara berkata bahwa Pancasila adalah buatan manusia, aku sekadar menjawab: "Aku tidak merasa membuat Pancasila itu; tidak merasa mencipta Pancasila itu".

Aku memang manusia. Manusia dengan segala kedaifan daripada manusia. Malahan manusia yang tidak lebih daripada Saudara-saudara yang kumaksudkan itu tadi. Tetapi aku bukan pembuat Pancasila; aku bukan pencipta Pancasila. Aku sekadar memformulirkan adanya beberapa perasaan di dalam kalangan rakyat yang kunamakan "Pancasila". Aku menggali di dalam buminya rakyat Indonesia, dan aku melihat di dalam kalbunya bangsa Indonesia itu ada hidup lima perasaan. Lima perasaan ini dapat dipakai sebagai mempersatu daripada bangsa Indonesia yang 80 juta ini. Dan tekanan kata memang kuletak-kan kepada daya pemersatu daripada Pancasila itu.

Di belakangku terbentang peta Indonesia, yang terdiri dari berpuluh-puluh pulau yang besar-besar, beratus-ratus, beribu-ribu bahkan berpuluh-puluh ribu pulau-pulau yang kecil-kecil. Di atas kepulauan yang berpuluh-puluh ribu ini adalah hidup satu bangsa 80 juta jumlahnya. Satu bangsa yang mempunyai aneka warna adat-istiadat. Satu bangsa yang mempunyai aneka warna cara berpikir. Satu bangsa yang mempunyai aneka warna cara mencari hidup. Satu bangsa yang beraneka warna agama-nya.

Bangsa yang berdiam di atas puluhan ribu pulau antara Sabang dan Merauke ini, harus kita persatukan bilamana bangsa ini ingin tergabung di dalam satu negara yang kuat. Maksud kita yang pertama sejak daripada zaman kita melahirkan gerakan nasional ialah mempersatukan bangsa yang 80 juta ini, dan kemudian memerdekakan. Menggabungkan bangsa yang 80 juta ini di dalam satu negara yang kuat. Kuat, karena berdiri di atas kesatuan geografi, kuat pula oleh karena berdiri di atas kesatuan tekad.

Pada saat kita menghadapi kemungkinan untuk mengadakan proklamasi kemerdekaan, – dan alhamdulillah bagi saya pada saat itu bukan lagi kemungkinan tetapi kepastian -, kita menghadapi soal bagaimanakah negara yang hendak datang ini, kita letakkan di atas dasar apa. Maka di dalam sidang daripada para pemimpin Indonesia seluruh Indonesia, dipikir-pikirkan soal ini dengan cara yang sedalam-dalamnya. Di dalam sidang inilah buat pertama kali sayan formuleren apa yang kita kenal sekarang dengan perkataan "Pancasila". Sekadar formuleren, oleh karena lima perasaan ini telah hidup berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun di dalam kalbu kita. Siapa yang memberi bangsa Indonesia akan perasaan-perasaan ini? Saya sebagai orang yang percaya kepada Allah swa. berkata: "Sudah barang tentu yang memberikan perasaan-perasaan ini kepada bangsa Indonesia ialah Allah swa. pula".

Lima perasaan yang Saudara-saudara kenal dengan perkataan-perkataan:

Ketuhanan Yang Maha Esa,

Kebangsaan Indonesia yang Bulat,

Perikemanusiaan,

Kedaulatan Rakyat,

Keadilan Sosial,

Kelima perasaan ini hidup di dalam kalangan bangsa Indonesia. Hidup di dalam kalangan bangsa Indonesia sebelum aku dan engkau ada. Lima perasaan ini hanyalah belum pernah diformulir. Aku mempunyai keyakinan, bahwa kalau negara kita didasarkan di atas lima perasaan ini, maka negara kita dapatlah mempunyai territour (wilayah) dari Sabang sampai ke Merauke.

Saudara-saudara mengetahui bahwa tiap-tiap negara barulah boleh disebut negara, jika negara itu memenuhi syarat paling sedikit tiga buah.

Syarat perianza, ialah bahwa negara itu tegas harus mempunyai wilayah. Tegas harus mempunyai territour. Tegas harus orang dapat melihat, bahwa ini wilayah negara itu. Sesuatu gerombolan manusia yang tidak tegas akan territournya, yang tidak tegas akan wilayahnya, dan tidak tegas akan batas-batas wilayahnya, gerombolan manusia yang demikian itu tidak dapat dinamakan rakyat daripada suatu negara. Syarat yang pertama ini adalah syarat yang mutlak.

Syarat yang kedua, ialah di atas territour tadi, harus ada rakyatnya. Dan rakyatnya ini harus berasa sebagai satu bangsa. Satu bangsa yang di dalam bahasa Jerman dinamakan satu Staat Nation. Meskipun territournya tegas, tetapi jika di atas territour itu rakyatnya hidup tidak karuan, tidak mempunyai hubungan batin satu sama lain, tidak merasakan dirinya sebagai satu Staat Nation, maka bangsa yang demikian itu tidak dapat disebutkan bangsa daripada satu negara. Sebaliknya, walaupun bahasanya beruparupa, seperti bangsa Swis, ada yang berbahasa Perancis, ada yang berbahasa Jerman, ada yang berbahasa Italia. tetapi karena mereka merasakan dirinya scbagai satu Staat Nation, dan mempunyai territour yang tegas nyata wilayahnya, maka bangsa yang demikian itu dapat menjadi satu negara.

Svuraf yang ketiga, ialah adanya Pemerintah yang ditaati oleh segenap Staat Nation itu tadi. Bagi sesuatu bangsa yang telah mempunyai wilayah yang tegas, dan rasa Staat Nation yang tegas, tetapi bilamana tidak ada Pemerintah di puncaknya yang mengereh segenap Staat Nation ini di atas segenap wilayah ini, dan kalau Pemerintah ini tidak ditaati oleh segenap Staat Nation itu tadi, niaka di sini perkataan negara pun tidak boleh dipakai.

Maka untuk memenuhi tiga syarat inilah kami tempo hari menggali-gali di dalam bumi Indonesia ini untuk mendapatkan berlian-berlian yang indah, berlian untuk dijadikan hiasan daripada negara. Tegasnya untuk mendapat dasar agar supaya negara ini bisa teguh dan selamat. Lebih daripada siapapun juga di kalangan bangsa Indonesia ini, aku yang dikaruniai Allah swa. di dalam beberapa tahun ini menjadi Presiden Republik Indonesia, hingga aku telah banyak mengunjungi daerah-daerah daripada tanah air kita ini, mengenal rakyat Indonesia ini di pelbagai daerah itu. Lebih daripada siapapun juga, aku melihat bahwa bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang terdiri daripada aneka warna adat-istiadat, aneka warna cara hidup, aneka warna paham keseniannya, aneka warna agamanya. Dan bangsa yang demikian ini memerlukan satu dasar negara yang dapal menipersatukannya.

Dan alhamdulllah sebagai tadi kukatakan ternyata dasar Pancasila ini dapat dipakai untuk mempersatukan segenap bangsa Indonesia yang 80 juta dan beraneka warna itu. Di wilayahwilayah yang,jauh-jauh, orang-orang dengan tegas mengatakan baliwa Pancasila adalah satu-satunya dasar yang dapat dipakai untuk mempersatukan bangsa Indonesia ini. Dan oleh karena kita tidak ingin mempunyai negara dua atau tiga, tetapi kita ingin negara satu (negara kesatuan), niaka marilah kitcr perinhankun Pcrnccrsila ittr sebcrgai duscu• negara. Sebagai dasar negara. kita liarus bela Pancasila ini. Jika kita tidak mart menghadapi kemungkinun bangsa Indonesicr ini terpecuh-helah herantakan.

Beberapa minggu yang lalu, aku telah mengunjungi daerah Maluku dan Nusa Tenggara. Aku melihat, sebagian besar dari rakyat di Maluku dan Nusa Tenggara itu menghendaki dasar Pancasila tetap sebagai dasarnya Republik Indonesia kelak kemudian hari. Tadi aku katakan bahwa aku hanya sekadar penggali, kemudian sekadar memformuleer, karena kelima perasaan itu memang telah ada di kalbunya bangsa Indonesia sejak berpuluhpuluh bahkan beratus-ratus tahun.

Ketuhanan Yang Maha Esa

Aku hendak menceritakan kepada Saudara-saudara lebih dahulu asalnya istilah Ketuhanan Yang Maha Esa ini. Tatkala pemimpin-pemimpinmu pada pertengahan tahun '45 mempikirpikirkan dasar apakah yang pantas dipakai untuk menjadi dasar dari Republik Indonesia yang akan datang, maka mula-mula aku menganjurkan sebagai sila yang pertama, Ketuhanan. Kemudian datanglah perbincangan yang hebat, terutama sekali daripada saudara-saudara pihak Islam yang menghendaki dengan tegas jangan sekadar dinamakan "Ketuhanan" saja tetapi ditambah dengan perkataan "Yang Maha Esa". Dan usul daripada saudarasaudara dari pihak Islam ini, diterima oleh kami semua. Jadi perkataan "Ketuhanan Yang Maha Esa", adalah hasil daripada perundingan. Hasil daripada usul dari saudara-saudara pihak Islam yang memang usul itu kami terima dengan segala senang hati. Dari ini saja sudah nyata bahwa Pancasila bukan kuberikan kepada bangsa Indonesia sebagai aku ini diktator. Tidak!!! Dirundingkan. dibicarakan bersama. Dan spesial yang mengenai sila yang pertama malahan diper-sempurnakan oleh saudara-saudara dari piliak Islam dengan perkataan "Yang Maha Esa" itu tadi.

Ketuhanan, (Ketuhanan di sini saya pakai di dalam arti religieusiteit) itu memang sudah hidup di dalam kalbunya bangsa Indonesia sejak berpuluh-puluh, beratus-ratus dan beribu-ribu tahun. Aku menggali di dalam buminya rakyat Indonesia, dan pertama-tama hal yang aku lihat ialah religieusiteit. Apa sebab? Ialah karena bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang hidup di atas tarafiiya agraria, taraf pertanian. Semua bangsa yang masih hidup di atas taraf agraria, tentu religius. (Saya belum memakai perkataan Ketuhanan Yang Maha Esa) tetapi baru saya me-makai perkataan religieusiteit atau kepercayaan kepada suatu hal yang gaib yang menguasai hidup kita ini semua. Perasaan atau kepercayaan yang demikian itu hidup di dalam kalbunya bangsa-bangsa yang masih hidup di dalam taraf agraria.

Betapa tidak?

Orang yang masih bercocok tanam, bertani, merasa bahwa segenap ikhtiarnya untuk mencari makan ini sama sekali tergantung daripadaa satu hal yang gaib. Orang yang bertani memohon supaya turun hujan misalnya. Dari mana hujan harus diminta? Kita mempunyai sawah dan ladang, sawah dan ladang ini ditanami dengan padi atau jagung. Padi akan mati, jika tidak dapat air hujan. Bangsa yang bertani tidak boleh tidak, lantas: "ah, ada satu hal yang gaib, kepada Nya aku mohon supaya diturunkan hujan". Demikian pula jikalau buah padinya telah hampir tua, sebaliknya dia mohon kering jangan ada hujan yang terlalu lebat. Lagi dia berhadapan dengan satu hal yang gaib. Mungkin dia belum dapat mengatakan bahwa itu yang dinamakan Allah. Atau Tuhan pun mungkin belum ada perkataan itu padanya. Tetapi sekadar kalbunya penuh dengan permohonan kepada satu zat yang gaib: "Ya gaib, ya gaib, jangan diturunkan hujan, lagi aku sekarang membutuhkan kering". Hujan dan kering tidak dapat dibuat oleh manusia. Hujan clan kering dimohonkan oleh bangsa yang demikian itu kepada sesuatu zat vang gaib.

Belum aku menceritakan hal hama. Hama tikuskah. hama belalangkah, hama baksil-baksilkah. Sama sekali itu di hiar perhitungan manusia. Lagi dia mohon kepada satu hal yang gaib: "Ya, gaib berilah jangan sampai tanamanku ini diganggu oleh hama. tikus". Ya, barangkali dia belum tahu hal-hal kuman-kuman kecil yang dapat membikin sakitnya padi atau jagungnya itu.

Bangsa yang demikian, yang masih di atas taraf agraria, tidak boleh tidak mesti religieus. Sebaliknya bangsa yang sudah hidup di dalam alam industrialisme, banyak sekali yang meninggalkan religieusiteit itu. Aku tidak berkata bahwa itu adalah baik, meninggalkan religieusiteit. Tidak! Lagi-lagi aku sekadar konstateren. Bangsa yang sudah hidup di dalam alam industrialisme, banyak yang meninggalkan religieusiteit. Apa sebab? Sebabnya ialah karena ia berhadapan – banyak sekali – dengan kepastiankepastian. Perlu litrik, tidak perlu "oh ya gaib, oh ya gaib", dengan tekan knop saja, terang menyala. Ingin tenaga, tidak perlu dia memohon ya gaib ya gaib aku ingin tenaga. Dia punya mesin; mesin dia gerakkan, mesin itu bergerak. Di dalam tangannya dia merasa bahwa dia menggenggam kepastian. Ingin perang aku dapat mengadakan perang. Ingin tenaga aku bisa menggerakkan ini mesin. Oleh karena itulah rakyat yang sudah hidup di dalam alam industrialisme banyak yang meninggalkan religieusiteit itu tadi.

Memang pernah kukupas di dalam satu ceramah yang mengenai religieusiteit ini, bahwa religieusiteit ini melewati beberapa fase pula. Sebab memang masyarakat manusia adalah dinamis. Dinamis di dalam arti selalu bergerak. Masyarakat nianusia tidak berhenti pada satu taraf (tidak statis). Masyarakat manusia berjalan (berevolusi). Masyarakat manusia dinamis. Cara hidup manusia berganti-ganti. Dengan pergantian cara hidup ini, dia punya religieusiteit pun berganti-ganti warna. Tatkala dia masih hidup di dalam hutan rimba-raya, belum dia bertani. Dia hidup di rimba-raya tidak mempunyai rumah. Sekadar dia hidup di dalam gua-gua, di bawah pohon-pohon. Sekadar mencari makan dengan memburu atau mencari ikan. la sudah religieus, tetapi apa yang dia sembah? Dia menyembah petir. Oleh karena dia mengetahui, kalau memerlukan api: "itu dia, petir itu bisa menyembar pohon dan dia memberi api kepadaku". Dia menyembah sungai, oleh karena sungailah memberi ikan kepadanya. Bahkan dia menyembah batu, karena batu itulah yang memberi perlindungan kepadanya. Dia menyembah geledek, dalam pikirnya geledek inilah satu zat yang gaib. Pikirannya ada satu zat yang gaib yang turun dari satu mega ke lain mega, dengan mengeluarkan suara gernuruh. Dia adalah religieus, dengan cara dia sendiri.

Tatkala manusia kemudian dari itu tidak lagi hidup di dalam rimba-raya, di dalam gua-gua tetapi hidup dengan beternak, pada waktu itu dia religieus, tetapi ciptaan daripada zat gaib ini lain lagi. Bukan lagi geledek, bukan lagi sungai atau pohon-pohon besar yang rindang-rindang dia sembah, tetapi dia menyembah zat yang berupa binatang-binatang sebagai yang sekarang ini masih ada sisa-sisanya di beberapa bangsa yang menyembah sapi atau binatang ternak.

Tatkala manusia hidup di atas taraf pertanian, makin religieus dia tetapi ciptaannya juga berubah daripada bangsa yang masih hidup di rimba-raya dengan memburu dan mencari ikan daripada bangsa yang hidup dengan berternak saja. Tetapi nyata bangsa yang di atas taraf agraria, bangsa yang demikian itu adalah religieus. Terutama sekali karena tanarn-tanamannya tergantung sarna sekali dari gerak-gerik iklim.

Demikian pula bangsa yang sudah meninggalkan taraf agraria dan sudah masuk taraf industrialisme, banyak yang meninggalkan religieusiteit seperti kukatakan tadi, oleh karena dia hidup di dalam alam kepastian. Malah di dalam taraf inilah timbul aliran-aliran yang tidak mengakui adanya Tuhan. Di dalam taraf inilah timbul apa yang dinamakan atheisme. Tetapi _jikalau Saudara-saudara bertanya kepada Bung Karno persoonlijk apakah Bung Karno percaya kepada Tuhan, Bung Karno berkata: "Ya aku percaya kepada Tuhan". Malahan aku percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang bukan dua bukan tiga. Tuhan yang satu. Tuhan yang menguasai segala hidup. Ciptaan manusia yang berubah-ubah. Pikiran manusia yang berubah-ubah.

Dulu tatkala manusia hidup di dalam rimba-raya di bawah pohon-pohon dan di gua-gua, dia mengira bahwa Tuhan adalah berupa pohon, petir atau sungai. Dulu tatkala manusia hidup dalam alam peternakan, dia mengira bahwa Tuhan berupa binatang. Sampai sekarang masih ada sisa-sisa bangsa-bangsa yang menyembah kepada binatang. Dulu tatkala manusia hidup di dalam taraf agraria, terutama sekali dulu, diapun mempunyai ciptaan lain daripada Tuhan itu. Dan tatkala manusia masuk di dalam alam industrialisme, banyak yang sudah tidak mengakui kepada Tuhan lagi. Tetapi bagiku sebagai Bung Karno, Tuhan ada. Aku sering menceritakan tentang hal orang buta yang ingin melihat rupanya gajah. Ada empat orang buta, semuanya belum pernah melihat rupanya gajah. Datanglah seorang kawan yang hendak menunjukkan kepada mereka itu apa gajah itu. Si Buta yang pertama disuruh maju ke muka, dia meraba-raba dan dia mendapat belalai gajah. Dia berkata: "Oh aku sekarang sudah tahu rupanya gajah, rupanya sebagai ular besar yang bisa dibengkok-bengkokkan".

Si Buta nornor dua disuruh tampil ke muka dan dia mencaricari gajah dan mendapat ekor daripada gajah itu. Lalu dia berkata: "Oh aku sudah tahu rupanya gajah itu seperti cambuk".

Si nomor tiga lagi maju ke muka. Cari-cari gajah, lalu memegang kaki gajah. Katanya: "Oh aku sudah tahu gajah rupanya seperti pohon kelapa". Si nomor empat tampil ke muka (dia cebol) pendek sekali dia punya badan. datang di bawah gajah itu, pegangpegang tak dapat apa-apa. Katanya: "O aku sudah tahu, gajah rupanya seperti hawa. Gajah tidak ada. Gajah itu seperti hawa ini".

Seperti orang di dalarn dunia industrialisme mengatakan bahwa Tuhan tidak ada. Padahal gajah ada. Demikian pula, padahal Tuhan ada. Tetapi ciptaan manusia berganti-ganti. Saudara-saudara.

Aku menceritakan hal ini, untuk mengatakan bahwa bangsa kita yang terutama sekali hidup di atas taraf agraria ini, bahwa bangsa Indonesia itu reliegius. Oleh karena itulah maka sila yang pertama tergalilah olehku hal perasaan ini: Ketuhanan di dalam arti relegieusiteit. Tetapi oleh Saudara-saudara pihak Islam diusulkan supaya ditambah dengan perkataan: Yang Maha Esa. Dan itu kami terima dengan segala senang hati.

Maka oleh karena itulah sila yang pertama sekarang itu, berbunyi: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kebangsaan

Sudah barang tentu kita yang ingin menjadi bangsa yang satu, harus mengemukakan sila kebangsaan itu. Dan sudah barang tentu rasa kebangsaan itu hidup berkobar-kobar di dalam dada kita. Ialah oleh karena kita sudah 350 tahun dijajah oleh bangsa lain. Sosiologis, sernua bangsa yang lama dijajah oleh bangsa asing, mesti kalbunya itu berkobar-kobar dengan rasa kebangsaan. Ini boleh dinamakan adalah satu perasaan negatif, reaksi kepada imperialisme atau kolonialisme. Tetapi rasa kebangsaan ada di dalarn kalbunya tiap-tiap bangsa yang telah lama dijajah oleh bangsa lain. Tetapi seperti Saudara-saudara mengetahui, kebangsaan yang kita kemukakan bukan sekadar kebangsaan negatif. Tetapi juga kebangsaan positif. Kebangsa-an yang ingin mengemukakan segala rasa-rasa yang mulia dan luhur yang ada di dalam kalbunya bangsa kita.

Bahkan aku berkata, di dalam hal ini bangsa Indonesia telah memberi contoh yang sebaik-baiknya. Bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa di dunia ini vang belum pernah menjajah bangsa lain. Bangsa Iain pcrnah menjajah Indonesia. Tctapi bukalah kitab sejarah. Dari zaman dahulu sampai zaman sekarang engkau tidak akan mendapat sesuatu bukti bahwa bangsa Indonesia itu pernah menjajah bangsa lain. Tidak! Kita bangsa Indonesia di dalam rasa nasionalismne kita suci murni sebagai satu bangsa yang bukan saja menjunjung tinggi kepada nasionalisme atau kebangsaan, tetapi juga sebagai satu bangsa yang hidup di dalam alam perikemanusiaan sebagai yang terlukiskan di dalam sila ketiga daripada Pancasila itu.

Seluruh bangsa di Asia sekarang masih hidup di dalam rasa kebangsaan itu. Nasionalisme adalah salah satu faktor mental yang penting sekali di dalam segenap dunia dari Magribi (daerah paling Barat dari Afrika) sampai ke daerah Pasifik. Apa sebab? Ialah karena bangsa-bangsa yang dinamakan bangsa Afrika dan Asia ini tidak berselang lama masih hidup di dalam alam penjajahan, dijajah oleh kolonialisme, diperintah oleh bangsa lain, ditindas oleh bangsa asing, dihisap oleh kekuasaan-kekuasaan dari luar. Bangsa-bangsa yang demikian itu tidak boleh tidak tentu kalbunya itu hidup dengan keinginan kembali kepada pribadi sendiri, yaitu yang dinamakan kebangsaan. Tetapi bangsa Indonesia adalah istimewa. Ialah oleh karena bangsa Indonesia ini terutama sekali hidupnya di persimpangan jalan. Persimpangan jalan dari Asia ke Australia, dari lautan Teduh ke lautan Hindia. Bangsa yang dari zaman purbakala sudah belajar kenal dengan bangsa-bangsa yang lain. Bangsa yang tidak pernah hidup eksklusif. Bangsa yang tidak pernah hidup isolationistis. Bangsa yang tidak pernah hidup menyen-diri. Bangsa yang merasa dirinya tertindas benar. Bangsa yang merasa dirinya terjajah benar. Bangsa yang ingin merdeka benar. Bangsa yang ingin bersatu benar. Bangsa yang dus bernasionalisme benar. Tetapi nasionalismenya tidak pernah sekadar negatif, tetapi positif. Ialah karena bangsa Indonesia itu sebagai tadi kukatakan tidak pernah terpencil daripada bangsa -bangsa yang lain.

Perikemanusiaan

Rasa perikemanusiaan antara lain-lain bisa diterangkan daripada inilah yang bangsa Indonesia tidak pernah hidup isolationistis, yang bangsa Indonesia seperti hidup di dalam satu gedung yang pintu-pintunya terbuka, jendela-jendelanya terbuka. Hawa segar dapat masuk ke dalam gedung bangsa Indonesia itu. (Dengan demikian, bangsa Indonesia itu tidak pernah di dalam kalbunya pula, isolationistis). Selalu mem-punyai rasa manusia dengan manusia dengan manusia dengan bangsa apapun. Apalagi kita sejak daripada zaman dulu mendapat didikan-didikan perikemanusiaan yang beraneka warna.

Ambil misalnya agarna Hindu, yang sudah ribuan tahun yang lalu datang di Indonesia. Apa ajaran agarna Hindu, yang dulu itu boleh dikaakan agarna dari sebagian besar daripada bangsa Indonesia ini? Apa ajaran agarna Hindu yang telah memasuki jiwa Indonesia beratus-ratus tahun lamanya. Di dalam agama Hindu ada satu ajaran dalam bahasa Sanskritnya berbunyi: Tat Twam Asi. Apa artinya Tat Twam Asi? Sering di zarnan Hindu orang menunjuk dirinya dan diri orang lain Tat Twam Asi. Apa artinya Tat Twam Asi? Dia adalah aku, aku adalah dia. Itulah artinya Tat Twam Asi. Aku adalah dia, dia adalah aku, ini adalah rasa perikemanusiaan. Yang sudah di-cekokkan ke dalam jiwa kita beratusratus tahun bahkan beribu-ribu tahun yang lalu.

Kemudian kita mendapat pula didikan agama Islam. Tidak-kah agama Islanl itu justru satu agama perikemanusiaan? Tidak-kah agama Islam itu sejak dari dahulu memberi pengajaran kepada kita hal kifayah, hal kemasyarakatan, sampai misalnya diadakan fardhu kifayah. Jangan sekadar memikirkan saja kepada diri sendiri, tetapi ingat kepada kifayah, fardhu kifayah. Masyarakat, masyarakat. Dan tidakkah ajaran daripada Islam ini telah menyerak pula di dalarn darah-daging bangsa Indonesia?